IPBSDG15

  • Alumni Peternakan IPB University Ini Ungkap Potensi Besar Hewan Ternak Indonesia yang Dilirik Malaysia Hingga Australia

    Budi Susilo Setiawan, SPt, Owner Mitra Tani Farm (Peternakan Domba Terpadu) berkesempatan membagi pengalamannya dalam bidang usaha peternakan kepada Mahasiswa IPB University angkatan 57 pada (11/11). 

    Budi Susilo telah memulai bisnis peternakannya sejak tahun 2002, ketika ia masih berada di tahun kedua perkuliahan. 

    “Mengapa peternakan? Alasan pertama karena ada potensi. Negara Indonesia adalah negara agraris, seharusnya bisa mengekspor produk pertanian. Tapi faktanya sampai dengan hari ini kita masih impor. Kalau pun tidak impor setidaknya swasembada. Tidak ada yang salah dengan impor, yang salah adalah jika kita keasikan impor dan lupa membangkitkan potensi kita sendiri,” kata Budi Susilo mengawali paparannya.

    Alumnus IPB University dari Fakultas Peternakan angkatan 37 ini memaparkan berbagai potensi besar dari hewan ternak Indonesia. 
    “Alasan kedua, kita memiliki sumber plasma nutfah. Ayam kampung kita dikenal dunia dengan daya adaptasi yang tinggi, gennya sering dimanfaatkan. Tapi terkadang kita tidak sadar. Jepang sedang melakukan penelitian terhadap ayam kampung kita. Jangan kaget jika nanti muncul ayam khas Jepang yang tetuanya adalah ayam kampung kita,” lanjut Budi Susilo.

    Potensi lainnya adalah kambing Etawa. Budi Susilo menyampaikan bahwa ia mendapati pengusaha asal Malaysia datang ke Kali Gesing, Purworejo, Jawa Tengah untuk mengumpulkan kambing Etawa berkualitas tinggi yang kemudian dikirim langsung ke Malaysia dengan pesawat khusus. Kemudian Malaysia memproduksi berbagai produk turunan dari susu kambing Etawa, seperti lulur susu kambing, sabun susu kambing serta susu kambing bubuk. Produk-produk tersebut akhirnya dipasarkan kembali ke negara-negara tetangga termasuk Indonesia.

    “Terkait domba, salah satu potensi kita adalah Domba Garut. Peneliti dari Australia mencoba menyilangkan bibit unggul Domba Garut dengan domba lokal mereka untuk kembali dipasarkan di Indonesia. Karena jika mereka memasarkan domba dari Australia, di Indonesia kurang diminati. Domba yang diminati Indonesia berkisar antara 20-30 kilogram saja,” imbuhnya.

    Potensi peternakan Indonesia juga pada hewan ternak sapi, salah satunya Sapi Bali. Seperti yang Budi Susilo sampaikan, lagi-lagi negara Malaysia selangkah di depan. Malaysia mengimpor Sapi Bali dan mengembangkan genetikanya, sehingga populasi Sapi Bali di sana bahkan lebih besar dibanding yang ada di Indonesia. Budi Susilo mewanti-wanti jika kita tidak kunjung menyadari potensi-potensi ini, maka jangan heran jika suatu saat kita harus impor Sapi Bali dari Malaysia, Domba Garut dari Australia, atau ayam dari Jepang.

    “Kekurangan kita adalah masih kurangnya perhatian kita pada sektor pertanian terpadu. Sehingga banyak peternak yang masih menerapkan sistem peternakan konvensional. Di sinilah perlu transfer ilmu dan teknologi pada petani-petani kita. Jika mereka dibiarkan menjadi single fighter dengan teknologi sederhana, akan kasihan. Jadi bagusnya kita serius membangun desa. Dari desa yang maju, maka kota akan maju,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Dengan Smartkandang.com, Mahasiswa IPB University Ini Raup 28 Juta per Bulan

    Bayu Aji Pangestu, mahasiswa IPB University dari Program Studi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan angkatan 54 ini berhasil mengembangkan start up dengan omset puluhan juta rupiah dari modal uang jajan. Bayu mengawali usaha bisnisnya dengan membentuk platform Smartkandang.com dengan modal awal 200 ribu rupiah dari hasil mengumpulkan uang jajannya. Kini start up yang bergerak di bidang pendistribusian daging ayam broiler ini memiliki area layanan aktif di delapan kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banyuwangi, dan Banjarbaru.
     
    “Saya berhasil mengumpulkan uang 200 ribu rupiah dari uang jajan untuk modal awal dalam berbisnis ayam potong. Modal 200 ribu (bootstrap) tersebut saya gunakan untuk membentuk sebuah platform dengan harga yang murah. Setelah platform jadi, maka proyek pun dapat direalisasikan dengan baik dan langsung saya jalankan. Untuk memenuhi permintaan pasar, kami menggaet para mitra ternak yang peternakannya telah didukung mesin yang modern serta tenaga kerja yang profesional. Kami selalu berusaha memberikan produk ayam broiler yang berkualitas dan higenis sehingga aman untuk diolah kembali oleh konsumen,” ujarnya.
     
    Dalam perjalanan usahanya, Smartkandang.com tidak memiliki peternakan sendiri melainkan bekerjasama dengan puluhan mitra peternakan. Di awal perjalanannya, Bayu hanya bisa menyuplai daging ayam sekitar 400 kilogram per bulannya. Seiring berjalannya waktu, Bayu kini memiliki kapasitas stok daging ayam hingga 50 ton.
     
    "Dalam menjalankan Smartkandang.com, keuntungan awal yang kami peroleh tak lebih dari 5 juta rupiah. Kini pendapatan semakin tinggi dibandingkan dengan pendapatan di awal memulai usaha ini. Saat ini, setiap bulannya kami dapat menghasilkan 28 juta rupiah. Namun, pendapatan hanya sebuah angka saja yang merupakan kepuasan sementara, yang terpenting fokus utamanya yaitu mengejar value yang lebih tinggi lagi agar lebih berarti dibandingkan angka pendapatan," tandasnya.
     
    Usaha yang dibangunnya ini memiliki konsep kemandirian. Yakni tidak berfokus atau mengharapkan untuk mendapatkan pendanaan atau mendapat dana segar dari sebuah institusi. Bayu lebih memilih fokus pada value usaha yang semakin hari menjadi semakin berarti dengan peningkatan kualitas serta mutu pelayanannya.
     
    "Saya percaya jika bertumbuh itu butuh waktu. Intinya, siapapun yang menjadi entrepreneur di usia yang muda, harus dapat menahan diri atau sabar. Jangan cengeng dalam mengembangkan usaha. Harus berusaha keras dan memanfaatkan potensi ataupun kemampuan yang kita miliki terlebih dahulu untuk memulai sebuah usaha," ujarnya.
     
     
    Harapan ke depan adalah agar Smartkandang.com dapat berekspansi lebih jauh lagi layanannya hingga bisa diakses di daerah pelosok. Bayu memiliki semangat dan cita-cita yang tinggi dalam pembangunan usaha ayam potong secara bersih dan profesional di Indonesia. “Saya selalu memegang teguh konsep kepercayaan yang diberikan pelanggan dengan selalu berharap bisa memberikan harga yang terjangkau dalam setiap harinya walaupun harga daging di pasaran melonjak,” tandasnya (kumparan.com)
  • Dr Tuti Suryati Kupas Rahasia Nanas Lunakkan Daging

    Umat Islam di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idul Adha yang di dalamnya terdapat syariat kurban. Pada momen tersebut keluarga muslim biasa menghidangkan olahan daging di rumah-rumah mereka.

    Daging kurban merupakan daging merah (daging kambing, domba, sapi dan unta) yang memiliki tekstur yang lebih alot. Oleh karenanya daging merah perlu mendapat perlakuan khusus dalam proses pengolahan agar kesulitan mengunyah dapat diatasi dan daging dapat dinikmati.

    Nanas telah dikenal secara luas oleh masyarakat terutama para ibu rumah tangga sebagai buah yang bermanfaat dalam proses pengempukan daging. Lalu kandungan apa yang terdapat di dalam nanas sehingga mampu melunakkan daging?

    Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Dr Tuti Suryati memberikan penjelasan ilmiah mengenai proses pengempukan dengan menggunakan buah nanas.  "Jadi di dalam buah nanas terkandung enzim bromelin yang termasuk jenis enzim protease yang dapat memutuskan ikatan peptida pada protein,” papar Dr Tuti.

    Dikatakannya, terputusnya ikatan peptida pada protein menyebabkan hidrolisis atau degradasi protein sehingga menjadi potongan-potongan peptida atau bentuk lebih sederhana dari protein. Bromelin juga dapat bekerja pada jaringan kolagen yang merupakan protein pada jaringan ikat, protein miosin, protein miofibrilar, atau serabut daging.

    “Enzim bromelin sendiri dapat ditemui pada daun, batang, serta buah tanaman nanas,” ujar Peneliti dari Divisi Teknologi Hasil Ternak IPB University ini.
    Meski begitu, buah nanas merupakan bagian tumbuhan yang lebih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam membantu proses pengempukan daging. Hal tersebut karena daun dan batang tanaman nanas dapat berpotensi mengubah cita rasa daging. Buah nanas  mampu menambah kelezatan rasa pada hasil olahan daging. Dari sisi kandungan nutrisi, daging yang telah diberi tambahan buah nanas tidak mengalami perubahan yang nyata.

    “Sebaliknya, enzim bromelin yang merupakan salah satu jenis protein dapat menambah kandungan protein pada olahan daging meski tidak signifikan,” tambah Dr Tuti.

    Sebagaimana protein pada umumnya, bromelin memiliki suhu optimal untuk bekerja dan memiliki suhu maksimal agar tidak terdenaturasi atau rusak. Suhu yang optimal bagi bekerjanya enzim bromelin pada olahan daging ialah pada suhu ruang hingga 50 derajat celsius. Adapun jika suhu telah melebihi 70 derajat celsius maka enzim bromelin akan mengalami penurunan aktivitas akibat kerusakan atau denaturasi.

    Tingkat kealotan daging sangat beragam bergantung kepada jenis dan bangsa, jenis kelamin, umur,  manajemen pemeliharaan dan pakan, aktivitas, status fisiologis ternak dan bagian daging. Umumnya daging merah direndam dalam parutan nanas selama 15 hingga 30 menit di suhu ruang sebelum dimasak. Namun menjadi catatan agar tidak terlalu lama menyimpan daging mentah pada suhu ruangan. Hal tersebut karena daging dapat terkontaminasi oleh bakteri yang ada di lingkungan sekitar (ipb.ac.id)

  • Mahasiswa Fapet IPB University Dapat Rahasia Sukses Jadi Pengusaha Lewat Acara Meet Cowboy

    Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University kembali menggelar kegiatan Ngabarek 2 dengan tema “Sukses Menjadi Bintang Versi Sendiri” secara daring (19/09). Ngabarek 2 merupakan rangkaian acara dari Meet Cowboy 57 untuk memperkenalkan lebih jauh Fakultas Peternakan IPB University. Dalam kegiatan ini, mahasiswa Fapet mendapatkan berbagai ilmu dari guest star yang telah sukses di bidangnya.

    Salah satu guest star yang hadir adalah Ir Rifda Ammarina, CEO Kampung Agrinex dan PT Puteri Cahaya Kharisma. Rifda mengaku bangga menjadi alumni Fapet IPB Univetsity angkatan 21. Ia mendapatkan kesempatan mempelajari ilmu sosial ekonomi di bidang peternakan, pertanian dan perikanan. 

    Menurutnya penting menjadikan dosen sebagai partner di dunia kerja. Langkah pertama menuju kesuksesan yakni dengan membangun jejaring dengan sesama mahasiswa dan dosen. Ia yakin bahwa lulusan peternakan IPB University memiliki potensi untuk maju.

    Berdasarkan pengalamannnya, saat kuliah ia menekuni mata kuliah yang menurutnya dapat ia terapkan di bisnis masa depannya. Rajin berpartisipasi dalam aktivitas non akademik kampus juga penting untuk membangun jejaring.

    ”Belajar menentukan mata kuliah dan kemudian mana yang kita fokuskan. Semua harus berorientasi kepada mau jadi apa kita ke depan. Mau berkecimpung di bidang apa kita ke depan. Apakah mau menjadi profesional atau pengusaha maupun dosen, harus kita tentukan sejak mahasiswa,” ungkapnya.

    Sewaktu masih menjadi mahasiswa, ia melihat potensi besar di bidang agribisnis. Hingga kini menjadi pengusaha di bidang tersebut, ia menyebutkan kunci keberhasilannya adalah kemauan belajar sebagai modal usaha terbesar.

    Sementara itu, narasumber lainnya yang juga alumnus Fapet IPB University, Ir Anton Sukarna, Direktur Penjualan dan Distribusi Bank Syariah Indonesia menyebutkan ukuran kesuksesan akan berbeda pada setiap orang. Namun terdapat syarat utama untuk mencapai kesuksesan, yaitu terkait dengan keahlian dan keterampilan. Terkait dengan hard skill dan soft skill. Soft skill yakni terkait dengan kemampuan berkomunikasi, fleksibilitas, kepemimpinan, kerjasama, dan manajemen waktu.

    Salah satu soft skill yang penting menurutnya adalah mampu membangun kemampuan komunikasi. Ini sudah menjadi tuntutan agar bisa hidup mandiri. Hal tersebut ia bangun melalui berbagai aktivitas kemahasiswaan dan inisiatif. Tentunya segala kegiatan yang ia ikuti didasari dengan suatu nilai dan keyakinan pribadi. 

    “Bila kita mempunyai nilai yang diperjuangkan, inilah yang harus dicatat. Anda mempunyai bahan bakar yang tidak pernah habis,” ujarnya.

    Dr (cand) Audy Joinaldy, MM, IPM, ASEAN.Eng, alumnus Fapet IPB University yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat dan Ketua Umum Hanter IPB University turut hadir sebagai keynote speaker dalam acara tersebut. Ia mengungkapkan pilihan para mahasiswa untuk terjun dalam dunia peternakan sangat tepat. Mengingat tingkat pengangguran lulusan sarjana lebih tinggi di masa pandemi karena pertumbuhan ekonomi yang lamban. 

    Menurutnya, IPB University telah memupuk sedari dini agar mahasiswanya menjadi entrepreneur. Fakultas Peternakan IPB University juga dikenal sebagai salah satu fakultas penghasil pengusaha terbanyak di IPB University. Hal tersebut membuktikan bahwa lulusan peternakan IPB University memiliki kreativitas yang tinggi dan potensi menjadi pengusaha.

    Ia ingin memacu mahasiswa Fapet IPB Univetsity untuk tetap mempertahankan fakultasnya sebagai penghasil pengusaha terbanyak. Tentunya, menjadi pengusaha sukses membutuhkan modal, bukan hanya dana. Modal menjadi usaha yakni alam, legalitas, pemahaman akan usaha, ilmu, dan dana. Semua modal tersebut dijaring dengan jejaring yang luas.

    “Cuma memang untuk menjadi pengusaha itu selain disiplin, komitmen, jujur, kreativitas tinggi, inovatif, mandiri, dan realistis, kita juga perlu attitude,” tambahnya.
    Biasanya, kebanyakan mahasiswa takut gagal menjadi pengusaha. Hal tersebut didasari oleh ketidakmandirian baik dari segi sumberdaya manusia, operasional, keuangan, dan sebagainya. 

    Ia menyarankan agar mahasiswa dapat menyusun strategi, terus mencoba belajar, serta pandai memanfaatkan kesempatan (ipb.ac.id)

  • Manfaatkan Ulat Hongkong, Mahasiswa IPB University Teliti Metode Pengurai Styrofoam

    Di alam, kemasan plastik dan styrofoam sulit diurai. Penggunaan plastik dan styrofoam masih sangat tinggi, terutama di kota-kota besar di Indonesia.  Styrofoam merupakan jenis plastik yang paling berbahaya dan tidak ramah lingkungan.  Selain tidak ramah lingkungan karena sifatnya yang tidak dapat diurai sama sekali, proses produksi styrofoam sendiri menghasilkan limbah yang tidak sedikit.  Menurut Environmental Protection Agency (EPA), Indonesia termasuk sebagai penghasil limbah berbahaya kelima terbesar di dunia.

    Novica Febriyani, Fiona Salfadila dan Indri Destriany, tiga mahasiswa IPB University melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) 2019  mencoba meneliti penggunaan ulat hongkong sebagai agen biologis yang bisa mendegradasi styrofoam. Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengisolasi bakteri dari ulat hongkong dari Indonesia yang bisa mendegradasi styrofoam ini dilakukan di bawah bimbingan Cahyo Budiman, SPt, MEng, PhD.

    “Berdasarkan penelitian ilmiah sebelumnya ditemukan mekanisme degradasi polystyrene menggunakan vektor biodegradasi yaitu ulat hongkong atau mealworms jenis Tenebrio molitor. Ulat hongkong tersebut telah terbukti mampu untuk mendegradasi polystyrene sebagai komponen penyusun styrofoam,” tutur Novica.

    Dalam penelitian tersebut, Novica menambahkan bahwa populasi mikroorganisme dalam perut ulat hongkong erat dengan lingkungan atau habitat ulat tersebut. Hal tersebut mengindikasikan bahwa jenis mikroorganisme dalam ulat hongkong yang dikembangbiakkan di kondisi subtropis Tiongkok akan berbeda dengan ulat yang dibiakkan di kondisi wilayah tropis Indonesia. Itu juga yang mendorong kemungkinan adanya isolat bakteri baru dari ulat hongkong di Indonesia yang bisa mendegradasi polimer polystyrene.

    “Pada mulanya, ulat hongkong kami pelihara dengan diberi pakan tunggal styrofoam. Lalu bagian usus ulat hongkong tersebut kami jadikan sebagai Stok Larutan Ulat Hongkong (SLUH). Kemudian SLUH tersebut ditumbuhkan pada media agar yang sudah ditambahkan styrofoam. Setelah itu, bakteri yang didapatkan, diidentifikasi dan simpan dalam glycerol stock. Kandidat isolat yang diperoleh kemudian diberikan styrofoam yang telah ditentukan. Kemampuan isolat dalam mendegradasi styrofoam diuji dengan cara melihat permukaan Styrofoam dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM),” jelas Novica.

    Novica berharap, ke depannya mereka bisa mengaplikasikan ini pada skala yang lebih besar. Ia juga berencana dalam pengaplikasian bakteri pada limbah styrofoam ini bisa menghilangkan kesan jijik, sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan oleh masyarakat luas (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny R Noor : Indonesia Berada di Pusaran Perdagangan Satwa Liar Dunia

    Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa  Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir produk satwa liar terbesar dunia bersama dengan Jamaica dan Honduras. Amerika, Perancis dan Italia tercatat sebagai negara importir produk satwa liar terbesar dunia.

    Tidak hanya itu Prof Ronny mengungkapkan perdagangan satwa liar juga diduga merupakan penyebab utama kelangkaan dan kepunahan spesies dan juga merupakan salah satu jalur penularan dan penyebaran penyakit ke berbagai belahan dunia.

    Beberapa data ia ungkap di antaranya hasil studi yang diterbitkan di jurnal bergengsi dunia, Science, memperlihatkan bahwa pusat perdagangan satwa liar utama seperti burung, mamalia dan amfibi terjadi di wilayah pegunungan Andes dan hutan hujan Amazon, sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara dan Australia.

    Hasil penelitian tersebut juga mengidentifikasikan bahwa di masa mendatang, ada sekitar 3.000 spesies lain yang tampaknya akan diperdagangkan terutama satwa liar yang memiliki bulu yang cerah atau tanduk yang eksotis.

    “Hasil penelitian yang dipublikasikan di Science Advances belum lama ini menunjukkan bahwa skala perdagangan satwa liar sangat besar. Sebagai gambaran dari tahun 2006 hingga 2015 telah diperdagangkan sebanyak 1,3 juta hewan dan tumbuhan hidup, 1,5 juta kulit, dan 2.000 ton daging satwa liar diekspor secara legal dari Afrika ke Asia. Jadi dapat kita bayangkan jika data perdagangan satwa liar digabungkan maka skala  perdagangan satwa liar dunia ini sangatlah besar,” ucap prof Ronny.

    Menurutnya, semakin besarnya jurang kemiskinan antara negara kaya dan miskin menjadi pemicu terjadinya perdagangan satwa liar ilegal antar negara yang semakin marak.

    Sebagian besar aliran perdagangan satwa liar ini berasal dari negara miskin yang memasok satwa liar ke negara kaya.

    Perdagangan satwa liar baik secara legal maupun ilegal merupakan lingkaran setan yang tidak pernah berujung karena ada satu pihak yang membutuhkan (umumnya tinggal di negara maju yang sejahtera) dan ada pihak lain yang dengan berbagai alasan, utamanya alasan ekonomi, melakukan perdagangan satwa liar ini (umumnya negara miskin dan negera sedang berkembang).

    Dugaan bahwa virus COVID-19 berasal dari pasar basah perdagangan satwa liar untuk konsumsi di Wuhan, Tiongkok menunjukkan sisi lain bahwa perdagangan satwa liar tidak saja berdampak pada kelangkaan dan bahkan kepunahan satwa liar saja, namun dapat bersifat fatal dengan merebaknya penyakit baru yang belum pernah ada sebelumnya.

    Saat ini Indonesia memang menjadi sorotan dunia dalam hal perdagangan satwa liar ini. Berbagai upaya pencegahan dan penindakan memang telah dilakukan namun tampaknya perdagangan satwa liar ini masih marak baik untuk kebutuhan konsumsi maupun dipelihara sebagai hewan eksotik.

    “Di pasar-pasar hewan, kita masih dapat melihat bagaimana satwa liar yang dilindungi masih diperdagangkan dengan leluasa,” imbuhnya.

    Dalam memecahkan rantai perdagangan satwa liar ini, perjanjian pelarangan perdagangan antar negara saja tampaknya belum cukup. Mengingat salah satu faktor pemicunya adalah masalah ekonomi.  Oleh sebab itu dalam melakukan perjanjian ini, faktor ekonomi harus dimasukkan dalam perjanjian.

    Melarang dan menghukum saja tidak akan memecahkan masalah karena akar permasalahan yang memicu pelaku melakukan perdagangan satwa liar ini adalah masalah ekonomi.

    “Indonesia sebagai negara yang dikenal sebagai negara mega biodiversity perlu melakukan upaya keras agar dapat mengurangi perdagangan satwa liar terutama yang dilindungi dengan status langka. Jika hal ini tidak serius dilakukan maka dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, status mega biodiversity ini akan hilang dan tentunya akan merusak reputasi Indonesia di tatanan internasional. Indonesia memang masih memiliki hutan, namun satwa liar penghuni hutan secara pasti akan menghilang jika tidak dilakukan tindakan penegakan hukum yang serius dan juga pemenuhan kebutuhan masyarakat di sekitar hutan agar menjadi bagian dalam melakukan pelestarian satwa liar,” ujarnya

  • Rektor IPB University: Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Bisa Jadi Learning Center Peternakan Indonesia

    Rektor IPB University, Prof Arif Satria hadir dalam webinar bedah buku “DNA-Desa” United 30 Tahun Berkarya dari IPB untuk NKRI (24/8). Buku ini menceritakan tentang Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang dikembangkan Prof Muladno, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan (Fapet).

    “Buku yang ditulis oleh mahasiswa Fapet ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kalangan muda dalam memajukan peternakan Indonesia. Kontribusi SPR di 12 provinsi sudah dirasakan oleh masyarakat luas. SPR terus istiqomah membangun desa, kita juga ingin logo IPB University ini menjadi semangat baru untuk masyarakat di lapangan. Agar logo IPB University tidak hanya sekedar gambar, tetapi simbol penyemangat untuk para petani, peternak, agar mereka semakin percaya diri,” ujar Prof Arif Satria.

    Menurutnya, SPR yang sudah berjalan sekian tahun ini bisa menjadi tolak ukur inovasi lainnya. Ukuran itulah yang menjadi bahan untuk improve model-model yang bisa dilakukan untuk SPR ini.

    “Infrastruktur laboratorium dan perkebunan di IPB University harus sempurna dan prima dalam mendukung kegiatan akademik. Sekaligus mendukung learning center yang bisa memberikan impact untuk dosen, mahasiswa, lebih-lebih lagi untuk masyarakat,” ujarnya.

    Ia memberi contoh, di Garut misalnya, ada program one village one CEO (OVOC) yang mengontrol perkembangan kandang melalui smartphone. “Ini sudah dilakukan untuk kandang pedet sapi. Artinya kalau kita kembangkan program-program 4.0 maka akan semakin mendorong efisiensi dari peternakan-peternakan yang ada di Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah memanfaatkan inovasi-inovasi dari IPB University,” ungkapnya.

    Begitu juga dengan pakan indigofera dicampur sorgum hasil inovasi Dosen Fapet IPB University. Prof Arif mengatakan, hal itu bisa menjadi potensi pasar pakan ternak yang dahsyat. “Para peternak di Indonesia bisa memanfaatkan inovasi dari IPB University mulai dari breeding, pakan, budidaya hingga inovasi kandang. Perancangan kandang ini bisa menggandeng program studi Ilmu Komputer dalam membangun kandang yang smart,” imbuhnya.
     
    Menurutnya, program SPR yang sudah berjalan ini menjadi etalase untuk menunjukkan pada publik bahwa teknologi-teknologi terkini dapat dikuasai oleh IPB University. “Semoga dengan peternak yang semakin solid, dibarengi semangat dan kepercayaan diri yang tinggi, serta dengan komitmen bersama maka kedaulatan pakan menjadi satu mimpi kita,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Unik! Kampus "Lockdown", Dosen IPB University Peduli Nasib Kucing di Kampus

    Kucing adalah hewan yang sangat menggemaskan.  Kucing-kucing yang beruntung tidak sulit untuk mencari makan, karena sang pemilik akan selalu merawat dan menyediakan makanan untuk mereka. Pada umumnya kucing-kucing yang dipelihara ini adalah kucing Ras. Berbeda dengan Kucing liar (stray cat) atau kucing jalanan yang hidup di perkampungan dan perkotaan masih kerap dipandang buruk oleh banyak orang.

    Kucing-kucing liar tersebut harus mencari makan sendiri manakala merasa lapar. Tak jarang kucing liar tersebut kerap datang ke tempat-tempat yang banyak orang berkumpul untuk mencari sisa makanan. Namun terkadang orang tidak merasa iba, tetapi justru mengusir dan tak sedikit juga yang melakukan tindakan kasar.

    Kondisi kampus yang menerapkan work from home (WFH) membuat kucing-kucing liar ini kehilangan sumber pangan. Seorang dosen IPB University terketuk hatinya melihat nasib kucing-kucing ini.

    "Saya adalah pecinta kucing, jadi sudah terbiasa memberi makan kucing jalanan, dengan memberikan makanan ala kadarnya. Termasuk kucing-kucing yang hidup di dalam kampus IPB Dramaga. Pada awalnya memang sudah menjadi kebiasaan saya untuk memberi makan kucing yang sempat ketemu saja dan tidak menyempatkan diri keliling kampus untuk memberi makan kucing," ungkap Iyep Komala, SPt, MSi, salah satu dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University.

    Awalnya, lanjut Iyep, saya memiliki dua ekor kucing Ras, tetapi ketika melihat beberapa kucing yang ada di dalam kampus yang lapar, saya membawa sebagian kecil kucing-kucing tersebut ke rumah. "Sempat ada 23 ekor kucing kampung di rumah dan dua kucing ras. Sekarang kucing kampungnya tersisa 18 ekor," tambah Iyep.

    Ia menjelaskan, biasanya kucing-kucing yang tersebar di berbagai wilayah kampus ini mendapatkan makanannya dari sisa-sisa makanan yang ada di kantin, sehingga kucing-kucing tersebut dapat hidup dan berkembang biak dengan baik di kampus.  Sejak merebaknya wabah COVID-19 dan diberlakukan Work from Home (WFH), kantin yang ada di kampus tutup. Tidak hanya itu, tempat penampungan sampah di kampus saat ini sudah lama kosong, sehingga kucing-kucing ini tidak lagi mencari makanannya di tempat-tempat yang biasa dikunjungi.

Tips & Kegiatan Selama WFH