News

  • Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB University adakan pelatihan akbar tentang ternak dan olahannya

    Sabtu (13/03) Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan  IPB University atau disingkat Himaproter IPB  University mengadakan pelatihan akbar tentang ternak dan olahannya dengan tujuan agar mahasiswa lebih terampil dalam praktek dan juga menyampaikan keilmuan yang telah didapat kepada masyarakat umum. Acara pelatihan akbar diisi oleh mahasiswa pengurus dari tiga divisi pemeliharaa Himaproter yaitu divisi unggas, divisi ruminansia, dan divisi non ruminansia da satwa harapan dari divisi pengolahan produk peternakan. Pemaparan materi yang diberikan oleh pengurus divisi tersebut diberikan melalui video lalu diadakan diskusi dengan pengurus divisi tersebut. Pada pelatihan akbar ini diikuti oleh 200 peserta melalui zoom meeting yang berasal dari berbagai macam kalangan, yaitu dinas, masyarakat umum, peternak, mahasiswa dan juga pelajar. Kegiatan dimulai dari sambutan oleh ketua Himaproter Aldo Febriano dan  pembina Himaproter Dr. Mochammad Sriduresta Soenarno, S.Pt. M.Sc lalu dilanjutkan dengan materi.

    Peserta mengikuti pelatihan ini dengan antusias di setiap sesi divisi menyampaikan materi. Di dalam materi yang disampaikan oleh  divisi ruminansia, mereka membahas tentang perawatan domba dari mulai cara memandikan, cara memotong kuku, cara mencukur rambut/wool hingga cara membuat pakan sendiri. Dari divisi unggas mereka memberikan materi tentang cara pembuatan inkubator telur tetas sederhana menggunakan kardus, pada sesi diskusi berjalan dengan lancar yang mana cukup banyak peserta yang bertanya. Setelah itu dari divisi non ruminasia dan satwa harapan memaparkan materi tentang pembuatan pupuk organik cair dari urin kelinci dan juga cara grooming kelinci. Sedangkan dari divisi pengolahan produk peternakan menyampaikan video tentang tata cara membuat pempek ayam dan juga susu goreng, pempek ayam yang dibuat oleh divisi pengolahan produk peternakan dapat menjadi alternatif bagi seseorang yang alergi terhadap ikan namun ingin mencoba pempek.

    Dengan diadakannya pelatihan akbar diharapkan dapat membuka wawasan baru bagi masyarakat umum. Selain itu pelatihan akbar juga diharapkan dapat menjadi ajang silaturahmi bagi sesama peternak maupun sesama mahasiswa.

  • Hobi Berkuda, Mahasiswa IPB Ini Raih Medali Emas

    Reza Aulia Putra, mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), mewakili Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Berkuda IPB meraih mendali emas dalam Djiugo Final (equestrian show jumping). Dalam kompetisi yang diadakan oleh Djiugo ini Reza berhasil melewati rintangan setinggi 70 cm kategori senior yang diadakan di Arthayasa Stable, Depok (14-15 /4). Peserta yang ikut berkompetisi sebanyak 28 club dari berbagai daerah di Indonesia.

    Reza sudah menekuni hobi berkudanya sejak tahun pertama perkuliahan (2015). Ia bercerita bahwa rasa sukanya terhadap aktivitas berkuda tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ia tidak bisa melewati satu hari tanpa melihat kuda.

    “Saya senang kalau lihat kuda, senang merawatnya, senang menungganginya. Orang lain tidak akan tahu apa yang kita rasakan saat naik kuda. Bagi saya kuda adalah sahabat saya,” ujar Reza.

    Reza juga menceritakan bagaimana pengalamannya saat jumping dengan menunggangi kuda equestrian  dengan ketinggian 70 cm saat perlombaan.

    “Kuda equestrian itu sejenis kuda berdarah hangat dan kuda silangan antara kuda lokal dengan kuda dari luar negeri. Biasanya kudanya memiliki langkah yang bagus dan kuat. Saat saya jumping melewati rintangan 70 cm itu, rasanya seperti melayang di udara bersama kuda. Rasanya senang sekali apalagi bisa meraih medali emas,” jelas Reza.

    Tidak hanya sekedar hobi, Reza juga bercita-cita menjadi penunggang kuda yang profesional. Sedari awal memasuki UKM Berkuda di IPB, Reza sudah rajin berlatih, mengikuti berbagai ajang perlombaan kuda dan magang di beberapa sekolah berkuda untuk menambah pengalamannya berinteraksi dengan berbagai jenis kuda, salah satunya kuda equestrian. 

    “Di daerah saya tinggal, tidak ada kuda equestrian. Saya ingin mengembangkannya di sana untuk semua kalangan masyarakat,” harap pemuda asal Aceh ini.(ipb.ac.id)

  • Ikhsan Suhendro, Marbot Masjid Jadi Lulusan Terbaik Wisudawan IPB

    Ikhsan Suhendro, marbot Masjid Al Hurriyyah Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Lampung sukses menorehkan prestasi gemilang sebagai wisudawan terbaik bulan ini.Hal itu terungkap dalam upac ara wisuda tahap VI Program Sarjana, Profesi Dokter Hewan, dan Pascasarjana tahun akademik 2017/2018 di Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga Bogor, Rabu (21/3/2018).

    Ikhsan yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Peternakan IPB menuturkan, kampusnya adalah 'Kampus Rakyat' bagi pemuda daerah yang tidak cukup biaya untuk berkuliah. Putra kelahiran Lampung 12 Desember 1994 ini mengatakan mahasiswa itu punya tiga pilihan, sambil menunjukkan jarinya, yaitu akademik, organisasi dan istirahat.  "Tapi dari tiga pilhan itu kita hanya bisa memilih dua. Yang dua akan kita dapatkan dengan baik, tetapi yang satu tentu harus dikorbankan. No problem, no pain no gain, karena istirahat sesungguhnya adalah ketika sudah mati," ujarnya.

    Untuk memenuhi hasratnya berorganisasi, Ikhsan memilih mendaftar sebagai marbot Masjid Al Hurriyyah di Kampus IPB Dramaga. Alasannya adalah selain menjadi wadah pengembangan bakat dan pengembanan amanah, Ikhsan mendapatkan mess atau asrama gratis.

    "Tanpa pikir panjang langsung mendaftar. Singkat cerita akhirnya lolos dan diterima menjadi marbot Masjid Al Hurriyyah, alhamdulillah. Hal yang menjadi pembeda dari menjadi marbot di maskam (masjid kampus) IPB dibanding maskam lain adalah kepengurusan kelembagaan masjid dan tim pembersih yang sudah ada orangnya dan sudah tersusun rapih, sehingga tugas kami sebagai marbot adalah menjadi panitia di hari besar agama Islam, pemakmur masjid, pengelola kajian rutin, dan pengembangan bakat diri," tuturnya.

    Saat menjadi marbot, rutinitas sehari-hari Ikhsan salat tahajud sebelum salat subuh, dilanjutkan syuro (musyawarah), lalu mengikuti kajian rutin di Aula Masjid Al Hurriyyah sebelum berangkat kuliah.

  • Industri Logistik Peternakan Membutuhkan Teknologi Digital Lebih Banyak

    Menanggapi hadirnya era Revolusi Industri 4.0, Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) menggelar Konferensi Nasional yang bertemakan “Aplikasi Teknologi Digital pada Industri Logistik Peternakan 4.0” yang digelar di ICE BSD Tangerang, Rabu (18/9).

    Prof. Yandra Arkeman, narasumber pada acara tersebut, mengatakan bahwa penerapan teknologi 4.0 pada bidang peternakan sangat memungkinkan untuk dilakukan, misalnya mengenai sapi yang diberi anting untuk memudahkan penelusuran (tracking). Penerapan Elektronik ID (E-ID) yang merupakan bentuk digitalisasi peternakan akan memudahkan pembeli untuk mengetahui riwayat sapi tersebut.

    “Memang untuk saat ini penerapannya masih belum mudah, harga sapi yang memiliki anting justru murah karena dianggap merupakan sapi bantuan pemerintah. Akan tetapi ke depannya, sapi yang memiliki anting yang justru akan mahal karena riwayat pemeliharaanya jelas, dari keturunan jenis apa, diberi pakan apa dan sebagainya,” ungkap Peneliti di Blockchain, Robotics, and Artificial Intelligence Network IPB (BRAIN IPB) ini.

    Penerapan teknologi 4.0 pada peternakan unggas pun juga bisa dilakukan, misalnya mengenai teknologi menentukan jenis kelamin DOC jantan dan betina. Melalui gradasi suara tertentu misalnya, mana DOC jantan dan betina akan bisa diketahui dengan jauh lebih cepat.

    “Kecanggihan teknologi ini sangat memungkinkan diterapkan di semua bidang, hanya saja mau dilakukan apa tidak. Selain karena berbiaya tinggi, tentu butuh dukungan semua pihak baik pemerintah, akademisi, pengusaha dan juga masyarakat,” jelasnya.

    Sedangkan Audy Joinaldy, dalam paparannya mengatakan tidak dipungkiri bahwa teknologi 4.0 sangat memungkinkan diterapkan pada sektor perunggasan. Misalnya, bagaimana mengukur tingkat kematian saat distribusi DOC dari pabrik penetasan (hatchery) hingga menuju ke kandang budi daya.

    “Sejauh ini hanya berdasarkan perkiraan saja, memang sudah seharusnya ada teknologi digital yang mampu mendeteksi penyebab kematian itu karena apa. Hal ini merupakan tantangan bersama untuk mewujudkannya” jelas Chairman of Perkasa Group yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (poultryindonesia.com)

  • Ingin Jadi Raja Ternak? Ayo Kuliah di Program Studi Teknologi Produksi Ternak IPB University

    Sektor peternakan memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani di Indonesia. Oleh sebab itu dibutuhkan sumber daya manusia yang kompeten guna menyumbangkan teknologi untuk menghasilkan produk ternak yang sehat dan berkualitas. Sebagai upaya menciptakan SDM berkualitas unggul di bidang peternakan, IPB University memiliki program studi Teknologi Produksi Ternak (prodi TPT).

    Prof Dr Irma Isnafia Arief, Wakil Dekan Fakultas Peternakan mengatakan pada tahun 1963, IPB University mendirikan fakultas peternakan dengan program studi Ilmu Produksi Ternak. Saat ini nama prodi tersebut telah berganti menjadi Teknologi Produksi Ternak.

    “Kami terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan menekankan pada kemampuan menerapkan, mengembangkan, dan menciptakan inovasi kepada mahasiswa kami,” katanya.

    Sampai saat ini, prodi TPT telah mendapatkan akreditasi A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2018 dan tersertifikasi internasional dari Asean University Network-Quality Assurance (AUN-QA) pada tahun 2013.

    “Lulusan Prodi TPT diarahkan untuk memiliki kompetensi utama agar dapat bersaing di dunia global.  Adapun kompetensi utama yang dimiliki para lulusan adalah kemampuan berpikir analitis, kewirausahaan, teknologi, dan komunikasi secara efektif,” lanjutnya Prof Irma.

    Prof Irma mengaku, kegiatan belajar dan mengajar di prodi TPT didukung oleh tenaga pendidik lulusan perguruan tinggi dalam dan luar negeri yang berkualitas. Saat ini sedikitnya ada 36 dosen dengan komposisi delapan professor, 21 doktor, dan 7 bergelar master yang sedang melanjutkan studi doktoral.
     
    Lebih lanjut Prof Irma menjelaskan lingkungan belajar juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti ruang kuliah yang nyaman, laboratorium modern, rumah pemotongan hewan, unit evaluasi karkas, unit analisa molekuler, hotspot area, perpustakaan, dan unit usaha komersil peternakan sebagai tempat latihan para mahasiswa.

    Di samping itu, prodi TPT juga telah menjalin kerjasama akademik berupa pertukaran mahasiswa dengan perguruan tinggi di Taiwan, Jepang, Malaysia, Thailand, Australia, New Zealand, Jerman, dan negara-negara lain. Selain itu, sebagai upaya dalam meningkatkan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, terdapat banyak beasiswa yang ditawarkan.

    “Banyak beasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang memiliki prestasi akademik maupun yang tidak mampu secara ekonomi,” pungkasnya.

    Ia menyebutkan, bagi mahasiswa yang menginginkan beasiswa, dapat mencari informasi di Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Karir IPB University. Puluhan sponsor beasiswa menawarkan berbagai jenis beasiswa.

    “Di departemen IPTP sudah ada lima dosen promotor beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana (PMDSU). Saat ini sedang diusulkan lima dosen promotor lagi sehingga ada sepuluh dosen promotor PMDSU,” terang Prof Irma.

    Dengan bekal penguasaan prinsip-prinsip ilmu peternakan, kecakapan profesional dan kecakapan manajerial membuat para lulusan prodi TPT mampu bekerja di berbagai bidang. Baik di instansi pemerintah, swasta, tenaga pendidik atau peneliti, maupun menjadi pengusaha di bidang industri produk peternakan (ipb.ac.id)

  • Ingin Tahu Tentang Program Studi Teknologi Hasil Ternak IPB University, Yuk Intip Informasinya

    Program Studi Teknologi Hasil Ternak (Prodi THT), Fakultas Peternakan IPB University merupakan akar keilmuan produksi peternakan yang ditopang oleh dua bidang yaitu produksi ternak dan produksi hasil ternak. Program Studi Teknologi Hasil Ternak berperan sebagai perluasan dan pelengkap hulu-hilir keilmuan di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP).

    Penyelenggaraan program studi THT ditetapkan melalui Surat Keputusan Rektor IPB University Nomor 106/IT3/PP/2016 tentang Pembukaan Program Studi Teknologi Hasil Ternak pada Program Pendidikan Sarjana di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan.

    Ketua Departemen IPTP, Prof. Dr. Irma Isnafia Arief menyampaikan bahwa program studi THT IPB University telah terakreditasi B dari BAN PT dengan Nomor 3209/SK/BAN-PT/Akred/S/VIII/2019.

    “Kami terus berupaya menjadi program studi unggulan yang menghasilkan sarjana kompeten dalam bidang teknologi hasil peternakan,” kata Prof Irma.

    Mahasiswa Teknologi Hasil Ternak IPB University dibekali tiga keilmuan utama yakni komoditas ternak yang terintegrasi pada proses hulu hingga hilir, penerapan teknologi untuk peningkatan nilai tambah, dan mengoptimalkan produk hasil ternak sebagai sumber pangan hewani yang berkualitas.

    Selain itu lulusan  Prodi THT tidak hanya dibekali kecakapan profesional berupa kemampuan dalam menerapkan teknologi penanganan dan pengolahan produk hasil ternak. Namun juga kecakapan manajerial yakni kemampuan dalam mengembangkan potensi diri untuk bekerja secara profesional sesuai dengan norma dan etika serta dapat beradaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    “Untuk menunjang kehidupan pasca kampus, mahasiswa THT IPB University juga dibekali mata kuliah yang bersifat sosial seperti inovasi dan komersialisasi, penyuluhan dan kewirausahaan, serta pelatihan soft skill seperti public speaking,” lanjutnya.

    Dosen pengajar di dalam Prodi THT IPB University merupakan pengajar kompeten lulusan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Para dosen memiliki gelar doktor, master, hingga guru besar (profesor). Prodi THT juga dilengkapi dengan fasilitas laboratorium yang lengkap mulai dari laboratorium pengolahan hasil ternak hingga laboratorium organoleptik.

    “Kami memiliki penggajar yang handal, materi yang terstandar internasional, fasiltas yang sangat memadai, dan suasana kampus asri yang mendukung dalam belajar,” jelasnya.

    Selain itu untuk meningkatkan mutu pembelajaran, Prodi THT IPB University menjalin jejaring yang kuat dengan berbagai universitas di berbagai negara. Mulai dari Singapura, Jepang, hingga Jerman. Hal tersebut dilakukan karena Prodi THT IPB University bertekad untuk menghasilkan lulusan yang mampu menerapkan serta membangun inovasi teknologi dalam proses penanganan dan pengolahan hasil peternakan. Tujuannya untuk menghasilkan produk hasil ternak yang aman, berkualitas serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

    Prospek lapangan kerja bagi lulusan Prodi THT IPB University sangat luas mulai dari bidang akademik (tenaga pendidik), profesional (penyuluh, peneliti, dan industri peternakan), hingga wirausahawan.

    IPB University merupakan perguruan tinggi yang sangat mendorong mahasiswanya untuk berinovasi dalam lapangan pekerjaan sehingga tidak hanya membuka lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri namun juga lapangan pekerjaan bagi orang lain (ipb.ac.id)

  • Ini Cara Tarik Minat Siswa Sumatera Barat Kuliah di Fapet IPB University

    “Kami ingin menginspirasi dan memotivasi siswa-siswa SMA/K yang hadir untuk melanjutkan studi di Fapet IPB University sehingga menjadi sumber daya manusia yang madani. Sebelum menjadi politisi, saya sering berkiprah dan berbisnis di bidang peternakan. Selain itu, sebagai Ketua Umum Hanter periode 2018-2022, saya berharap banyak siswa-siswi SMA di Sumatera Barat yang melanjutkan studi ke Fapet IPB University,” ujar Alumnus Fapet IPB University ini.  

    Menurutnya, kehadiran sarjana peternakan itu penting, untuk menjawab tantangan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia yang masih rendah. Padahal dengan jumlah penduduk Indonesia, potensi bisnis peternakan sangat besar dan dapat membuka lapangan pekerjaan. Peluang bisnis yang besar di bidang peternakan tidak hanya terbatas pada daging sapi, namun juga ruminansia lainnya dan protein hewani alternatif. Untuk memahami cara bisnis tersebut berjalan tentunya harus memiliki pengetahuan dasar yang diperoleh dari pendidikan terutama jurusan peternakan.

    Dr Idat Galih Permana, Dekan Fapet IPB University mengatakan bahwa selain menjadi perguruan tinggi terbaik menurut Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) pada tahun 2020 lalu, IPB University juga memiliki Fakultas Peternakan yang unggul.

    “Belajar ilmu peternakan itu menjanjikan. Potensi dan tren bisnis peternakan meningkat dan akan terus berkembang. Fakultas Peternakan IPB University memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dan modern. Kualitas pendidikannya bahkan telah terakreditasi “A” bertaraf internasional oleh AUN-QA (ASEAN University Network-Quality Assurance). Artinya, program studinya setara dengan universitas lain di ASEAN. Tahun ini kami sedang mengajukan untuk mendapatkan akreditasi International ASIIN (Accreditation Agency For Degree Programs In Engineering, Informatics/Computer Science, The Natural Sciences And Mathematics),” ujarnya.

    Mahasiswanya pun berkesempatan untuk mendapatkan credit earning, magang, seminar internasional, dan pengembangan softskill. Permintaan sarjana peternakan dalam dunia kerja dan industri dan pun semakin meningkat, tambahnya.

    Ciri lulusan yang dibangun Fapet IPB University adalah memiliki skill 4C. Yakni complex problem solving, critical thinking, creative communication dan collaboration network. Begitu pula dengan diterapkannya kurikulum K2020. Goal pendidikan IPB 4.0 untuk mencetak lulusan yang tangkas juga semakin terwujud. Dengan demikian, kompetensi sarjana peternakan menjadi semakin unggul.

    “Seorang sarjana peternakan memiliki kemampuan dasar dalam prinsip-prinsip pengelolaan peternakan. Mulai dari budidaya, genetika, pemuliaan dan bagaimana me-manage produksi ternak termasuk ke dalamnya memanfaatkan teknologi dan mengembangkan diri,” jelasnya.

    Jalur masuk yang tersedia bagi siswa SMA pun banyak di antaranya SBMPTN, SNMPTN, Ujian Tulis Mandiri Berbasis Komputer (UTMBK), Prestasi Internasional dan Nasional (PIN) dan Beasiswa Utusan Dearah (BUD). Sumber daya tenaga pendidiknya pun sangat berkualitas dan kompeten. Bahkan salah satu dosennya menjadi dosen berprestasi tingkat nasional, sehingga kualitas dosen dan tenaga pendidik di Fapet IPB University tidak perlu diragukan lagi.

    Ir Sunaedi Sunanto, SPt, MBA, IPU, alumnus Fapet IPB University yang kini menjabat Presiden Direktur PT Nutricell Pacific juga berbagi inspirasi dan pengalaman mengenai bisnis pakan ternak yang dijalaninya. Menurut Ketua Hanter DPD Jakarta Raya ini, sarjana peternakan memiliki potensi yang besar terutama sebagai entrepreneur. “Banyak lulusan dari Fakultas Peternakan IPB University yang menjadi pengusaha hebat dan bahkan menjadi direktur di perusahaan nasional maupun internasional,” tuturnya (ipb.ac.id)

  • Ini Kata Dr Afton Atabany Soal Budidaya Kambing Peranakan Etawah

    Dr Afton Atabany, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan (IPTP-Fapet) berbagi tips terkait kepakarannya dalam budidaya kambing perah khususnya kambing peranakan Etawah.

    Indonesia mempunyai kambing lokal yaitu kambing kacang. Kambing jenis ini sedikit memproduksi susu dan lebih diutamakan untuk ternak penghasil daging. Bangsa-bangsa kambing tersebut yang berasal dari Eropa dan India sudah banyak dipelihara di Indonesia dan memproduksi susu. Akan tetapi perkembangannya kurang bagus karena iklim di Indonesia adalah beriklim tropis dengan suhu lingkungan panas dan lembab. 

    “Kambing kacang dikawin tatar (up grade) dengan kambing Etawah dari India menjadi kambing peranakan Etawah (Etawah Grade) yang bertujuan untuk menghasilkan susu. Kambing peranakan Etawah telah banyak dipelihara oleh peternak karena kambing jenis ini lebih mudah beradaptasi dan produksi susu yang dihasilkan lebih menguntungkan. Kambing oeranakan Etawah tergolong kambing dwiguna karena mampu memproduksi susu dan daging yang baik,” tutur Dr Afton.

    Budidaya kambing perah terdiri atas pembibitan, pembiakan, pembesaran dan penggemukan. Budidaya ternak kambing perah akan memproduksi susu dan anak. Ternak untuk memproduksi susu adalah ternak betina dan akan memproduksi susu setelah induk ternak beranak. Produk susu menjadi pendapatan harian dan anak kambing menjadi pendapatan tahunan. Pada budidaya kambing perah ternak yang paling banyak dipelihara adalah ternak betina.

    Untuk itu, menurut Dr Afton, dalam beternak kambing perah, sebaiknya memilih program ternak pembibitan. Karena selain produksi susunya tinggi, juga akan menghasilkan anak ternak betina dan jantan untuk peningkatan populasi ternak kambing perah berkualitas tinggi.
    Pemeliharaan kambing Peranakan Etawah harus secara intensif, yaitu dengan memelihara ternak di dalam kandang dan rutin memberi pakan. Peternakan kambing perah secara intensif berguna untuk meningkatkan produksi, karena ternak lebih mudah dikendalikan secara manajemen. Peternakan kambing peranakan Etawah sebagian besar dilakukan di Pulau Jawa, hanya sebagian kecil dilakukan di luar pulau Jawa. Salah satu alasan utamanya adalah karena potensi pasar yang tinggi serta kemudahan dalam penjualan susu kambing serta penjualan bakalan kambing.

    “Beberapa keunggulan berbudidaya kambing perah jika menggunakan kambing peranakan Etawah bila dibandingkan dengan ternak kambing perah lainnya adalah kambing peranakan Etawah lebih adaptif dengan kondisi iklim di Indonesia yang beriklim tropis,” ujarnya.

    Keunggulan lainnya adalah Kambing peranakan Etawah bersifat dwiguna yaitu mampu memproduksi susu melebihi kebutuhan anaknya dan juga sebagai kambing penghasil daging. Kambing ini juga mempunyai angka kelahiran yang tinggi dan mampu mempunyai anak kembar. Terdapat sekitar 10 persen yang mempunyai anak kembar empat. Selain itu, produksi susunya secara rata-rata adalah 0.99 kilogram per ekor per hari dengan masa laktasi 180 hari (6 bulan). 

    “Kambing oeranakan Etawah mampu mempunyai tinggi pundak 70 sentimeter pada betina dan tinggi pundak 90 sentimeter, sehingga terlihat tinggi. Bobot badannya dapat mencapai 70 kilogram pada ternak betina dan dapat mencapai 120 kilogram pada ternak jantan. Berat tersebut tergolong tinggi, sehingga mempunyai harga jual yang tinggi terutama saat hari raya Iedul Adha. Pemberian pakannya pun tidak sulit karena kambing jenis ini mampu mengkonsumsi pakan hijauan dan macam hijauan yang dikonsumsi lebih banyak jenisnya,” tuturnya.

    Namun menurut Dr Afton, ada beberapa kesalahan umum dilakukan oleh peternak kambing peranakan Etawah antara lain adalah pemilihan bibit untuk dipelihara tidak dilakukan menggunakan pencatatan (recording) tentang silsilah keturunan. Pemilihan lebih banyak menggunakan ciri-ciri dari postur tubuh luar dan tidak menggunakan pengukuran tubuh. Pencatatan oleh peternak sangat jarang dilakukan terutama pencatatan yang berkaitan dengan reproduksi dan produksi susu. Padahal recording ini sangat berguna terutama untuk meningkatkan produktivitas ternak serta untuk memperbaiki managemen pemeliharaan.

    “Melihat keunggulan Kambing peranakan Etawah ini, saya berharap kambing ini bisa menjadi kambing perah lokal asli Indonesia dan menjadi galur tersendiri yang ditetapkan oleh pemerintah dan dapat didaftarkan pada Badan Internasional sebagai kambing perah asli Indonesia dan sebagai hak kekayan asli Indonesia. Selain itu, diharapkan kambing peranakan Etawah dijadikan sebagai sumber bibit ternak kambing perah dan dapat diekspor untuk dikembangkan di negara lain, dengan aturan ekspor yang sudah ditentukan oleh pemerintah,” pungkasnya (ipb.ac.id)

  • Inovasi Kerjasama Peternakan IPB di Kabupaten Bojonegoro

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) berbagi peran dalam implementasi penelitian aksi Agromaritim 4.0 IPB tahun 2019 di Kabupaten Bojonegoro. Dr Aji Hermawan (Kepala LPPM IPB), Prof. Dr. Agik Suprayogi (Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Penelitian), Prof Dr. Muladno (Ketua Unit Sekolah Peternakan Rakyat/SPR LPPM IPB), Dr. Asep Gunawan (Koordinator Tim Peneliti IPB) melakukan silaturahmi dan sekaligus mengantarkan peneliti IPB kepada pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang diterima langsung Bupati, Dr. Hj. Anna Muawanah. 

    “Penelitian aksi Agromaritim 4.0 IPB pada tahun 2019 dilaksanakan di Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Mega Jaya, Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini diharapkan dapat  meningkatkan kemampuan sistem usaha peternakan di SPR Mega Jaya di era industri 4.0,” ujar Dr. Aji Hermawan. Dalam kesempatan yang sama, Prof. Agik menyampaikan konsep IPB dalam membangun SPR di Kabupaten Bojonegoro juga sekaligus  mengurai tentang prinsip kerjasama empat-serangkai “Quadriple-Helix” atau (ABGC) yang lebih mengedepankan pada prinsip berbagi peran dan tanggungjawab. Capaian keluaran dari penelitian aksi ini adalah terbangunnya SPR Mega Jaya menuju peternakan unggul dan modern dalam 3-4 tahun ke depan.  “Hal ini dicirikan dengan hadirnya berbagai teknologi inovasi diantaranya e-ID ternak, sistem manajemen peternakan berbasis digital, kecukupan pasokan air dan pakan ternak, dan model lanskap ekowisata pendidikan,” ujarnya.

    Pemilihan SPR Mega Jaya dipilih sebagai lokasi penelitian aksi Agromaritim IPB karena sudah lulus sekolah sesuai standar pembinaan dari LPPM IPB. Kesiapan ini disampaikan Prof. Muladno selaku Ketua Unit SPR LPPM IPB, “SPR Mega Jaya di Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro telah mendapatkan Piagam “Karya Satwasentosa” dari IPB pada tahun 2017 yang berarti SPR ini telah lulus sekolah sesuai standar pembinaan dari LPPM IPB, dan kelulusan SPR ini merupakan modal untuk terus berkembang menuju peternakan unggul dan modern berbasis Agromaritim 4.0-IPB,” jelas Prof. Muladno.

    Bupati Bojonegoro, Dr. Hj. Anna Muawanah menyambut dengan baik rencana penelitian aksi di SPR Bojonegoro dan mengucapkan terima kasih pada IPB yang telah proaktif sejak 2014 sampai sekarang memperhatikan peternak di wilayahnya. “Kami memahami peran IPB sangat besar dalam pengembangan SPR melalui kegiatan penelitian aksi yang akan dilaksanakan, mengingat hal ini memang sudah menjadi program Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bojonegoro, namun belum sempat terlaksana mengingat sumberdaya manusia kami belum siap menghadapi era industri 4.0, dan kami bersyukur bahwa IPB proaktif membantu kami,” lanjutnya. Bupati menyampaikan bahwa Pemda akan mengambil peran dalam upaya pengembangan peternakan unggul dan modern yang digagas oleh LPPM IPB.

  • Inovasi Mahasiswa IPB University, Pelepah Sawit untuk Pakan Ternak di Musim Kemarau

    Indonesia memiliki dua musim yakni musim penghujan dan kemarau. Kedua musim ini cukup memberikan dampak bagi sejumlah sektor pekerjaan. Salah satunya sektor peternakan. Pada musim kemarau, sebagian besar peternak di Indonesia sering mengalami permasalahan terkait pemberian pakan bagi hewan ternaknya. Daerah yang mengalami permasalahan tersebut merupakan daerah yang mengalami kekeringan dan tidak memiliki tanah yang subur di sekitarnya. Guna mengatasi permasalahan tersebut, mahasiswa IPB  University menggagas solusi untuk pakan ternak.

    Mahasiswa IPB University yang terdiri dari: Ananda Putri, Enita Indah, Ika Jenri, dan Farisky Adi Nugroho membuat sebuah produk dari pelepah sawit sebagai pakan ternak. Produk pakan ini berupa olahan pelepah sawit dicampur dengan tumbuhan indigofera yang dibentuk menjadi pellet. Pakan olahan ini merupakan  Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dengan judul “Pellet Sandiago (Pellet Pelepah Sawit dan Indigofera sp): Solusi Pakan Spesial pada Musim Kemarau” di bawah bimbingan dosen IPB, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc.

    “Di Indonesia masih mengalami banyak kekeringan saat musim kemarau, sehingga para peternak tidak bisa mencari rumput hijau saat musim. Maka dari itu, muncullah ide untuk membuat pakan ini dari pelepah sawit karena Indonesia memiliki banyak pohon kelapa sawit yang belum diolah dengan baik,” tutur Ananda selaku Ketua Tim Pellet Sandiago ini.

    Guna memperkaya nutrisi dari pelepah sawit, ditambahkan tumbuhan indigofera yang memiliki kandungan protein tinggi. Proses pembuatan yang dilakukan pun dimulai dengan mencacah pelepah sawit dan indigofera, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari dalam jangka waktu sekitar satu minggu untuk selanjutnya digiling menggunakan mesin. Usai digiling, pelepah sawit dan indigofera dicampurkan dengan bahan perekat dan tahap terakhir yang dilakukan adalah proses pelleting.

    “Sejauh ini, sasaran dari produk kami yakni peternak kecil maupun industri besar. Lalu, sistem penjualan kami lakukan dengan cara penjualan langsung kepada para peternak dengan harga Rp 3.000,- per kilogram,” tambah Ananda.

    Bahan utama dari produk ini yakni pelepah sawit yang digunakan karena ketersediaannya sepanjang tahun dan produksinya cukup melimpah di Indonesia. Selain itu, pelepah sawit memiliki kandungan sumber energi yang tinggi bagi hewan ternak. Dengan begitu, produk Pellet Sandiago diharapkan dapat membantu para peternak yang kesulitan mencari pakan saat musim kemarau tiba. “Selain itu, produk ini diharapkan mampu menjadi inovasi dan pakan baru di bidang peternakan untuk memenuhi kebutuhan hewan ternak,” tutup Ananda (ipb.ac.id)

  • Inovasi Pakan Indigofera Raih Penghargaan Gubernur Jabar

    Pakan adalah makanan yang diberikan untuk ternak. Zat terpenting dalam pakan adalah protein. Saat ini bahan pembuatan pakan sebagian besar berasal dari bungkil kedelai yang diperoleh  dari impor. Salah satu dosen Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Luki Abdullah mengembangkan pakan hijauan (green concentrate) berbahan utama berupa daun tanaman indigofera (polong-polongan) sebagai substitusi bungkil kedelai.

    Pakan indigofera mengandung protein tinggi, mampu meningkatkan target produksi ternak, mengurangi biaya produksi dan dapat diberikan pada hampir semua hewan ternak seperti : sapi, kambing, domba, unggas, kelinci serta ikan.

    Prof. Luki  mengungkapkan pemilihan tanaman indigofera sebagai substitusi pakan berbahan bungkil kedelai melalui tahap penelitian panjang untuk mencari bahan yang tepat. Awalnya banyak sekali kemungkinan dari tanaman lain, lalu terpilihlah tanaman indigofera yang  mengandung sekitar 60 persen dari asam amino bungkil kedelai. Selain itu, tanaman indigofera dipilih karena mudah diperoleh, mudah berbiji, mudah menghasilkan benih, mudah dikembangkan dan tersedia di Indonesia, sehingga dapat mengurangi impor.

  • IPB dan PT Holcim Gelar Panen Perdana Rumput Gajah (Odot) dan Indigofera

    Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan PT. Holcim Indonesia Tbk mengadakan panen perdana kebun pembibitan hijauan pakan ternak, yaitu panen rumput gajah mini (odot) dan indigofera (18/1) di lahan bekas tambang Desa Nambo Kecamatan Klapanunggal Bogor.

    Sekretaris P2SDM LPPM IPB, Warcito, SP, MM mengatakan bahwa program bertajuk stasiun lapang agrokreatif pembibitan pakan hijauan ternak ini dirintis sejak tahun 2016. Program pendampingan yang dilakukan adalah mendampingi petani pengguna lahan PT. Holcim untuk menanam rumput gajah (odot) dan indigofera, sehingga para peternak sapi dan domba dapat dengan mudah mengambil untuk ternak peliharaannya. Selain itu, IPB juga mengembangkan skala usaha  pembangunan stasiun lapang agrokreatif untuk penggemukan ternak domba di wilayah kerja PT. Holcim Tbk.

    Manajer PT. Holcim Indonesia TbkEdi Prayitno menyampaikan program pembibitan rumput gajah mini (odot) dan indigofera merupakan upaya PT. Holcim Tbk dalam membantu menyediakan pakan ternak bagi peternak di sekitar wilayah kerja PT. Holcim Tbk. “Harapannya peternak dapat dengan mudah mencari dan mendapatkan makanan ternak atau  pakan untuk penggemukan ternaknya,” ujarnya.

  • IPB dan PT. Antam Canangkan Pengembangan Hijauan Pakan Ternak

    Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (Dit. KSKP) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Divisi Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Antam (Persero) Tbk mencanangkan pengembangan hijauan pakan ternak, Selasa (5/1). Pencanangan yang mengambil tempat di Kebun Bukit Arroyan, Desa Antajaya, Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Bogor ini  diadakan dalam rangka menyongsong swasembada daging dan penguatan potensi ekonomi lokal.
     
    Direktur KSKP IPB Dr. Dodik Ridho Nurrochmat, mengatakan, untuk mendukung program nasional dan menyongsong swasembada daging, IPB mebuat model-model pemanfaatan lahan non-produktif melalui penanaman hijauan pakan ternak skala kecil. Kegiatan ini dilakukan di tiga titik desa yang berada dalam wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi, diantaranya adalah Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya; Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari dan Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug.
     
    “Model ini akan dikembangkan dalam skala 50 hektar yang akan diimplementasikan secara bertahap. Dalam model pengembangan ini, IPB akan mendampingi petani dalam mengembangkan hijauan pakan ternak bekerjasama dengan PT. Antam yang akan memfasilitasi akses petani terhadap permodalan melalui penyaluran dana bergulir kepada petani,” ujar Dr. Dodik.
  • IPB Dirikan Sekolah Peternakan di Bojonegoro

    Bojonegoro (Antara Jatim) - Institut Pertanian Bogor (IPB) mendirikan sekolah peternakan rakyat (SPR) di Kecamatan Kasiman, Kedungadem dan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sebagai usaha membuat pembibitan sapi dengan memanfaatkan induk lokal.

    "IPB tidak akan mendatangkan induk sapi dari luar negeri, tetapi tetap memanfaatkan induk sapi lokal dalam melaksanakan pendidikan di tiga SPR," kata Guru Besar IPB, Prof Mulatno, dalam deklarasi pendirian tiga SPS di Bojonegoro, Rabu.

    Sesuai persyaratan, katanya, jumlah sapi induk di masing-masing SPR 1.000 ekor, yang dikelola 5.000 peternak, dengan masa pendidikan selama tiga tahun.

    "Sifat pendidikan tidak menggurui, sebab peternak sudah berpengalaman, sedangkan ahli peternakan IPB hanya berdasarkan teori," jelasnya.
  • IPB Kembangkan Budidaya Telur Semut Rangrang

    Bogor - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan budidaya telur semut rangrang (kroto) bernilai tinggi. Petani bisa mendapat laba bersih hingga 50 persen dengan harga jual berkisar dari Rp 30.000 - Rp 50.000.


    Mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB Abdul Rachman menerangkan, bahan yang digunakan yaitu bibit semut rangrang penghasil kroto sebanyak 10 koloni (5 kilogram). Adapun dua jenis pakan yang dipakai adalah cacing tanah dan tulang sapi serta air gula. Ketiganya diberikan secara rutin sebagai sumber energi semut rangrang.

    "Setelah 100 hari, kita dapat memanen setiap hari sekitar 3 kilogram kroto dan bisa dijual Rp 30.000 per kilo. Dan, budidaya semut rangrang tersebut relatif mudah serta tidak menyita waktu banyak," kata Abdul di Bogor, Rabu (13/8).

    Kroto adalah nama yang diberikan orang Jawa untuk campuran larva dan pupa semut penganyam Asia (terutama Oecophylla smaragdina). Campuran ini terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena larva semut populer sebagai umpan ikan, dan juga sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung berkicau.

    Budidaya semut rangrang penghasil kroto masih jarang dilakukan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kurangnya penelitian dan pengetahuan mengenai pengembangbiakkan semut rangrang.(Sumber:Jakarta Globe)
  • IPB Tawarkan Pengembangan SPR di Kabupaten Sukabumi

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2019, kembali meningkatkan kerjasama dengan Kabupaten Sukabumi dalam Pengembangan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR).  "Melalui kegiatan lapang di bidang peternakan, dalam hal ini membuka SPR  merupakan langkah awal dalam memajukan sektor peternakan, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya di daerah Sukabumi," kata Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Sugeng Heri Suseno  dalam acara diskusi dengan Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami di Pendopo Sukabumi, Jumat (8/3).

    Lebih lanjur Prof. Sugeng mengatakan, LPPM IPB memiliki program pengabdian kepada masyarakat untuk mahasiswa, dosen, dan alumni. Untuk mahasiswa, selain KKN juga ada kegiatan tematik seperti IPB Goes to Field, SUIJI-SLP, KKN-Kebangsaan, dan ASEAN-SLP.  "Sementara untuk dosen dan alumni, selain SPR juga ada program Klinik Pertanian Nusantara, Stasiun Lapang Agro Kreatif (SLAK), Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), IPB Cyber Extension-Tani Center, IPB Peduli Bencana, dan Kemitraan Lingkar Kampus," tutur Prof. Sugeng. Lebih lanjut dikatakannya, SPR yang merupakan program pengabdian dosen dan alumni bertujuan untuk mencerdaskan peternak melalui sekolah rakyat.

    Menanggapi hal tersebut, Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami menyampaikan, di wilayah Kabupaten Sukabumi banyak lahan yang belum termanfaatkan secara efektif. Dengan potensi tersebut, SPR dapat berkembang dengan baik dan membantu para peternak dalam meningkatkan kapasitas usahanya. Marwan akan melakukan penetrasi untuk menggali potensi tersebut melalui Dinas Peternakan.  “Mudah-mudahan  sekolah lapangan seperti Sekolah Peternakan Rakyat bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat, khususnya peternak dengan potensi yang ada di Kabupaten Sukabumi,” ujar Marwan.

    Marwan menambahkan, pemerintah daerah telah berupaya mendorong terwujudnya beberapa program peternakan di lahan perkebunan yang tidak terpakai. Salah satunya dengan mendirikan agrowisata yang di dalamnya terdapat peternakan sapi perah. Harapannya, dengan adanya kerja sama pengelolaan Sekolah Peternakan Rakyat dengan IPB dapat menjadi langkah awal dalam memajukan sektor peternakan. Melalui SPR diharapkan ke depan Kabupaten Sukabumi bisa menjadi sentra peternakan untuk sapi potong. Turut hadir dalam acara tersebut Ketua SPR LPPM IPB, Prof. Muladno (ipb.ac.id)

  • IPB University dan Belanda Bentuk Animal Logistics Indonesia Netherland (ALIN) Pertama di Indonesia

    Fakultas Peternakan IPB University dengan Konsorsium  Belanda yaitu Nuffic, MSM : Maastricht School of Management, Wageningen dan Aeres groep ini membentuk proyek yang diberi nama Alin (Animal Logistics Indonesia Netherlands).  Kerjasama tersebut diumumkan dalam National Animal Logistics Seminar dengan tema ‘Optimizing the Use of Camara Ships to Improve Efficiency of Livestock Transportation Systems’ di Swiss-Bell Hotel, Bogor,  Kamis (4/7). Seminar ini digelar Fakultas Peternakan IPB bekerjasama dengan Konsorsium  Belanda (Nuffic, MSM : Maastricht School of Management, Wageningen University dan Aeres groep) melalui platformnya yaitu Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI).

    Rektor IPB University, Dr. Arif Satria dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap kerjasama ini. Rektor  IPB University mengungkapkan kolaborasi merupakan salah satu upaya untuk merespon situasi terkini terkait perkembangan teknologi industri 4.0. “IPB University mendorong Riset dan Inovasi IPB  University 4.0 yang dicirikan dengan agromaritim presisi tinggi melalui penggunaan teknologi drone, robotika, kecerdasan buatan di hulu sektor pertanian dan kelautan,  agroindustri untuk masa depan, sistem agrologistik digital, dan sistem e-commerce cerdas yang diyakini mampu beradaptasi di era 4.0,” kata Dr. Arif.

    Direktur Netherlands Consortium, Mr. Meinhard Gans  sangat merespon positif apa yang disampaikan Rektor IPB University. Ia menekankan bahwa  kegiatan yang dilakukan ini untuk kemajuan logistik peternakan Indonesia ke depan.

    Direktur proyek ALIN yang merupakan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Luki Abdullah menyampaikan bahwa proyek ALIN digagas atas kerjasama pemerintah Indonesia dan Belanda melalui Kementerian Pertanian dengan Kedutaan Besar Belanda. Pada saat itu  Indonesia dianggap mempunyai masalah mengenai logistik. Masalah tersebut antara lain masih kurangnya fasilitas dan prasarana serta penanganan hewan ternak yang buruk. Ini berdampak pada: (1) biaya logistik dan transportasi yang tinggi, (2) penurunan berat badan yang lebih tinggi, (3) kinerja ternak, (4) kesejahteraan hewan. Faktor ini menyebabkan harga produk yang lebih tinggi bagi konsumen, tetapi juga harga yang lebih rendah untuk produsen, sehingga mengurangi margin mereka. 

    Upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan rantai pasokan ternak sapi domestik terutama dari wilayah timur Indonesia kepada konsumen. Kapal ternak yang dibangun pertama kali diluncurkan pada bulan Desember 2015 bernama Camara Nusantara 1, dan yang kedua, Camara Nusantara 3, diluncurkan pada 2018. Jumlah total akan ditingkatkan menjadi enam unit. Kapal dibangun oleh pemerintah Indonesia dan dioperasikan oleh PT Pelni, sebuah perusahaan pelayaran besar domestik.

    Kapal dirancang untuk memenuhi prinsip kesejahteraan hewan, sehingga penurunan berat badan selama pengangkutan akan diminimalkan dan kinerja meningkat. Selanjutnya, kapal ternak diharapkan untuk meningkatkan rantai pasokan ternak sapi serta untuk mempersingkat rantai distribusi dari produsen ke akhir konsumen. Namun, ada keraguan mengenai dampak proses transportasi dengan menggunakan kapal Camara Nusantara pada aspek kinerja ternak dan kesejahteraan hewan. (ipb.ac.id)

    Sementara Animal Logistics Indonesia Netherlands (ALIN), proyek  ini pertama di Indonesia terkait logistik peternakan. Terdapat beberapa fokus yang telah dilakukan dalam proyek yaitu bagaimana mengembangkan sumberdaya manusia dalam bidang logistik peternakan.  Program ini dikembangkan melalui kurikulum  logistik peternakan pada program master (S2) Logistik Peternakan. Program kedua yaitu Sarjana Plus berupa pendidikan selama 6 bulan setelah lulus sarjana, mendapat materi logistik peternakan. Keunggulannya dari S1 plus ini akan memperoleh sertifikat  kompetensi yang  sudah ditetapkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dan Kementerian Tenaga kerja. “Program S1 Plus dapat diikuti oleh lulusan sarjana bidang apa saja, mereka akan di-training melalui 17 unit kompetensi yang sudah dibakukan oleh BNSP. Selama enam bulan mereka dibina dan dididik untuk mendapatkan sertifikat kompetensi,” ucap Prof Luki.

    Pada kegiatan seminar ini  para peneliti menyampaikan hasil penelitiannya terkait Traceability, Live Animal Transportation Feed Logistics, Animal Products dan Human Resources dengan narasumber  diantaranya adalah jajaran peneliti IPB seperti Prof Kudang Boro Seminar,  Dr.Rudi Afnan,  Dr. Despal, Prof. Irma Isnafia Arief,  Prof. Asnath M Fuah, Dr. Yunus Triyonggo, Dr. Epi Taufik dan Dr. Moh Yamin. Penelitian ini melibatkan dan didukung oleh anggota FLPI baik dari kalangan bisnis, pemerintah, asosiasi serta komunitas.

  • IPB University dan CV Nuansa Baru Kerjasama Hilirisasi Ransum Indigofera

    Ransum Indigofera merupakan hijauan pakan yang berasal dari daun pilihan tanaman indigofera. Ransum ini merupakan teknologi alternatif yang dapat menjadi pengganti bahan hijauan pakan lainnya yang cenderung sulit diperoleh. Teknologi ini telah memiliki patent granted dengan nomor IDP000056252.

    Teknologi produksi biomassa indigofera sendiri telah dikembangkan oleh inventor sejak tahun 2015 bekerja sama dengan masyarakat atau level Usaha Kecil dan Menengah (UKM), namun proses produksi pakan ternaknya belum dilakukan.

    Prof Erika B Laconi, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) selaku Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Bisnis IPB University/Kepala LKST IPB University dalam sambutannya menyampaikan kerjasama ini merupakan langkah maju untuk pengembangan inovasi peneliti perguruan tinggi menuju komersialisasi produk.

    “Dalam dua tahun terakhir, LKST telah menghasilkan 19 inovasi yang telah bekerjasama dengan industri dan memiliki kualitas yang baik. Bermitra merupakan kekuatan IPB University dalam melakukan komersialisasi. Dan pada hari ini IPB University telah berhasil kembali bekerja sama dengan mitra dalam bidang peternakan,” tutur Guru Besar di Fakultas Peternakan IPB University ini.

    Terkait kerjasama ini, inovator ransum indigofera IPB University, Prof Luki Abdullah merasa bangga dengan adanya kerjasama antara IPB University dengan CV Nuansa Baru.

    “Hari ini terasa istimewa karena mendapatkan fasilitasi dari LKST IPB University untuk kerjasama dengan mitra. Terima kasih kepada mitra atas kepercayaan yang diberikan. Hasil akhir dari penelitian bukan hanya sekedar output, tetapi outcome,” ujarnya.

    CV Nuansa Baru merupakan perusahaan yang baru berdiri sejak 2013 dan bergerak di bidang penjualan bahan baku seperti sawit serta pakan jadi. “Kerjasama dengan IPB University ini difokuskan untuk meningkatkan pakan sehingga dapat bermanfaat khususnya bagi pelaku ternak. Saat ini kebutuhkan pakan ternak dinilai sangat tinggi dan menjadi peluang yang cukup baik,” ujar Direktur CV Nuansa Baru, Ifan Nur Irfana, SPt (ipb.ac.id)

  • IPB University Launching Program Wakaf Water Station dan 1000 Beasiswa Bagi Mahasiswa

    Ini juga salah satu bentuk ikhtiar IPB University dalam mengembangkan kemandirian keuangan. Dengan berkembangnya dana sosial dan wakaf, diharapkan dapat memiliki sumber-sumber pembiayaan.
     
    Program water station dikembangkan demi memenuhi kebutuhan air minum mahasiswa beserta seluruh warga IPB University. Serta demi mendukung gaya hidup ramah lingkungan karena dapat mengurangi pengeluaran air minum dalam kemasan. Hal ini sejalan dengan IPB University sebagai Green Campus yang telah konsisten dalam menggalakkan program pengurangan sampah plastik selama tiga tahun terakhir.

    Sedangkan program 1000 beasiswa mahasiswa IPB University akan disalurkan pada mahasiswa yang membutuhkan.

    Rektor IPB University diwakili oleh Sekretaris Institut, Dr Aceng Hidayat dalam sambutannya saat secara resmi meluncurkan program tersebut mengatakan, terdapat dua aspek yang terkait dengan program tersebut. Kedua aspek tersebut yakni aspek kebermanfaatan dan kemuliaan. Program beasiswa ditujukan pada sejumlah besar mahasiswa yang terdampak COVID-19. Diharapkan mahasiswa dapat melanjutkan studi tanpa rasa cemas sehingga menjadi sumber daya manusia yang unggul.  Sedangkan program water station dapat membantu IPB University untuk mengurangi sampah plastik terutama dari air kemasan.

    “Program BPIDS ini yakni program 1000 beasiswa dan pemasangan water station di masing-masing fakultas merupakan program yang sangat mulia dan sangat bermanfaat bagi warga IPB University. Saya ingin berterimakasih khususnya pada alumni yang telah berkontribusi,” ungkapnya.    

    Dr Idat Galih Permana, Dekan Fakultas Peternakan IPB University memberikan testimoni. Selaku penerima manfaat atas penyelenggaraan program BPIDS, ia sangat mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, fakultas di IPB University memang membutuhkan uluran tangan terkait kesejahteraan mahasiswa. "Terjadi peningkatan jumlah mahasiswa yang perekonomiannya terdampak COVID-19,” ujarnya.  

    Hal senada disampaikan Dr Berry Juliandi, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) IPB University yang mengatakan bahwa ia selalu memiliki visi bahwa warga IPB University harus selalu memberi dan melayani terutama bagi mahasiswa. Ia menyadari betapa besarnya potensi dana yang dihimpun oleh masyarakat terutama yang terkait dengan wakaf dan hal tersebut disambut baik oleh BPIDS. Ia menyebutkan bahwa penggunaan water station tidak akan mengenal fakultas. Sehingga dapat dinikmati oleh seluruh warga IPB University walaupun lokasi peletakannya di Fakultas Peternakan dan FMIPA.

    “Saya sangat mendorong pada seluruh warga IPB University termasuk mahasiswa sebagai yang akan menerima manfaat untuk juga memberi wakaf pada program ini. Bisa jadi kita berpikir bahwa potensi besar hanyalah di dosen, alumni, dan staf penunjang, padahal mahasiswa dapat juga berwakaf untuk menyukseskan program ini walaupun hanya dengan dana yang tidak terlalu besar,” ungkapnya.

    Dengan program tersebut yang didorong adalah semangat kebersamaan dan berbagi. Ia turut mendorong pula program 1000 beasiswa sebagai contoh bagi alumni untuk melakukan mobilisasi horisontal sehingga strata sosialnya lebih baik. Karena bukan hanya berpengaruh pada pemberi manfaat, namun juga lingkungan masyarakat secara umum.

    Pada kegiatan tersebut diadakan pula pernyataan dukungan dari para alumni IPB University yang hadir seperi Ir R Fathan Kamil, Ketua Umum Himpunan Alumni (HA),  Audy Joinaldy, Ketua Umum Himpunan Alumni Peternakan (HANTER) yang juga Wakil Guburner Sumatera Barat, serta Dr Adnan Nursal, Ketua Umum HA  FMIPA. Juga diadakan sekapur sirih dari donatur oleh Anton Sukarna, Direktur Distribusi dan Sales PT Bank Syariah Indonesia (BSI), yang merupakan alumni Fapet IPB University.

    Pada kegiatan ini juga diadakan penggalangan dana wakaf yang dipimpin oleh Iyep Komala, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan sekaligus Sekjen HANTEr dan Nelly Oswini, Wakil Ketua Umum DPP HA IPB University.

    “Dana yang terkumpul sampai dengan 6 Mei 2021, dari Bank Syariah Indonesia (BSI) memberikan sponsor satu water station yang akan ditempatkan di Fakultas Peternakan senilai 300 juta rupiah. Dari Direktur Eksekutif Laznas BSM Umat, Suko Riyanto Saputro yang merupakan alumni dari Fakultas Pertanian menyatakan Laznas BSM Umat memberikan beasiswa sebesar 200 juta rupiah,” jelas Iyep.

    Selain itu, pada penggalangan dana wakaf terkumpul dana untuk Fakultas Peternakan sebesar Rp 40.401.121, untuk FMIPA sebesar Rp 32.000.000 (untuk water station) dan Rp 2.300.000 untuk beasiswa.

    “Terkumpul juga dari para alumni yaitu dari Angkatan 32 Juara,  alumni Fapet angkatan 25,  Aninsya Farm dan alumni INMT 32.  Arga Citra 23 berkomitmen akan memberikan sponsor satu water station. Komitmen lainnya yaitu Himpunan Alumni Statistik akan menggalang wakaf untuk FMIPA dan Zoom Komputer akan support untuk program wakaf water station dan 1000 beasiswa. Penggalangan dana wakaf akan terus kami lanjutkan,” terangnya.

    Para alumni IPB University sangat mengapresiasi program tersebut dan berharap agar dapat berjalan dengan sukses ke depannya

  • Joint general lecturers: Prof. Hiroshi Takagi PhD dan Berry Juliandi, PhD

    Pada hari Kamis, 18 Desember 2014, diselenggarakan joint general lecture di Ruang Sidang Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Dalam kesempatan ini hadir dua dosen tamu, Prof. Hiroshi Takagi, PhD dari Nara Institute of Science and Technology dan Berry Juliandi, PhD dari Departemen Biologi, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

    Berry Juliandi, PhD memberikan paparan yang berjudul "Stem cells biology and its application in biomedicine". Berry Juliandi, PhD menjelaskan mengenai dasar-dasar biologi sel punca atau sel batang. Sel punca memiliki fungsi untuk sistem perbaikan penggantian sel-sel tubuh. Sel punca telah digunakan untuk percobaan pengobatan biologis pada tikus penderita paralisis dalam skala laboratorium. Untuk selanjutnya sedang dikembangkan penelitian yang aplikatif untuk manusia.

    Prof. Hiroshi Takagi memaparkan "Overexpression of the yeast transcription activator msn2 confers stress resistance in industrial yeast". Dalam paparannya, Prof. Hiroshi Takagi menjelaskan mengenai penggunaan yeast dalam industri roti dan berbagai usaha lain. Penggunaan aktivator msn2 mampu menekan efek stress akibat pemanasan, pengeringan dan pembekuan. Sistem ini dapat diterapkan pada berbagai industri lain, termasuk industri pakan. Prof. Hiroshi Takagi juga menjelaskan mengenai ruang lingkup Nara Institute of Science and Technology serta kesempatan beasiswa untuk belajar di sana.

    Dalam kesempatan ini hadir sekitar 30 mahasiswa pasca sarjana dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Teknologi Pangan IPB. Mahasiswa tampak antusias mengikuti perkuliahan dan aktif bertanya kepada kedua dosen undangan.(sumber: intp.fapet.ipb.ac.id)

Tips & Kegiatan Selama WFH