News

  • Peneliti IPB Gunakan Enzim untuk Kurangi Limbah Gas Amonia dalam Peternakan Ayam

    Kandungan nitrogen yang tinggi dalam kotoran ayam menunjukan kurang sempurnanya proses pencernaan atau protein yang berlebihan dalam pakan ternak. Guru Besar dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Sumiati menjelaskan tidak semua protein yang dikonsumsi ayam dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh. Sebagian akan dikeluarkan melalui manur atau kotoran ayam dalam bentuk amonia. Nitrogen yang berlebih menjadi penanda adanya kontaminasi yang serius terhadap lingkungan, karena nitrogen yang berlebih akan menghasilkan amonia yang bersifat racun.

    “Untuk mengurangi pengeluaran N (sumber amonia) dapat dilakukan dengan penambahan enzym mannanase. Penambahan enzim mannanase dalam ransum ayam petelur berprotein rendah (mengandung bungkil inti sawit) ini bertujuan untuk penurunan kadar ammonia dan bakteri Eschericia coli (salah satu bakteri pathogen)” tuturnya.

    Enzim mannanase diperlukan untuk memecah polisakarida mannan yang terkandung dalam bungkil inti sawit menjadi oligosakarida mannan. Oligosakarida mannan ini sangat berguna sebagai prebiotik atau makanan bagi bakteri Lactobacillus sp. (bakteri baik), sebaliknya bisa menghambat pertumbuhan bakteri jahat (pathogen).

  • Peneliti IPB Hasilkan Telur Itik Tinggi Antioksidan dan Omega 3

    Tiga peneliti Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB), Prof. Sumiati, Dr. Widya Hermana dan Arif Darmawan melakukan sebuah penelitian terhadap telur itik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektifitas penggunaan tepung daun Indigofera sp, tepung daun singkong dan minyak ikan lemuru yang menghasilkan telur itik kaya antioksidan dan asam lemak omega 3 serta pengaruhnya terhadap performa itik petelur.

    Menurut Sumiati, tepung daun Indigofera sp. dapat menggantikan bungkil kedelai sebagai sumber protein pada ransum itik petelur, sehingga impor bungkil kedelai berkurang dan ransum itik harganya bisa lebih murah. “Minyak ikan lemuru yang merupakan limbah dari proses pengalengan maupun penepungan ikan lemuru juga dapat digunakan untuk menurunkan kandungan kolesterol telur dan meningkatkan kandungan Omega 3 secara signifikan,” ungkap Guru Besar Fakultas Peternakan ini.

    Dalam percobaannya peneliti ini menggunakan 180 ekor itik. Terdapat tiga perlakuan dan lima ulangan. Itik yang diberi ransum kontrol  atau ransum yang biasa dipakai peternak (P0). Itik yang diberi ransum menggunakan 2 persen minyak ikan lemuru ditambah 11 persen tepung daun Indigofera sp (P1). Itik yang diberi ransum menggunakan 2 persen minyak ikan lemuru ditambah 11 persen tepung daun singkong (P2).

    Hasil percobaan menunjukkan perlakuan P2  mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dibandingkan perlakuan kontrol (P0) dan P1. Selain itu, perlakuan P2 juga secara nyata mampu meningkatkan produksi telur dibandingkan perlakuan P1.

    Perlakuan P2 tersebut juga mampu meningkatkan vitamin A telur secara signifikan dan menurunkan kandungan kolesterol kuning telur dibandingkan perlakuan P1 serta lebih efektif sebagai sumber antioksidan yang ditandai dengan menurunnya nilai MDA telur secara signifikan.

    Perlakuan P1 dan P2 juga diketahui mampu menurunkan asam lemak jenuh dan meningkatkan kandungan asam lemak omega 3 dan omega 6 dengan rasio seimbang. Kesimpulan dari penelitian ini penggunaan 11 persen  tepung daun singkong dengan 2 persen minyak ikan menghasilkan performa dan kualitas kimia telur itik lebih baik dibandingkan dengan pengunaan 11 persen tepung Indigofera sp dengan 2 persen minyak ikan.

    Penggunaan minyak ikan 2 persen dan indigofera sampai 11 persen terbukti tidak akan menurunkan performa itik petelur dan kualitas fisik telur, dapat menurunkan lemak dan kolesterol telur, meningkatkan skor warna kuning telur, meningkatkan kandungan vitamin A dan meningkatkan kandungan asam lemak omega 3.

    Telur produk hewani yang mengandung protein tinggi. Harganya pun relatif terjangkau dan ketersediaannya melimpah di Indonesia. Dewasa ini perlu dilakukan peningkatan kualitas nutrisi telur. Desain telur tinggi antioksidan dan asam lemak omega 3 sudah menjadi keharusan. (ipb.ac.id)

  • Peneliti IPB Kembangkan Pengawet dari Bakteri Asam Laktat

    Selama ini, pengawet dipakai produsen makanan agar produk mereka tahan lama dan tak mudah busuk. Pengawet makanan dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme pembusuk sehingga memperpanjang daya simpan. Namun, tidak semua pengawet aman digunakan. Bahkan, sebagian besar malah membahayakan tubuh. Pengawet bisa menyebabkan gangguan kesehatan jangka pendek, seperti infeksi saluran pernapasan dan diare. Juga gangguan kesehatan jangka panjang seperti kerusakan jantung dan ginjal.

    Salah satu dosen Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Irma Isnafia Arief meneliti tentang bahan pengawet makanan yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat. Bakteri tersebut didapat dari daging sapi lokal yang kemudian ditumbuhkan lalu diisolasi dari senyawa anti mikroba yang dihasilkan dari bakteri asam laktat tersebut. “Kami menemukan bakteri asam laktat yang memiliki sifat probiotik yang bisa memberikan manfaat kesehatan baik untuk ternak maupun untuk manusia,” ujar dosen yang mengajar di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fapet ini.

    Saat ini bahan pengawet yang ditemukan Dr. Irma sudah diaplikasikan pada produk olahan susu seperti yogurt ataupun produk olahan daging seperti bakso dan sosis yang ternyata mampu memberikan manfaat yang baik. “Sejauh ini perkembangan penelitian ini sudah diaplikasikan di beberapa UKM saja karena belum komersial,” tambahnya.

    Pengawet buatan yang beredar saat ini memiliki sifat karsinogenik seperti boraks dan nitrit yang berbahaya bagi tubuh. Sedangkan bakteri asam laktat ini merupakan good bakterial yang baik untuk kesehatan usus dimana bakteri ini dapat hidup di usus manusia. Bakteri asam laktat tidak memproduksi toksin atau senyawa yang memiliki sifat racun di tubuh sehingga bahan pengawet yang dihasilkan akan lebih aman bagi manusia.

     “Ke depannya saya mengharapkan bahwa penemuan atau penelitian ini akan bisa sangat bermanfaat untuk pengganti pengawet boraks, nitrit dan lain sebagainya yang selama ini digunakan untuk pembuatan bakso dan sosis pada pengolahan daging dengan pengawet hayati yang kita produksi,” tutupnya.(RF - ipbmag.ipb.ac.id)

  • Peneliti IPB Kembangkan Rumput yang Tahan Kekeringan

     

    Peternakan ruminansia di Indonesia didominasi oleh peternakan rakyat. Sebagian besar peternak memanfaatkan rumput sebagai hijauan pakan utama untuk ternak. Akan tetapi kendala yang dihadapi oleh peternak adalah ketersediaan hijauan. Kuantitas, kualitas, dan kontinuitas hijauan adalah faktor penghambat hijauan pakan.

    Hal tersebut membuat sejumlah pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian terkait seleksi rumput tahan cekaman dan potensi pengembangannya di daerah kering dengan teknik Leisa. Penelitian ini dilakukan oleh Moh Ali Hamdan, Panca DMH Karti dan Iwan Prihantoro dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan (Fapet).

    Panca mengatakan, Indonesia memiliki keanekaragaman jenis rumput yang tinggi. Namun, sebagai negara tropis, beberapa daerah di Indonesia  memiliki panjang musim yang berbeda seperti musim penghujan yang lebih pendek dari musim kemarau. Bagi daerah yang memiliki musim kemarau lebih panjang dari musim penghujan, ketersediaan hijauan menjadi faktor penghambat bagi perkembangan peternakan. “Padahal potensi ternak tersebut tentunya memerlukan ketersediaan hijaun sebagai pakan,” katanya.

  • Peneliti IPB Manfaatkan Buah Bit Merah sebagai Pewarna dalam Pembuatan Kornet Sapi

    Kornet merupakan salah satu produk yang dibuat dari potongan daging tanpa tulang dalam kondisi segar atau beku. Umumnya kornet dibuat melalui proses curing dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lain serta diproses dengan atau tanpa sterilisasi, kemudian dikemas dalam wadah tertutup.

    Proses curing yang dilakukan bertujuan untuk mendapatkan produk yang baik dari segi aroma, tekstur, dan kelezatan, warna produk yang stabil dan memperpanjang masa simpan produk daging. Salah satu bahan tambahan pangan yang biasanya digunakan dalam pembuatan kornet yaitu nitrit. Nitrit adalah salah satu bahan tambahan pangan yang umumnya digunakan dalam industri pangan seperti industri pengolahan daging.

    Fungsi nitrit yaitu sebagai penstabil warna merah daging, zat antimikroba dan zat antioksidan. Namun, penggunaan nitrit dalam kornet juga harus diperhatikan. Hal ini dikarenakan dapat berdampak negatif bagi kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang berlebih. Oleh sebab itu, diperlukan penambahan bahan pewarna alami yang lebih aman dan memiliki kandungan antioksidan tinggi.

    Hal inilah yang mendasari tim peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Tuti Suryati dan M. Sriduresta Soenarno, SPt. MSc bersama mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB, Apriliana Widiastuti, melakukan sebuah penelitian dengan memanfaatkan pure bit sebagai bahan tambahan pangan dalam pembuatan kornet sapi.

    Pure bit (bit merah) dipilih karena memiliki komponen utama yaitu pigmen betasianin yang memberikan warna merah keunguan. Betasianin yang terkandung pada bit ini memiliki efek antiradikal dan aktivitas antioksidan yang tinggi. Kandungan senyawa antioksidan bit merah dalam bentuk vitamin C. Penambahan bit diharapkan akan mempengaruhi karakteristik fisikokimia dan sensori kornet yang dihasilkan.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan nitrit dan pure bit terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik pada kornet sapi. Penelitian ini mencakup pembuatan kornet, pengukuran sifat fisikokimia dan organoleptik kornet. Pembuatan kornet meliputi formulasi bahan, perlakuan penambahan nitrit (nol ppm dan 150 ppm) dan penambahan pure bit dengan konsentrasi (nol persen, 20 persen dan 40 persen).

    Berdasarkan hasil penelitian, penambahan bit mampu meningkatkan kadar air, dan warna merah pada kornet sapi. Penambahan pure bit hingga 40 persen baik dengan maupun tanpa curing dengan garam nitrit, menghasilkan warna merah dengan tekstur yang lembek dan cita rasa bit yang kuat. Perlakuan yang terbaik yaitu dengan penambahan pure bit 20 persen. Melalui penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penambahan pure bit 20 persen dapat digunakan sebagai pewarna alami pada pembuatan kornet sapi dengan mutu organoleptik yang baik (ipb.ac.id)

  • Peneliti IPB Manfaatkan Limbah Keju untuk Produksi Minuman

    Produksi keju di seluruh dunia umumnya menghasilkan whey dalam jumlah yang besar. Tidak kurang dari 50% total whey dari seluruh dunia diolah menjadi produk makanan dan minuman, sementara 50% lainnya terbuang menjadi limbah. Whey dianggap sebagai limbah dan tidak diproses sebagai produk turunan. Padahal whey memiliki nutrisi yang masih tinggi yaitu 55% dari total nutrisi susu.

    Walaupun whey merupakan produk samping, namun whey memiliki nilai nutrisi protein dan karbohidrat. Dan dapat dimanfaatkan dalam bidang pangan, pakan dan media pertumbuhan bakteri. Hal ini dikarenakan whey masih mengandung 4-7% laktosa dan 0,6-1% protein.

    Komponen nutrisi whey ini dapat dimanfaatkan oleh bakteri sebagai sumber nutrisi pertumbuhan. Hal inilah yang mendasari peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Irma Isnafia Arief, dan Dr. Cahyo Budiman, beserta mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB, Ikhsan Suhendro, melakukan sebuah penelitian. Mereka membuat minuman fermentasi dari starter Lactobacillus plantarum dan memanfaatkan whey dari keju dan dangke sebagai media pertumbuhan bakteri L. plantarum.

  • Peneliti IPB Manfaatkan Limbah Tauge untuk Turunkan Kolesterol Daging Domba

    Hiauan pakan merupakan pakan utama ternak ruminansia dan faktor terpenting untuk menunjang budidaya ternak karena berdampak pada peningkatan bobot badan ternak. Namun kendala di Indonesia adalah rendahnya ketersediaan hijauan pada musim kemarau dan berlimpah pada musim hujan. Pemberian hijauan pada saat musim kemarau dapat diatasi dengan pengunaan pakan alternatif dari limbah sayuran pasar seperti limbah tauge.

    Tiga orang peneliti dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (Fapet IPB) yaitu Sri Rahayu, H. Sunando, dan M. Baihaqi melakukan riset untuk melihat tingkah dan pertumbuhan domba garut jantan muda dengan pemeliharaan intensif yang diberi ransum limbah tauge pada waktu pemberian yang berbeda.

    “Potensi limbah tauge di kota Bogor sekitar 1,5 ton per hari. Pakan hijauan yang bergizi dapat menentukan pertumbuhan, reproduksi dan kesehatan ternak. Pakan hijauan dari hasil limbah tauge diharapkan dapat memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh domba garut,” ungkap Sri.

    Peneliti memelihara domba garut jantan yang berumur rata-rata 5-7 bulan dalam kandang perlakuan. Mereka memberi perlakuan pakan berbeda, diantaranya ditambahkan limbah tauge dan waktu pemberian yang berbeda yaitu pagi dan sore hari.

    “Pemberian 40 persen limbah tauge dalam ransum domba Garut dengan waktu pemberian pakan yang berbeda dapat meningkatkan performa pertumbuhan dan pasca panen. Pertambahan bobot badan harian (pbbh) domba dengan ransum limbah tauge (140.94g/ek/h) lebih tinggi dari pada yang diberi ransum rumput (76.61g/ek/hr),” terangnya.

    Performa pasca panen menunjukkan bahwa pemberian ransum limbah tauge memberikan pengaruh yang lebih baik pada kualitas karkas dan daging, kecuali kandungan lemak dibandingkan ransum rumput. Namun waktu pemberian pakan sore hari cenderung menurunkan kadar lemak karkas maupun daging. Kandungan asam lemak, terutama asak lemak tak jenuh (PUFA) lebih tinggi pada domba yang diberi ransum rumput, sebaliknya asam lemak jenuh SFA lebih tinggi pada domba yang diberi limbah tauge.

    “Kadar kolesterol daging domba yang diberi ransum limbah tauge pada sore hari cenderung lebih rendah pada daging domba yang diberi ransum limbah tauge pagi hari dan yang diberi ransum rumput pada pagi dan sore hari,” ungkapnya.

    Secara ekonomi, pemberian ransum limbah tauge dengan waktu pemberian pakan sore hari pada domba Garut mampu menekan biaya pakan, tenaga kerja dan biaya lainnya. Sehingga secara keseluruhan mampu  meningkatkan pendapatan maupun keuntungan. 

    “Limbah tauge secara fisik maupun kandungan nutrien berpotensi sebagai pakan ternak yang baik, terutama untuk ternak domba. Pemanfaatan limbah tauge dalam ransum dengan waktu pemberian pakan sore hari, mampu meningkatkan produktivitas domba garut tanpa mengurangi tingkat kesejahteraannya,” tandasnya.(ipb.ac.id)

  • Peneliti IPB Tambahkan Gambir dalam Pakan Puyuh untuk Tingkatkan Produktivitas

    Tim peneliti dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) yang beranggotakan Prof. Dr. Ir. Sumiati, M.Sc, Arif Darmawan, SPt, M.Si, dan Ahmad Nurfaid melakukan penelitian tentang pengaruh penambahan ekstrak gambir dalam pakan sebagai sumber antioksidan dan antibiotik alami terhadap performa puyuh periode layer.

    Prof. Sumiati mengatakan bahwa puyuh merupakan salah satu unggas yang prospektif untuk dikembangkan karena daging dan telurnya dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan sumber protein. Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas puyuh salah satunya adalah pakan. Oleh karena itu, keseimbangan nutrien dalam menyusun ransum harus diperhatikan. Kondisi suhu dan kelembaban lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap performa puyuh. Puyuh dapat bereproduksi optimal pada suhu 20°C-25°C dengan kelembaban 30-80%. Paparan panas yang berlebih pada puyuh dapat menyebabkan stres dan timbulnya radikal bebas, sehingga berdampak pada penurunan produktivitas dan performa puyuh.

    “Biasanya untuk mengatasi radikal bebas tersebut, peternak menggunakan antibiotik. Namun, penggunaan antibiotik sintetik mulai dilarang karena residu dalam produk tersebut yang akan membahayakan apabila dikonsumsi oleh manusia,” tambahnya.

    Oleh karena itu, penggunaan antioksidan alami merupakan salah satu cara alternatif untuk menekan radikal bebas. Salah satu bahan alami yang dapat digunakan sebagai alternatif sumber antioksidan dan antibiotik adalah gambir. Ekstrak gambir mengandung senyawa polifenol, yang salah satunya adalah flavonoid. Ekstrak gambir ini juga sudah banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi, pewarna tekstil, biopestisida, maupun kosmetik.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak gambir dapat digunakan sebagai sumber antioksidan dan antibiotik alami pada puyuh. Penambahan ekstrak gambir 0.2% dalam pakan menunjukkan hasil performa yang lebih baik dibandingkan dengan penambahan ekstrak gambir 0.1% dan 0.3%. Penambahan ekstrak gambir dalam pakan sebanyak 0.2% menghasilkan produksi telur yang lebih tinggi, produksi massa telur yang lebih tinggi, serta bobot telur yang lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan tanpa pemberian ekstrak gambir.(ipb.ac.id)

  • PENERAPAN ASPEK KESRAWAN PADA RANTAI PASOK SAPI POTONG

    Penanganan ternak dengan memperhatikan kesejahteraan hewan (kesrawan) akan menghasilkan kinerja yang efisien, aman bagi sapi dan operator, serta meningkatkan kualitas daging yang dihasilkan. Dengan demikian, penanganan hewan yang apik akan terwujud pula kesejahteraan hewan yang baik.

    Hal itu disampaikan Neny Santy Jelita dalam sebuah pelatihan daring yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB. Pelatihan berlangsung selama dua seri dan dilakukan selama dua hari waktu pelatihan, yakni pada 13-14 Mei 2020 dengan mengangkat topik “Penerapan Animal Welfare pada Rantai Pasok Sapi Potong”.

    Neny memaparkan, prinsip dasar kesrawan yakni ternak harus bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit dan cedera, bebas dari rasa takut dan tertekan, serta bebas untuk menampilkan perilaku alaminya.

    Saat berada di rumah penampungan, sapi harus diberikan penerangan yang baik agar operator bisa melakukan penanganan dengan optimal.

    “Kami terbiasa ke rumah pemotongan hewan (RPH) dan melihat perlunya edukasi dan bantuan penyediaan fasilitas yang memadai. Penanganan sapi di RPH ini merupaan fase akhir yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Stres pada saat pemotongan akan menyebabkan daging akan berwarna kehitaman, bukan merah,” kata Neny.

    Ia menambahkan, pada saat yang dijadwalkan di RPH juga harus seminimal mungkin, agar sapi tidak mengalami stres. Neny menyarankan supaya ternak harus segera disembelih secara cepat, baik menggunakan metode pembiusan ataupun tidak. Proses penyembelihan ini akan menentukan kualitas daging yang akan dibeli oleh konsumen.

    Neny pun mengingatkan bahwa dalam hal kesrawan pada peternakan sapi potong ini harus bisa diterapkan pada lima hal utama, yakni pada saat penanganan hewan ternak, transportasi, penanganan di feedlot, penerapan di RPH, serta pada saat penyembelihan dengan pemingsanan (majalahinfovet.com)
  • Penerapan Cara Penyembelihan yang Baik (GSP), Syarat Penting RPH Modern

    Good Slaughtering Practices (GSP) merupakan sebuah pedoman tertulis mengenai tata cara atau prosedur produksi pemotongan ternak yang baik, higienis dan halal. GSP merupakan menjadi syarat untuk mendapatkan sertifikasi nomor kontrol veteriner (NKV) agar keamanan daging yang dihasilkan dapat terjamin. Dalam Permentan nomor 13/2010, izin pendirian usaha rumah potong hewan (RPH) akan dicabut jika belum memiliki NKV pada jangka waktu yang ditentukan. RPH dikatakan sebagai RPH modern jika telah menerapkan standard GSP secara menyeluruh dan memiliki fasilitas yang memadai, serta minimal memiliki sertifikasi NKV diatas level 2.

    “Sehingga GSP merupakan prasyarat paling dasar dan wajib dilaksanakan dalam industri pemotongan hewan ternak (RPH),”kata Manager Produksi PT Cianjur Arta Makmur (Widodo Makmur Group) Mukhlas Agung Hidayat S,Pt dalam
    pelatihan online yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB. Acara yang berlangsung selama dua hari, yakni pada 13-14 Mei 2020 tersebut mengangkat tema tentang penerapan kesejahteraan hewan pada rantai pasok sapi potong.

    Mukhlas menjelaskan, penerapan GSP di RPH modern diaplikasikan pada proses pra pemotongan, pada saat pemotongan, dan pasca pemotongan. Sebelum dipotong, sapi ditempatkan pada kandang istirahat, lakukan pendataan sapi dan pengecekan kesesuaian sapi dengan dokumen, pengaturan sapi pada setiap pen kandang pengistirahatan, dan pengelompokan berdasarkan jenis dan waktu pemotongan. Lakukan juga, “Pengecekan kondisi dan kesehatan sapi, penentuan layak tidaknya sapi untuk dipotong, pemisahan sapi pada hospital pen jika ditemukan syarat-syarat tidak layaknya sapi dipotong,” papar Mukhlas.

    Adapun pada saat proses pemotongan sapi, dilakukan secara islami dan berdasarkan syarat-syarat pemotongan halal, yakni penyembelihan dengan memutus saluran makanan (mari’/esophagus), saluran pernafasan (hulqum/trakea), dan dua pembuluh darah (wadajain/vena jugularis dan arteri carotid).

    Setelah proses penyembelihan dijalankan, untuk meningkatkan kualitas daging, maka dilakukan proses penyimpanan karkas pada suhu 0°C – 4°C selama minimal 18 jam untuk menyempurnakan proses biokimia daging atau rigormortis (agropustaka.id)

  • Pengaruh Murottal Al-Quran Terhadap Produksi Susu Sapi

    Ghulam Halim Furqoni, mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), meneliti pengaruh produksi susu sapi dengan perlakuan mendengarkan murottal Al-Quran. Penelitian yang dilakukan ini dilatarbelakangi oleh penelitian sebelumnya yang meneliti tentang pengaruh musik klasik terhadap produksi susu sapi perah. Pada pemutaran musik klasik hanya dilakukan sekira tiga jam sebelum pemerahan, sehingga disarankan waktu pemutaran musik diperpanjang supaya hasil yang diperoleh lebih optimal.

    Akhirnya, berawal dari diskusi dengan dosen pembimbing, tercetuslah judul awal yaitu pengaruh musik klasik 24 jam terhadap produktivitas susu sapi perah. Di sisi lain Ghulam berfikir, adakah pilihan lain selain musik klasik yang dapat berpengaruh terhadap produktivitas susu sapi perah?

    Musik klasik mozart mulai dikenalkan pada tahun 1993 di Universitas California untuk penelitian pada para mahasiswa di sana dalam upaya peningkatan tingkat IQ. Hasilnya, musik klasik mozart dapat meningkatkan 8-9 poin IQ pada mahasiswa-mahasiswa tersebut (Bowers 2002). Sejak saat itu musik klasik mozart mulai berkembang di Eropa dan digunakan di dunia peternakan untuk tujuan meningkatkan produktivitas ternak.

    Pada kasus lain, terang Ghulam, banyak penelitian yang dilakukan menggunakan treatment murottal Al-Quran terhadap manusia yang sedang sakit, ibu hamil, dan lain sebagainya yang mayoritas pengambilan datanya banyak dilakukan di rumah sakit. Terbukti murottal Al-Quran memiliki efek ketenangan (relaksasi) dan menimbulkan kenyamanan psikologis.

    “Berangkat dari hal tersebut, tanpa berniat sedikitpun membawa sensitifitas agama, saya usulkan menambahkan murottal Al-Quran sebagai perlakuan dalam penelitian saya. Alhamdulillah dosen saya menyetujui dan lahirlah judul untuk skripsi saya ‘Produksi Susu Sapi Perah yang Mendengarkan Musik Klasik dan Murottal Al Quran Selama 24 Jam’," ujarnya.

    Ghulam berharap hasil penelitiannya ini dapat bermanfaat dan mudah diaplikasikan oleh peternak-peternak di Indonesia sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas susu sapi perah dalam negeri. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Afton Atabany dan Dr. Bagus P Purwanto.(MM - http://ipb.ac.id)

    Kontak:
    Ghulam Halim Furqoni
    Email : halimghulam93@yahoo.com
    Phone : 081283136643

  • Pentingnya Efisiensi Logistik Pakan

    Produksi jagung untuk pakan di Indonesia telah meningkat secara nyata dalam kurun 25 tahun terakhir. Pada 1993 produksi jagung hanya 6,36 juta ton, pada 2018 tercatat produksinya telah mencapai 30,06 juta ton. Produksi sebanyak itu secara relatif telah terjadi pergeseran wilayah produksi, dimana pada 1993 Pulau Jawa berkontribusi 62% terhadap total produksi jagung, dan pada 2018 menurun menjadi 41%. Hal itu merupakan dampak dari pengembangan sentra produksi jagung baru, terutama di lahan areal di luar Pulau Jawa.

    Hal itu disampaikan oleh Diner Y.E Saragih, Kasubdit Bahan Pakan, Direktorat Pakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam sebuah pelatihan tentang manajemen logistik pakan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Kampus IPB Darmaga, Kabupaten Bogor, pada 26-27 Maret 2019. Diner menambahkan, pada sisi lain, pabrik pakan sebagai pengguna jagung ternyata masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal itu membawa konsekuensi perlunya penerapan secara ketat manajemen logistik yang baik untuk dapat meningkatkan efisiensi produksi pakan, sehingga memiliki daya saing yang baik di pasar.

    Dalam hal logistik ini, efisiensinya diukur dengan logistics performance index (LPI), dimana untuk wilayah Asean, Indonesia menempati peringkat 5 di bawah Singapura, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Diner menjelaskan, LPI merupakan indeks kinerja logistik negara-negara di dunia yang dirilis oleh Bank Dunia setiap dua tahun sekali. Saat ini terdapat 160 negara yang masuk dalam penilaian tersebut.

    Untuk dapat meningkatkan performa sistem logistik nasional, perlu dilakukan pembenahan dalam hal efisiensi bea cukai, kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi, kemudahan pengaturan pengiriman internasional dengan harga bersaing, peningkatan kompetensi dan kualitas jasa logistik, serta frekuensi pengiriman yang tepat waktu. (poultryindonesia.com)

  • Penyambutan Kepulangan Delegasi SPR dari Wina, Austria

    Institut Pertanian Bogor (IPB) menyambut kepulangan delegasi Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) IPB dalam perhelatan 62nd International Atomic Energy Agency General Conferences di Wina, Austria pada 17-21 September 2018. Delegasi tersebut dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA, pendiri Sekolah Peternakan Rakyat. Dua orang peternak yang menjadi delegasi yaitu Juanto sebagai Ketua Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT) SPR Tunas Barokah, Temayang, Kabupaten Bojonegoro dan Wagiman, selaku Ketua GPPT SPR Maju Bersama, Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin. Pada saat konferensi tersebut juga turut hadir Prof. Dr. Ir Dodik Ridho Nurrochmat M.Sc F.Trop, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Sistem Informasi IPB. Acara penyambutan tersebut berlangsung pada Senin, 24 September 2018 di Restoran Bumi Aki, Bogor, Jawa Barat.

    Acara penyambutan tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan  Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB antara lain Prof. Dr. drh. Agik Suprayogi, M.Sc.Agr  sebagai Wakil Kepala Bidang Penelitian LPPM IPB serta Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi,  M.Si, Wakil Kepala Bidang Pengabdian, LPPM IPB. Dalam sambutannya  Prof. Agik Suprayogi menyampaikan,  “Kami sangat mendukung program Sekolah Peternakan Rakyat yang kini sukses hingga kancah internasional. Ke depan kami akan turut mengembangkan program pengabdian masyarakat di fakultas lain dan menjadikan SPR sebagai Role Model-nya,” lanjutnya.

    Prof. Agik juga turut menyampaikan pesan-pesan kepada tim Sekolah Peternakan Rakyat IPB. “Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat diibaratkan seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, dan Program Sekolah Peternakan Rakyat inilah contohnya, bahkan kini sudah go international dengan menghadiri konferensi di Austria,” katanya.

    Kedua peternak binaan SPR, yaitu Juanto dan Wagiman juga turut menceritakan kisah perjalanan hingga mampu berangkat ke Austria. Juanto menceritakan proses yang ia lalui cukup panjang “Ketika pertama kali saya mendengar peluang ini, saya pun mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti tahapan seleksi-seleksinya, tahap pertama kami mengirimkan portofolio GPPT kami. Ketika kami sudah lolos tahap pertama, kami pun harus melewati serangkaian training untuk mempersiapkan diri menghadapi konferensi tersebut,” jelas Juanto.

    Wagiman pun mengisahkan perjalanannya selama di Austria. “Sebenarnya, konferensi yang dilaksanakan di Austria itu kan tentang pemanfaatan nuklir. Untungnya saya dijelaskan terkait hal tersebut oleh Guru Besar kita, Prof. Muladno terkait manfaat nuklir bagi peternak yang ternyata sangat beragam, sehingga ketika ditanya oleh  Duta Besar, saya bisa menjawab. Namun, ada satu pesan kami untuk IPB. Walau kami sekarang sudah sampai di titik ini, kami harap IPB terus senantiasa memberikan bimbingan kepada kami terutama di bidang keilmuan dan administrasi,” ungkap Wagiman dalam suasana hangat diskusi  bersama pimpinan LPPM dan Tim SPR IPB. (ipb.ac.id)

  • Penyesuaian Baru Rumah Potong Hewan Ternak (RPH) Unggas di Era New Normal

    Hingga saat ini vaksin COVID-19 belum ditemukan. Kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat harus mengalami perubahan selama masa pandemi. Penyebaran virus ini sangat cepat bahkan berdasarkan hasil penelitian, virus ini mampu bertahan pada permukaan benda selama waktu tertentu. Hal ini membuat banyak perusahaan meningkatkan standar sistem manajemen mutunya.

    “Hingga kini vaksin belum ditemukan sehingga kita harus hidup berdampingan dengan virus. Perusahaan pangan khususnya peternakan kami merespon dengan membuat penyesuaian baru. Ada risiko virus ini mampu menular melalui kontak dengan permukaan yang terkontaminasi,” ungkap Alamsyah, Deputi General Manager (DGM) Production, PT Charoen Pokphand Indonesia.

    Alamsyah menyampaiakan hal ini saat menjadi pemateri dalam kegiatan pelatihan online Sistem Manajemen Ternak Unggas, (23/7). Pelatihan daring ini diadakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) bekerja sama dengan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Kegiatan yang digelar melalui aplikasi zoom ini mengambil tema “Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu Rumah Potong Hewan Unggas”.

    Alamsyah mengungkapkan selama masa pandemi, ada protokol khusus penangan COVID-19 di perusahaan. Salah satunya adalah membuat tim gugus tugas covid di setiap level karyawan. Selain itu ada penyesuaian lainnya seperti pengukuran jarak antar karyawan harus lebih dari satu meter. Lalu dipersiapkan dokter dan ambulan yang siap siaga di perusahaan.

    “Penyemprotan disinfektan dilakukan setiap 30 menit sekali dan seluruh karyawan diwajibkan memakai masker yang berbeda di area produksi dan luar produksi. Bahkan karyawan yang ketahuan tidak memakai masker di luar area kerja akan mendapatkan teguran hingga sanksi. Sistem manajemen yang ketat ini untuk mencegah penularan virus,” ungkap Alamsyah.

    Pelatihan daring ini mengajak peserta untuk mengetahui perubahan sistem manajemen perusahan Rumah Potong Hewan (RPH) Unggas selama masa pandemi. Peserta juga diajak untuk mempelajari persyaratan, standar mutu, hingga praktik pengelolaan ayam hingga siap dijual kepada konsumen. Bahkan peserta juga diajarkan strategi mengelola pemotongan ayam untuk skala ekspor.

    “Era new normal membuat banyak sekali perbedaan. Perusahaan pangan harus tegas dalam penanganan COVID-19. Hal ini untuk menjaga kesehatan dan mencegah penularan virus,” tutup Alamsyah (ipb.ac.id)

  • Perawatan kulit wajah dengan kokon sutera

    oleh : Yuni Cahya Endrawati (D-IPTP Fapet IPB)

    Tidak dapat dipungkiri pandemi Covid-19 telah merubah gaya hidup kita. Kita yang tadinya tidak terlalu perduli dengan kebersihan  kini sudah mulai terbiasa dengan mencuci tangan secara rutin dan juga menjaga kebersihan rumah dan lingkungan kita. Di sisi lain pembatasan pergerakan dan aktivitas keseharian kita tentunya membuat kita harus menyesuaikan pola hidup kita walaupun tentunya sangat berat.

    Stress dan perubahan gaya hidup

    Sebagai orang yang terbiasa aktif tentunya perubahan gaya hidup terutama pembatasan pergerakan dan aktivitas ini dapat saja membuat frustrasi karena ada sebagian dari kebiasaan rutin kita yang berkurang intensitasnya atau bahkan tidak dapat dilakukan lagi. Tidak banyak yang mengetahui bahwa dari segi kumunikasi ternyata kaum wanita tingkat stress nya lebih tinggi akibat pembatasan komunikasi yang kini sebagian besar hanya dapat dilakukan melalui media sosial tanpa berkomunikasi secara langsung.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam satu hari rata rata wanita mengucapkan  kata kata sebanyak 20.000 kata sebaliknya kaum laki laki hanya sekitar 7.000 kata kata per hari. Perbedaan jumlah kata kata yang diucapkan oleh wanita dan pria ini menurut hasil penelitian  yang dipublikasikan di Journal of Neuroscience erat kaitannya  dengan keberadaan protein FOXP2. Level protein FOXP2 di otak wanita lebih tinggi dibanding dengan laki laki.  Hal inilah yang mendasari wanita lebih banyak mengungkapkan perasaannya melalui ucapan.

    Kondisi saat ini memaksa wanita agar dapat terbiasa  lebih  pendiam karena adanya keterbatasan lawan bicara yang tentunya secara emosional akan berbeda.

    Saat berkomunikasi tidak langsung kita hanya dapat mengartikan ekspresi lawan bicara atas dasar ucapannya saja. Namun sebaliknya melalui komunikasi langsung emosi dan tingkat hormon yang diproduksi oleh otak kita saat berkomunikasi akan lebih dinamis karena disamping mendengarkan kata juga dapat melihat dan mengartikan bahasa tubuh lawan bicara kita.

    Bagi orang yang terbiasa aktif baik secara sosial maupun aktif di tempat kerja dan melakukan pergerakan fisik yang cukup dalam kesehariannya maka level dopamine di otak akan meningkat.  Dopamine ini bermanfaat bagi otak  kita karena termasuk kategori sistem reward yang akan membuat kita lebih  segar, lebih senang dan lebih ceria.

    Di masa pandemi dimana aktivitas dan pergerakan kita  akan sangat terbatas maka tubuh kita kurang dalam memproduksi dopamine.

    Gejala penurunan kesehatan otak itu sebenarnya dapat dengan mudah kita deteksi seperti misalnya  jika kita sudah merasakan sering lupa, kelelahan  dan sangat mudah terpicu emosinya. Masalah kesehatan otak  dikategorikan dalam tahap yang membahayakan jika sudah  terkait dengan mulai melemahnya fungsi kognitif.

    Hubungan antara stress dan penurunan fungsi kognitif ini  bukanlah sesuatu yang baru namun   sudah mulai terindentifkasi dan dipelajari ratusan tahun yang lalu dan dengan semakin berkembangan ilmu kesehatan rahasianya sudah mulai terkuak.

    Stress yang berlanjutan akan sangat berdampak pada wanita tidak saja secara emosional namun juga secara fisik.

    Salah satu dampat stress yang paling ditakuti kaum wanita adalah perubahan elastisitasitas dan struktur kulit wajah yang berdampak pada munculnya kerutan.

    Stress pada wanita  memicu munculnya kerutan pada wajah ini  tentunya sangat tidak diharapkan oleh kaum wanita karena akan menyebabkan penampilannya tampak jauh lebih tua.

     Bagaimana cara Mengatasinya?

  • Percepat Penggemukan dengan Pemandulan Sapi Jantan

    Swasembada daging tidak akan terjadi dalam waktu dekat karena banyak kendala. Kendala tersebut diantaranya adalah para peternak masih beternak secara tradisional, kepemilikan sapi per peternak hanya 2-3 ekor, rendahnya pendidikan, lemahnya pengetahuan teknologi, dan kurangnya keberpihakan pemerintah kepada sektor ini.
     
    Demikian dikatakan Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Dr Muladno dalam Dialog Pakar di RRI Bogor, belum lama ini. Namun demikian, ia menegaskan Indonesia sebagai bangsa yang besar tidak boleh berpangku tangan. 
  • Perkuliahan Perdana Program Sarjana Plus Logistik Peternakan

    Program Sarjana Plus Logistik Peternakan batch ke-1 telah diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB pada tanggal 01 Agustus 2017. Kegiatan sambutan mahasiswa baru pada perkuliahan perdana dibuka oleh Prof.Dr.Ir. Sumiati,MSc selaku Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB beserta sejumlah tenaga pengajar lainnya. Agenda kegiatan tersebut antara lain perkenalan antara mahasiswa dengan para tenaga pengajar, gambaran mata kuliah dan perkenalan lingkungan kampus IPB secara umum. Hal ini diperlukan,mengingat para mahasiswa program Sarjana Plus Logistik Peternakan berlatarbelakang pendidikan Sarjana tidak hanya dari IPB tetapi juga dari beragam perguruan tinggi,antara lain Universitas Pajajaran, Universitas Andalas, Universitas Jambi, dan lain-lain. Para mahasiswa ini terdiri dari fresh graduate dan sudah bekerja  dengan status mendapatkan izin/tugas belajar dari instansi pemerintah maupun swasta.

    Jumlah mahasiswa aktif dalam program Sarjana Plus Logistik Peternakan Batch 1 ini sejumlah 13 orang setelah lolos seleksi administrasi dan interview dari total 50 orang pelamar. “Setiap batch nya memang hanya menerima maksimal 15 orang mahasiswa, mahasiswa yang memenuhi kriteria lulus diterima pada batch ke-1 ini sebanyak 13 orang”, jelas Dr. Despal, Spt, MscAgr selaku Koordinator Program Sarjana Plus Logistik Peternakan.

    Kegiatan perkuliahan menggunakan sistem modul dengan jadwal kuliah reguler hari senin s.d. jumat. Jadwal kuliah pada tiga bulan pertama akan dilaksanakan di dalam kelas. Sedangkan tiga bulan berikutnya akan dilaksanakan magang di perusahaan terkait logistik peternakan. Penyaluran mahasiswa untuk magang dapat dilakukan sesuai permintaan mahasiswa yang difasilitasi oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI). Mahasiswa dapat melakukan permintaan tempat magangnya di industri/perusahaan yang tergabung dalam member FLPI. Kegiatan perkuliahan dilakukan berdasarkan sistem modul.  Modul ke-1 telah dimulai pada perkuliahan hari pertama yaitu Production System For Safe Animal Products yang diampu oleh Dr.Irma Isnafia Arief, Spt , MSi. Kegiatan perkuliahan juga termasuk praktikum laboratorium , para mahasiswa sangat antusias. “Akhirnya setelah sekian tahun,bisa praktikum kembali di laboratorium”,ujar Etik, salah satu mahasiswa. Dalam mata kuliah ini ini juga turut mengundang dosen tamu dari praktisi yang menjelaskan peranan QA/QC dan manajemen keamanan pangan di industri pangan, khususnya produk olahan ternak. “Kegiatan ini sebenarnya merupakan rangkaian dari setiap mata kuliah dalam  Program Sarjana Plus Logistik Peternakan IPB mengundang praktisi sebagai dosen tamu, agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas maka kuliah dosen tamu ini diadakan dalam bentuk Studium General yang turut mengundang para mahasiswa Pascasarjana di Fakultas Peternakan IPB sebagai peserta”, jelas Irma.

    Kegiatan Studium General ini telah dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 2017 yang bertempat di Ruang Sidang Dekanat Fakultas Peternakan, Kampus IPB Darmaga. Dosen tamu yang diundang adalah Dwi Rizki Tirtasujana, S.TP , alumni IPB dari program studi Teknologi Pangan dan Gizi yang telah berpengalaman di industri pangan selama 17 tahun. Kegiatan Studium General  diikuti secara antusias oleh 30 peserta yang terdiri dari mahasiswa Sarjana Plus Logistik Peternakan dan mahasiswa Pascasarjana Fakultas Peternakan IPB. “Meskipun sudah bekerja sebagai supervisor produksi di salah satu perusahaan ternak,namun saya ingin mengetahui lebih jauh tentang peranan Quality Control agar bisa dapat tercipta kesepahaman antar peran dalam pekerjaan”, jelas Visista salah satu mahasiswa Sarjana Plus Logistik Peternakan. (FLPI-Alin.net)

  • Perlu Upaya Ekstra untuk Memanfaatkan Limbah Pertanian sebagai Pakan Ternak

    Berdasarkan hasil penelitian Prof. Erika B Laconi, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan tim, limbah pertanian dan perkebunan memiliki faktor pembatas jika dijadikan sebagai pakan ternak. Yaitu komponen lignoselulosa yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan ruminansia dan menyebabkan produktivitas hewan rendah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan teknik pengolahan tertentu pada limbah untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan pada gilirannya akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas hewan. Teknik pengolahan untuk limbah pertanian dan perkebunan sendiri terdiri dari teknik fisik, kimia dan biologi. 

    Salah satu riset mahasiswa program doktoral IPB, Sari Putri Dewi, berjudul Increasing the Quality of Agricultural and Plantation Residues Using Combination of Fiber Cracking Technology and Urea for Ruminant Feeds ini terungkap bahwa teknologi yang bernama Fiber Cracking Technology (FCT) mampu menurunkan fraksi serat dan meningkatkan kecernaan pada ternak ruminansia. 

    Menurut lulusan Terbaik Doktor pada wisuda Januari 2019 ini, penurunan fraksi serat ditunjukkan dari kerusakan ikatan lignoselulosa jelas terbukti pada metode Scanning Electron Microscopy (SEM), X-Ray Difraction (XRD) dan metode spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR). 

    Sari dan tim pembimbing yang terdiri dari Dr. Anuraga  Jayanegara,  Dr. M. Ridla, Prof. Erika B Laconi ini membuat inovasi baru berupa teknologi FCT. Alat ini berguna untuk memecah serat pada bahan berserat tinggi yang biasanya terdapat dalam produk hasil ikutan pertanian dan perkebunan. Seperti jerami padi, pelepah sawit, tandan kosong sawit, kulit buah kakao, kulit kopi, jerami jagung klobot jagung, tongkol jagung, pucuk tebu dan ampas tebu. 

    “Eksperimen ini bertujuan untuk mengevaluasi efek teknologi FCT dan penambahan urea pada nilai gizi jerami padi, daun kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit, kakao dan sekam kopi,” ujarnya. 

    Dalam penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa kombinasi antara suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea telah terbukti meningkatkan nilai gizi jerami padi dan tandan kosong kelapa sawit. Urea lebih disukai daripada amonia karena aman, mudah digunakan dan mudah diperoleh. 

    “Eksperimen ini adalah kelanjutan dari studi sebelumnya untuk menjelaskan mekanisme lebih dalam mengenai peningkatan nilai gizi limbah pertanian dan perkebunan menggunakan kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea. Berdasarkan hasil penelitian dalam disertasi saya, saya yakin inovasi ini akan berguna bagi masyarakat bahwa hasil ikutan (by-product) pertanian dan perkebunan dapat digunakan sebagai pakan alternatif bagi ternak ruminansia,” imbuhnya. (ipb.ac.id)

  • Perlunya Penerapan Animal Welfare pada Rantai Pasok Daging Sapi

    Bertempat di ruang diskusi Program Studi Logistik Peternakan Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) tanggal 14 Mei 2018, Forum Logistik Peternakan Indonesia menggelar Pelatihan Penerapan Animal Welfare pada Rantai Pasok Sapi Potong. Acara ini dibuka Dekan Fapet Dr Ir Mohamad Yamin MAgrSc.

    Kegiatan pelatihan ini diikuti secara antusias oleh para peserta pelatihan yang berasal dari berbagai instansi, antara lain dari tim PT Cianjur Artha Makmur, tim Asuransi Ternak Jasindo, RPH Kota Cilegon, Asosiasi Distributor Daging Indonesia, member sapibagus.com dan mahasiswa S2 Logistik Peternakan IPB.

    Pelatihan dilaksanakan dalam 2 sesi, sesi pertama menerima materi, video dan diskusi yang dilaksanakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB. Narasumber dalam sesi ini antara lain drh.Helen Fadma dari Meat & Livestock Australia. Helen menyampaikan materi tentang pentingnya penerapan kaidah Animal Welfare baik di holding ground feedlot maupun di RPH. Helen menyampaikan akan pentingnya menerapkan konsep animal welfare, baik di holding ground feedlot maupun di RPH.

    “Sangat penting diterapkan, mengingat bahwa sekecil apapun jenis kekerasan yang diterima ternak sesaat sebelum dipotong, jelas akan berdampak pada produk yang dihasilkan,” kata Helen.

  • Peternak Itik di Jatim Dibantu Lepas dari Ketergantungan Pakan oleh Tengkulak

    Prof Sumiati dari Fakultas Peternakan IPB University menjelaskan bahwa permasalahan yang dihadapi peternak itik di Desa Ringinanyar Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, Jawa Timur yaitu peternak masih tergantung pakan dari tengkulak yang selama ini beredar. Mereka terikat kontrak dengan tengkulak yakni peternak diberikan pakan oleh tengkulak kemudian telurnya dibeli lagi oleh tengkulak. Akibatnya peternak tidak dapat berdikari, kemerdekaan peternak direnggut oleh tengkulak.

    Menjawab permasalahan tersebut, pihaknya melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University melakukan penyuluhan pembuatan ransum suplementasi maggot untuk pakan itik petelur di Balai Desa Ringinanyar Kecamatan Ponggok. Dengan penyuluhan yang dilakukan kepada peternak, dirinya berharap peternak tidak tergantung lagi dengan pakan dari tengkulak. Telurnya juga bisa dimanfaatkan menjadi tepung telur sehingga mendapatkan nilai lebih dalam produk telur.

    “Pakan yang digunakan adalah pakan dengan suplementasi maggot. Selain protein maggot yang tinggi, maggot juga bermanfaat untuk mengurangi sampah rumah tangga. Media yang digunakan dalam budidaya maggot di desa ini adalah sampah rumah tangga. Pakan sudah diujikan ke salah satu peternak di Desa Ringinanyar dan didapatkan hasil telur yang produksinya stabil bahkan cenderung naik dibandingkan dengan pakan dari tengkulak. Bobot telur yang dihasilkan juga sama dengan pakan dari tengkulak. Artinya pakan ini telah berhasil untuk diproduksi secara massal dan dapat digunakan di Desa Ringinanyar,” ujarnnya.

    Sementara itu, Dr Prayoga menjelaskan mengenai produk pertanian seperti cabai yang merupakan salah satu komoditas pertanian masyarakat Desa Ringinanyar. Pemanfaatan cabai yang masih kurang menjadi salah satu permasalahan masyarakat Desa Ringinanyar.

    Permasalahan ini dapat diatasi dengan cara mendirikan koperasi cabai. Koperasi berperan sebagai jembatan penghubung antara petani dengan pembeli. Sehingga harga cabai lebih stabil dibandingkan dengan sebelumnya.

    “Selain itu, warga juga bisa membuat produk olahan seperti tepung cabai dan bumbu instan. Tepung cabai dapat diproduksi dengan melewati beberapa tahapan antara lain penyortiran, pencucian, pengeringan, pengilingan, penyaringan dan pengemasan. Sedangkan bumbu instan diproduksi dengan cara cabai dilakukan penyortiran, pembersihan, penghancuran, penambahan gula, dipanaskan dalam wajan sampai terbentuk kristan. Selanjutnya disaring dan dikemas,” tuturnya.

    Ia menambahkan untuk bidang peternakan, menurutnya telur dapat diolah menjadi tepung telur. Tepung telur diproduksi secara mengunakan spray dryer atau dengan oven. Tepung telur dapat diolah menjadi brownis, donat, mie, spagheti dan lain-lain.
     
    Sementara itu, Kepala Desa Ringinayar, H Supangat menyampaikan bahwa Desa Ringinanyar mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Yang mendominasi adalah pertanian cabai, peternakan bebek dan sapi. Berdasarkan potensi sumber daya yang ada di Desa Ringinanyar, desa ini mampu bersaing dengan desa lain, bahkan desa ini tergolong lebih maju daripada desa di sekitarnya.

    “Harapannya ke depan masyarakat bisa menerapkan ilmu yang telah diberikan oleh IPB University kepada warga kami, sehingga potensi di desa bisa dimaksimalkan dan tentunya bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat,” tuturnya.

    Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Kabupaten Blitar, Drh Adi Andaka menyampaikan bahwa kedatangan IPB University di desa Ringinanyar diharapkan mampu menjawab permasalahan yang sedang dihadapi terutama dalam bidang peternakan. Khususnya pakan dan bidang pertanian khususnya pengolahan paska panen. Dengan demikian Desa Ringinanyar menjadi desa yang mandiri. (new.trubus.id)

Tips & Kegiatan Selama WFH