News

  • Prof Ronny R Noor: Ini Eranya Peternakan Ramah Lingkungan


    Peternakan merupakan industri strategis dalam mendukung ketersediaan protein hewani yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan manusia. Namun peternakan sering dituding sebagai salah satu sektor yang berperan dalam mendegradasi lingkungan terutama dalam menghasilkan gas metana, komponen utama dalam emisi gas rumah kaca (greenhouse gases).

    Menanggapi permasalahan lingkungan ini Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan menyatakan, “Memang benar hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini, dampak metana dalam pemanasan global 25 kali lebih besar dibandingkan  dengan CO2 atau karbondioksida”.  

    Dikatakannya, di dunia, sektor peternakan berkontribusi sekitar 14,5 persen dari total emisi gas rumah kaca tahunan yang dihasilkan dari aktivitas manusia.
    Prof Ronny selanjutnya menjelaskan bahwa ternak ruminansia (sapi, kerbau, domba dan kambing) menghasilkan gas metana dari aktivitas mikroba primitif yang dinamakan archaea yang ada di saluran pencernaan.  Bakteri ini dapat hidup dengan memanfaatkan hidrogen dan CO2 yang dihasilkan dari proses pencernaan pakan.

    “Sayangnya proses pemanfaatan hidrogen dan CO2 oleh bakteri ini menghasilkan gas metana yang biasanya dikeluarkan oleh ternak melalui mulut, pernafasan, kentut  dan mekanisme pengeluaran gas lainnya,” imbuhnya.

    Namun menurut Prof Ronny dalam kurun waktu 25 tahun terakhir ini teknologi peternakan mulai diarahkan untuk menanggulangi pencemaran udara dan juga lingkungan.
    Sebagai contoh penelitian di bidang nutrisi ternak telah menghasilkan teknologi tepat guna yang berdampak sangat besar bagi pengurangan gas metana yang dihasilkan.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen sebanyak 0,25-0,50 persen rumput laut merah jenis Asparagopsis taxiformis (tumbuh di sekitar pantai Australia) dari kebutuhan pakan harian sapi mengurangi secara drastis gas metan yang dihasilkan sebanyak  50 -74 persen dalam masa 147 hari pemberian suplemen pakan ini.
    “Para pakar nutrisi juga membuktikan bahwa pemberian rumput laut merah ini tidak saja mengurangi gas metana secara drastis namun juga meningkatkan konversi pakan sapi sehingga sapi mengalami peningkatan peningkatan pertambahan bobot badan hariannya,” lanjut Prof Ronny Rachman Noor.

    Prof Ronny menjelaskan lebih lanjut, menurut pakar teknologi lingkungan dan pakar nutrisi, temuan yang tampak sederhana ini memberikan harapan besar bagi upaya dunia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara drastic. Karena jika diterapkan pada industri peternakan maka dampaknya dapat  disetarakan dengan meniadakan 100 juta mobil yang ada di dunia saat ini dalam hal emisi gas yang dihasilkannya.

    Hasil penelitian pakar nutrisi juga menunjukkan bahwa Asparagopsis taxiformis mengandung bromoform yang berfungsi memutus rangkaian proses akhir pembentukan gas metana sehingga menghalangi terbentuknya gas metana.

    Penemuan ini tentunya membuka lebar peluang pembuatan pakan berbasis suplemen rumput laut terutama pada industri penggemukan sapi di feedlot dimana pemberikan pakannya disediakan setiap harinya tanpa digembalakan.

    “Dari hasil analisa berbagai hasil penelitian disimpulkan bahwa jenis sapi yang berbeda menghasilkan gas metana yang relatif hampir sama.

    Tampaknya pengurangan gas metana dari industri peternakan ini akan lebih efektif jika didekati melalui inovasi teknologi pakan dibandingkan dengan teknologi pembibitan alami untuk menghasilkan jenis sapi yang menghasilkan gas metan yang lebih rendah,” ujar Prof Ronny.

    Ke depan menurutnya, ditemukannya teknologi tepat guna yang berdampak besar pada pengurangan emisi gas rumah kaca ini akan menjadikan industri peternakan lebih ramah lingkungan (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny R Noor: Membuat Tulisan Ilmiah Popular itu Mudah dan Kaya Manfaat

    Guru Besar IPB University di bidang genetika ekologi dan genetika kuantitatif pada Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan ini memang gemar menulis. Sebagai seorang pendidik dan peneliti, disamping tugas utamanya menghasilkan publikasi ilmiah di berbagai jurnal bereputasi internasional, Prof Ronny Rachman Noor juga menghasilkan banyak sekali tulisan ilmiah popular.

    Sebagai contoh, sampai saat ini Prof Ronny telah menghasilkan 1.194 tulisan yang dimuat di Kompasiana dalam bidang lingkungan, sosial, budaya dan pendidikan. Tulisan-tulisannya telah dibaca oleh umum sebanyak hampir 2 juta kali.

    “Mempublikasikan hasil penelitian merupakan salah satu cara untuk menyebarkan hasil karya yang bermanfaat kepada masyarakat dan kalangan seprofesi,” ujarnya.
    Namun menurut Prof Ronny pada kenyataannya banyak sekali karya ilmiah yang dipublikasikan yang hanya dibaca oleh segelintir orang saja, pada umumnya dari kalangan yang berkecimpung dalam bidang yang sama.
    Daya sebar tulisan ilmiah yang terbatas seperti ini membuat upaya yang telah dicurahkan dalam bentuk penelitian ini akhirnya berujung pada publikasi yang kurang mendatangkan manfaat yang maksimal bagi masyarakat.

    “Kendala utamanya adalah tingkat pengetahuan dan bahasa yang digunakan dalam tulisan ilmiah tersebut sering kali sulit dimengerti oleh masyarakat awam,” ujarnya.

    Menurut Prof Ronny Noor tulisan ilmiah popular dapat dijadikan wahana bagi pendidik maupun peneliti dalam menyebarkan ide dan pemikirannya kepada masyarakat. Disamping itu, menulis tulisan ilmiah popular dapat menumbuhkan budaya menulis bagi penulisnya.

    “Tulisan ilmiah popular karakteristiknya memang berbeda dengan tulisan bebas yang berupa opini penulis.  Sebuah tulisan ilmiah dituntut dapat menyajikan berbagai fakta ilmiah dan argumentasi yang ditulis juga harus dibangun dari fakta ilmiah bukan atas dasar pendapat bebas penulisnya,” ujar Prof Ronny.

    Ketika ditanya kiat-kiat untuk menghasilkan tulisan ilmiah popular, Prof Ronny Rachman Noor menjelaskan bahwa tulisan ilmiah popular yang baik tentunya harus dimulai dengan pemilihan topik yang terkait dengan perkembangan terkini dan juga sesuai dengan selera pembacanya.
    Di samping itu tulisan ilmiah popular harus ditulis dengan topik yang menyangkut kepentingan orang banyak ataupun pemecahan masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Dan juga menyangkut permasalahan yang masih menjadi tanda tanya masyarakat ataupun terkait dengan masalah yang masih menjadi kontroversi di masyarakat.

    “Jadi sebenarnya sebuah tulisan ilmiah dapat saja mengundang jumlah pembaca yang sangat banyak jika topiknya terkait dengan kebutuhan dan pemecahan masalah yang sedang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
    Menurut Prof Ronny Rachman Noor tulisan ilmiah yang baik tentunya bermula dari pembuatan judul yang menarik pembacanya, sehingga penulisnya harus menyadari bahwa judul tulisan ilmiah populer walaupun inti isinya sama, tidak dapat dibuat seperti judul tulisan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah karena akan terlalu kaku dan susah dimengerti oleh pembaca.

    Di samping itu, menurutnya penulis tulisan ilmiah harus dibekali oleh pengetahuan yang terkait dengan topik yang ditulisnya dan memiliki kemampuan untuk menelusuri berbagai sumber tulisan ilmiah yang terkait dengan topik yang sedang ditulisnya.
    “Kekuatan utama sebuat tulisan ilmiah populer adalah keterbaruannya. Oleh sebab itu penulisnya harus memiliki kemampuan untuk mengumpulkan bahan-bahan tulisan ilmiah dari berbagai sumber untuk selanjutnya diramu dan diulas secara ilmiah dengan bahasa yang sederhana,” ujar Prof Ronny.

    Beberapa sumber informasi ilmiah umum yang sangat mendukung tulisan ilmiah yang terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat yang menjadi menu bacaan rutin Prof Ronny setiap harinya antara lain Science Daily, Science Direct, Popular Science, ABC Sciece, BBC Science, CNN Science dan lain-lain.
    Menurut Prof Ronny Noor dari sumber umum inilah penulis dapat menelusuri lagi sumber utamanya  untuk mencari fakta ilmiah yang lebih detail lagi.

    Dengan mengumpulkan berbagai berita dan temuan ilmiah yang sedang menjadi topik pembicaraan hangat di dunia, penulis dapat mensintesanya dan meramunya serta menambahkan dengan berbagai argumentasi ilmiah yang akan menghasilkan sebuah tulisan ilmiah yang sesuai dengan selera pembacanya.

    Menurut Prof Ronny, sebuah tulisan ilmiah popular yang baik, paling tidak harus memenuhi tiga syarat. Yaitu mengulas isu dan topik terkini yang sedang hangat di masyarakat, menyajikan kumpulan fakta ilmiah yang terkait dengan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat serta menyajikan analisa penulis dengan bahasa yang menarik dan sederhanya yang berujung pada solusi dan aplikasi yang ditawarkan oleh penulisnya.

    “Menulis tulisan ilmiah di media cetak memang seringkali menjadi pilihan penulisnya, namun keterbatasan ruang dan kepentingan media cetak dengan penulis sering kali berbeda.  Oleh sebab itu tidak jarang tulisan ilmiah yang menurut penulisnya sangat bagus sekalipun sering ditolak oleh redaktur untuk dimuat di media cetaknya dengan alasan keterbatasan ruang,” ujarnya.

    Dalam situasi seperti inilah penulis dapat memilih wahana lain seperti website, blog ataupun wahana lainnya yang tentunya dapat mengisi gap dalam menyalurkan hobi menulisnya untuk tulisan ilmiah popular yang bermutu.

    Prof Ronny menyatakan bahwa tulisan ilmiah popular yang bagus akan bersifat long lasting artinya materi kebenaran tulisan tersebut akan bertahan sangat lama dan akan menjadi acuan banyak pihak sebagai sumber kebenaran materi yang telah dibuktikan secara ilmiah melalui berbagai penelitian dan pengujian.

    “Jadi tidak heran jika saat ini tulisan ilmiah popular juga dijadikan acuan penulisan ilmiah untuk berbagai keperluan seperti publikasi di jurnal ilmiah, skripsi, tesis dan disertasi,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny Rachman Noor Berikan Pesan Agar Berhati-hati Soal Fenomena Penularan COVID-19 ke Hewan

    Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar IPB University, Geneticist dan Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan COVID-19 mulai menulari hewan.  Ia mengamati bahwa sampai saat ini para ilmuwan mengatakan tidak ada bukti bahwa hewan memainkan peran penting dalam menyebarkan penyakit kepada manusia. "Namun data di lapangan menunjukkan bahwa telah terjadi penularan COVID-19 pada berbagai spesies di seluruh dunia seperti anjing, kucing, kera dan cempelai (mink), " jelasnya.

    Kasus penularan COVID-19 pada kucing dan anjing telah dilaporkan di beberapa negara. Kasus pertama positif COVID-19 di dunia pada anjing dilaporkan terjadi di Hongkong, sedangkan kasus pertama kucing yang dites positif terjadi di Inggris pada bulan Juli 2020 lalu.

    Kasus pertama yang terjadi di Amerika terjadi pada seekor harimau di Kebun Binatang Bronx di New York. Belakangan dinyatakan bahwa delapan gorila di Kebun Binatang San Diego di California positif COVID-19. Diduga hewan tersebut sakit setelah terpapar oleh penjaga kebun binatang yang terinfeksi COVID-19.

    “Masalah yang lebih serius terjadi pada cempelai (mink) yang merupakan hewan semi akuatik yang dibudidayakan untuk diambil bulunya. Beberapa negara telah melaporkan infeksi pada mink dan dalam beberapa kasus sangat parah dan mengalami kematian,” ujarnya.

    Angka penularan terbesar pada mink terjadi di Denmark yang menyebabkan negara ini mengambil keputusan untuk memusnahkan jutaan hewan dan menutup industri peternakan mink ini sepenuhnya hingga tahun 2022.

    Hal yang paling mengkhawatirkan menurut Prof Ronny adalah adanya bukti  bahwa cempelai telah menularkan virus yang telah bermutasi kembali ke manusia.  Dari berbagai kasus yang telah dilaporkan penularan ini diduga terjadi dari manusia ke hewan peliharaan, namun jika di kemudian hari terjadi penularan kembali dari hewan ke manusia dengan varian virus hasil mutasi maka pandemi korona ini akan semakin sulit untuk dikendalikan.

    Penularan virus COVID-19, yang bukan tidak mungkin akan meluas ini, juga memberikan sinyal lampu merah bagi hewan-hewan langka seperti gorilla dan hewan langka lainnya, karena dapat menjadikan hewan yang sudah bertatus langka ini akan semakin langka.

    “Para ahli juga khawatir bahwa, jika virus menyebar luas di antara hewan, virus varian baru hasil mutasi dapat muncul. Secara teori, varian ini diprediksi resisten terhadap vaksin yang saat ini sedang diluncurkan di seluruh dunia,” terangnya.

    Pertanyaan terbesar yang muncul adalah apakah perlu dikembangkan vaksin khusus untuk hewan agar rantai penularan ini tidak semakin panjang dan dapat segera diputus?

    Kekhawatiran akan terjadi penularan kembali dari hewan ke manusia dengan virus yang telah mengalami mutasi memunculkan pemikiran diperlukannya vaksin COVIDd-19 khusus untuk hewan.

    Hal ini menurutnya diperlukan tidak saja untuk memutus rantai penularan antar manusia ke hewan dan antara hewan, namun juga mengantisipasi penularan balik dari hewan ke manusia. Perlu diketahui bahwa virus yang telah mengalami mutasi pada hewan jika menular kembali pada manusia diperkirakan daya tularnya akan lebih cepat dan lebih berbahaya.

    “Rusia tercatat sebagai negeri pertama di dunia yang berhasil mengembangkan dan memproduksi vaksin COVID-19 khusus untuk hewan dan telah disetujui penggunaannya bulan ini. Vaksin yang diproduksi Rusia ini dinamakan Carnivak-Cov yang dapat digunakan pada anjing, kucing, mink, rubah serta hewan lainnya,” tuturnya.

    Hasil uji klinis vaksin ini telah dilakukan pada bulan Oktober tahun lalu dan menghasilkan antibodi 100 persen pada semua hewan yang divaksin. Jenis vaksin khusus untuk hewan juga telah dikembangkan oleh perusahaan farmasi Amerika, Zoetis, sejak tahun lalu. Vaksin yang dihasilkan dinilai aman dan efektif pada kucing dan anjing. Vaksin ini juga telah diujicobakan pada gorilla.

    Hasil ujicoba pada Orangutan dan Bonobo tidak menimbulkan reaksi negatif dan akan segera diuji antibodinya. Dengan adanya penularan dan penyebaran COVID-19 pada hewan ini ke depan diperkirakan disamping pengembangan vaksin untuk manusia juga akan dikembangkan secara luas vaksin khusus untuk hewan.

    Apa yang harus kita lakukan?  “Sebagaimana yang terjadi kasus pada manusia, sambil menunggu pengembangan vaksin khusus untuk hewan, maka protokol kesehatan juga harus diterapkan jika kita berdekatan dengan hewan. Hal tersebut diperlukan untuk mengurangi penularan baik dari manusia hewan peliharaan dan hewan liar ataupun penularan sebaliknya dari hewan ke manusia,” terangnya.

    Apabila situasinya memungkinkan, anjing peliharaan dapat saja diberi kesempatan untuk keluar ke taman rumah.  “Jika kita memiliki anjing yang sudah terbiasa keluar rumah dan perlu diajak jalan-jalan di sekitar rumah, maka sebaiknya agar tidak terlalu banyak keluar rumah. Jika keluar rumag, maka waktunya disesuaikan dengan jadwal olahraga kita dengan tetap menjaga jarak dengan orang lain sesuai dengan protokol kesehatan yaitu minimal dua meter,” imbuhnya.

    Namun sebaliknya untuk kucing, sebaiknya dikurung di dalam ruangan saja. Sesekali jika memiliki kesempatan kucing dapat keluar rumah sebentar dan usahakan kucing kita tidak berinteraksi dengan kucing lainnya.

    “Di samping itu kita juga harus secara rutin membersihkan tempat makanan dan minuman setiap hari, demikian juga dengan tempat kotorannya. Saat membersihkan peralatan ini gunakan masker dan cuci tangan dengan menggunakan sabun yang mengandung disinfektan setelah selesai mencuci. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah jika kita sedang sakit lakukan pembatasan kontak dengan hewan peliharaan kita,” tambahnya (ipb.ac.id)

  • Prof Ronny Rahman Noor: Jenis Kelamin Makhluk Hidup Ditentukan Banyak Faktor

    Prof Ronny Rahman Noor, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Universuty memberikan penjelasan tentang penentuan jenis kelamin pada makhluk hidup. Ia menerangkan bahwa ada banyak faktor yang menentukan jenis kelamin makhluk hidup. Ia juga mengklaim bahwa teori Aristoteles tidak sepenuhnya salah. 

    "Pengaruh suhu yang dijelaskan oleh Aristoteles dalam penentuan jenis kelamin memang tidak sepenuhnya salah. Hal ini karena, setelah ilmu pengetahuan tentang kromosom dan penentuan jenis kelamin berkembang, ternyata memang ada jenis mahluk hidup seperi reptil yang jenis kelamin anaknya ditentukan oleh suhu sarangnya," ungkap pakar genetika IPB University ini.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, penentuan jenis kelamin pada berbagai makhluk hidup memang bermacam macam. Namun, salah satu yang paling umum adalah keberadaan dan peran kromosom sex. 

    “Pada umumnya setiap makhluk hidup, baik baik jantan maupun betina memiliki jumlah kromosom yang sama. Perbedaan kromosom yang dimiliki oleh individu jantan dan betina ada pada sepasang krosomom sex saja,” tambahnya.

    Ia mencontohkan, jumlah kromosom pada manusia baik laki-laki maupun perempuan sebanyak 46 krosomon yang saling berpasangan. Dengan demikian, terdapat 23 pasang kromosom setiap individu. Kejelasan tentang peran kromosom sex sebagai penentu jenis kelamin dan mekanismenya mulai terungkap di era tahun 1900-an. 

    "Penentuan jenis kelamin pada berbagai makhluk hidup memang bermacam macam, namun salah satu yang paling umum adalah keberadaan dan peran kromosom sex. Pada umumnya setiap makluk hidup baik yang berjenis kelamin jantan atau betina memiliki jumlah kromosom yang sama. Perbedaan kromosom yang dimiliki oleh individu jantan dan betina ada pada sepasang krosomom sex saja," jelasnya (ipb.ac.id)

  • Prof Sumiati: Telur Itik Fungsional Tingkatkan Imun Tubuh

    Pada kondisi pandemi Covid-19saat ini, imun tubuh harus kuat. Salah satu solusi dan yang paling utama adalah mengkonsumsi makanan yang dapat mendukung atau meningkatkan  imunitas tubuh. Telur itik fungsional merupakan salah satu pangan yang sangat baik dikonsumsi untuk meningkatkan imunitas tubuh.  

    "Telur itik fungsional adalah telur yang telah didesain melalui rekayasa nutrien pakan untuk menghasilkan telur dengan kandungan nutrien/zat nutrisi tertentu lebih tinggi atau lebih rendah dari telur asalnya.  Hal ini bertujuan untuk mendukung kebutuhan konsumen akan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat, yang dimulai dari imun yang kuat," kata Prof Dr Sumiati dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (6/5).

    Prof Sumiati adalah dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) yang juga Dekan Fakultas Peternakan IPB Universitysebagai peneliti itik fungsional.  Ia menyebutkan, telur itik ini tinggi antioksidan, tinggi vitamin A, tinggi asam lemak omega 3 dan rendah kolesterol. “Selain itu, yang paling utama adalah telur itik ini mengandung protein dan asam asam amino esensial berkualitas tinggi,” ujarnya.  

    Kandungan nutrien telur itik fungsionaladalah 12,81 persen protein,  13,77 persen lemak, 5,10 persen omega 3 dari total asam lemak, 10,18 persen omega 6 dari total asam lemak, rasio omega 3 : omega 6 adalah 1:3. Kandungan vitamin A sebesar 1675 IU per 100 gram telur, mengandung 7,63 miligram kolesterol per gram kuning telur (lebih rendah dari telur itik pada umumnya). “Di samping itu, telur itik ini juga mengandung banyak vitamin dan mineral yang sangat diperlukan tubuh,” tuturnya.

    Kenapa telur itik fungsional dapat meningkatkan imun tubuh? Menurut Prof Sumiati,  protein dan asam amino sangat diperlukan untuk pertumbuhan jaringan dan memperbaiki sel-sel yang rusak dalam tubuh, pengaturan imun tubuh, bahan pembuat enzim, bahan pembuat hormon. Berbagai jenis protein dalam telur berfungsi sebagai antimikroba, anti bakteri pathogen dalam saluran pencernaan, sehingga memperkuat imunitas tubuh. Ada beberapa jenis protein yang dikandung telur (lysozyme, cystatin, ovomucin, ovotransferrin), selain berfungsi sebagai anti bakteri, juga sebagai anti virus.  

    "Kedua, manfaat asam lemak omega 3 di antaranya adalah untuk meringankan gejala depresi, mencegah kerusakan otak seperti demensia pada lansia, untuk perkembangan otak pada anak-anak, meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) untuk mencegah plak pada pembuluh darah," ujarnya.

    Prof Sumiati menambahkan bahwa kandungan vitamin A yang tinggi dalam telur itik fungsional sangat diperlukan untuk menjaga fungsi penglihatan, memperkuat sistem imun, menjaga kesehatan tulang. “Dan masih banyak lagi manfaat zat nutrisi yang ada dalam telur itik untuk meningkatkan imunitas tubuh,” tuturnya. (republika.co.id)

  • Prof Sumiati: Telur Itik Fungsional Tingkatkan Imun Tubuh Di Kala Pandemi COVID-19

    Pada kondisi pandemi COVID-19 saat ini, imun tubuh harus kuat. Salah satu solusi dan yang paling utama adalah mengkonsumsi makanan yang dapat mendukung atau meningkatkan  imunitas tubuh. Telur itik fungsional merupakan salah satu pangan yang sangat baik dikonsumsi untuk meningkatkan imunitas tubuh.  

    "Telur itik fungsional adalah telur yang telah didesain melalui rekayasa nutrien pakan untuk menghasilkan telur dengan kandungan nutrien/zat nutrisi tertentu lebih tinggi atau lebih rendah dari telur asalnya.  Hal ini bertujuan untuk mendukung kebutuhan konsumen akan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat, yang dimulai dari imun yang kuat," kata Prof Dr Sumiati, dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) yang juga Dekan Fakultas Peternakan IPB University sebagai peneliti itik fungsional.  

    Telur itik ini tinggi antioksidan, tinggi vitamin A, tinggi asam lemak omega 3 dan rendah kolesterol. Selain itu, yang paling utama adalah telur itik ini mengandung protein dan asam asam amino esensial berkualitas tinggi.  

    Kandungan nutrien telur itik fungsional adalah 12,81 persen protein,  13,77 persen lemak, 5,10 persen omega 3 dari total asam lemak, 10,18 persen omega 6 dari total asam lemak, rasio omega 3 : omega 6 adalah 1:3. Kandungan vitamin A sebesar 1675 IU per 100 gram telur, mengandung 7,63 miligram kolesterol per gram kuning telur (lebih rendah dari telur itik pada umumnya). Di samping itu, telur itik ini juga mengandung banyak vitamin dan mineral yang sangat diperlukan tubuh.

    Kenapa telur itik fungsional dapat meningkatkan imun tubuh? Menurutnya protein dan asam amino sangat diperlukan untuk pertumbuhan jaringan dan memperbaiki sel-sel yang rusak dalam tubuh, pengaturan imun tubuh, bahan pembuat enzim, bahan pembuat hormon. Berbagai jenis protein dalam telur berfungsi sebagai antimikroba, anti bakteri pathogen dalam saluran pencernaan, sehingga memperkuat imunitas tubuh. Ada beberapa jenis protein yang dikandung telur (lysozyme, cystatin, ovomucin, ovotransferrin), selain berfungsi sebagai anti bakteri, juga sebagai anti virus.  

    "Kedua, manfaat asam lemak omega 3 diantaranya adalah untuk meringankan gejala depresi, mencegah kerusakan otak seperti demensia pada lansia, untuk perkembangan otak pada anak-anak, meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) untuk mencegah plak pada pembuluh darah," ujarnya.

    Prof Sumiati menambahkan bahwa kandungan vitamin A yang tinggi dalam telur itik fungsional sangat diperlukan untuk menjaga fungsi penglihatan, memperkuat sistem imun, menjaga kesehatan tulang. Dan masih banyak lagi manfaat zat nutrisi yang ada dalam telur itik untuk meningkatkan imunitas tubuh (ipb.ac.id)

  • Prof Yuli Retnani: Pemanfaatan Pengolahan Pakan Jadi Tumpuan Konsumsi Masa Depan

    Guru Besar IPB University di bidang Ilmu Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan, Prof Dr Yuli Retnani mengatakan bahwa produk utama pertanian (main product) biasanya dikonsumsi oleh manusia. Adapun produk sampingan (by product) dan  limbah (waste product) biasanya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Namun, dengan berkembangnya berbagai teknik pengolahan dan adanya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan manusia, banyak sumber bahan baku pakan yang berasal dari pertanian, yang merupakan by product, dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Hal ini menyebabkan sumber bahan baku pakan ternak sulit didapatkan. 

    Selain persaingan dengan kebutuhan untuk konsumsi manusia, menurutnya kebutuhan lahan untuk kegiatan non pertanian cenderung mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan jumlah penduduk dan berkembangnya struktur perekonomian. Keadaan tersebut berdampak pula dengan semakin sempitnya lahan hijauan untuk peternakan. Pada saat ini hampir 70 persen peternak tidak memiliki lahan hijauan yang cukup. Padahal pakan yang berkualitas sangat menunjang terhadap produk peternakan yang dihasilkan. Di samping itu produk peternakan sangat dibutuhkan sebagai penyokong kebutuhan protein hewani.

    "Salah satu cara untuk meningkatkan imunitas adalah dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang dengan asupan pangan asal hewan yang aman, sehat dan halal. Pemenuhan kebutuhan hewani tersebut dapat berupa daging, susu dan telur. Saat ini, produk peternakan yang dihasilkan belum memenuhi standar, baik dari segi kuantitas dan kualitas. Salah satu penyebabnya adalah ketersediaan pakan untuk ternak belum mencukupi dalam berbagai aspek. Sehingga harus dipikirkan bagaimana cara pemenuhan pakan tersebut, disamping dengan kondisi lahan hijauan yang semakin lama akan semakin tergerus dengan lahan industrialisasi,” ujarnya. 

    Salah satu cara untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan pengolahan pakan yang efektif dan efisien. Karena pada masa yang akan datang pakan akan menjadi tumpuan untuk menghasilkan produk ternak yang berkualitas. Mengapa pengolahan pakan sangat penting? 

    Prof Yuli mengurai, hasil pertanian sangat melimpah di saat musim panen, tetapi hasil pertanian tersebut mempunyai karakteristik mudah busuk, voluminous, dan musiman, sehingga diperlukan proses pengolahan. Pengolahan pakan dilakukan untuk memanfaatkan sumber daya bahan baku yang melimpah, tidak berdayaguna, terbuang, menjadi pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak.  

    "Daging, susu dan telor sebagai sumber pangan utama harus tersedia sepanjang tahun dengan kualitas yang baik agar ketahanan pangan hewani terjaga, sehingga pakan harus tersedia sepanjang musim dan berkualitas. Pandemi COVID-19 ini mempunyai dampak pada berbagai sektor ekonomi, juga adanya peningkatan jumlah tenaga kerja yang di PHK, tetapi kebutuhan ekonomi keluarga harus tetap terpenuhi. Ketahanan pangan suatu keluarga yang terdampak pandemi COVID-19 ataupun resesi ekonomi tidak boleh dibiarkan terganggu. Sehingga kegiatan kreatif untuk mempertahankan ketahanan pangan keluarga harus ditingkatkan, salah satunya adalah kemampuan menyediakan protein hewani untuk kebutuhan keluarga dengan cara kreatif, bahkan apabila memungkinkan menjadi sumber income baru bagi sebuah keluarga," tuturnya.

    Prof Yuli menjelaskan, penyediaan protein hewani yang kreatif, dapat dilakukan oleh keluarga dengan memelihara ternak atau ikan yang dapat cepat menghasilkan produk, membutuhkan lahan yang kecil, berbiaya murah, dan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi makan sehari-hari. Kegiatan kreatif tersebut bisa didapatkan dengan membuat ketahanan pangan keluarga yang berasal dari pemeliharaan ayam dan ikan lele. Ternak atau ikan yang dipelihara sendiri dengan pemberian pakan yang berasal dari pengolahan pakan sederhana dan bahan baku yang baik akan menghasilkan protein hewani lebih berkualitas.

    "Pengolahan pakan  dapat dilakukan dengan berbagai cara, dimulai dari pengolahan fisik, kimia dan biologi. Pengolahan pakan dapat ditujukan untuk menjaga ketahanan pangan di sepanjang musim ataupun pada saat bencana dengan cara mengolah bahan baku melimpah saat panen, mengolahnya, dan menyimpan sebagai stock cadangan di musim kemarau, bencana maupun musim paceklik. Pengolahan pakan juga dapat dilakukan sesuai tujuan tertentu, misalnya untuk menghasilkan daging berkualitas, telor omega, susu berkalsium tinggi, ayam organik, dan daging rendah kolesterol dan produk berkualitas lainnya," ujarnya.

    Pengolahan pakan di masa depan akan menjadi tumpuan harapan bahwa ketersediaan stok pakan akan terjamin, sehingga produk ternak yang dikonsumsi manusia pun menjadi tersedia dan tercapai ketahanan pangan yang berkelanjutan (ipb.ac.id)

  • Prof. Dr. Asep Sudarman: Pemberian Gaplek dan Daun Singkong Fermentasi Mampu Tingkatkan Bobot Badan Ternak

    Strategi pengembangan peternakan di Indonesia sebaiknya diarahkan ke perbanyakan populasi ternak karena peningkatan produktivitas per individu ternak akan sulit untuk dicapai. Hal ini disampaikan Prof Dr Asep Sudarman, Guru Besar IPB University bidang Ilmu Nutrisi Ternak, Fakultas Peternakan dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar, (5/11).

    Dalam paparannya yang berjudul Pengembangan Industri Peternakan Nasional melalui Strategi Nutrisi yang Tepat dengan Menciptakan Ketahanan Pakan Berkualitas, Prof Asep mengungkapkan bahwa pemberian pakan kepada ternak ruminansia secara tradisional yaitu hanya diberi jerami padi dan rumput sepuasnya, ternyata tidak menunjukkan adanya pertambahan bobot badan pada ternak tersebut.

    “Berdasarkan riset kami, kerbau yang dipelihara secara tradisional, diberi jerami padi dan rumput sepuasnya, setelah dua minggu pemeliharaan menunjukkan bahwa bobot badannya tidak mengalami kenaikan. Sebaliknya, kerbau yang diberi tambahan konsentrat berupa 50 persen gaplek dan 50 persen daun indigofera sebanyak satu kilogram per ekor per hari, menghasilkan kenaikan bobot badan sebesar 732 gram per ekor per hari yang juga ditandai dengan terkoreksinya status nutrisi kerbau. Pemberian daun singkong hasil fermentasi kepada domba sebanyak 20 persen juga menghasilkan produksi yang setara dengan domba yang diberi 20 persen konsentrat, " jelas dosen IPB University yang akan melakukan Orasi Ilmiah Guru Besar pada Sabtu (7/11) ini.

    Ketidakcukupan nutrisi pada ternak karena terbatasnya ketersediaan dan pemberian pakan berkualitas tinggi, menurutnya dapat menghambat program pengembangan peternakan nasional. Ini yang menyebabkan beberapa program pengembangan peternakan yang kurang berhasil.  

    Menurutnya, Amerika dan Brazil berhasil mengembangkan industri peternakannya karena mereka memiliki sediaan pakan yang melimpah. Amerika dengan Corn Belt-nya memiliki kawasan luas penghasil jagung dan kedelai dengan luas tanam masing-masing 36,1 juta hektar. Sedangkan keberhasilan Brazil adalah dengan mengonversi hutan Amazon menjadi lahan jagung, kedelai dan peternakan. Brazil memiliki luas panen jagung 19,5 juta hektar dan kedelai mencapai 38,6 juta hektar.

    “Pola pikir lama yang menyatakan ada persaingan antara kebutuhan pangan untuk manusia dan kebutuhan pakan untuk ternak, harus segera ditinggalkan. Perlu diciptakan pola pikir baru bahwa penyediaan pakan ternak berkualitas baik dan kebutuhan manusia bukanlah suatu persaingan. Keduanya harus diproduksi secara simultan dengan jumlah berlimpah melalui perluasan area tanam secara signifikan, khususnya di daerah-daerah dengan kepadatan penduduk yang rendah,” ujarnya.

    Membangun ketahanan pakan berkualitas tinggi adalah keharusan guna mewujudkan pengembangan industri peternakan yang berkelanjutan dan tangguh secara nasional maupun global. Keberhasilan Amerika Serikat dan Brazil dalam mengembangkan industri peternakannya perlu menjadi bahan pembelajaran untuk ditiru oleh kita.

    Selain itu, produk ternak merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang berguna untuk mendukung terciptanya sumberdaya manusia nasional berkualitas, guna menghadapi era persaingan global.  

    “Produk ternak juga bernilai ekonomis tinggi. Di Jepang misalnya, harga satu porsi steak Wagyu bisa mencapai lebih dari dua juta rupiah. Oleh karena itu, peternakan adalah sektor yang dapat diandalkan untuk menjadi penggerak roda pembangunan ekonomi nasional,” imbuhnya (ipb.ac.id)

  • Prof. Dr. Dewi Apri Astuti Bagikan Strategi Menjaga Kestabilan Harga Daging di Indonesia

    Akhir pekan ketiga di bulan Januari 2021, para pedagang daging sapi di pasar Jabodetabek memutuskan untuk mogok berjualan. Aksi tersebut tentu akan berdampak pada langkanya ketersediaan daging sapi baik untuk konsumsi rumah tangga maupun rumah makan serta menurunnya penjualan komoditas lain karena sepinya pengunjung pasar.

    Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dr Dewi Apri Astuti menguraikan beberapa penyebab yang menjadi dasar terjadinya kenaikan harga daging sapi yang membuat para pedagang daging sapi mogok berjualan.
    “Sebetulnya masalah harga daging yang melonjak sampai pedagang di Jabodetabek mogok merupakan rangkaian panjang yang berkaitan dengan supply dan demand daging sapi hingga model peternakan Indonesia,” ujarnya.

    Ketua Divisi Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB University tersebut menyampaikan bahwa sentra produksi daging sapi lokasinya sedikit berjauhan dengan konsumen yang tinggi di sekitar Jabodetabek. Daging sapi diproduksi dalam jumlah yang tinggi di wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Selatan dan Bali.

    Sedangkan mayoritas konsumen daging sapi berada di wilayah Jabodetabek sehingga membutuhkan biaya yang cukup tinggi untuk mendatangkan daging sapi dan bakalan dari daerah-daerah tersebut ke wilayah Jabodetabek. Kondisi tersebut mengakibatkan wilayah Jabodetabek sangat bergantung pada impor dari Australia, baik daging beku maupun bakalan yang telah dilakukan penggemukan di wilayah sekitar Jawa Barat, atau mendatangkan dari provinsi lain yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak murah.

    “Kendala kedua adalah produksi daging sapi di Indonesia tidak mampu menutupi kebutuhan konsumsi. Di tahun 2020, Indonesia sudah memproduksi 422 ribu ton. Namun kita masih harus melakukan impor sebanyak 290 ribu ton ditambah dengan 123 ribu ekor bakalan yang setara 413 ribu ton daging,” tambahnya.

    Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi yang jauh di atas kemampuan produksi, Indonesia mengandalkan impor dari negara tetangga seperti Australia. Ketergantungan pada negara tersebutlah yang menjadi faktor eksternal melambungnya harga sapi di pasaran.

    “Seperti yang kita tahu, Australia beberapa tahun terakhir mengalami kekeringan yang menyebabkan kebakaran hutan yang cukup parah. Sehingga banyak padang gembala sapi yang rusak dan menyebabkan populasi sapi menurun,” imbuhnya.

    Faktor eksternal kedua adalah adanya pesaing lain yang menjadi konsumen Australia yakni negara China dan Vietnam, yang mana keduanya menawarkan harga beli yang lebih tinggi. Kedua negara tersebut mengimpor sapi untuk dilakukan penggemukan dalam negeri sebagai upaya swasembada daging sapi di negara masing-masing.

    “Dengan stok produk yang menurun akibat bencana dan demand yang meningkat karena adanya tambahan pesaing maka otomatis harga melambung,” jelasnya.

    Untuk itu, setidaknya ada empat strategi yang dapat diusahakan untuk mencegah terjadinya kenaikan daging sapi yang tidak terkendali di masa depan. Pertama dengan mendorong serta mendukung para peternak untuk memproduksi daging sapi dan bakalan dengan kualitas yang baik melalui pelatihan dan pendampingan dari mulai pembibitan, reproduksi, hingga pemeliharaan kesehatan.

    “Saya pernah ke padang gembala di Darwin, Australia. Ternyata kondisinya sama dengan yang kita miliki di NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan. Entah itu sapi lokal atau persilangan, kita punya potensi yang besar untuk memperbanyak produksi daging sapi,” tandasnya.

    Kedua, Indonesia tidak boleh lagi bergantung hanya pada satu negara. Ketergantungan pada satu negara membuat bargaining position kita menjadi lebih rendah. Negara yang mungkin bisa dicoba untuk memasok sapi adalah Meksiko dan Brazil.

    “Ketiga, kita harus memainkan regulasi secara tegas. Terkait pemotongan sapi betina produktif misalnya. Datanya tidak bisa kita temukan, namun di lapangan banyak terjadi dalam jumlah yang besar. Padahal sapi betina produktif ini adalah bibit yang dapat kita andalkan dalam upaya swasembada daging sapi,” ujarnya.

    Terakhir, adalah melakukan diversifikasi daging. Di Indonesia, daging lain yang biasa dimakan selain daging sapi adalah daging domba, kambing, ayam, serta kelinci. Untuk masyarakat yang boleh mengonsumsi daging babi pun bisa mulai meragamkan penggunaan daging babi dalam sajian kuliner. Bahkan saat ini sudah mulai dikenalkan daging rusa untuk dijadikan sumber daging merah

  • Prof. Luki Abdullah Raih Penghargaan Dosen berprestasi Nasional

    Dosen Fakultas Peternakan IPB kembali mengukir prestasi di tingkat nasional, yaitu Prof. Luki Abdullah, yang berhasil meraih penghargaan peringkat kedua dalam kategori Dosen berprestasi tingkat nasional.  Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-88, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memberikan penghargaan kepada insan pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi. Penghargaan tersebut diberikan pada acara Anugerah Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat Nasional 2016 yg diselenggarakan pada jumat (28/10) di Bandung, Jawa Barat.

    Gelaran ini merupakan gelaran ke–14 Diktendik berprestasi tingkat nasional yg diselenggarakan tiap tahun sejak tahun 2004 silam. “Pemberian penghargaan ini diharapkan mampu mendorong dosen dan tenaga kependidikan untuk berprestasi dan lebih produktif sehingga tercapainya tujuan pengembangan sistem pendidikan tinggi khususnya dan pembangunan sosial pada umumnya,” ujar Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti. Lebih lanjut Ali Ghufton Mukti mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan agar setiap perguruan tinggi (PT) tergerak untuk memiliki sistem penghargaan yang terprogram bagi dosen dan tenaga kependidikan, meningkatkan motivasi untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, dan menumbuhkan kebanggaan di kalangan dosen dan tenaga kependidikan terhadap profesinya.

    Jumlah peserta seleksi pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi 2016, tercatat sebanyak 266 orang dengan rincian, kategori administrasi akademik berprestasi 36 orang, kategori dosen berprestasi 63 orang, kategori kepala program studi berprestasi 48 orang, kategori laboran berprestasi 44 orang, kategori pengelola keuangan berprestasi 36 orang, dan kategori pustakawan berprestasi 38 orang.

    Dari kategori-kategori tersebut, IPB berhasil meraih tiga penghargaan, yaitu pada kategori Dosen berprestasi (Prof. Luki Abdullah), Kepala Program Studi Berprestasi (Dr. Iman Rusmana), dan Laboran berprestasi (Esti Prihantini).

    Selamat bagi para penerima penghargaan Diktekdik berprestasi tingkat nasional tahun 2016. Semoga capaian yg diraih mampu menjadi pelecut untuk selalu bekerja keras dan berinovasi dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang berkualitas di Indonesia tercinta.

  • Prof. Muladno Kembali Aktif di IPB

    Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr. Muladno kembali aktif mengajar dan meneliti di IPB setelah sebelumnya selama 13 bulan 12 hari (per 1 juni 2015) ditugaskan oleh Presiden RI, Joko Widodo sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI. Dalam jumpa pers atas kembali aktifnya Prof. Muladno di Kampus IPB Baranangsiang Bogor, Senin (18/7), Prof. Muladno memaparkan beberapa kebijakan strategis yang berhasil dilakukan selama menjabat sebagai Dirjen. “Setidaknya hasil ini tidak memalukan IPB,” tegasnya.
     
    Selama 13 bulan menjabat, kebijakan strategis yang berhasil diterapkan dalam dunia peternakan adalah pertama, pembenahan industri dan bisnis-bisnis perunggasan. “Ternak unggas mengalami over suplly, sehingga tugas kami kemarin adalah memimpin perusahaan-perusahaan pembibitan unggas untuk menyeimbangkan jumlah supply demand. Akhirnya lahir peraturan Permentan tentang produksi, peredaran dan pengawasan Day Old Chicken (DOC),” ujarnya.
     
    Kedua, revitalisasi asosiasi. Saat ini ada 84 asosiasi atau perhimpunan di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Banyak diantara asosiasi itu yang hanya sekadar kumpul-kumpul saja tanpa ada dokumen legalnya. “Kita dorong supaya asosiasi itu dibenahi, jangan sampai orang gampang buat asosiasi padahal legitimasinya diragukan,” ujarnya.
     
    Ketiga, adanya revisi peraturan menteri yang membuat bisnis sapi lebih kondusif seperti penghapusan biaya pemeriksaan penyakit sebelum sapi itu dikirim dari Australia ke Indonesia.
     
    “Tadinya biayanya itu 220 dollar per ekor. Nah kemarin setelah berkunjung ke Australia cek sana cek sini, akhirnya saya putuskan, setelah diskusi dengan otoritas kesehatan hewan, biayanya menjadi 50 dollar per ekor. Bayangkan kalau kita impor seribu ekor saja sudah berapa milyar yang bisa disimpan. Pencegahannya terlalu mahal dibanding realitasnya. Padahal penyakit tersebut amat sangat langka,” terangnya.
     
    Keempat, aturan impor sapi bakalan tadinya harus 350 kilogram (kg) per ekor. “Ini agak merepotkan karena jika ada sapi bakalan yang beratnya 355 kg maka itu sudah dianggap melanggar. Maka aturannya kemudian diubah menjadi rata-rata 350 kg per bacth,” imbuhnya.
  • Prof. Ronny Noor Jadi Adjunct Professor di Universitas di Australia

    Prof. Ronny Noor yang baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan selama 4 tahun di Australia mendapat kehormatan diangkat menjadi Adjunct Professor di almamaternya di University of New England (UNE), Armidale (NSW) Australia.

    Berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh David Thorsen, Director of Human Resources  UNE, Prof. Ronny Noor akan menjalani peran barunya sebagai Adjunct Professor di School of  Environment and Rural Science, UNE selama 5 tahun mulai tanggal 1 Agustus 2017 disamping tugas utamanya sebagai Guru Besar di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB). Adjunct Professor adalah seseorang yang diangkat oleh universitas untuk mengajar atau melakukan kegiatan lain bukan sebagai staf tetap, namun memberikan kontribusi secara periodik.

    Dalam keterangan kepada wartawan ABC Australia Plus, Sastra Wijaya, Prof. Ronny Noor menyatakan bahwa hal ini merupakan kehormatan besar bagi dirinya yang telah dipercaya oleh UNE  setelah menyelesaikan studi Master dan Doktornya 21 tahun yang lalu di universitas tersebut. "Disamping itu peran ini dinilai sangat strategis dalam pembangunan pertanian di Indonesia khususnya pembibitan ternak mengingat baik IPB  maupun UNE merupakan universitas universitas terkemuka yang memfokuskan dirinya pada ilmu ilmu pertanian dalam arti luas  yang memiliki reputasi internasional." kata Prof Ronny.

    Proses nominasi sebagai Adjunct Professor ini memerlukan  proses dan waktu yang cukup panjang, setelah sebelumnya UNE menganugerahkan Distinguished Alumni Award kepada Prof. Ronny Noor pada tahun 2016 lalu karena dinilai telah memberikan kontribusi besar dalam membangun kerjasama pendidikan dan penelitian antara Indonesia dan Australia dalam perannya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Disamping itu nominasi ini juga mempertimbangkan rekam jejak prestasi akademis dan penelitian yang telah dibangun oleh Prof. Ronny Noor selama ini  setelah menyelesaikan studinya di University of New England dalam bidang genetika kuantitatif dan genetika ekologi serta pemuliaan ternak. Dalam peran barunya ini Prof. Ronny Noor akan bermitra dengan para staf pengajar di UNE termasuk dengan  Prof. Julius van der Werf  dan Dr Fran Cowley dari School of Environmental and Rural Science dalam  mengembangkan kerjasama pendidikan dan penelitian dalam bidang  genetika, pemuliaan serta sistem pembibitan  ternak tropis.

    Prof. Ronny Noor juga akan melakukan kerjasama pembimbingan mahasiswa kandidat doktor khususnya yang terkait dengan program the ACIAR Indobeef Projects yang saat ini sedang berjalan dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia Indonesia di bidang peternakan. Indobeef project merupakan program kerjasama Indonesia dan Australia dalam bidang  pendidikan, penelitian dan pengembangan sumberdaya manusia  untuk pembibitan sapi pedaging di Indonesia.  Disamping itu program ini juga dimaksudkan untuk melakukan peningkatan  value chain peternakan sapi pedaging di Indonesia.

    Professor Ronny Noor akan berperan memfasilitasi kerjasama pendidikan dan pengajaran antara Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan UNE dan juga institusi terkait lainnya dalam mengembangkan petanian di Indonesia. Dalam peran barunya ini Prof. Ronny Noor menyatakan bahwa dirinya sangat optimis dapat mengembangkan kerjasama pendidikan dan penelitian lebih jauh lagi dalam upaya untuk memajukan pertanian Indonesia.

    Dalam bidang keilmuan Prof. Ronny R. Noor yang mendalami bidang Genetika Kuantitatif dan Genetika Ekologi ini selepas menyelesaikan PhD nya dari University of New England pada tahun 1994. Setelah itu melengkapi bidang keilmuannya dengan melakukan kerjasama penelitian dengan mengikuti program post-doctoral dan trainingnya di Jepang, Amerika, Jerman, Swedia, Malaysia serta Thailand. Selama karirnya Prof. Ronny R. Noor yang tercatat pernah menduduki posisi Dekan dan Wakil Kepala bidang penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB). Dia juga telah membimbing dan meluluskan ratusan mahasiswa baik di di level S1, S2 dan S3.

    Di samping itu kegemarannya menulis telah menghasilkan ratusan judul baik dalam bentuk buku, karya ilmiah dan tulisan ilmiah popular lainnya. Dalam karirnya, Prof. Ronny R. Noor pernah tercatat membantu pengembangan sumberdaya manusia untuk pelestarian sumberdaya ternak di International Livestock Research Institute (ILRI) FAO. (australiaplus.com)

  • Program Sarjana Plus Logistik Peternakan

    Program Sarjana Plus Logistik Peternakan

    Program Satu Semester Sertifikat Profesional

     

    Menjamin penyediaan ternak dan produk ternak kepada konsumen secara berkesinambungan, meliputi pasca  panen, pergudangan, transportasi, keamanan dan kualitas produk
    Kompetensi :

    • Mampu mengimplementasikan keahlian di bidang logistik peternakan
    • Mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sains di bidang logistik peternakan
    • Mampu mengelola dan bekerja dalam tim secara  profesional, untuk menerapkan keputusan strategis di bidang logistik  peternakan

    Kualifikasi :

    • Lulusan S1 (Peternakan, Kedokteran Hewan, Logistik, Transportasi, Ekonomi, Teknik Industri, IKK);
    • Minimal telah mendapatkan Surat Keterangan Lulus (SKL)
    • Fresh graduate atau yang sudah bekerja
    • Individu atau utusan instansi/perusahaan

    More information :

    Sekretariat Program Sarjana Plus
    Fakultas Peternakan IPB, Wing 2 Lantai 4
    (0251) 8622841, Fax. 8622842
    alogistic@apps.ipb.ac.id
    +62 857 1737 0257 (CP: Dewi)

    Check our brochure : Brochure S1 Plus - Logistik Peternakan

  • Program Studi THT, satu satunya di Indonesia

    Fakultas Peternakan telah membuka Program Studi strata satu (S1) baru, yaitu Program Studi Teknologi Hasil Ternak (PS-THT). Program Studi ini diasuh oleh Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), dimana bidang keilmuannya ini meliputi : teknik pengolahan dan rekayasa produk hewan ( makanan : daging , susu telur & madu), pengolahan hasil ikutan ( wol, kulit, tulang, dll ), sifat fungsional dari produk hewani & pengelolaan limbah.

    Program Studi Teknologi Hasil Ternak pada saat ini merupakan satu satunya program studi strata satu (S1) di bidang pengolahan hasil ternak di Indonesia, menjadikan PS-THT menjadi pilihan yang tepat menuju sukses di bidang pengolahan hasil ternak. Pada tahun 2016 ini, PS-THT hanya menerima pendaftaran dari jalur Ujian Talenta mandiri IPB (UTM) dengan daya tampung sebanyak 40 orang mahasiswa.

    Pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui alamat  http://admisi.ipb.ac.id/p/single/utm. Syarat peserta adalah : lulusan SMA/MA IPA tahun 2014-2016, sehat jasmani dan rohani. Pendaftaran dapat dilakukan mulai 11 Mei - 9 Juni 2016. Ujian tertulis dengan materi ujian: Biologi, Fisika, matematika, Bahasa Inggris dan Tes Talenta , dilakukan pada tanggal 18 Juni 2016, dan pengumuman kelulusan pada tanggal 29 Juni 2016.

    Pada tahun 2017, Program ini membuka jalur masuk melalui SNMPTN, SMBPTN, UTMI, Beasiswa Unggulan Daerah (BUD), Prestasi Internasional_Nasional, dengan daya tampung 100 orang mahasiswa. untuk mendapatkan informasi mengenai semua jalur masuk tersebut, dapat mengakses alamat http://admisi.ipb.ac.id.

    Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendetail, dapat menghubungi Departemen Imu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB, Jalan Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor,telp. dan fax.  0251-8628379, email departemeniptp@gmail.com dan situs web http://iptp.fapet.ipb.ac.id

  • Promosi Virtual Program Studi di Fakultas Peternakan IPB

    Fakultas Peternakan IPB University mengadakan Promosi Virtual untuk para pelajar SMA/sederajat pada hari Sabtu (6/3). Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan Program Studi yang ada di Fakultas Peternakan secara lengkap dan menyeluruh. Lebih dari 100 peserta yang berasal dari berbagai SMA di Indonesia menghadiri Acara promosi virtual ini, yang diakses melalui zoom serta kanal YouTube : Wakil Dekan AK Fapet IPB dengan judul acara "Canvassing Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University".

    Acara ini juga menghadirkan Ir. Audy Joinaldy, SPt, MSc, MM, IPM, ASEAN.Eng - Wakil Gubernur Sumatera Barat dan Frans Marganda Tambunan, S.Pt - Direktur Komersial PT Rajawali Nusantara  Indonesia (Persero) yang membagi kisahnya sebagai alumni Fakultas Peternakan IPB University yang sukses dalam bidangnya masing-masing.

    Dekan Fakultas Peternakan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas kehadiran peserta yang mengikuti acara ini serta memaparkan bahwa pada saat ini Fakultas Peternakan sudah menerapkan Kurikulum K2020 yang mengintegrasikan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka dimana mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan di luar kampus sampai dengan 20 SKS. “Disamping itu, kegiatan kemahasiswaan yang semula hanya merupakan kegiatan ekstra kurikuler telah diintegrasikan ke dalam kegiatan kurikulum sehingga para mahasiswa yang melakukan kegiatan kemahasiswaan dapat mengkalim kegiatan tersebut dalam bentuk SKS” jelasnya.

    Apresiasi juga disampaikan kepada Ir. Audy Joinaldy, SPt, MSc, MM, IPM, ASEAN.Eng - Wakil Gubernur Sumatera Barat dan Frans Marganda Tambunan, S.Pt - Direktur Komersial PT Rajawali Nusantara  Indonesia (Persero) yang telah hadir sebagai bintang tamu acara tersebut untuk membagi kisahnya sebagai alumni Fakultas Peternakan IPB University yang sukses dalam bidangnya masing-masing.

    Pada kesempatan ini, Ir. Audy Joinaldy, SPt, MSc, MM, IPM, ASEAN.Eng, selaku salah satu alumni Fakultas Peternakan IPB membagi pengalaman dan kesan-kesan dari mulai menjadi mahasiswa Fapet yang menurutnya adalah pilihan yang tepat. Audy juga berbagi cerita mengenai para dosen serta rekan-rekannya sesama alumni Fapet yang banyak memberikan kesan baik hingga sedikit bercerita tentang perjalanan karirnya dari mulai jadi pengusaha hingga kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat.

    Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Irma Isnafia, banyak menjelaskan kepada calon mahasiswa mengenai gambaran perkuliahan di IPB, beliau juga menjawab pertanyaan beberapa peserta terkait program dan kondisi kegiatan belajar mengajar di IPB khususnya di tahun awal kuliah mahasiswa.

    Presentasi mengenai masing-masing program studi yaitu IPTP (Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan), INTP (Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan) dan THT (Teknologi Hasil Ternak) disajikan secara apik dan menarik melalui media video dan presentasi yang disampaikan secara lugas oleh Iyep Komala, S.Pt, M.Si dari  Program Studi IPTP danTHT serta Rika Zahera, S.Pt, M.Si dari Program Studi INTP.

  • Proses Pelayuan untuk Tingkatkan Mutu Daging Sapi

    Untuk meningkatkan kualitas daging sapi, maka sebaiknya setelah proses penyembelihan, dilakukan langkah pelayuan (aging). Hal itu disebabkan sapi yang telah mengalami proses penyembelihan, dagingnya akan mengalami fase rigor mortis, yakni daging akan menjadi lebih keras, kaku dan alot. Jika tidak dilakukan pelayuan dan langsung didistribusikan ke konsumen, akan menyebabkan penurunan kualitas daging tersebut.

    Untuk menghindari atau menghilangkan daging dari fase rigor mortis ini, maka dilakukan upaya pelayuan dimana daging dibiarkan menyelesaikan proses rigornya sendiri dalam penyimpanan. Proses pelayuan tersebut dilakukan dengan penyimpanan daging pada beberapa waktu tertentu dengan tujuan tertentu.

    Umumnya daging dibiaskan dilayukan dalam bentuk karkas maupun setengah karkas. Proses penyimpanan karkas dilakukan pada suhu 0°C – 4°C selama minimal 18 jam untuk menyempurnakan proses biokimia daging yang berupa rigormortis. Manager Produksi PT Cianjur Arta Makmur (Widodo Makmur Group) Mukhlas Agung Hidayat S,Pt mengatakan, rigormortis merupakan proses biokimiawi otot dimana secara umum juga disebut pergantian fase otot menjadi daging. Ia mengatakan hal itu dalam dalam pelatihan online bertema “Penerapan Kesejahteraan Hewan pada Rantai Pasok Sapi Potong” yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB pada 13-14 Mei 2020.

    Mukhlas memaparkan, dalam proses rigormotis, terjadi penurunan pH akibat proses glikolisis anaerob, menghasilkan asam laktat. pH normal daging setelah pelayuan adalah 5,3-5,7. Terdapat tiga fase rigormotis, yakni fase pre rigor, fase rigormotis, dan fase pasca rigor. Pada fase pre rigor, terjadi fase glikolisis anaerob, yang berlangsung pada waktu 4-8 jam -hingga glikogen habis. Fase ini ditandai dengan masih bergeraknya otot.

    Setelah itu memasuki tahap rigormortis, yang ditandai dengan terjainya kekakuan pada otot, saat energi hasil glikolisis habis dan aktomiosin terkunci. Fase ini terjadi dalam tempo 8-12 jam. Adapun pada fase pasca rigor, merupakan fase dimana enzim katepsin (akibat kondisi asam pH 5,3-5,7) mulai bekerja untuk melunakkan daya ikat jaringan serat daging. Fase ini berlangsung pada jam ke-15 hingga jam ke 20 (livestockreview.com)

  • PROSPEK AGRIBISNIS LEBAH MADU

    Indonesia memiliki kekayaan alam dan potensi besar untuk pengembangan usaha perlebahan. Sebanyak 6 dari 7 spesies lebah madu di dunia ada di Indonesia, dan sebagian sudah dimanfaatkan masyarakat baik untuk panen madu maupun lilin. Dengan luas daratan Indonesia sekitar 200 juta hektar, 40% di antaranya berpotensi menghasilkan pakan lebah (bee forage). "Dari total areal tersebut dapat menghasilkan sekitar 80.000-200.000 ton dalam setahun," kata Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Dr Asnath M Fuah dalam sebuah pelatihan tentang Manajemen Produksi dan Logistik Lebah Madu Tropika yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Kampus Fakultas Peternakan IPB, Kampus Darmaga Bogor pada 8-9 Oktober 2019.

    Potensi pengembangan bisnis madu di Indonesia sangat prospektif. Asnath memaparkan, jika dibandingkan dengan negara lain, konsumsi madu di Indonesia masih sangat rendah. Konsumsi madu masyarakat Jepang mencapai 200-300 gram/kapita/tahun atau paling tinggi di negara-negara Asia. Di Eropa, terutama Swiss dan Jerman konsumsinya lebih tinggi, yaitu 800-1500 gram/kapita/tahun. "Di Inggris, Amerika Serikat, dan Perancis konsumsi madu bahkan telah mencapai 1000 -1600 gram/kapita/tahun," katanya.

    Bandingkan dengan konsumsi madu di Indonesia yang baru mencapai 10-15 gram/kapita/tahun. Penyebab rendahnya konsumsi madu Indonesia antara lain yakni madu hanya dikonsumsi sebagai suplemen; harga madu asli relatif mahal, daya beli kurang, dan rendahnya pengetahuan tentang madu.

    Potensi besar budidaya ternak lebah juga ditunjukkan oleh data dari Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) yang akngka konsumsi madu Indonesia berkisar 7.000 - 15.000 ton per tahun. Padahal, produksi madu lokal Indonesia saat ini baru mencapai 4.000 - 5.000 ton per tahun, yang berarti Indonesia kekurangan produksi madu lokal sebanyak 3.500-11.000 ton/tahun. "Terjadi gap antara suplai dan demand madu," kata Asnath.

    Adapun potensi jenis lebah madu yang prospektif untuk dibudidayakan di Indonesia antara lain yakni lebah hutan Apis dorsata, lebah lokal Apis cerana, lebah impor Apis mellifera, dan lebah lokal Trigona. Prospek bisnis ternak lebah tidak hanya madu saja, namun juga produk ikutan lain bee pollen, royal jelly, propolis, sengat lebah, lilin lebah, ratu lebah, koloni lebah, dan peralatan budidaya lebah.

    Ruang lingkup agribisnis lebah madu juga terbentang luas, mulai dari potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana prasarana, modal usaha, penerapan teknologi panen dan pasca panen, produk hulu-hilir yang dihasilkan, logistik dan supply chainproduk lebah. Potensi besar agribisnis lebah madu ini harus dimanfaatkan secara optmimal sehingga Indonesia diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan madu dan produk ikutannya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. (majalahinfovet.com)

  • PT Japfa Foundation Berikan Beasiswa kepada Mahasiswa IPB University

    Melalui kerjasama yang terjalin antara Fakultas Peternakan dan PT Japfa Foundation, (26/10), mahasiswa IPB University mendapatkan beasiswa dan kesempatan magang selama enam bulan. Menurut Yahya Djanggola, Ketua Yayasan Japfa menyampaikan bahwa pemberian beasiswa dan kesempatan magang ini merupakan dukungan terhadap program Merdeka Belajar. 

    “Beasiswa sekaligus program magang yang ini juga akan kami berikan kepada mahasiswa di kampus lainnya di Indonesia. Sementara itu, kerjasama dengan Fakultas Peternakan IPB University sudah kami lakukan sejak tahun 2018. Sudah ada 13 mahasiswa yang  telah berhasil lulus dari program beasiswa ini. Ada 7 mahasiswa yang akan segera lulus dan 14 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa selanjutnya,” ujarnya.

    Hal serupa disampaikan oleh Direktur Corporate Affairs PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Rachmat Indrajaya. Ia menyampaikan bahwa selain program magang, saat ini Japfa ada program baru yang bernama Bertani untuk Negeri. Program ini merupakan dukungan Japfa Foundation terhadap program pemerintah, sesuai amanah Presiden RI yang menyebutkan bahwa perusahan swasta dapat bekerjasama dengan universitas-universitas di Indonesia.

    “Program magang di Japfa sudah lama dilakukan, hanya saja tidak dilakukan secara terstruktur seperti apa yang akan dilakukan saat ini. Yakni adanya nilai SKS yang diberikan oleh perguruan tinggi,” ujarnya.

    Pada kesempatan ini, Prof Dr Sumiati, Dekan Fakultas Peternakan IPB University mengucapkan terimakasih atas pemberian hibah berupa beasiswa dari PT Japfa Foundation untuk mahasiswa IPB University. Prof Sumiati sangat menyambut baik jika ada program lainnya yang dapat dijadikan suatu kerjasama yang bermanfaat seperti Bertani untuk Negeri atau program magang industri. Ia berharap kerjasama ini dapat terus ditingkatkan dan dapat bermanfaat bagi kedua belah pihak (ipb.ac.id)

  • Rabuan Bersama Fakultas Peternakan IPB

    Fakultas Peternakan IPB, mengadakan rabuan bersama pertama kali dalam masa kepemimpinan dekan baru, Dr. Moh Yamin (24/02/2016). Rabuan adalah istilah yang biasa digunakan di fakultas Peternakan dan unit lain di IPB, dalam kegiatan rapat atau pertemuan yang diadakan pada hari Rabu. Kegiatan rapat tersebut dapat bersifat santai, serius, atau kekeluargaan.

    Rabuan kali ini diikuti oleh seluruh civitas akademika fakultas peternakan IPB, diantaranya staf pengajar, staf kependidikan, dan perwakilan organisasi kemahasiswaan Fapet IPB. Dekan Fakultas peternakan pada kesempatan ini juga memaparkan Program Kerja Dekan tahun 2015-2020, dan memperkenalkan Wakil Dekan baru yang menjabat di Fapet IPB.

    Acara ini juga dilangsungkan sekaligus untuk pisah sambut dekan lama dan baru, foto bersama staf pengajar dan staf kependidikan, dan diakhiri dengan ramah tamah dan makan siang.

     

  • Rambut Hewan Kesayangan Anda Rontok? Mahasiswa IPB University Berikan Solusinya

    Sering mendengar keluhan rontoknya rambut kucing milik temannya, Digsen Afriadi, salah satu mahasiswa IPB University menemukan ide untuk membuat Tinolin, nama brand dagang suplemen pencegah kerontokan rambut pada hewan peliharaan. Ide itu ia dapatkan saat dirinya bersama kedua rekannya, Sihabudin Asnawi dan Zarifa Olivia mendapatkan mata kuliah Inovasi Pengolahan Bulu Domba di Fakultas Peternakan IPB University.

    “Salah satu pengetahuan yang saya dapatkan saat kuliah, bulu domba mengandung senyawa seperti lemak yang dapat menjaga bulu domba tetap halus dan bagus. Lalu saya dan Zarifa pada saat itu berpikir, kenapa tidak kita coba ambil lemaknya dan diberikan kepada pet animal yang mengalami masalah rambut rontok, kering atau pun rusak,” jelas Digsen.

    Senyawa yang dimaksudnya adalah lanolin. Menurut Digsen, sejauh ini pemanfaatan bulu domba masih belum banyak, bahkan ada peternak yang membuang lalu membakarnya. Padahal, lanolin yang terdapat dalam bulu domba dapat menjaga wol, rambut dan kulit domba dalam keadaan baik, sehingga lanolin juga berguna untuk rambut dan juga kulit hewan kesayangan. 

    “Sepengetahuan saya, belum ada produk suplemen untuk hewan peliharaan, baru ada sampo. Penggunaan suplemen ini sangat simpel, hanya perlu mengoleskan Tinolin pada bagian yang ingin kita perbaiki,” ucap Digsen.

    Digsen menegaskan,  semua jenis domba dapat digunakan bulunya menjadi suplemen. Yang terpenting, untuk mendapatkan lanolin yang banyak membutuhkan bulu domba yang segar. Artinya diproses langsung setelah dicukur supaya kandungan lanolinnya tidak hilang. Paling tidak bulu domba yang sudah dicukur tiga hari masih bisa digunakan meskipun akan mendapatkan ekstrak lanolin yang lebih sedikit.
    “Sasaran kita adalah para pemilik hewan peliharaan. Kita menyadari bahwa memelihara hewan peliharaan seperti kucing, kelinci ataupun anjing sangat penting menjaga kesehatan rambut mereka. Harapannya dengan adanya Tinolin ini mampu menjawab dan memberikan solusi masalah kesehatan rambut hewan peliharaan yang rontok, rusak ataupun kering,” ujar Digsen.

    Digsen dan kedua rekannya berharap karyanya yang merupakan Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) 2019 ini  akan membawa Tinolin ini ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Digsen dan tim berencana memperkenalkan  produk PKM-PE yang berjudul ‘Tinolin : Suplemen Rambut Kering, Rusak dan Rontok Pada Pet Animal’ ini kepada para pemilik hewan peliharaan sehingga apa yang sudah dilakukannya dapat memberikan manfaat sebagaimana mestinya.  Dalam proses pembuatannya Tinolin ini di bawah bimbingan M Sriduresta Soenarno, SPt, MSc. (ipb.ac.id)

Tips & Kegiatan Selama WFH