IPBSDG4

  • Ingin Tahu Tentang Program Studi Teknologi Hasil Ternak IPB University, Yuk Intip Informasinya

    Program Studi Teknologi Hasil Ternak (Prodi THT), Fakultas Peternakan IPB University merupakan akar keilmuan produksi peternakan yang ditopang oleh dua bidang yaitu produksi ternak dan produksi hasil ternak. Program Studi Teknologi Hasil Ternak berperan sebagai perluasan dan pelengkap hulu-hilir keilmuan di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP).

    Penyelenggaraan program studi THT ditetapkan melalui Surat Keputusan Rektor IPB University Nomor 106/IT3/PP/2016 tentang Pembukaan Program Studi Teknologi Hasil Ternak pada Program Pendidikan Sarjana di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan.

    Ketua Departemen IPTP, Prof. Dr. Irma Isnafia Arief menyampaikan bahwa program studi THT IPB University telah terakreditasi B dari BAN PT dengan Nomor 3209/SK/BAN-PT/Akred/S/VIII/2019.

    “Kami terus berupaya menjadi program studi unggulan yang menghasilkan sarjana kompeten dalam bidang teknologi hasil peternakan,” kata Prof Irma.

    Mahasiswa Teknologi Hasil Ternak IPB University dibekali tiga keilmuan utama yakni komoditas ternak yang terintegrasi pada proses hulu hingga hilir, penerapan teknologi untuk peningkatan nilai tambah, dan mengoptimalkan produk hasil ternak sebagai sumber pangan hewani yang berkualitas.

    Selain itu lulusan  Prodi THT tidak hanya dibekali kecakapan profesional berupa kemampuan dalam menerapkan teknologi penanganan dan pengolahan produk hasil ternak. Namun juga kecakapan manajerial yakni kemampuan dalam mengembangkan potensi diri untuk bekerja secara profesional sesuai dengan norma dan etika serta dapat beradaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    “Untuk menunjang kehidupan pasca kampus, mahasiswa THT IPB University juga dibekali mata kuliah yang bersifat sosial seperti inovasi dan komersialisasi, penyuluhan dan kewirausahaan, serta pelatihan soft skill seperti public speaking,” lanjutnya.

    Dosen pengajar di dalam Prodi THT IPB University merupakan pengajar kompeten lulusan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Para dosen memiliki gelar doktor, master, hingga guru besar (profesor). Prodi THT juga dilengkapi dengan fasilitas laboratorium yang lengkap mulai dari laboratorium pengolahan hasil ternak hingga laboratorium organoleptik.

    “Kami memiliki penggajar yang handal, materi yang terstandar internasional, fasiltas yang sangat memadai, dan suasana kampus asri yang mendukung dalam belajar,” jelasnya.

    Selain itu untuk meningkatkan mutu pembelajaran, Prodi THT IPB University menjalin jejaring yang kuat dengan berbagai universitas di berbagai negara. Mulai dari Singapura, Jepang, hingga Jerman. Hal tersebut dilakukan karena Prodi THT IPB University bertekad untuk menghasilkan lulusan yang mampu menerapkan serta membangun inovasi teknologi dalam proses penanganan dan pengolahan hasil peternakan. Tujuannya untuk menghasilkan produk hasil ternak yang aman, berkualitas serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

    Prospek lapangan kerja bagi lulusan Prodi THT IPB University sangat luas mulai dari bidang akademik (tenaga pendidik), profesional (penyuluh, peneliti, dan industri peternakan), hingga wirausahawan.

    IPB University merupakan perguruan tinggi yang sangat mendorong mahasiswanya untuk berinovasi dalam lapangan pekerjaan sehingga tidak hanya membuka lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri namun juga lapangan pekerjaan bagi orang lain (ipb.ac.id)

  • Ini Cara Tarik Minat Siswa Sumatera Barat Kuliah di Fapet IPB University

    “Kami ingin menginspirasi dan memotivasi siswa-siswa SMA/K yang hadir untuk melanjutkan studi di Fapet IPB University sehingga menjadi sumber daya manusia yang madani. Sebelum menjadi politisi, saya sering berkiprah dan berbisnis di bidang peternakan. Selain itu, sebagai Ketua Umum Hanter periode 2018-2022, saya berharap banyak siswa-siswi SMA di Sumatera Barat yang melanjutkan studi ke Fapet IPB University,” ujar Alumnus Fapet IPB University ini.  

    Menurutnya, kehadiran sarjana peternakan itu penting, untuk menjawab tantangan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia yang masih rendah. Padahal dengan jumlah penduduk Indonesia, potensi bisnis peternakan sangat besar dan dapat membuka lapangan pekerjaan. Peluang bisnis yang besar di bidang peternakan tidak hanya terbatas pada daging sapi, namun juga ruminansia lainnya dan protein hewani alternatif. Untuk memahami cara bisnis tersebut berjalan tentunya harus memiliki pengetahuan dasar yang diperoleh dari pendidikan terutama jurusan peternakan.

    Dr Idat Galih Permana, Dekan Fapet IPB University mengatakan bahwa selain menjadi perguruan tinggi terbaik menurut Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) pada tahun 2020 lalu, IPB University juga memiliki Fakultas Peternakan yang unggul.

    “Belajar ilmu peternakan itu menjanjikan. Potensi dan tren bisnis peternakan meningkat dan akan terus berkembang. Fakultas Peternakan IPB University memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dan modern. Kualitas pendidikannya bahkan telah terakreditasi “A” bertaraf internasional oleh AUN-QA (ASEAN University Network-Quality Assurance). Artinya, program studinya setara dengan universitas lain di ASEAN. Tahun ini kami sedang mengajukan untuk mendapatkan akreditasi International ASIIN (Accreditation Agency For Degree Programs In Engineering, Informatics/Computer Science, The Natural Sciences And Mathematics),” ujarnya.

    Mahasiswanya pun berkesempatan untuk mendapatkan credit earning, magang, seminar internasional, dan pengembangan softskill. Permintaan sarjana peternakan dalam dunia kerja dan industri dan pun semakin meningkat, tambahnya.

    Ciri lulusan yang dibangun Fapet IPB University adalah memiliki skill 4C. Yakni complex problem solving, critical thinking, creative communication dan collaboration network. Begitu pula dengan diterapkannya kurikulum K2020. Goal pendidikan IPB 4.0 untuk mencetak lulusan yang tangkas juga semakin terwujud. Dengan demikian, kompetensi sarjana peternakan menjadi semakin unggul.

    “Seorang sarjana peternakan memiliki kemampuan dasar dalam prinsip-prinsip pengelolaan peternakan. Mulai dari budidaya, genetika, pemuliaan dan bagaimana me-manage produksi ternak termasuk ke dalamnya memanfaatkan teknologi dan mengembangkan diri,” jelasnya.

    Jalur masuk yang tersedia bagi siswa SMA pun banyak di antaranya SBMPTN, SNMPTN, Ujian Tulis Mandiri Berbasis Komputer (UTMBK), Prestasi Internasional dan Nasional (PIN) dan Beasiswa Utusan Dearah (BUD). Sumber daya tenaga pendidiknya pun sangat berkualitas dan kompeten. Bahkan salah satu dosennya menjadi dosen berprestasi tingkat nasional, sehingga kualitas dosen dan tenaga pendidik di Fapet IPB University tidak perlu diragukan lagi.

    Ir Sunaedi Sunanto, SPt, MBA, IPU, alumnus Fapet IPB University yang kini menjabat Presiden Direktur PT Nutricell Pacific juga berbagi inspirasi dan pengalaman mengenai bisnis pakan ternak yang dijalaninya. Menurut Ketua Hanter DPD Jakarta Raya ini, sarjana peternakan memiliki potensi yang besar terutama sebagai entrepreneur. “Banyak lulusan dari Fakultas Peternakan IPB University yang menjadi pengusaha hebat dan bahkan menjadi direktur di perusahaan nasional maupun internasional,” tuturnya (ipb.ac.id)

  • IPB University Gelar Bela Negara dan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru 2019

    Masa pengenalan kampus merupakan suatu sarana untuk memperkenalkan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru. Melalui masa pengenalan ini mahasiswa diberikan informasi dan gambaran mengenai kampusnya.

    Di IPB University, masa pengenalan kampus ini biasa dikenal dengan nama Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB). Untuk tahun ini, kegiatan MPKMB yang diperuntukkan bagi mahasiswa angkatan 56 akan berlangsung pada tanggal 3-9 Agustus.

    Pada MPKMB tahun 2019, IPB University mengintegrasikan pengenalan kampus dengan kurikulum bela negara yang bertujuan untuk meningkatkan kecintaan para mahasiswa baru terhadap NKRI, meningkatkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme. Para mahasiswa baru ditanamkan pemahaman tentang empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Kegiatan bela negara ini dikemas dalam kegiatan outbound dan permainan-permainan lapangan yang menarik.

    Selain itu, mahasiswa baru juga dilatih aspek kedisiplinan dan kesamaptaan. Para instruktur bela negara yang terlibat adalah para dosen IPB yang telah mendapatkan pelatihan dari Kementerian Pertahanan dan para instruktur dari Pusat Pendidikan Zeni Kodiklatad TNI.

    Serangkaian kegiatan mengesankan lainnya yang akan mereka ikuti, mulai dari materi “Cinta IPB dan Pertanian” oleh Rektor, “Cinta Daerah” oleh Wali kota Bogor, “Be Technosociopreneur 4.0” oleh Ahmad Zaky (CEO Bukalapak), M. Nadjikh (CEO KML) dan Tri Mumpuni (sociopreneur), One Man Show oleh Gubernur DKI Jakarta, Talkshow Panglima TNI dan Talkshow Polri oleh Kapolda Metro Jaya. Monolog “Sejarah Perkembangan Pergerakan Mahasiswa” oleh Andiko Pradana, Talkshow Alumni Fakultas masing-masing,
    ragam penampilan seni dan budaya seperti perkusi, teater kolosal, unjuk lagu-lagu daerah oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Agriswara IPB University, hingga band Rektor.

    Tak hanya itu, acara kian meriah dengan dikemasnya berbagai atraksi yang cukup seru seperti penampilan Maskot dan Jingle MPKMB 56, adu Jargon Kelompok, unjuk Formasi, hingga ragam acara nonton bareng (nobar) yaitu Visualisasi Andamaru Jayantara (nama yang didaulat sebagai nama angkatan 56 IPB University), Video Inovasi-inovasi IPB University, Video Fungsi Mahasiswa, hingga Video Green Campus “Pemilahan Sampah”.

    Refleksi Diri, Penampilan Panitia, Launching Buku Angkatan, dan Pengumuman Pemenang MPKMB 56 akan memberikan keunikan tersendiri di tengah padatnya acara.

    Rektor IPB University Dr. Arif Satria mengatakan bahwa rangkaian kegiatan demi kegiatan pengenalan kampus. “Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan bekal informasi seputar dunia kampus, wawasan kebangsaan, cinta tanah air, bela negara, penghargaan terhadap budaya dan keragaman sehingga mahasiswa IPB ke depan akan memberikan beragam kontribusi positif, tidak saja bagi kampusnya, melainkan juga bagi masyarakat dan bangsanya.” (bogorin.com)

  • IPB University Launching Program Wakaf Water Station dan 1000 Beasiswa Bagi Mahasiswa

    Ini juga salah satu bentuk ikhtiar IPB University dalam mengembangkan kemandirian keuangan. Dengan berkembangnya dana sosial dan wakaf, diharapkan dapat memiliki sumber-sumber pembiayaan.
     
    Program water station dikembangkan demi memenuhi kebutuhan air minum mahasiswa beserta seluruh warga IPB University. Serta demi mendukung gaya hidup ramah lingkungan karena dapat mengurangi pengeluaran air minum dalam kemasan. Hal ini sejalan dengan IPB University sebagai Green Campus yang telah konsisten dalam menggalakkan program pengurangan sampah plastik selama tiga tahun terakhir.

    Sedangkan program 1000 beasiswa mahasiswa IPB University akan disalurkan pada mahasiswa yang membutuhkan.

    Rektor IPB University diwakili oleh Sekretaris Institut, Dr Aceng Hidayat dalam sambutannya saat secara resmi meluncurkan program tersebut mengatakan, terdapat dua aspek yang terkait dengan program tersebut. Kedua aspek tersebut yakni aspek kebermanfaatan dan kemuliaan. Program beasiswa ditujukan pada sejumlah besar mahasiswa yang terdampak COVID-19. Diharapkan mahasiswa dapat melanjutkan studi tanpa rasa cemas sehingga menjadi sumber daya manusia yang unggul.  Sedangkan program water station dapat membantu IPB University untuk mengurangi sampah plastik terutama dari air kemasan.

    “Program BPIDS ini yakni program 1000 beasiswa dan pemasangan water station di masing-masing fakultas merupakan program yang sangat mulia dan sangat bermanfaat bagi warga IPB University. Saya ingin berterimakasih khususnya pada alumni yang telah berkontribusi,” ungkapnya.    

    Dr Idat Galih Permana, Dekan Fakultas Peternakan IPB University memberikan testimoni. Selaku penerima manfaat atas penyelenggaraan program BPIDS, ia sangat mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, fakultas di IPB University memang membutuhkan uluran tangan terkait kesejahteraan mahasiswa. "Terjadi peningkatan jumlah mahasiswa yang perekonomiannya terdampak COVID-19,” ujarnya.  

    Hal senada disampaikan Dr Berry Juliandi, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) IPB University yang mengatakan bahwa ia selalu memiliki visi bahwa warga IPB University harus selalu memberi dan melayani terutama bagi mahasiswa. Ia menyadari betapa besarnya potensi dana yang dihimpun oleh masyarakat terutama yang terkait dengan wakaf dan hal tersebut disambut baik oleh BPIDS. Ia menyebutkan bahwa penggunaan water station tidak akan mengenal fakultas. Sehingga dapat dinikmati oleh seluruh warga IPB University walaupun lokasi peletakannya di Fakultas Peternakan dan FMIPA.

    “Saya sangat mendorong pada seluruh warga IPB University termasuk mahasiswa sebagai yang akan menerima manfaat untuk juga memberi wakaf pada program ini. Bisa jadi kita berpikir bahwa potensi besar hanyalah di dosen, alumni, dan staf penunjang, padahal mahasiswa dapat juga berwakaf untuk menyukseskan program ini walaupun hanya dengan dana yang tidak terlalu besar,” ungkapnya.

    Dengan program tersebut yang didorong adalah semangat kebersamaan dan berbagi. Ia turut mendorong pula program 1000 beasiswa sebagai contoh bagi alumni untuk melakukan mobilisasi horisontal sehingga strata sosialnya lebih baik. Karena bukan hanya berpengaruh pada pemberi manfaat, namun juga lingkungan masyarakat secara umum.

    Pada kegiatan tersebut diadakan pula pernyataan dukungan dari para alumni IPB University yang hadir seperi Ir R Fathan Kamil, Ketua Umum Himpunan Alumni (HA),  Audy Joinaldy, Ketua Umum Himpunan Alumni Peternakan (HANTER) yang juga Wakil Guburner Sumatera Barat, serta Dr Adnan Nursal, Ketua Umum HA  FMIPA. Juga diadakan sekapur sirih dari donatur oleh Anton Sukarna, Direktur Distribusi dan Sales PT Bank Syariah Indonesia (BSI), yang merupakan alumni Fapet IPB University.

    Pada kegiatan ini juga diadakan penggalangan dana wakaf yang dipimpin oleh Iyep Komala, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan sekaligus Sekjen HANTEr dan Nelly Oswini, Wakil Ketua Umum DPP HA IPB University.

    “Dana yang terkumpul sampai dengan 6 Mei 2021, dari Bank Syariah Indonesia (BSI) memberikan sponsor satu water station yang akan ditempatkan di Fakultas Peternakan senilai 300 juta rupiah. Dari Direktur Eksekutif Laznas BSM Umat, Suko Riyanto Saputro yang merupakan alumni dari Fakultas Pertanian menyatakan Laznas BSM Umat memberikan beasiswa sebesar 200 juta rupiah,” jelas Iyep.

    Selain itu, pada penggalangan dana wakaf terkumpul dana untuk Fakultas Peternakan sebesar Rp 40.401.121, untuk FMIPA sebesar Rp 32.000.000 (untuk water station) dan Rp 2.300.000 untuk beasiswa.

    “Terkumpul juga dari para alumni yaitu dari Angkatan 32 Juara,  alumni Fapet angkatan 25,  Aninsya Farm dan alumni INMT 32.  Arga Citra 23 berkomitmen akan memberikan sponsor satu water station. Komitmen lainnya yaitu Himpunan Alumni Statistik akan menggalang wakaf untuk FMIPA dan Zoom Komputer akan support untuk program wakaf water station dan 1000 beasiswa. Penggalangan dana wakaf akan terus kami lanjutkan,” terangnya.

    Para alumni IPB University sangat mengapresiasi program tersebut dan berharap agar dapat berjalan dengan sukses ke depannya

  • IPB University Melepas Mahasiswa KKNT

    IPB University melepas 2.555 mahasiswa untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) pada (17/6) di Kampus Dramaga, Bogor. KKNT merupakan agenda tahunan yang dilakukan IPB University sebagai bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa.

    Tahun ini, KKN-T dilaksanakan selama 40 hari dan bekerjasama dengan 29 kabupaten/kota dengan rincian 26 kabupaten/kota di pulau Jawa dan 3 kabupaten di luar Jawa yakni Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Simalungun, Kota Ternate dan Tikep.

    Mahasiswa Fapet IPB yang melakukan KKN pada tahun ini sebanyak 235 orang. Adapun Lokasi penempatan mahasiswa-mahasiswa tersebut dikonsentrasikan di Kabupaten garut, Tasikmalaya, Indramayu dan Brebes.

    Dr. Arif Satria, Rektor IPB University menyampaikan bahwa KKN-T akan mengajarkan kepada mahasiswa untuk belajar berkorporasi, belajar menyelesaikan masalah, dan belajar untuk lebih peka terhadap problematika masyarakat. “Tunjukkan bahwa IPB University hadir dengan membawa nilai tambah dan dapat bermanfaat untuk masyarakat dengan segenap ilmu yang telah kalian dapatkan. Jadikan tempat KKN-T itu sebagai tempat untuk mendapatkan inspirasi dan sebagai tempat untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat desa maupun kota,” ujarnya.

    Senada dengan Rektor IPB University, Dr. Ir. Aji Hermawan, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University menyampaikan bahwa pada kegiatan KKN-T ini mahasiswa bisa mengimplementasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah didapatkan di perkuliahan dan menawarkan inovasi inovasi yang dapat bermanfaat untuk masyarakat.

     “Lokakarya akan kami lakukan beberapa kali untuk pengontrolan. Semoga kita dapat mengkontribusikan pengetahuan kita dengan baik,” terangnya di hadapan ribuan mahasiswa yang hadir pada apel pelepasan. Pelepasan mahasiswa KKN-T dilakukan secara simbolisdengan penyerahan Surat Tugas untuk mahasiswa KKN-T IPB University Tahun 2019.

    Adapun penyerahan Surat Tugas dilakukan oleh Rektor IPB University kepada seluruh koordinator dari 29 kabupaten/kota.

  • IPB University Perpanjang Kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara

    IPB University kembali memperpanjang kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Dalam lawatannya itu, tim IPB University diwakili oleh Muhamad Baihaqi, SPt, MSc, Dr Iwan Prihantoro dan Edit Lesa Aditia, MSc. Tim IPB University diterima oleh Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Baperlitbang) yang diwakili oleh Sekretaris Dinas dr Junita Prasetyaningsih, MPh beserta jajarannya. 

    Dalam kunjungan kali ini, IPB University dan Pemerintah kabupaten Banjarnegara sepakat untuk terus memperpanjang kerjasama. IPB University berkomitmen akan terus mendorong kemajuan bidang pertanian secara umum di Kabupaten Banjarnegara. Upaya tersebut akan diwujudkan melalui beragam kegiatan, salah satunya adalah kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang akan dilakukan pada tahun 2022 dan kegiatan penelitian maupun pengabdian masyarakat lainnya.

    Muhamad Baihaqi menjelaskan bahwa kegiatan KKNT IPB university memiliki keunikan tersendiri sehingga menjadi pembeda dengan kegiatan sejenis dari perguruan tinggi lain. Dosen IPB University itu menyebut, KKNT IPB University dirancang sesuai dengan tema-tema spesifik di bidang pertanian secara umum yang menjadi core competence IPB University. Dengan demikian, kemanfaatan program ini dapat dirasakan lebih besar oleh mitra. 

    Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara juga berharap bisa terus menjadi wilayah binaan IPB University.  “Terdapat dua isu utama di Kabupaten Banjarnegara yaitu pengentasan kemiskinan ekstrem dan stunting, harapannya keberadaan sivitas akademika IPB University dengan reputasi di bidang pertanian mampu membuat terobosan dan inovasi untuk mengatasi hal ini,” ungkap dr Junita.  

    Di akhir pertemuan disepakati bahwa kerjasama antara IPB University dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara akan ditindaklanjuti dengan pembuatan surat perjanjian kerjasama (ipb.ac.id)

  • Jurnal Internasional TASJ berhasil menembus Q2 Scopus

    Jurnal Internasional Tropical Animal Science Journal (TASJ) yang dikelola Fakultas Peternakan, IPB University berhasil mencapai ranking Quartil 2 (Q2) berdasarkan Scimago Journal & Country Rank, pada kategori Animal Science and Zoology dengan nilai SJR 0.39. Pada Peringkat Asia di bidang Animal Science and Zoology, TASJ menempati peringkat 13 dari 50 jurnal, sedangkan di bidang veteriner TASJ menempati peringkat 7 dari 27 jurnal.

    SJR dihitung berdasarkan jumlah kutipan rata-rata per artikel yang diterbitkan dalam suatu jurnal dalam tiga tahun terakhir dari database Scopus. Dalam menilai jurnal, Scopus membuat klasterisasi kualitas jurnal yang terbagi menjadi empat Quartile, yaitu Q1, Q2, Q3 dan Q4. Q1 adalah klaster paling tinggi dari segi kualitas jurnal, kemudian diikuti Q2, Q3, dan Q4. Berdasarkan Science and Technology Index SINTA dari Kementerian Riset dan Teknologi RI, saat ini Indonesia memiliki 4.985 jurnal. Jika ditelusuri dengan SJR, hanya 58 jurnal dari Indonesia yang terindeks Scopus sebagai jurnal bereputasi internasional dengan ranking Q1-Q4 serta Q Unindexed.

    Hasil pemeringkatan tersebut dapat diakses pada laman https://www.scimagojr.com/journalsearch. Scopus menggunakan parameter pemeringkatan yang disebut Scimago Journal and Country Rank atau SJR.

    Tropical Animal Science Journal (TASJ) sebelumnya bernama Media Peternakan adalah jurnal ilmiah yang mencakup aspek luas dari ilmu hewan tropis. Mulai tahun 2018, Media Peternakan berubah namanya menjadi Tropical Animal Science Journal dengan tujuan untuk mengembangkan dan memperluas distribusi serta meningkatkan visibilitas jurnal. TASJ diterbitkan EMPAT kali setahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember dimulai dari tahun 2020 oleh Fakultas Peternakan, IPB University. Edisi pertama dengan judul TASJ baru diterbitkan pada edisi April 2018 (Vol 41 No 1 2018), sedangkan edisi sebelumnya (hingga 2017) masih menggunakan nama Media Peternakan sebagai judul dan dapat diakses di situs web lama (http: //medpet.journal.ipb.ac.id/).

    TASJ ini telah diakreditasi oleh Akreditasi Jurnal Nasional (ARJUNA) yang dikelola oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Republik Indonesia dengan Kelas Satu (Sinta 1) sejak tahun 2018 hingga 2022 sesuai dengan keputusan No. 30 / E / KPT / 2018.

    TASJ telah diindeks dan diabstraksi dalam produk-produk Elsevier (Scopus, Reaxys), produk-produk Analisis Clarivate (Indeks Kutipan Sumber Muncul), Peringkat Jurnal Scimago, Indeks Kutipan ASEAN, DOAJ, Dimension Digital Science, CABI, EBSCO, SINTA, Google Scholars, dan basis data ilmiah lainnya. Jurnal ini juga menggunakan Pemeriksaan Kesamaan untuk mencegah dugaan plagiarisme dalam naskah.

    Tropical Animal Science Journal menerima manuskrip yang mencakup beragam topik penelitian dalam ilmu hewan tropis: pembiakan dan genetika, reproduksi dan fisiologi, nutrisi, ilmu pakan, agrostologi, produk hewan, bioteknologi, perilaku, kesejahteraan, kesehatan dan kesehatan hewan, sistem peternakan, sosial-ekonomi, dan kebijakan.

     

     

  • Kenali Karakteristik Produksi Jangkrik

    Budidaya jangkrik merupakan alternatif usaha peternakan yang menguntungkan, karena selain sangat dibutuhkan oleh pasar khusus, juga pemeliharaannya relatif mudah, ramah lingkungan, serta tidak terlalu membutuhkan lahan yang luas. Namun demikian, sebelum memulai usaha salah satu satwa harapan potensial ini, perlu diketahui karakteristik dan cara budi daya jangkrik yang baik.

    Habitat jangkrik adalah pada lingkungan dengan intensitas cahaya rendah bersuhu 20-32°C dan kelembapan 65-80%, menyukai tempat persembunyian, dan hidup berkoloni atau bergerombol. Dalam sebuah training online bertajuk “Satwa Harapan, Harapan Satwa Jangkrik” yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB melalui aplikasi daring pada Sabtu, 8 Agustus 2020 lalu, Dosen Fapet IPB Dr. Yuni Cahya Endrawati, SPt., MSi menjelaskan tentang beberapa perbedaan karakter berbagai jenis jangkrik yang dipelihara di Indonesia.

    Jangkrik cliring atau Gryllus mitratus memiliki sifat gerakannya yang lincah, warna tubuh cokelat, ukuran tubuh lebih kecil daripada jangkrik kalung, tubuh tidak banyak mengandung air, tahan terhadap cuaca, dan masa panen 35 hari. Adapun jangkrik cendawang atau Gryllus testasius bisa dilihat dari gerakannya yang agak lamban, warna tubuh cokelat terang, ukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan jangkrik kalung, ovipositor lebih pendek, rentan terhadap perubahan cuaca, dan masa panen 30 hari.

    Sedangkan jangkrik kalung atau Gryllus bimaculatus, gerakannya juga agak lamban, dengan warna tubuh yang cenderung hitam atau gelap dan ada garis kuning melingkar di pangkal sayap. Ukuran tubuh jangkrik kalung lebih besar dari jangkrik alam, tubuh banyak mengandung air, rentan terhadap perubahan cuaca, dan masa panen 25-28 hari.

    Siklus hidup jangkrik adalah mulai dari telur, nimfa, grower, dan kemudia menjadi induk. Pada media bertelur, Yuni mengingatkan untuk menyiapkan media bertelur dari pasir halus yang steril dengan kelembapan media tepat.

    “Terlalu basah telur berjamur dan busuk, terlalu kering telur dehidrasi,” kata Yuni. Ketika sudah menjadi nimfa, maka biarkan hidup dalam kotak penetasan sampai berumur 15 hari agar tidak stres, dan diberi konsentrat yang digiling halus.

    Baru setelah berumur 15 hari, nimfa bisa dipindahkan ke kandang grower, dan diberi pakan hijauan serta konsentrat yang halus. Ketika memasuki fase grower, berikan pakan yang cukup, baik hijauan dan konsentrat, dan jaga kepadatan dan persembunyian yang cukup.

    Hindarkan pula dari predator seperti semut, cicak, tikus, tokek, atau laba-laba; agar jangan sampai masuk ke kandang. “Rasio jantan adalah 1:5 untuk indukan,” kata Yuni Cahya Endrawati (agropustaka.id)

  • Kiprah Prof Ronny Rachman Noor Berbagi Ilmu di Dunia Maya

    Prof Dr Ir Ronny Rachman Noor adalah salah satu Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Selain menjadi pengajar dan peneliti, Prof Ronny pernah menjadi Atase Pendidikan di Australia. Karena kecintaannya di dunia tulis menulis, Prof Ronny sering membagi ilmu dan pengalamannya di Kompasiana (https://www.kompasiana.com/rrnoor) dengan berbagai topik seperti konservasi lingkungan, sosial, pendidikan, budaya, gaya hidup dan lain-lain.  Hingga akhir Mei 2020, tulisan Prof Ronny telah mencapai 1.063 judul tulisan dan telah dibaca sebanyak 1.881.412 kali.

    “Pertama kali menulis di Kompasiana pada tanggal 10 Oktober 2014 lalu. Saat itu saya sedang mengemban tugas sebagai Atase Pendidikan di Australia. Saya juga tidak pernah membayangkan bahwa Kompasiana akan menjadi wahana tulisan ilmiah popular saya untuk masyarakat umum. Tulisan pertama saya berjudul “Lonceng Kematian Penghuni Kebun Binatang”. Tulisan ini memberikan informasi ilmiah bagaimana penghuni kebun binatang di Indonesia pada umumnya mengalami stres yang ditandai dengan tidak dapat bereproduksinya satwa liar. Hal ini penting untuk disampaikan, karena jika pengelolaan kebun binatang tanpa memperhatikan ilmu genetika ekologi, niat baik untuk melakukan konservasi justru akan berakibat fatal bagi satwa liar,” ujarnya.

    Tulisan lainnya yang pernah menjadi pemberitaan nasional adalah terkait benda purbakala bersejarah Indonesia yaitu berupa patung perunggu kecil yang harganya sangat fantastis yang berakhir di National Gallery of Australia. 
    Tulisan Prof Ronny yang berjudul “Sang Penenun” ini membuat beberapa pejabat kementerian datang ke National Gallery of Australia untuk mencocokkan bukti patung yang berada di Indonesia dan patung yang berada di Australia. Hasil penyelidikan ini membuktikan bahwa patung yang ada di Indonesia merupakan duplikasi dan bukan patung yang asli.

    Tulisan Prof Ronny di Kompasiana banyak dijadikan sebagai bahan rujukan untuk penulisan skripsi, tesis, disertasi serta buku. Ini karena bentuk tulisannya yang dikemas dalam bentuk ilmiah popular dan mengacu pada berbagai publikasi ilmiah yang diterbitkan di jurnal internasional.
    Contohnya adalah pakar Indonesia yang namanya mendunia, Prof Tim Lindsey dan Dave McRae dari University of Melbourne Australia dalam buku terbarunya yang berjudul "Strangers Next Door?: Indonesia and Australia in The Asian Century". Beberapa pustakanya mengacu pada tulisan Prof Ronny yang terkait dengan penyuapan dan korupsi yang terjadi di Indonesia.

  • KKN-T Mahasiswa IPB di Pekanbaru Fokus Berkontribusi Atasi Covid-19

    Di saat pandemi Covid-19 ini, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB)  melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) di Pekanbaru, Riau. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak Covid-19, melalui program pemberdayaan masyarakat dalam mengatasi masalah Covid-19.

    Kegiatan KKN-T IPB di Pekanbaru secara daring dengan tema Pemanfaatan Sumber Daya Wilayah dan Pemberdayaan Masyarakat melalui Techno Social Entrepreneurship untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada Masa Pandemi Covid-19.

    Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Peternakan IPB Idat Galih Permana mengharapkan, mahasiswa dapat membantu memberikan pemahaman serta solusi kepada masyarakat bagaimana cara beradaptasi dengan kebiasaan baru serta melakukan pemberdayaan masyarakat yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, pertanian dalam arti luas, industri dan lingkungan secara terintegrasi. 

    "Semoga mahasiswa kami ini dapat membantu masyarakat di Kota Pekanbaru," katanya.

    Sementara itu, perwakilan Pemerintah Kota Pekanbaru Zulfahmi Adrian mengungkapkan, Kota Pekanbaru tidak memiliki sumber daya alam (SDA), berbeda dengan kabupaten/kota yang ada di sekitar Pekanbaru. Di Kota Pekanbaru, yang lebih diiutamakan adalah kegiatan perdagangan, jasa, dan industri. 

    "Bapak Walikota Pekanbaru saat ini sedang gencar-gencarnya untuk mewujudukan Pekanbaru sebagai pusat investasi, yang nantinya dapat mensejahterakan masyarakat,” ujarnya. 

    Zulfami menjelaskan, saat ini Pekanbaru telah mengeluarkan perwako 104/2020 tentang berperilaku hidup bersih dan sehat sebagai tindak lanjut setelah lebih kurang 3 bulan menjalankan pembatasan berskala besar. Kepada mahasiswa yang akan melakukan KKN-T di Kota Pekanbaru, ia berharap agar memperhatikan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 yang telah ditetapkan Pemerintah Kota Pekanbaru. 

    "Kami berharap mahasiswa KKN ini nantinya menjadi pionir atau agen informasi, memberikan penyadaran dan advokasi kepada masyarakat agar  mematuhi protokol kesehatan pencegahan COVID-19 di Pekanbaru,” harapnya.

    Adapun program-program yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa IPB Pekanbaru dimulai dari kelompok 1 yang akan melakukan KKN di Desa Limbungan Baru dengan tema Peningkatan Perekonomian Masyarakat Pasca Covid-19 dengan pemanfaatan halaman rumah yang mencakup empat buah program yaitu sosialisasi menjaga kebersihan dan pencegahan Covid-19, program sehat bergizi, kebun keluarga, serta pengembangan usaha peternakan ayam dan pengelolaan limbah. 

  • Kolaborasi IPB University, WUR, Peternak dan Industri untuk Hasilkan Produk Peternakan Berkualitas

    Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar seminar penutupan program Sustainable Intensification Dairy Production Indonesia Project (SIDPI), 13/1. Program ini terdiri dari kegiatan riset dan pemberdayaan masyarakat, khususnya peternak sapi perah di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kegiatan penutupan diadakan dalam rangka mensosialisasikan hasil-hasil dari program SIDPI kepada para peternak melalui lembaga di tingkat pusat dan daerah.

    Program SIDPI merupakan program kolaborasi IPB University bersama dengan Wageningen University Research (WUR), Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, PT Trouw Nutrituin Indonesia, dan Frisian Flag Indonesia. Kegiatan ini sudah dilakukan selama 3,5 tahun sejak tahun 2016 hingga tahun 2019.

     Adapun fokus kegiatan adalah peningkatan pendapatan peternak dengan meningkatkan produktivitas susu sapi perah melalui perbaikan pengelolaan pakan ternak.

    Dr Rudi Afnan, Wakil Dekan Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Fapet IPB University mengatakan program SIDPI didesain sebagai pilot project di wilayah Lembang. Kegiatannya berupa berbagai program peningkatan pengetahuan peternakan sapi perah, manajemen pengolahan pupuk dari limbah budidaya sapi perah.

    “Program ini  diharapkan dapat meningkatkan kesehatan dan produk sapi perah, mengurangi biaya pakan, meningkatkan efisiensi pengunaan sumberdaya, serta meningkatkan pendapatan peternak sapi perah skala kecil,” terang Dr Rudi.

    Di sisi lain, program ini juga berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca. Dr Rudi berharap, bisa terjalin kerjasama yang lebih erat untuk kemajuan peternakan Indonesia yang berorientasi pada lingkungan yang berkelanjutan.

    Hadir sebagai pemateri utama adalah Dr Nasrullah dari  Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Gemma Verijdt dari Kementerian Pertanian, Alam, dan Kualitas Pangan, Belanda dan Dr Marion De Vries, dari Wageningen University Research (WUR) yang menjelaskan tentang program SIDPI.

    Dalam paparannya, Gemma Verijdt menjelaskan pemerintah Belanda sudah membuat kesepakatan dengan pihak swasta, pemerintah lokal dan masyarakat untuk mengurangi emisi karbon. Melalui kesepakatan ini, ditargetkan dapat mengurangi emisi gas metana dari sektor peternakan hingga 16 persen di tahun 2030. Untuk itu, pendekatan lingkungan terintegrasi terus dilakukan dengan berbagai negara, salah satunya Indonesia.

    “Riset dan inovasi untuk mengurangi emisi di sektor peternakan terus dilakukan. Khususnya dalam pengelolaan limbah dan sistem perkandangan yang ramah lingkungan. Sistem perkandangan menjadi tantangan utama untuk membentuk mengelola limbah  terintgrasi. Hal ini terus kami kembangkan bersama dengan berbagai pihak,” ungkap Gemma.

    Sementara Dr Marion menjelaskan tentang keberhasilan program SIDPI. Hasil dari program ini menunjukkan bahwa pengelolaan pakan dapat meningkatkan kesehatan hewan ternak dan produk susu. Ia menerangkan, terjadi peningkatan sekitar 0,7 kilogram susu untuk satu ekor sapi per harinya. Melalui program ini juga, efisiensi sumber daya juga membuat biaya pakan berkurang serta itu emisi yang berdampak buruk untuk lingkungan juga berkurang.

    “Pengurangan emisi dilakukan dengan pengelolaan kotoran hewan yaitu mengurangi jumlah kotoran ternak yang dibuang. Upaya ini dapat mengurangi polusi ke sungai dan air tanah. Pilot project ini melibatkan  peternak KSPBU Lembang, serta peneliti dari IPB University dan Wageningen University Research. Ke depannya program ini akan terus dikembangan untuk 4500 peternak di Jawa Barat,” ungkap Dr Marion.

    Kegiatan seminar ini juga menghadirkan beberapa pembicara lain yang terlibat dalam program SIDPI. Diantaranya adalah Windi Al Zahra, Alumni Fapet IPB University yang saat ini menempuh Pendidikan di Wageningen University Research (WUR), Bram Wouters dari Wageningen University Research (WUR) dan Drs Dedi Setiadi dari KPSBU Lembang (ipb.ac.id)

  • Komitmen Serempak Fapet IPB University untuk Jadi Terdepan dalam Pengembangan Ilmu dan Teknologi Peternakan

     

    Dirinya juga menyebut, pandemi COVID-19 turut mengubah tatanan sosial masyarakat. Seperti rutinitas kegiatan sehari-hari maupun upaya untuk bersilaturahim dan berinteraksi. Dengan bermodal teknologi yang ada, diharapkan silaturahim akan tetap terjaga meskipun belum bisa bertatap muka secara langsung.

    Sebagai upaya menyambut kuliah tatap muka, Dr Idat menyebut, pihaknya telah menghimpun dana untuk pembangunan water station dan dana sosial untuk beasiswa. Ia juga menyebut, para alumnus telah berpartisipasi aktif dalam mendukung Fapet IPB University.

    Ketua Senat Fapet IPB University, Prof Nahrowi menyebut, setelah mendapat tempaan bulan ramadhan, sudah waktunya berkomitmen untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik. “Apabila komitmen ini bisa dilakukan secara serempak, saya yakin Fapet IPB University dapat menjadi institusi terdepan dalam pengembangan ilmu dan teknologi peternakan,” ujar Prof Nahrowi.

    Dalam upaya menciptakan suasana kerja yang lebih kondusif dan menanggulangi permasalahan yang timbul akibat perkembangan teknologi yang cepat, Prof Nahrowi berpesan supaya saling menjaga silaturahim. “Mari kita maksimalkan teknologi yang ada untuk meningkatkan silaturahim secara online. Jika nanti pandemi COVID-19 sudah terkendali, kita bisa kembali silaturahim secara offline,” ujar Prof Nahrowi.

    Dirinya juga berpesan, dalam bersilaturahim dapat menggunakan bahasa yang baik. Tidak hanya itu, ia juga berpesan supaya menjadikan ajang sulaturahim untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. “Jika itu semua dilakukan, maka silaturahim ini dapat digunakan sebagai wadah untuk mendukung penelitian, pendidikan serta mencapai target-target kinerja yang sudah ditetapkan,” ujar Prof Nahrowi.

    Ketua Umum Hanter IPB University, Audy Joinaldy turut berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung Hanter IPB University untuk terus berkontribusi bagi almamater. Sampai saat ini pihaknya telah mengumpulkan dana untuk beasiswa bagi mahasiswa melalui Tali Kasih Hanter IPB University.

    “Kami juga ingin mengadakan Hari Pulang Kandang, semoga nanti bisa terwujud setelah pandemi COVID-19,” ujar Audy.

    Alumnus Fapet IPB University itu juga menjelaskan, dirinya turut mengundang para dosen Fapet IPB University untuk ikut memberikan sosialisasi tentang Fapet IPB University bagi siswa-siswi SMA di daerahnya. “Jadi sosialisasinya adalah khusus tentang Fapet IPB University di SMA Sumatera Barat. Dengan demikian diharapkan akan banyak siswa-siswi yang tertarik dengan peternakan dan mau masuk ke Fapet IPB University,” pungkas Audy Joinaldi, Alumnus IPB University sekaligus Wakil Gubernur Sumatera Barat.

    Pesan-pesan penting ini mengemuka saat berlangsung Halal bi Halal Fakultas Peternakan IPB University beberapa waktu lalu (ipb.ac.id)

  • Konferensi Internasional Fapet IPB University: 40 Persen Mahasiswa Indonesia Alami Kecemasan Akibat Pandemi

    Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar International Student Conference (ISC) 2020, (18/9). Kegiatan ini merupakan ajang tingkat internasional yang ditujukan bagi mahasiswa sarjana seluruh dunia. Agenda ini dihadiri oleh 269 peserta dari berbagai negara seperti Thailand, Inggris, Turki, China, Australia dan Indonesia.

    Dalam pembukaannya, Dr Drajat Martianto, Wakil Rektor IPB University Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan mengatakan kegiatan ini sangat didukung oleh institusi, karena selaras dengan misi kampus IPB University yaitu berkomitmen menjadi kampus terbaik di taraf internasional. Ia berharap, kegiatan ini mampu meningkatkan kapasitas dari mahasiswa sekaligus momentum transfer pengetahuan.

    “Harapannya, kegiatan ini mampu memberikan pengetahuan baru sekaligus membentuk jaringan global bagi para mahasiswa lintas negara ini. Selain itu kegiatan ini merupakan ajang bertukar pengetahuan guna meningkatkan inovasi-inovasi yang ada di IPB University. Saya ucapkan selamat melakukan kegiatan presentasi untuk seluruh peserta,” ungkap Dr Drajat Martianto

    Rangkaian kegiatan ISC 2020 meliputi konferensi, diskusi panel, dan summercourse. Sedikitnya ada 130 mahasiswa dari berbagai negara yang sudah mengirimkan karyanya untuk dipresentasikan selama kegiatan.

    Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan pembukaan adalah Prof Dr Jeremy Huckins dari Departemen Psikologi dan Neurosains, Darthmouth College Hanover, United States. Materi yang disampaikan tentang kesehatan mental dan perilaku selama masa Pandemi COVID-19.

    Prof Dr Jeremy  menjelaskan penelitiannya tentang kesehatan mental mahasiswa khususnya terkait dengan dampak stres bagi tubuh selama masa pandemi. Menurutnya, masa pandemi membuat kesehatan mental mahasiswa menjadi terganggu. Ia menerangkan, tingkat kecemasan mahasiswa meningkat karena perubahan pola hidup dan berbagai informasi negatif tentang COVID-19. Tercatat ada 40 persen mahasiswa Indonesia yang mengalami gangguan kecemasan.

    “Selain di Indonesia, lebih dari 50 persen mahasiswa di Bangladesh juga mengalami kecemasan yang berlebih. Hal serupa juga dialami oleh 25-50 persen mahasiswa yang ada di China. Permasalahan ini akan terus mengalami peningkatan selama masa pandemi yang dialami secara global. Terjadi perubahan pola perilaku yang signifikan selama masa lockdown," ungkap Prof Jeremy .

    Selain itu Prof Jeremy juga memperkenalkan alat ukur tingkat kecemasan pada siswa selama pembelajaran daring. Menurutnya,  penggunaan media sosial yang meningkat mempengaruhi kesehatan mental siswa. "Media sosial banyak memberikan informasi-informasi negatif terkait pandemi dan menurunkan aktivitas fisik. Dampak negatif ini paling banyak ditemukan pada orang usia muda," pungkasnya (ipb.ac.id)

  • Kuliah Pembekalan KKNT Fakultas Peternakan IPB Berikan Materi Hard Skill dan Soft Skill untuk Mahasiswa

    Lebih dari 250 mahasiswa hadiri Kuliah Pembekalan KKNT (Kuliah Kerja Nyata Tematik) yang digelar oleh Fakultas Peternakan IPB pada Sabtu (12/6). Kuliah pembekalan ini menghadirkan lima orang narasumber dengan tiga materi ilmu peternakan dan dua materi di luar ilmu Peternakan dan berlangsung selama kurang lebih 4 jam secara online melalui aplikasi zoom. dan Kabag Humas IPB

    Hadir pula dalam acara tersebut Dekan Fakultas Peternakan Dr. Ir. Idat Galih. Permana, M. Sc.Agr yang memberikan arahan kepada adik-adik peserta KKNT IPB 2021. “KKN ini suatu wadah yang sangat penting bagi adik-adik semua, terutama bagaimana bisa berinteraksi dengan masyarakat ” ujarnya. Beliau menyampaikan beberapa tujuan yang bisa dicapai dari adanya kegiatan KKNT ini, diantaranya bagaimana mahasiswa dapat meningkatkan rasa peduli dan empati mengenai permasalahan yang ada di masyarakat serta membuat program yang bisa mengungkit potensi desa tersebut atau bahkan mampu menyelesaikan beberapa permasalahan yang terjadi di desa tersebut.

    Materi kuliah pertama disampaikan oleh Dosen Fakultas Kehutanan IPB Dr. Soni Trison, S.Hut, M.Si. mengenai Kewirausahaan dan Pengembangan Jejaring Mitra Kerja. Beliau menyampaikan Materi dipaparkan secara apik dan interaktif membuat mahasiswa begitu antusias mengikuti kuliah di sesi pertama ini. Beliau juga berbagi pengalamannya bekerjasama dengan beberapa kementerian dan juga bagian dari CSR beberapa perusahaan nasional.  

    Sesi kedua kuliah menghadirkan tiga orang Pemateri dari Fakultas Peternakan. Materi pertama disampaikan Dosen Ilmu Produksi Ternak M. Baihaqi, S.Pt, M.Sc mengenai diantaranya pengetahuan tentang bangsa-bangsa ternak “Jangan sampai anak Fapet di lapangan itu tidak bisa membedakan antara kambing dan domba, karena ini sering terjadi di masyarakat” ujarnya.  Materi selanjutnya mengenai Nutrisi dan Teknologi Pakan dipaparkan oleh Prof. Dr. Ir. Asep Sudarman, M.Rur.Sc yang membuka wawasan mahasiswa mengenai jenis-jenis pakan ternak yang biasa digunakan di Indonesia serta fungsi-fungsinya.

    Materi terakhir ilmu Peternakan disampaikan oleh Dr. Epi Taufik, S.Pt., MVPH, M.Si mengenai Budidaya, Pakan dan Pengolahan. Dalam kuliah ini beliau juga mematahkan beberapa anggapan atau stigma negatif mengenai hewan ternak dengan memberikan gambaran nilai gizi serta kemanan produk-produk ternak.

    Sebagai materi penutup, Kabag Humas IPB Ibu Siti Nuryati, S.TP, M.Si hadir berbagi tips dan kiat-kiat dalam menulis berita dengan materi Teknik Penulisan Populer di Media Massa. materi disampaikan secara lengkap dari mulai jenis-jenis tulisan sampai cara mudah menyusun berita berikut dengan contoh berita untuk memudahkan mahasiswa peserta KKNT memahami bahasan yang diberikan. Beliau juga memberikan cara membangun relasi dalam membuat pemberitaan “Pada saat di lokasi dimanapun dalam konteks publikasi, untuk peluang ketermuatan di media lokal datangi redaksi untuk menjalin hubungan dengan media masa” jelasnya. (Femmy)

  • Kuliah Tamu IPTP IPB University: Ecoprint, Teknik Pewarnaan Alami Kain Sutra Yang Ramah Lingkungan

    Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University gelar kuliah tamu pada mata kuliah Inovasi Teknologi Pengolahan Serat Ulat Sutra pada Kamis (6/5). Pada kesempatan ini Departemen IPTP menghadirkan seorang expert pada bidang fashion ramah lingkungan yaitu Ahmad Ilvan Dwiputra.

    Tema yang diangkat adalah pewarnaan alam kain sutra melalui Ecoprint. Kuliah tamu ini diadakan untuk meningkatkan minat dan wawasan mahasiswa tentang pengolahan produk peternakan, khususnya pada produk turunan ulat sutra. Ini merupakan kali pertama mengundang langsung Co-founder dari Semilir Ecoprint.

    Ahmad menjelaskan Ecoprint merupakan teknik mentransfer bentuk dan warna daun sebenarnya ke kain tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya atau bahan buatan.

    "Teknik ini memanfaatkan daun sebagai signature motif Ecoprint. Kekayaan flora Indonesia bisa kita eksplorasi untuk diwujudkan dalam fashion," ujarnya.

    Ia melanjutkan pemilihan bahan baku kain dan bahan baku daun menjadi penting dalam teknik ini. Menurutnya kain yang berasal dari serat protein memiliki keunggulan dibandingkan kain dari serat selulosa.

    "Kain berasal dari serat protein itu jauh lebih bagus untuk Ecoprint dan pewarnaan alam, motifnya akan terlihat lebih jelas. Contohnya pada kain sutra, ketika mordantnya cukup maka warna akan lebih kuat menempel dan susah hilangnya," jelasnya.

    Selain itu daun yang digunakan juga memiliki karakteristiknya masing-masing. "Jadi ada jenis-jenis daun yang bagusnya digunakan saat segar dan ketika kering kurang bagus, ada juga daun yang bisa digunakan keduanya baik segar maupun kering, dan ada pula jenis daun yang bagusnya digunakan saat kering. Contohnya daun eucalyptus, dalam kondisi segar atau kering tetap bagus hasilnya, kemudian daun ginitry itu segar bagus digunakan namun ketika kering warnanya mulai berubah,” ujarnya.

    Ada empat tahapan penting dalam teknik Ecoprint yaitu Scouring (pencucian), Mordant, Ecoprinting dan Fixasi.

    "Mordant berfungsi untuk memperbesar daya serap kain untuk menarik zat warna. Bahan yang sering digunakan yaitu tawas, cream of tartar dan iron (tunjung).  Pada kain serat protein seperti sutra, tunjung yang digunakan hanya sedikit, sekitar 2-4 persen, karena jika berlebihan dapat menyebabkan kain keras dan rapuh," ungkapnya.

    Ia menambahkan proses fixasi bertujuan agar warna tahan lama. Pada tahap ini dapat menggunakan air kapur, tawas atau tunjung. Namun untuk kain sutra tidak dapat menggunakan tunjung. Untuk warna gelap dapat digunakan kapur, dan warna cerah digunakan tawas.

    Terdapat dua metode dalam proses Ecoprint, pertama metode pounding menggunakan alat bantu seperti palu untuk memukul daun/bunga agar tercetak di kain. Warna dan motif daun/bunga akan terlihat jelas dan tegas dengan cara ini. Namun metode ini tidak mengeluarkan warna asli daun (dominan warna klorofil) serta akan cepat pudar.

    Berikutnya adalah metode steaming menggunakan alat kukus dengan bantuan suhu tinggi (panas) untuk membantu proses melekatnya zat tanin yang dikeluarkan daun/bunga ke media Ecoprint.

    "Kelebihan cara steaming adalah tidak memerlukan tenaga ekstra seperti pounding, warna yang dihasilkan natural dan asli dari daun/bunga sendiri. Akan tetapi kita tidak bisa memprediksi warna yang akan dihasilkan setelah proses pengukusan," ungkapnya.

    Acara yang diselenggarakan secara daring ini berlanjut dengan sesi tanya jawab dengan antusiasme peserta yang cukup tinggi (ipb.ac.id)

  • LPPM IPB University Gelar Penyuluhan Ransum Suplementasi Maggot untuk Pakan Itik Petelur

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dalam program pengabdian kepada masyarakat menyelenggarakan kegiatan Penyuluhan Pembuatan Ransum Suplementasi Maggot untuk Pakan Itik Petelur di Balai Desa Ringinanyar Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, Jawa Timur, akhir tahun lalu. Tujuannya  adalah untuk membantu peternak dalam pembuatan ransum, supaya tidak terikat lagi dengan tengkulak.
     
    Tim yang terdiri dari Prof Sumiati (Fakultas Peternakan) dan Kepala bidang Program Pelayanan kepada Masyarakat LPPM, Dr Prayoga Suryadharma disambut oleh Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Drh Adi Andaka, MSi, Kepala Desa Ringinanyar, Supangat, Sekretaris Desa Ringinanyar, Abdul Muis, SPd dan Mantri Peternakan Kecamatan Ponggok, Gunawan, SPt.

    Prof Sumiati, ahli nutrisi unggas khususnya bebek menjelaskan permasalahan yang dihadapi peternak itik di Desa Ringinanyar yaitu peternak masih tergantung pakan dari tengkulak yang selama ini beredar. Mereka terikat kontrak dengan tengkulak yakni peternak diberikan pakan oleh tengkulak kemudian telurnya dibeli lagi oleh tengkulak. Akibatnya peternak tidak dapat berdikari, kemerdekaan peternak direnggut oleh tengkulak.

    Oleh karena itu fasilitator Stasiun Lapang Agrokreatif (SLAK) membuatkan ransum untuk bebek. Harapannya adalah agar peternak tidak tergantung lagi dengan pakan dari tengkulak. Telurnya juga bisa dimanfaatkan menjadi tepung telur sehingga mendapatkan nilai lebih dalam produk telur.

    “Pakan yang digunakan adalah pakan dengan suplementasi maggot. Selain protein maggot yang tinggi, maggot juga bermanfaat untuk mengurangi sampah rumah tangga. Media yang digunakan dalam budidaya maggot di desa ini adalah sampah rumah tangga. Pakan sudah diujikan ke salah satu peternak di Desa Ringinanyar dan didapatkan hasil telur yang produksinya stabil bahkan cenderung naik dibandingkan dengan pakan dari tengkulak. Bobot telur yang dihasilkan juga sama dengan pakan dari tengkulak. Artinya pakan ini telah berhasil untuk diproduksi secara massal dan dapat digunakan di Desa Ringinanyar,” ujarnnya.

    Sementara itu, Dr Prayoga menjelaskan mengenai produk pertanian seperti cabai yang merupakan salah satu komoditas pertanian masyarakat Desa Ringinanyar. Pemanfaatan cabai yang masih kurang menjadi salah satu permasalahan masyarakat Desa Ringinanyar.
    Permasalahan ini dapat diatasi dengan cara mendirikan koperasi cabai. Koperasi berperan sebagai jembatan penghubung antara petani dengan pembeli. Sehingga harga cabai lebih stabil dibandingkan dengan sebelumnya.
    “Selain itu, warga juga bisa membuat produk olahan seperti tepung cabai dan bumbu instan. Tepung cabai dapat diproduksi dengan melewati beberapa tahapan antara lain penyortiran, pencucian, pengeringan, pengilingan, penyaringan dan pengemasan. Sedangkan bumbu instan diproduksi dengan cara cabai dilakukan penyortiran, pembersihan, penghancuran, penambahan gula, dipanaskan dalam wajan sampai terbentuk kristan. Selanjutnya disaring dan dikemas,” tuturnya.

    Ia menambahkan untuk bidang peternakan, menurutnya telur dapat diolah menjadi tepung telur. Tepung telur diproduksi secara mengunakan spray dryer atau dengan oven. Tepung telur dapat diolah menjadi brownis, donat, mie, spagheti dan lain-lain.
     
    Sementara itu, Kepala Desa Ringinayar, H Supangat menyampaikan bahwa Desa Ringinanyar mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Yang mendominasi adalah pertanian cabai, peternakan bebek dan sapi. Berdasarkan potensi sumber daya yang ada di Desa Ringinanyar, desa ini mampu bersaing dengan desa lain, bahkan desa ini tergolong lebih maju daripada desa di sekitarnya.

    “Harapannya ke depan masyarakat bisa menerapkan ilmu yang telah diberikan oleh IPB University kepada warga kami, sehingga potensi di desa bisa dimaksimalkan dan tentunya bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat,” tuturnya.

    Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Kabupaten Blitar, Drh Adi Andaka menyampaikan bahwa kedatangan IPB University di desa Ringinanyar diharapkan mampu menjawab permasalahan yang sedang dihadapi terutama dalam bidang peternakan. Khususnya pakan dan bidang pertanian khususnya pengolahan paska panen. Dengan demikian Desa Ringinanyar menjadi desa yang mandiri. (ipb.ac.id)

  • Lulusan Terbaik Program Sarjana, Magister Dan Doktor Tingkat IPB Berasal Dari Fakultas Peternakan

    IPB University menyelenggarakan Wisuda Tahap 1 tahun akademik 2021/2022, Pada hari Rabu, 29 September 2021. Fakultas Peternakan berhasil menghantarkan wisudawan sarjana, magister dan doktor menjadi Lulusan Terbaik tingkat IPB. Hal ini sangat membanggakan karena pada kesempatan wisuda ini, ketiga lulusan terbaik pada 3 tingkat pendidikan sarjana, magister dan doktor berasal dari Fakultas Peternakan IPB.  Adapun lulusan terbaik tingkat IPB asal Fakultas Peternakan tersebut adalah : Nensy Tri Putri, SPt  (Program Sarjana), Indra Satria Siburian, SPt, MSi (program Magister Sains), dan Dr. Tri Rachmanto Prihambodo, SPt, MSi (Program Doktor).  

    Nensy Tri Putri, SPt adalah lulusan terbaik program Sarjana Fakultas Peternakan yang sekaligus menjadi lulusan terbaik program sarjana Tingkat IPB. Nensy yang berasal dari Program Studi Teknologi Produksi Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, berhasil lulusa tepat waktu, kurang dari 4 tahun (45 bulan) dengan IPK 3,93 predikat “Dengan Pujian”. Nensy kelahiran Bengkulu, 18 Mei 1999, mendapatkan beasiswa bidik misi selama studi program sarjananya, dan sekarang melanjutkan ke program magister dengan melalui program sinergi. Nensy melakukan tugas akhir penelitian skripsi dengan judul “Identifikasi keragaman gen THY1 pada calon galur ayam IPB-D2”, di bawah bimbingan Prof.Dr. Ir. Cece Sumantri, MSc dan Dr.drh. Sri Murtini, MSi.

    Indra Satria Siburian, SPt, MSi merupakan lulusan terbaik program Magister Sains tingkat IPB pada wisuda Tahap 1 Tahun Akademik 2021/2022 yang diselenggarakan pada hari Rabu, 29 September 2021. Pria kelahiran Pematangsiantar, 24 Juni 1997 ini telah bekerja di Kementrian Perdagangan Republik Indonesia. Indra menimba ilmu program S2 nya di Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan. Indra lulus dalam jangka waktu 23 bulan (kurang dari 2 tahun) dengan IPK 4,0 dan predikat “Dengan Pujian”. Indra melakukan penelitian thesisnya dengan judul “Evaluasi berbagai kadar garam dalam pelet terhadap performa dan kesehatan sistem urinasi lokal” di bawah bimbingan Dr. Ir. Didid Diapari, MSi dan Prof. Dr. Ir. Yuli Retnani, MSc.

    Dr. Tri Rachmanto Prihambodo, SPt, MSi adalah lulusan terbaik program Doktor tingkat IPB pada wisuda Tahap 1 Tahun Akademik 2021/2022 yang diselenggarakan pada hari Rabu, 29 September 2021. Pria ini kelahiran Bogor, 2 Februari 1995, dan menempuh studi doktoralnya di Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB. Studi doktoralnya dapat diselesaikan dalam jangka waktu kurang dari 3 tahun yaitu 34 bulan dengan IPK 4,0 predikat “Dengan Pujian”. Dr. Tri Rachmanto lulus program doktor dengan mempertahankan disertasinya yang berjudul “Flavonoid dan kombinasi ekstrak silase berbasis daun herbal sebagai alternative antibiotik pada broiler dan layer”, di bawah bimbingan promotor Prof.Dr.Ir. Nahrowi, MSc, dan co-promotor Prof.Dr. Anuraga Jayanegara, SPt, MSc; Prof.Dr. Irmanida Batubara, SSi, MSi dan Dr. Desianto Budi Utomo, DVM, MSc.

    Segenap sivitas akademika Fakultas Peternakan IPB University mengucapkan selamat kepada semua wisudawan dari Fakultas Peternakan, terutama untuk Lulusan Terbaik. Sukses selalu untuk karir saat ini dan di masa mendatang

  • Maggot, Alternatif Bahan Pakan untuk Ransum Unggas

    Maggot, atau larva dari black soldier fly (BSF) yang dapat diproduksi besar-besaran berpeluang menjadi bahan pakan sumber protein dan energi, karena kadar protein kasar mencapai 38% dan kadar lemak 20%.

    Peluang itu dibedah oleh Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) pada seminar Budidaya Maggot dan Aplikasinya dalam Industri Pakan Ikan dan Unggas’ pada Kamis (9/7).

    Seminar daring yang diikuti oleh 114 partisipan ini, dibuka Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University, Sumiati. “Fokus kajian kali ini adalah jurnal dari Italia, berupa kelayakan maggot sebagai sumber protein untuk unggas yang dilihat dari segi nutrisi. Maggot sendiri merupakan larva dari lalat atau black soldier fly,” jelas Sumiati. 

    Sumiati memaparkan siklusnya mulai dari maggot dewasa hingga menghasilkan telur, kemudian larvanya, seperti pupa, digunakan untuk bahan pakan sumber protein tersebut. Guna menopang pertumbuhan larva BSF, maka dapat memanfaatkan left over atau sampah seperti sisa-sisa sayuran maupun buah-buahan yang bersifat organik.

    Manfaat Maggot

    Gambaran produksi maggot, Sumiati melanjutkan, yaitu maggot akan bertelur yang nantinya akan dibesarkan sampai menghasilkan larva. “Umumnya, pada umur 15 hari sudah dapat dipanen.

    Manfaat maggot lainnya yaitu dapat mereduksi bau atau polusi. Sehingga dengan adanya maggot, sampah organik baunya akan berkurang bahkan sampai tidak tercium. Manfaat selanjutnya adalah bisa mengontrol populasi lalat rumah, namun yang terpenting stakeholder peternakan adalah sumber nutrisi yang dihasilkan maggot.

    Hasil-hasil penelitian yang dihimpun oleh Sumiati menunjukkan dari analisis proksimat maggot protein kasar (PK) dan lemaknya cukup tinggi. Kadar lemaknya menunjukkan berada di atas 20 % tergantung dari makanannya, sebab kandungan nutrisi dari maggot ini tergantung pada asupan makanannya.

    Sumiati mengatakan bahwa bungkil sawit merupkan media pertumbuhan yang paling baik. Kendati demikian, Sumiati mengimbau supaya bungkil sawit diteliti kembali guna memastikan kebenarannya.

    Larva yang dikeringkan dibandingkan dengan tepung ikan yang bukan kualitas satu. Hasilnya, PK larva BSF lumayan tinggi yaitu mencapai 38 %. Begitu pula dengan energi bruto dan kalsiumnya cukup tinggi, tetapi untuk kandungan fosfor totalnya tidak setinggi tepung ikan,” terangnya.

    Sumiati mengatakan kadar minyak dari maggot dapat meningkatkan dan memperbaiki FCR (feed convertion ratio), artinya dapat meningkatkan efisiensi pakan pada broiler dan tidak ada efek negatif terhadap organ ayam, termasuk perkembangan usus halus. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu minyak dari maggot bisa digunakan sebagai functional fat, sebab mengandung banyak medium chain fatty acid dan masuk ke dalam daging yang dapat menghasilkan daging dan telur ayam fungsional.

    Pengolahan & Harga Kompetitif Maggot

    Senada dengan Sumiati, Guru Besar Fapet IPB University, Dewi Apri Astuti menyatakan bahwa bahan atau limbah organik bisa menjadi bahan makanan untuk maggot dan bahan tidak sulit untuk mendapatkannya di Indonesia. Salah satu media pertumbuhan maggot andalan limbah sawit, yang digadang-gadang sebagai media tumbuh yang higienis, sehingga produknya baik untuk pakan. Sebab media yang higienis merupakan syarat apabila larva akan diekspor.

    Lebih lanjut Dewi menerangkan, pengolahan maggot sudah dilakukan di berbagai industri BSF di dalam negeri. Pengolahan ini ditujukan untuk menekan kandungan lemak yang tinggi, sebab lemak menjadi batas untuk penggunaan bahan baku di ransum unggas. Pengolahannya dilakukan dengan ditekan (press) menggunakan alat dan suhunya dapat diatur supaya kandungan proteinnya tidak rusak.

    Bahan bakunya bisa segar atau pun kering, kemudian dipress dengan pemanasan. Toleransi suhu yang dapat digunakan yaitu antara 60 oC– 90 oC, tujuannya untuk mengurangi kerusakan nutrisi pada BSF. Hasilnya adalah berupa minyak, ini sangat potensial untuk digunakan sebagai bahan baku yang lain,” katanya.

    Dari perspektif berbeda, Vice President FeedTech PT Charoen Pokphand Indonesia, Desianto Budi Utomo menambahkan bahwa faktor abiotik, seperti suhu dan kelembapan mempengaruhi pertumbuhan BSF. Sementara itu, Desianto mengungkapkan salah satu percobaan yang telah dilakukan peneliti adalah ayam yang diberi pakan bungkil kedelai (soybean meal, SBM) dan jagung, kemudian dibandingkan dengan ayam yang diberi pakan BSF. Hasilnya, pada layer (ayam petelur) umur 24 – 48 pekan dengan bobot badan awal tidak berbeda, setelah dilakukan perlakuan menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan.

    “Asupan pakan (feed intake) berbeda sangat nyata yaitu yang digantikan oleh BSF hanya 108 gram per hari. Sedangkan dengan SBM 125 gram per hari, sehingga berujung pada FCR yang berbeda sangat nyata yaitu pada BSF 1,97 sedangkan pada SBM 2,17. Perlakuan ini berpengaruh terhadap berat telur, karena semakin rendah feed intake maka semakin rendah pula berat telurnya,” papar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) ini.

    Desianto menambahkan, penelitian ini menunjukkan bahwa BSF sebagai dekomposer tidak memberikan efek negatif pada ayam petelur. Selain itu, proteinnya sendiri bisa lebih dari 40 % tetapi lemaknya cukup tinggi yakni sebesar 23% – 30 %. BSF juga memiliki efek antimikrobial, bahkan dari studi yang ada, menunjukkan bahwa BSF bisa dianggap sebagai pengganti AGP (antibiotic growth promotor).

    Karena BSF kaya akan protein, maka sasaran utamanya adalah subtitusi SBM ataupun fish meal, bahkan tepung daging tulang (meat bobe meal, MBM) untuk pakan unggas. “Pertanyaannya, apakah harga kompetitifnya terjamin atau tidak? Jika sumbernya baik, kecernaannya baik, memberikan efek performa yang baik tetapi biaya tidak masuk, maka tidak akan praktis untuk masuk dalam bahan baku yang diambil dari komputer karena kita menggunakan least cost formulation,” tekannya.

    Desianto menegaskan pula pentingnya kestabilan mutu  dan jumlah pasokan. Adapun produksinya skala kecil, harganya relatif mahal dibandingkan dengan harga bayangan (shadow price) SBM, MBM atau sumber protein yang lain, serta keberlanjutan persediaan, harus dipastikan ketersediaan bahan baku pakan untuk larva.

    “Lazimnya, industri pakan yang mengambil bahan baku pakan  akan tekan kontrak untuk beberapa bulan . Jika kontrak tidak bisa terpenuhi, maka perusahaan akan mengganti formula. Penggantian formula pakan tentu akan kontra produktif terhadap efisiensi produksi pakan, sebab setiap penggantian formula harus dilakukan flushing,” pungkas Desianto (troboslivestock.com)

  • Mahasiswa dari 5 negara asing Mengikuti Summer Course Di Fapet IPB

    Fakultas Peternakan IPB menyelenggarakan The Third Summer Course Program  pada dua Departemen di lingkungan Fapet IPB, yaitu di Departemen  Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (D-INTP) dan Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (D-IPTP).

    Pembukaan Program Summer Course di Departemen IPTP dilakukan pada  hari Senin, 15 Juli 2019, sedangkan pada Departemen INTP, pembukaan dilakukan satu minggu setelahnya (22 Juli 2019). Summer Course pada departemen IPTP yang dilakukan mulai tanggal 15-24 Juli ini mengusung topik "Green Concept of Local Herritage Animal Production and Technology to Ensure Environment Sustainability and Global Parthnership". Summer Course diikuti oleh peserta dari Negara Taiwan, Thailand, Korea, dan Malaysia. Adapun program yang dilakukan adalah lecture class dan field trip ke Bali.

    Berbeda dengan D-IPTP, Summer Course di D-INTP dilakukan pada tanggal 21-30 Juli 2019. Topik yang diusung adalah “Exotic Tropical Animal Nutrition and Feed Technology”,  dengan lokasi kegiatan di Bogor dan Bali. Program ini bekerjasama dengan Fakultas Peternakan, Universitas Udayana.

    Peserta Program Summer Course D-INTP berasal dari berbagai negara, yaitu Malaysia, Taiwan, Thailand dan Filipina. Universitas yang mengirimkan mahasiswa adalah Tunghai University, Maejo University, Universiti Putra Malaysia, Universiti Malaysia Sabah, University of Los Banos dan Universitas Haluoleo.  Dua peserta dari Malaysia telah mengikuti kegiatan ini tahun lalu dan kembali mendaftar pada tahun ini.

  • Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University Mendapatkan Pelatihan Kepemimpinan

    Hanter (Himpunan Alumni Peternakan) IPB University bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan (Fapet) IPB Universuty menggelar Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) 2021. Pelatihan berjudul “Increasing Self Development Abilities to Build A Strong Leadership”, ini menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan mahasiswa Fapet. 

    Kegiatan ini menghadirkan Vivi Kumalasari, MBA, alumnus Fapet Program Studi Teknologi Hasil Ternak. Saat ini Vivi menjabat sebagai Direktur Keuangan Bank BRI. Selain sukses dalam berkarir, Vivi ini telah mendapatkan penghargaan sebagai Top 3 Indonesia Future Business Leaders menurut SWA Magazine tahun 2018 lalu. Dengan berbagai pengalamannya, ia berbagi pengetahuan untuk memunculkan karakter pemimpin bagi generasi milenial. 

    Ia mengatakan dasar pendidikan yang sedang ditempuh di IPB University ini akan sangat membantu membentuk kepribadian di masa depan. Pendidikan di IPB University memberikan kemampuan akan fleksibilitas dan menggali bakat dan minat mahasiswa. Menurutnya, menjadi leader di perusahaan memiliki tantangan tersendiri. Generasi X sebagian besar menjadi leader bagi mayoritas anggota tim yang merupakan generasi milenial. Dua generasi harus berhadapan dan bekerja sama untuk mengembangkan bisnis di tengah karakteristik yang berbeda. 

    “Hal ini yang membuat leadership bagi kaum milenial menjadi lebih berbeda dan menantang,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perbedaan antara keseimbangan pekerjaan dan pribadi serta faktor independensi menjadi perbedaan yang paling menonjol di antara dua generasi. Terutama generasi milenial lahir dari kelas ekonomi yang mulai membaik. 

    “Persoalan multigenerasi tersebut membuat generasi milenial mau tidak mau harus dilatih untuk menyesuaikan diri. Salah satunya dengan mempraktikkan mindful leadership secara konsisten. Sehingga  kepemimpinan yang telah ditumbuhkan mampu dirasakan keberadaannya oleh semua team member,” jelasnya. 

    Narasumber selanjutnya adalah Aang Hudaya, SPt. Ia kini menjabat Head of General Affair Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa. Menurut alumnus Fapet IPB University ini, generasi milenial harus mampu memiliki kemampuan influencial leadership. "Anak muda harus memanfaatkan media sosial di era transformasi digital untuk mempengaruhi hal layak dalam kebaikan. Misalnya dalam memberikan kontribusi bagi kelestarian lingkungan. Era digital menjadi tantangan sekaligus menjadi peluang bagi para pemuda,” ujarnya. 

    Ia telah menjalani konsep learning by doing dan leading by example untuk memberikan kontribusi di bidang lingkungan. 
    Menurutnya, kolaborasi juga memiliki makna penting agar dapat mencapai tujuan kelompok dengan lebih cepat. "Berkomunitas menjadi poin penting dari setiap Gerakan. Pemimpin akan semakin berkembang ketika berjejaring,” pungkasnya.

    Dr Audy Joinaldy, Ketua Umum Hanter IPB University dan Wakil Gubernur Sumatera Barat juga menyampaikan bahwa pemuda-pemudi haruslah menjadi agent of change demi menyongsong Indonesia Emas. Ia optimis bonus demografi Indonesia dapat dimanfaatkan dengan baik. Generasi muda harus memiliki kepemimpinan yang kuat dan dituntut sebagai pemecah masalah serta berpikir kritis.

    “Pemuda alumni IPB University nantinya harus memiliki kekuatan moral kontrol sosial dan menjadi agen perubahan,” tambahnya.

    Sementara itu, H Ridwan Herdian, SPt, alumnus Fapet IPB University yang kini berbisnis di bidang peternakan juga mengatakan kepemimpinan juga berguna di dunia bisnis. Di dunia usaha, bertemu dengan sekelompok orang baru perlu kemampuan untuk menyikapinya. Penyesuaian dibutuhkan dan harus sabar untuk terus belajar serta optimis dapat menyelesaikan berbagai permasalahan baru. Menjadi pemimpin harus terbiasa dengan adanya masalah dan harus mampu menyelesaikannya.

    “Menjadi seorang wirausaha, kemampuan menyelesaikan masalah adalah wajib untuk dimiliki. Ketika memulai suatu usaha, menurut pengalaman saya, pasti banyak menemui masalah,” katanya (ipb.ac.id)

Tips & Kegiatan Selama WFH