IPBSDG4

  • 58 Mahasiswa Fapet KKNT di Kabupaten Brebes

     Sebanyak 58 mahasiswa Fakultas Peternakan IPB melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. KKN yang dimulai pada tanggal 17 Juli hingga 29 juli 2019 tersebut dilakukan di  enam Desa  se-Kecamatan Ketanggungan. Yakni Desa Karangbandung, Buara, Kubangsari, Ciseureuh Lor dan Cikeusal Kidul.

    Rombongan  KKN Mahasiswa Fapet IPB tersebut diterima oleh Wakil Bupati Brebes Narjo, SH, MH di Aula Balai Desa Karangbandung, Kecamatan Ketanggungan, Selasa (18/6). Turut hadir dalam penerimaan KKN Mahasiswa tersebut, Perwakilan Baperlitbangda  Kabupaten Brebes, Perwakilan Kepala SKPD Dilingkungan Pemerintah Kabupaten Brebes dan Kepala Desa lokasi tempat KKN.

    Dalam sambutannya, Narjo mengatakan, kemampuan menguasai teori selama menempuh pendidikan di kampus sangat penting karena menjadikan mahasiswa tampil sebagai sosok intelektual. Namun, menguasai praktek dilapangan jauh lebih penting, karena kadang teori dan praktek jauh berbeda dan perbedaan itu, bisa mencapai 180 derajat.

    “Teori yang kita dapatkan di Kampus, ketika terjun di masyarakat terdapat perbedaan dan itu yang menjadikan kita untuk terus berfikir dalam menjawab tantangan dari disiplin ilmu yang kita pelajar,” ujar Narjo. Narjo Menyebutkan bahwa dengan satu harapan ketika kenyataan lebih buruk dari teori maka Mahasiswa harus dapat mengarahkan masyarakat agar menjalankan sesuai teori yang ada. Namun demikian, jika ternyata kondisi yang ada jauh lebih baik dan lebih bermanfaat dari teorinya, maka mahasiswa dapat menarik kesimpulan tentang definisi baru dari sebuah teori yang ada tersebut.
     
    Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fapet IPB, Prof. Sumiati mengucapkan Banyak terima kasih kepada Kabupaten Brebes yang selalu menyambut baik Mahasiswanya yang melakukan KKN di Brebes. “Jalinan kerja sama ini, jangan sampai putus dan akan terus berlanjut kerja samanya di berbagai bidang” lanjutnya. 
  • Alumni Peternakan IPB University Ini Ungkap Potensi Besar Hewan Ternak Indonesia yang Dilirik Malaysia Hingga Australia

    Budi Susilo Setiawan, SPt, Owner Mitra Tani Farm (Peternakan Domba Terpadu) berkesempatan membagi pengalamannya dalam bidang usaha peternakan kepada Mahasiswa IPB University angkatan 57 pada (11/11). 

    Budi Susilo telah memulai bisnis peternakannya sejak tahun 2002, ketika ia masih berada di tahun kedua perkuliahan. 

    “Mengapa peternakan? Alasan pertama karena ada potensi. Negara Indonesia adalah negara agraris, seharusnya bisa mengekspor produk pertanian. Tapi faktanya sampai dengan hari ini kita masih impor. Kalau pun tidak impor setidaknya swasembada. Tidak ada yang salah dengan impor, yang salah adalah jika kita keasikan impor dan lupa membangkitkan potensi kita sendiri,” kata Budi Susilo mengawali paparannya.

    Alumnus IPB University dari Fakultas Peternakan angkatan 37 ini memaparkan berbagai potensi besar dari hewan ternak Indonesia. 
    “Alasan kedua, kita memiliki sumber plasma nutfah. Ayam kampung kita dikenal dunia dengan daya adaptasi yang tinggi, gennya sering dimanfaatkan. Tapi terkadang kita tidak sadar. Jepang sedang melakukan penelitian terhadap ayam kampung kita. Jangan kaget jika nanti muncul ayam khas Jepang yang tetuanya adalah ayam kampung kita,” lanjut Budi Susilo.

    Potensi lainnya adalah kambing Etawa. Budi Susilo menyampaikan bahwa ia mendapati pengusaha asal Malaysia datang ke Kali Gesing, Purworejo, Jawa Tengah untuk mengumpulkan kambing Etawa berkualitas tinggi yang kemudian dikirim langsung ke Malaysia dengan pesawat khusus. Kemudian Malaysia memproduksi berbagai produk turunan dari susu kambing Etawa, seperti lulur susu kambing, sabun susu kambing serta susu kambing bubuk. Produk-produk tersebut akhirnya dipasarkan kembali ke negara-negara tetangga termasuk Indonesia.

    “Terkait domba, salah satu potensi kita adalah Domba Garut. Peneliti dari Australia mencoba menyilangkan bibit unggul Domba Garut dengan domba lokal mereka untuk kembali dipasarkan di Indonesia. Karena jika mereka memasarkan domba dari Australia, di Indonesia kurang diminati. Domba yang diminati Indonesia berkisar antara 20-30 kilogram saja,” imbuhnya.

    Potensi peternakan Indonesia juga pada hewan ternak sapi, salah satunya Sapi Bali. Seperti yang Budi Susilo sampaikan, lagi-lagi negara Malaysia selangkah di depan. Malaysia mengimpor Sapi Bali dan mengembangkan genetikanya, sehingga populasi Sapi Bali di sana bahkan lebih besar dibanding yang ada di Indonesia. Budi Susilo mewanti-wanti jika kita tidak kunjung menyadari potensi-potensi ini, maka jangan heran jika suatu saat kita harus impor Sapi Bali dari Malaysia, Domba Garut dari Australia, atau ayam dari Jepang.

    “Kekurangan kita adalah masih kurangnya perhatian kita pada sektor pertanian terpadu. Sehingga banyak peternak yang masih menerapkan sistem peternakan konvensional. Di sinilah perlu transfer ilmu dan teknologi pada petani-petani kita. Jika mereka dibiarkan menjadi single fighter dengan teknologi sederhana, akan kasihan. Jadi bagusnya kita serius membangun desa. Dari desa yang maju, maka kota akan maju,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Alumnus Fakultas Peternakan IPB University Berbagi Kisah Bisnis di Masa Pandemi

    Peternakan menjadi salah satu sektor menjanjikan yang dapat ditekuni. Kebutuhan masyarakat terhadap pemenuhan gizi menjadikan sektor peternakan dengan fluktuasi harga tetap mampu bertahan pada saat pandemi. Hal ini kemudian diulas lebih lengkap dalam Billenialic: Bisnis Inovatif Era Milenial di Kala Pandemic bersama dengan Aif Arifin Sidhik, CEO AS Putra Group sekaligus Bendahara Pusat Hanter IPB University, (1/8).

    AS Putra Group terdiri atas PT AS Putra, PT Andeff Transportasi, PT ASP Land, AS Putra Motor, ASP (Breeding Farm), Hotel Grand Purnama, Putra Erina Sejahtera, dan PT AS Putra Perkasa Makmur.

    “Minat mahasiswa dan alumni IPB University terhadap bidang peternakan memang tinggi. Berdasarkan tracer study yang telah dilakukan, ternyata lulusan Fakultas Peternakan IPB University itu termasuk yang paling banyak memiliki bisnis di bidang wirausaha," ujar Dr Idat Galih Permana, Dekan Fakultas Peternakan IPB University.

    Dr Idat menjelaskan, 14,23 persen lulusan Fakultas Peternakan IPB University menekuni bisnis peternakan. "Hal ini menunjukkan bahwa memang minat mahasiswa dan alumni untuk terjun ke bisnis peternakan itu tinggi, ini merupakan satu nilai tambah untuk kita,” ujar dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan.

    Aif Arifin dalam pemaparannya menjelaskan tentang prosesnya dalam menekuni bisnis peternakan yang dimulai dari perjuangan orang tuanya sebagai wirausaha. Perusahaan yang Aif miliki setiap harinya memiliki kapasitas produksi sekitar 400 ton ayam hidup dan 100 ton telur. Bisnis keluarganya ini kemudian dilanjutkan dengan bisnis lain seperti bisnis properti, bisnis transportasi, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), hingga dealer motor.

    “Meskipun kami sudah mengembangkan sana-sini, namun tetap bisnis unggas ayam menjadi core bisnis kami, yang lainnya hanya sebatas pelengkap kami saja,” terangnya.

    Lebih lanjut, alumnus IPB University ini menerangkan, internet saat ini mendemokratisasi ekonomi. Dengan adanya internet, pebisnis memiliki kesempatan yang relatif sama dalam berbisnis, baik mereka dari desa maupun kota.

    "Adapun bisnis di era pandemi ini kita hanya perlu untuk melihat problematika yang ada di sekitar, karena rata-rata peluang-peluang bisnis itu muncul dari kendala sehari-hari. Kita harus menjadi bagian dari solusi ketimbang kita terus-menerus complain dan tidak melakukan apa-apa,” ujar Aif Arifin, alumnus IPB University.

    Kisah perjalanan dalam mempertahankan bisnisnya di masa pandemi dengan menutup beberapa cabang perusahaannya membuat Aif mempelajari banyak hal. “Hikmah yang dapat diambil dari kisah saya adalah pentingnya cashing terutama pada masa krisis, manajemen dalam pengelolaan finansial perusahaan. Pandemi ini juga mengajarkan kita agar siap dengan perubahan apapun. Bisnis pangan ini adalah bisnis yang rebornnya sangat cepat dibandingkan dengan bisnis-bisnis yang lain, karena orang tetap membutuhkan makan,” tutupnya

  • Alumnus Muda IPB University Berbagi Kisah Cara Berwirausaha Sambil Kuliah

    Direktorat Kerjasama dan Hubungan Alumni (DKHA) bekerjasama dengan Himpunan Alumni IPB University kembali menggelar webinar Alumni Insight bertajuk “Break Your Limit” secara daring, 28/11. Kali ini, narasumber yang dihadirkan adalah Tekad Urip P Sujarnoko selaku CEO PT Agro Apis Palacio.  Alumnus IPB University dari Fakultas Peternakan ini berbagi tentang cara harmonisasi antara kuliah dan kegiatan entrepreneur.

    Dalam penjelasannya, Ia berkisah mengenai pengalamannya selama berkecimpung di perusahaan yang bergerak di bidang pakan ternak, pengolahan limbah non B3 (bahan berbahaya dan beracun), dan domba. Ia memulai bisnisnya tersebut amat dini, yaitu ketika ia masih berkuliah pada semester lima di tahun 2010.  Semangat berwirausaha tersebut ia dapatkan atas kecintaannya di bidang peternakan.

    “Masih  banyak mahasiswa yang membenturkan antara kuliah dengan wirausaha. Di samping itu, banyak juga mahasiswa yang mempermasalahkan modal uang dan keahlian,” terangnya.  Ia menyebutkan bahwa hal tersebut bukanlah permasalahan utama, namun ketidakpunyaan visi dan misi yang paling berperan. Menurutnya, keberanian juga modal penting dalam berwirausaha. Tentunya dengan didampingi dengan perhitungan yang tepat.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, menjadi wirausahawan harus  memiliki latar belakang pendidikan yang baik karena di dalamnya terdapat sistem yang berbeda dengan pedagang. Mahasiswa pun telah terdidik untuk berpikir sistematis, dari membuat produk berbasis riset hingga  menjadi produk akhir.  Berpikir sistematis ini, katanya,  amat  penting agar dalam menjalani usaha tidak serampangan.

    “Banyak perusahaan yang gagal dan mengalami kebangkrutan maupun stagnansi karena kurang berpikir sistematis. Pengusaha juga tidak boleh mengikuti aliran angin, namun harus memiliki arah dan tujuan yang jelas,” tambahnya.

    Ia juga menyebutkan, sebagai pengusaha harus siap bekerja lebih keras  bila ingin mencapai cita-cita. Modalnya bukan hanya uang, namun juga pemikiran kreatif terutama di era digital seperti saat ini. Tidak hanya itu, memiliki pertemanan yang  luas juga penting untuk menggali informasi dan data yang berguna dalam pengambilan kesimpulan.

    “Kita harus mulai memiliki mimpi yang besar, visi yang besar, dan harus diimbangi dengan kerja keras. Karena banyak dari kita hanya bermimpi, namun malas untuk melakukan,” ungkapnya.

    Ia mengatakan bila usaha keras tidak akan mengkhianati hasil. Calon pengusaha harus yakin dan bersikap optimis, walaupun kadang terjadi kegagalan. Di dalam dunia wirausaha, pengetahuan akan lebih bermakna  bila  diterapkan dalam berwirausaha. Ilmu yang didapat semasa kuliah akan berkontribusi besar dalam berwirausaha. Sehingga berkuliah tidaklah hanya untuk mendapatkan sekedar ijazah ataupun gelar (ipb.ac.id)

  • Bagaimana Cara Pemotongan Hewan Kurban di Masa Pandemi Corona?

    Bagaimana cara memotong hewan kurban di masa pandemi corona yang aman? Pertanyaan itu beberapa hari ke depan mungkin akan mengemuka.

    Saat ini protokol kesehatan memang dikedepankan dalam berbagai tindakan. Termasuk tentunya dalam penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha yang akan dirayakan beberapa hari lagi.
     
    Ahli dari IPB punya pandangan bagaimana cara memotong hewan kurban di masa pandemi corona. Ada beberapa protokol kesehatan yang mesti dilakukan.
     
    "Pemotongan hewan kurban di masa pandemi harus tetap mempertimbangkan pemotongan secara syar’i, menghasilkan daging yang aman, sehat, utuh, halal dan berkualitas. Kita sudah masuk dalam masa new normal di mana kita dituntut untuk tetap beraktivitas, termasuk tetap melakukan ibadah pemotongan hewan kurban,” ungkap Dr Tuti Suryati, Sekretaris Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University dalam siaran pers IPB, Sabtu (4/7).
     
    Tuti menyampaikan itu dalam sambutannya pada kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh Departemen INTP bekerjasama dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Halal Science Center (HSC) - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University. Kegiatan ini dikhususkan untuk panitia kurban dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Seluruh Indonesia.
     
    Sementara menurut Prof Dr Khaswar Syamsu, Kepala HSC, dalam praktik penyembelihan hewan masih banyak ditemukan hal-hal yang tidak sesuai prosedur penyembelihan dan syariat. Padahal Islam sudah mengatur tata cara kurban dengan rinci. Selain itu juga ada poin-poin kesejahteraan hewan yang harus dipenuhi saat proses pemotongan hewan.
     
    “Beberapa hal dasar dalam pemotongan kurban yang belum diketahui seluruh panitia kurban di antaranya adalah penyembelihan harus memotong tiga saluran. Yaitu saluran pernafasan, saluran pencernaan dan saluran darah. Selain itu harus menggunakan pisau yang tajam dan tidak boleh menyembelih di hadapan hewan lain yang akan disembelih,” ujar Prof Dr Khaswar.
     
    Sementara itu, anggota Komisi Fatwa sekaligus Direktur Bidang Ekonomi Syariah di MUI, H. Amirudin Yakub, menyebutkan, bahwa ada peraturan khusus pemotongan hewan kurban selama masa pandemi.
    Saat proses jual beli harus memperhatikan protokol kesehatan. Selain itu pemotongan direkomendasikan hanya dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) dengan jumlah panitia terbatas.
     
    “Panitia menyediakan fasilitas cuci tangan karena darah adalah tempat yang subur untuk pengembangbiakan bakteri dan virus. Lalu, pendistribusian daging juga hanya boleh dilakukan oleh panitia atau pengurus masjid. Setiap DKM dan panitia kurban harus memperhatikan hal ini,” ungkap Amirudin.
     
    Dan pandangan dari drh Supratikno, MSi, PAVet, dosen IPB University dari Fakultas Kedokteran Hewan selaku Ketua Tim Penyembelihan Halal HSC IPB University mengungkapkan bahwa ada beberapa proses yang menyebabkan hewan stres dan cacat.
     
    Oleh karena itu perlu adanya upaya khusus saat proses pengangkutan, penempatan di kandang dan penyembelihan. Hal ini untuk menjaga kesehatan hewan dan kualitas daging hewan kurban.
     
    “Hewan kurban juga harus memenuhi syarat utama, yaitu sehat dan tidak cacat. Selain itu harus cukup umur, minimal hewan telah berumur lebih dari 24 bulan untuk sapi dan lebih dari 12 bulan untuk kambing dan domba. Selain itu persyaratan terakhir adalah tidak kurus yang dapat dilihat dari penonjolan tulang rusuk, bagian pinggang dan pinggul,” tutup Supratikno. (kumparan.com)
  • Bahas Sorgum di Rembug Online Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB University

    Nama sorgum sudah tak asing bagi sebagian kalangan, namun secara umum tanaman ini masih belum banyak dimanfaatkan sebagai komoditas industri pakan Indonesia. Dalam ketahanan pangan, pakan merupakan komponen penting yang tidak bisa dihindari. Inefisiensi sistem produksi peternakan dalam negeri salah satunya disebabkan ketidakmampuan pengendalian biaya pakan.

    Hal tersebut disampaikan Prof Dr Luki Abdullah, dosen IPB University dalam Rembug Online 5 yang diselenggarakan Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB University, (23/9).
    Prof Soeranto Human, peneliti Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dalam paparannya mengatakan, mewujudkan ketahanan pangan tidak bisa dilakukan hanya mengandalkan satu komoditas saja. Untuk meningkatkan kualitas pangan, ke depan perlu mengarah ke konsep pangan fungsional, yakni beragam, berimbang dan bergizi.  Sudah menjadi rahasia umum, bahwa ketergantungan terhadap padi sangat tinggi. Masyarakat mayoritas mengkonsumsi beras atau nasi. Indonesia menjadi negara kedua setelah Vietnam dengan rata-rata konsumsi 111,58 kg per kapita per tahun.

    Tak mudah memang menggantikan ketergantungan tersebut. Sehingga menurut Prof Soeranto, strategi diversifikasi pangan dilakukan dengan mempertahankan produksi padi, namun sebagian untuk ekspor. Bersamaan dengan itu, pangan pokok lokal harus mulai dipromosikan. Produksi peternakan, perikanan, buah dan sayuran juga perlu ditingkatkan.
    “Terkait dengan peternakan ini, tidak bisa dipungkiri bahwa ternak butuh pakan. Karena itu kita perlu pikirkan agar sorgum bisa diintegrasikan selain untuk pangan juga untuk pakan. Banyak sekali keragaman genetik yang kita punya. Mulai yang berbentuk umbi-umbian, pati dan bijian seperti sorgum ini,” ujar Prof Soeranto.

    Sorgum memiliki keunggulan dengan daya adaptasi luas pada kondisi lahan pertanian Indonesia. Tanaman ini tahan terhadap kondisi lahan sub-optimal atau kekeringan, tanah masam dan tanah salin. Sehingga sangat berpotensi meningkatkan produktivitas lahan kering dan mitigasi perubahan iklim.
    Di berbagai negara, terang Prof Soeranto, sorgum sudah banyak diaplikasikan sebagai pangan fungsional sebab kandungan nutrisinya cukup baik. Dalam 100 gram sorgum, memiliki 332 gram kalori, 11.0 gram protein dan 73 gram karbohidrat. Sorgum juga bebas gluten, glikemik rendah, kaya kalsium, antioksidan dan tinggi serat.

    Sementara itu, Rahardi Gautama, CEO PT Sedana Peternak Sentosa mengatakan bahwa sorgum telah menjadi bahan makanan yang konon sudah dikonsumsi masyarakat Jawa pada abad 9-10, jauh sebelum masyarakat mengenal padi di abad 12-14 masehi. Hal itu tertuang dalam buku Eating and Drinking in Ancient Central Java 9th-10th Century dimana sorgum telah ada pada ukiran-ukiran dalam candi Borobudur dan Prambanan.

    “Yang kami lakukan di Sedana, bijinya untuk pengganti beras atau tepung. Jika jenisnya sweet sorgum, tangkainya juga bisa menghasilkan bahan pemanis seperti gula atau sirup. Sementara seluruh tanamannya bisa digunakan sebagai pakan ruminansia,” kata pria yang juga lulusan Departemen Meteorologi dan Geofisika IPB University ini.

    Melihat potensi yang dimilikinya, BATAN telah melakukan riset perbaikan varietas sorgum menggunakan mutasi radiasi sinar gamma dan bioteknologi terkait. BATAN juga mengusulkan pelepasan varietas unggul sorgum, menyediakan benih dan diseminasi ke masyarakat serta bekerjasama melakukan pengembangan sorgum sebagai sumber pangan, pakan dan energi (ipb.ac.id)

  • Begini Hikmah Bakteri Baik pada Produk Peternakan

    Indonesia dikaruniai mega-biodiversitas flora-fauna yang tinggi, hal ini beriringan dengan diversitas mikrobanya yang juga tinggi. Terkait mikroba, beberapa pangan lokal daerah di Indonesia dihasilkan dengan memanfaatkan aktivitas mikroba.

    Prof Irma Isnafia Arief, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan pada acara Kajian Kauniyah Ramadan yang diselenggarakan Masjid Al-Hurriyyah IPB University, akhir pekan lalu menyampaikan beberapa produk lokal olahan berbasis aktivitas mikroba yang menguntungkan.  Di antaranya ialah sie reuboh dari Aceh, dadih dari Sumatera Barat, dangke dari Enrekang dan daging se'i dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

    "Sie reuboh itu pengolahan daging dengan berbagai bumbu kemudian didinginkan sehingga terjadi proses fermentasi alamiah, dadih merupakan susu kerbau fermentasi pada wadah bambu yang ditutup daun pisang selama 48 jam, sementara dangke yaitu keju segar dari susu kerbau atau sapi yang diberikan getah pepaya dan dibiarkan selama tiga jam, bentuknya itu seperti tahu atau keju," jelasnya

    Sementara daging se'i merupakan daging asap terfermentasi alamiah. Umumnya asap yang digunakan berasal dari bakaran kayu Kosambi. Untuk menyantapnya, daging se'i asap biasanya harus dimasak terlebih dahulu.

    "Asap dari kayu Kosambi itu akan memberikan flavour yang khas, daging se'i akan di angin-anginkan selama lima hari dan akan terjadi proses fermentasi oleh bakteri asam laktat yang tahan terhadap asam dan asap yang asalnya dari daging itu sendiri," tuturnya.

    Ia menambahkan bahwa bakteri tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan senyawa antimikroba sehingga mampu mencegah kontaminasi silang dari bakteri patogen perusak daging sehingga daya simpannya lebih awet.

    "Bakteri asam laktat itu juga mampu menghasilkan enzim-enzim yang bisa merombak protein pada daging menjadi komponen yang lebih sederhana seperti peptida atau asam amino sehingga lebih mudah diserap. Akhirnya daging se'i ini lebih empuk karena komponennya sudah dipecah oleh enzim yang ada," ungkapnya.

    Selain itu terdapat olahan susu lainnya yang memanfaatkan mikroba misalnya yoghurt yang berasal dari susu sapi atau kambing difermentasikan menggunakan bakteri asam laktat Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus.

    Mikroba baik menguntungkan atau biasa disebut probiotik ini memiliki beragam manfaat. Menurut Prof Irma di antara manfaatnya yaitu menghambat penempelan bakteri patogen pada saluran pencernaan dengan mengeluarkan zat antimikroba, anti inflamasi, mereduksi tranlokasi bakteri jahat juga memodifikasi toksin atau reseptor toksin di saluran pencernaan.

    "Selain itu bakteri baik atau probiotik ini juga berperan sebagai imunomodulator yaitu mampu men-trigger sel imun untuk meningkatkan imunitas tubuh," jelasnya. (ipb.ac.id)

  • Begini Hikmah Bakteri Baik pada Produk Peternakan

    Indonesia dikaruniai mega-biodiversitas flora-fauna yang tinggi, hal ini beriringan dengan diversitas mikrobanya yang juga tinggi. Terkait mikroba, beberapa pangan lokal daerah di Indonesia dihasilkan dengan memanfaatkan aktivitas mikroba.

    Prof Irma Isnafia Arief, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan pada acara Kajian Kauniyah Ramadan yang diselenggarakan Masjid Al-Hurriyyah IPB University, akhir pekan lalu menyampaikan beberapa produk lokal olahan berbasis aktivitas mikroba yang menguntungkan.  Di antaranya ialah sie reuboh dari Aceh, dadih dari Sumatera Barat, dangke dari Enrekang dan daging se'i dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

    "Sie reuboh itu pengolahan daging dengan berbagai bumbu kemudian didinginkan sehingga terjadi proses fermentasi alamiah, dadih merupakan susu kerbau fermentasi pada wadah bambu yang ditutup daun pisang selama 48 jam, sementara dangke yaitu keju segar dari susu kerbau atau sapi yang diberikan getah pepaya dan dibiarkan selama tiga jam, bentuknya itu seperti tahu atau keju," jelasnya

    Sementara daging se'i merupakan daging asap terfermentasi alamiah. Umumnya asap yang digunakan berasal dari bakaran kayu Kosambi. Untuk menyantapnya, daging se'i asap biasanya harus dimasak terlebih dahulu.

    "Asap dari kayu Kosambi itu akan memberikan flavour yang khas, daging se'i akan di angin-anginkan selama lima hari dan akan terjadi proses fermentasi oleh bakteri asam laktat yang tahan terhadap asam dan asap yang asalnya dari daging itu sendiri," tuturnya.

    Ia menambahkan bahwa bakteri tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan senyawa antimikroba sehingga mampu mencegah kontaminasi silang dari bakteri patogen perusak daging sehingga daya simpannya lebih awet.

    "Bakteri asam laktat itu juga mampu menghasilkan enzim-enzim yang bisa merombak protein pada daging menjadi komponen yang lebih sederhana seperti peptida atau asam amino sehingga lebih mudah diserap. Akhirnya daging se'i ini lebih empuk karena komponennya sudah dipecah oleh enzim yang ada," ungkapnya.

    Selain itu terdapat olahan susu lainnya yang memanfaatkan mikroba misalnya yoghurt yang berasal dari susu sapi atau kambing difermentasikan menggunakan bakteri asam laktat Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus.

    Mikroba baik menguntungkan atau biasa disebut probiotik ini memiliki beragam manfaat. Menurut Prof Irma di antara manfaatnya yaitu menghambat penempelan bakteri patogen pada saluran pencernaan dengan mengeluarkan zat antimikroba, anti inflamasi, mereduksi tranlokasi bakteri jahat juga memodifikasi toksin atau reseptor toksin di saluran pencernaan.

    "Selain itu bakteri baik atau probiotik ini juga berperan sebagai imunomodulator yaitu mampu men-trigger sel imun untuk meningkatkan imunitas tubuh," jelasnya. (ipb.ac.id)

  • Begini Sistem Logistik Pakan yang Efisien serta Strategi Saat Pandemi

    Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB University bersama Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) adakan training online dengan tema Sistem Logistik Pakan yang Efisien, (4-5/6). Pada hari pertama, hadir Istiadi SPt, MM General Manager PT Charoen Pokphand Indonesia selaku pembicara utama. Acara ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah dan latar belakang.

    Pada pemaparannya Istiadi menyampaikan bahwa logistik meliputi perencanaan, penerapan, dan pengendalian aliran fisik material dan barang jadi dari titik asal ke titik penggunaan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan profit. Karena itu logistik harus dilakukan secara efektif dan efisien supaya mendapatkan profit yang diinginkan.

    "Logistik pakan di Indonesia khususnya logistik pakan ruminansia terbagi tiga aspek mulai dari raw material, work in process dan finished good. Setiap alur harus dilaksanakan perencanaan dan pengendalian,” jelasnya.

    Pada aspek raw material, berkaitan dengan sumber bahan baku yaitu impor dan lokal. Dari tahun ke tahun terjadi peningkatan pemakaian bahan baku lokal.

    “Ini menjadi pertimbangan apakah bahan baku tertentu akan kita stok banyak atau tidak. Pada bahan baku lokal, ketika pemasok bisa melakukan one day delivery maka kita tidak perlu stok banyak. Untuk bahan baku impor kita harus bayar dulu. Disamping itu, waktu pengiriman juga lama sekitar 40-45 hari. Moda transportasi juga menjadi pertimbangan," tuturnya

    Ia menambahkan dalam pengadaan logistik pakan dilakukan proses konfirmasi dan ini membedakannnya dengan pengadaan  tradisional. Misal kapan waktu kapal akan jalan, sudah sampai dimana sehingga ada monitoring hal ini untuk mengurangi masalah biaya selama transportasi. Bahkan jika dapat data yang akurat kita bisa lakukan timing kapan untuk membeli bahan tersebut.

    Menurutnya pada masa pandemi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu meliputi inventory manajemen, collaborative supply yaitu menjaga hubungan baik dengan pemasok, lowest possible cost yaitu memperhatikan hukum permintaan dan penawaran serta moda transportasi, ensure quality raw material yaitu memperhatikan waktu penyimpanan serta kualitas bahan baku, serta financial strategy yaitu strategi keuangan.

    Pada production planing meliputi forecasting, produk jadi serta machinary part. Pada masa pandemi harus memperhatikan jumlah bahan baku yang diperlukan serta yang harus di-stok. Selain forecasting juga harus dilakukan production schedule.

    "Production schedule memperhatikan dua hal yaitu make to order dan make to stock. Make to order yaitu produk diproduksi berdasarkan pesanan customer, make to stock itu produk diproduksi berdasarkan inventory level,” ungkapnya.

    Ia menjelaskan bahwa pada masa pandemi tidak banyak yang bisa diperbaiki untuk gudang dan tata letak produksi dalam waktu singkat. Namun kita bisa melakukan review dengan kondisi aktual.
    “Contoh kasus pintu akses untuk pakan, orang dan bahan baku. Hal utama dalam pandemi ini adalah kesulitan perencanaan produksi dan juga kapasitas gudang. Aerasi dan perawatan khusus dapat  memperpanjang umur simpan bahan baku,” jelasnya.

    Kondisi pandemi serta kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berdampak pada penurunan permintaan pakan ternak.
    Ia pun memaparkan strategi yang harus dilakukan dalam kondisi penurunan permintaan pakan. Strategi itu meliputi review marketing forecast terkait jenis pakan yang terganggu penjualannya (broiler, layer, breeder, pig, dan lain-lain), review tingkat persediaan (inventory level) produk agar tidak terganggu atau berlebih, review kerja logistik produk terkait gangguan pengiriman ada atau tidak, dan terakhir maintain kualitas produk untuk menjaga kepuasan pelanggan.

    Di akhir acara, Istiadi memberikan simpulan bahwa logistik yang baik mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan sehingga meningkatkan daya saing bahan baku lokal. Sistem manajemen logistik yang efisien mampu meningkatkan profitabilitas industri, dengan mengurangi semua lini kegiatan dan mengurangi loss/susut yang terjadi karena kerusakan barang.

    "Sistem logistik yang efektif adalah yang mampu menghadapi segala situasi dan kondisi yang terjadi, sehingga mampu meningkatkan strategi manajemen dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan", tandasnya (ipb.ac.id)

  • BEM Fakultas Peternakan IPB University Gelar Diskusi Kandang Chapter 1

    Departemen Kajian, Aksi Strategis dan Advokasi (Kastrad) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan IPB University menggelar acara Diskusi Kandang Chapter 1 denganTema "Mengungkap Permasalahan Komoditas Susu di Indonesia" (21/3). Diskusi Kandang merupakan forum diskusi dalam bentuk symposium dengan narasumber dari berbagai pihak yaitu akademisi, pemerintahan, dan pelaku peternakan. Tujuan acara ini  adalah untuk mengungkap permasalahan susu nasional yang terjadi di dalam  negeri dengan mensinkronkan kejadian dilapang  antara  di pemerintah, peternak  dan data akademisi. Oleh karena itu acara webinar Diskusi Kandang kali ini dihadiri oleh para narasumber yang sesuai bidangnya.

    “Ada banyak hal yang harus kita selesaikan dalam bidang persusuan, di sisi lain kalau kita lihat populasi dan juga produktivitas sapi perah di Indonesia juga relatif masih tetap, kalau kita lihat di data BPS saat ini angka populasi sapi perah ada sekitar 580.000 ekor dengan rata-rata kepemilikan sekitar 4 atau 5 ekor per peternak, hal ini menunjukkan bahwa iklim investasi di persusuan ini belum begitu menarik di mata para investor” ujar  Dekan Fakultas Peternakan Dr. Ir. Idat Galih. Permana, M. Sc.Agr di hadapan sekitar 110 peserta diskusi. Lebih lanjut, Dr. Idat menambahkan bahwa kunci yang bisa memicu investasi adalah masalah harga. Insentif harga ini sangat penting bagi para peternak, sehingga menumbuhkan gairah untuk kembali bekerja atau kembali menekuni bisnis peternakan ini, khususnya sapi perah.

    Beberapa Narasumber pengisi  acara Diskusi Kandang  yaitu Dr. Epi Taufik, S.Pt., MVPH., M.Si (Dosen Fakultas Peternakan IPB University) yang pertama kali memaparkan materi dan menjelaskan tentang persusuan dalam negeri dari data yang  ada sesuai dengan segi akademisi. Selanjutnya ada Ir. Cisilia Esti Sariasih (Koordinator Bidang Substansi Ruminansia Perah) mewakili Ir. Sugiono, M.P (Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH, Kementan RI). Dalam pemaparannya, Ir. Cisilia Esti Sariasih menjelaskan  tentang strategi pemerintah dalam  peningkatan  dan pemenuhan  kebutuhan sapi perah dengan berbagai  kebijakan dan peraturan serta data-data yang ada tentang produksi susu perah dalam negeri segi pemerintah. Hadir pula pemateri dari Dewan Persusuan Nasional Teguh Budiayana memberi informasi  yang  ada terkait permasalahan persusuan dengan data di lapangan.

  • Bincang Kesejahteraan Hewan Bersama Dr Rudi Afnan

    Fakultas Peternakan IPB University bersama Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) menghadirkan Dr Rudi Afnan, SPt, MScAgr dalam pelatihan online mengenai Logistik Perunggasan yang bertajuk Kesejahteraan Hewan pada Transportasi Unggas, (9/6).  

    Transportasi hewan ternak atau unggas merupakan usaha pemindahan binatang hidup baik menggunakan transportasi darat maupun laut.  Transportasi unggas sudah ada sejak abad ke-17 dan hewan ternak perlu diperlakukan selayaknya manusia”, ujar Rudi Afnan, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Perternakan (IPTP) sekaligus Wakil Dekan Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Peternakan IPB University.

    Transportasi unggas merupakan proses yang dimulai dari persiapan, pemuatan, perjalanan, penurunan dan penangangan. Penurunan kualitas dan kuantitas umumnya karena terjadi kesalahan sejak di persiapan transportasi. Pada umumnya masyarakat belum mengerti hal ini makanya perlu adanya edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.

    Dalam pelatihan tersebut, Dr Rudi juga mengungkapkan bahwa sudah ada kesepakatan mengenai indikator dari kesejahteraan hewan. Ada lima aspek kesejahteraan hewan diantaranya adalah bebas dari haus dan lapar, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit, bebas untuk mengekspresikan perilaku normal dan bebas dari rasa takut dan stress.

    “Tujuan transportasi ternak diantaranya untuk disembelih, diperdagangkan, kegiatan olahraga, dipamerkan, budaya dan keagamaan atau rumah sakit hewan,” tutur Dr Rudi.

    Ia juga mengungkapkan efek lain dari adanya transportasi ternak, seperti adanya penurunan kualitas kesehatan ternak dalam jangka panjang, adanya susut dan kematian.
    Susut artinya bukan hanya penurunan berat badan ternak tetapi juga kecacatan akibat dari adanya transportasi tersebut yang mana dapat mengurangi nilai jual atau kualitas ternak itu sendiri. Kemudian kematian unggas dalam kegiatan tersebut tidak selalu karena adanya perjalanan melainkan juga karena penanganan yang dilakukan tidak semestinya baik saat persiapan transportasi atau saat penurunan setelah dilakukannya perjalanan.
    “Standar susut dan mati berbeda tergantung dengan perusahaan. Umumnya 2-3 persen. Dan kejadian mati jarang terjadi kecuali ada kecelakaan tertentu. Kemudian untuk mati disebabkan karena penanganan bukan saat di perjalanan,” tambahnya.

    Salah satu kendala dalam transportasi unggas adalah cekaman panas dan cekaman kepadatan dalam kandang angkut saat di perjalanan. Efek dari cekaman tersebut selain berpengaruh kepada kesejahteraan ternak, juga pada kualitas unggas seperti meningkatnya radikal bebas dan reactive oxygen species, yang secara kasat mata tidak tampak dari luar berbeda dengan memar, patah tulang dan sebagainya.

    “Radikal bebas mempengaruhi tingkat stres unggas. Pemberian vitamin jauh hari sebelum kegiatan transportasi dapat mengurangi kadar kesusutan. Radikal bebas juga dapat dikurangi dengan pemberian vitamin dan mineral yang baik dan benar pada unggas,” pungkasnya (ipb.ac.id)

  • Cara Menyimpan Pakan Diungkap dalam Training Sistem Logistik Pakan

    Penyimpanan dan pergudangan merupakan salah satu faktor penting dalam sistem logistik pakan. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga karakteristik, baik fisik maupun kimia, yang dimiliki bahan pakan selama waktu penyimpanan setelah proses pemanenan dan pengeringan.

    “Untuk menjaga karakteristik produk pakan, segera lakukan penyimpanan setelah penanganan pasca panen dan pengeringan,” ujar Dr Ir Heri Ahmad Sukria, MScAgr, dalam acara Online Training Sistem Logistik Pakan yang Efektif dan Efisien yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), IPB University, (5/6).

    “Banyak faktor penyebab terjadinya kehilangan kualitas dan kuantitas bahan selama penyimpanan. Faktor yang dimaksud diantaranya jamur, serangga, rodent, respirasi dan migrasi uap air. Pertumbuhan jamur dipengaruhi oleh kadar air, temperatur bahan, kondisi bijian, jumlah bahan asing dan keberadaan organisme lain,” tutur dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan ini.

    Pengendalian jamur dapat dilakukan secara kimia ataupun fisik. Cara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan asam propionate dan asam asetat, sedangkan cara fisik selain mengontrol suhu dan kelembaban, juga dapat dilakukan dengan melepas gas tertentu ke dalam gudang.  

    “Tips agar terhindar dari tumbuhnya jamur, maka suhu optimum dalam gudang penyimpanan sebaiknya berkisar 25-30 derajat celcius dengan kelembaban RH 65- 93 persen. Dalam mengoperasikan penyimpanan pada sistem pergudangan, perlu memperhatikan beberapa aspek diantaranya sanitasi, muatan, aerasi dan monitoring. Sanitasi di sini artinya membersihkan sisa bijian lama dan bijian yang tercecer, menjalankan prinsip first in first out yakni mengeluarkan barang yang paling pertama masuk.
    Aspek muatan yang perlu diperhatikan adalah dengan tidak mencampur bahan lama dengan bahan baru serta tidak menyimpan dengan muatan berlebih.
    “Aspek aerasi perlu diperhatikan agar migrasi uap air tidak terjadi sementara monitoring yang dimaksud adalah memantau secara kontinu terhadap aspek lainnya,” tuturnya dalam pelatihan yang dilakukan secara virtual tersebut (ipb.ac.id)

  • COVID-19 Tak Halangi Pelatihan Penanganan Daging

    Masa pandemi COVID-19 tak menghalagi kegiatan pelatihan dilakukan.  Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University bersama Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) menggelar pelatihan penanganan daging.  Pelatihan dilakukan secara daring pada 4/5. Pelatihan ini menghadirkan Dr drh Denny Widaya Lukman, MSi, dosen IPB University dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH).

    Pada kesempatan ini, Pakar Higiene Pangan dan Kesmavet ini menjelaskan dalam penanganan daging, perlu memperhatikan penerapan good hygiene practices (GHP) atau prinsip higienis, penerapan sistem rantai dinging dan penerapan jaminan keamanan pangan seperti Nomor Kontrol Veteriner (NKV), sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan ISO 22000:2018.

    Lebih lanjut Dr Denny menjelaskan prinsip higienis pada keamanan pangan meliputi bangunan, peralatan, personal dan proses produksi yang dilakukan. Prinsip ini sangat perlu diterapkan dalam rangka mencegah kontaminasi langsung maupun kontaminasi silang pada olahan pangan terutama daging. Sementara itu, sertifikat NKV diperlukan oleh institusi pengolahan pangan karena di dalamnya memiliki komponen praktik veteriner, higiene sanitasi, status halal, biosecurity, dan kesejahteraan hewan.

    “Di samping persyaratan yang sudah ditentukan, dalam penanganan daging di masa pandemi COVID-19 ini, orang yang menangani daging harus memakai masker, memakai sarung tangan dan sangat dianjurkan untuk mencuci tangan sebelum maupun sesudah memakai sarung tangan, menerapkan physical distancing dan menerapkan hygiene personal,” papar Dr Denny.

    Dr Denny menjelaskan, yang dimaksud hygiene personal adalah melepas perhiasan seperti jam tangan maupun cincin ketika menangani daging. Tidak hanya itu, ketika sedang menangani daging, ia juga menghimbau supaya tidak merokok, tidak memegang rambut, telinga, mata maupun hidung, tidak bersin atau batuk ke arah makanan dan tidak membuang ludah sembarangan.

  • Departemen Ilmu Nutrisi & Teknologi Pakan & GrainPro Gelar Guest Lecture

    Departemen Ilmu Nutrisi & Teknologi Pakan (INTP) berkerja sama dengan GrainPro menggelar acara Guest Lecture: Strategies to Maintain the Rice Bran Quality During Storage (19/08) secara daring di platform Zoom dengan menghadirkan pembicara utama Melanie Blanca-Ocreto, PhD selaku Manager for Customer Support DepartmentGrainPro Filipina, dosen, mahasiswa sarjana & pascasarjana. Acara ini diselenggarakan untuk menambah wawasan civitas Departemen INTP mengenai hermetic technology.

    Pada kesempatan tersebut, Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr selaku Dekan Fakultas Peternakan dan Dr. Allan Quintos selaku Regional Manager GrainPro membuka acara tersebut. Dr. Idat menyatakan bahwa materi yang dipaparkan oleh Dr. Melanie merupakan salah satu teknologi kekinian di bidang penyimpanan pakan. Hal ini juga sangat diperlukan untuk bahan pakan lokal, seperti dedak padi yang sangat melimpah pasca panen padi, untuk dilakukan penyimpanan dalam jangka panjang. Dr. Allan juga menambahkan bahwa hermetic technology sangat membantu dalam penyimpanan produk utama maupun sampingan dari pertanian.

    Kegiatan inti, Guest Lecture, kemudian dipandu oleh Prof. Dr. Anuraga Jayanegara, S.Pt, M.Sc selaku moderator dan juga Ketua Departemen INTP. Dr. Melanie membawakan materi berupa controlling rice bran deterioration using hermetic technology. Ia menjelaskan bahwa hermetic technology merupakan metode penyimpanan dengan memodifikasi atmosfer dalam bentuk kedap udara sehingga penyimpanan dapat dilakukan lebih lama dan tanpa terkontaminasi mikroorganisme atau pun kontaminan lainnya yang dapat menurunkan kualitas bahan pakan, terutama pada dedak padi.

    Selain itu, pada kegiatan tersebut juga dilakukan diskusi antar pembicara dan peserta Guest Lecture. Peserta sangat antusias dengan materi yang dipaparakan sehingga banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan hingga akhir acara. Para peserta pun sangat berharap acara seperti ini pun dapat dilaksanakan kembali guna meningkatkan wawasan peserta (Rima SH Martin)

  • Departemen IPTP Bekali Mahasiswa Strategi Bisnis Unggas Pedaging di Masa Pandemi

    Kuliah tamu Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB University menghadirkan Febroni Purba, SPt dari PT Sumber Unggas Indonesia (PT SUI). Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa IPTP ini mengangkat tema “Strategi Bisnis Unggas Pedaging di Masa Pandemi COVID-19.

    Selain pengenalan tentang sumber daya genetik ayam Indonesia yang dikembangkan oleh PT SUI,  Febroni juga memberikan tips-tips praktis dalam manajemen budidaya unggas lokal pedaging yang beradaptasi dengan kondisi pandemi dan juga strategi bisnis unggas lokal pedaging di masa pandemi dan pasca pandemi.

    “PT Sumber Unggas Indonesia merupakan breeder (pembibit) unggas lokal terbesar di Indonesia, terutama ayam lokal. Sampai saat ini, cakupan bisnis PT SUI meliputi penjualan anak ayam, penjualan live bird, penjualan karkas, penjualan ayam olahan yang tersebar di 150 mitra outlet dan bisnis resto ayam kampung olahan di Jakarta dan Bogor. PT SUI juga memiliki sarana Rumah Pemotongan Hewan-Unggas (RPHU) modern berkapasitas 6.000 ekor per hari,” ujarnya

    Selain bisnis, menurut Ketua Departemen IPTP, Prof Dr Irma Isnafia Arief, PT Sumber Unggas Indonesia juga menjadi pusat pelestarian dan peternakan terpadu unggas Indonesia. Sehingga dengan adanya kuliah tamu ini, harapannya mahasiswa tidak hanya belajar tentang peluang bisnis unggas lokal pedaging namun juga belajar tentang pentingnya pelestarian unggas Indonesia bagi pemanfaatannya yang berkelanjutan.

    “Kuliah tamu ini merupakan program awal untuk mengisi kerjasama Fapet IPB University dengan PT SUI yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Bidang kerjasama yang dilakukan bukan hanya di bidang perkuliahan dan praktikum namun juga meliputi pendidikan, penelitian, publikasi, diseminasi hasil penelitian, pertemuan ilmiah (seminar, kuliah umum, workshop, konferensi dan lain-lain), praktik lapang, magang profesi, pelatihan, Kuliah Kerja Nyata (KKN), sharing fasilitas, sharing tenaga ahli, sharing inovasi dan kegiatan akademik lainnya,” ujarnya (ipb.ac.id)

  • Departemen IPTP Fapet IPB University Gelar Kuliah Umum Bahas Manajemen Kandang dan Kesehatan Unggas Pedaging

    Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar Studium Generale mata kuliah Produksi Unggas Komersial tentang manajemen perkandangan dan kesehatan unggas pedaging di masa pandemi COVID-19, (12/12). Kegiatan ini digelar berdasarkan kasus riil keberhasilan budidaya unggas pedaging di lapangan. Penyelenggaraan Studium Generale ini merupakan salah satu bentuk  kerjasama Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fapet IPB University dengan PT Aretha Nusantara Farm. Kerjasama ini juga diwujudkan dalam praktik lapang dan magang profesi bagi mahasiswa.

    Materi yang disampaikan pada Studium Generale tersebut antara lain diagnosis penyakit dan vaksinasi pada unggas pedaging yang disampaikan oleh drh Titis Wahyudianto (PT Bohringer Ingelheim) dan closed house untuk unggas pedaging yang disampaikan oleh Ading Nurjaman, SE (PT Aretha Nusantara Farm/AS Putra Goup).  

    Pada kesempatan ini, drh Titis mengenalkan jenis penyakit yang sering ditemui di peternakan unggas pedaging di Indonesia beserta faktor penyebabnya. Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan tentang tahapan diagnosa penyakit dan penerapan program vaksinasi yang benar pada unggas, termasuk tindakan biosekuritas dan alternatif pencegahan penyakit di masa pandemi COVID-19.

    Drh Titis Wahyudianto juga menjelaskan tentang teknologi terbaru di bidang peralatan vaksinasi dan produk vaksin untuk unggas pedaging yang diproduksi oleh PT Boehringer Ingelheim. Menurutnya, teknologi tersebut sudah banyak diadopsi dan diaplikasikan oleh peternak unggas pedaging di Indonesia.

    Sementara, untuk mendukung kesehatan dan performa unggas pedaging yang optimal sesuai dengan target bisnis, Ading Nurjaman menjelaskan kandang sistem tertutup (closed house) merupakan tipe kandang yang tepat bagi peternak dan terbukti sudah banyak diadopsi oleh peternak.

    Ia pun menyampaikan materi tentang manfaat, teknis operasional dan faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada manajemen closed house. PT Aretha Nusantara Farm  merupakan perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam yang berlokasi di Bandung yang saat ini memiliki 9 cabang perusahaan yang tersebar di wilayah Kuningan, Majalengka, Bandung Timur, Bandung Barat, Garut, Cirebon, Subang, Sumedang dan Tasikmalaya (ipb.ac.id)

  • Diskusi Ekonomi Hijau dan Pembangunan Berkelanjutan di Departemen IPTP

    Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB University mengadakan Kuliah Umum Bagi Mahasiswa tentang “Climate Change, Sustainable Development Goals (SDGs) and Green Production Industry, akhir pekan lalu.

    Kuliah umum ini dihadiri oleh 400 mahasiswa dari berbagai program studi peternakan. Kuliah umum kali ini menghadirkan narasumber dari lintas bidang ilmu yang berbeda yaitu Hizbullah Arief, SIP Climate Leader, founder Hijauku.com dan Dr Eng M Donny Koerniawan, Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung. 

    Ketua Departemen IPTP, Prof Irma Isnafia Arief mengatakan kuliah umum tersebut diadakan untuk membahas konsep umum agrikultur dan peternakan yang mempengaruhi SDGs 2030 dan perlunya perhatian atas kontribusi sektor peternakan dari hulu sampai hilir bagi perkembangan SDGs. 

    Sementara, Hizbullah Arief memaparkan materi mengenai perubahan iklim dan dampaknya terhadap SDGs. Dalam paparannya ia mengatakan terdapat dua isu utama yaitu ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan. Kedua isu ini merupakan isu yang masih memiliki kesenjangan pengetahuan di tengah masyarakat.  

    Lebih lanjut ia menerangkan, kedua isu tersebut sangat berkaitan erat dengan perubahan iklim. Pasalnya perubahan iklim dan cuaca di Indonesia terbilang ekstrim dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 13 November 2020, bencana yang terjadi di Indonesia mencapai angka 2.524 bencana. Bencana ini didominasi oleh bencana hidrometeorologis seperti banjir, longsor, dan puting beliung dan terkait pula dengan kekeringan.

    Adapun Donny Koerniawan, memaparkan materi mengenai industri arsitektur dan kota hijau dalam pola produksi hijau.  Ia mengatakan, pembangunan kawasan industri, kota maupun perumahan yang ramah lingkungan memerlukan arsitek yang paham terhadap pembangunan hijau. “Kalau social contribution terhadap environment itu seimbang, pembangunan  kota kita akan menjadi livable, ekonomi dan environment seimbang maka akan menjadi feasible. Nah kita harus mencari di tengah-tengah ini,” jelasnya.

    Peran arsitek dan urban designer dalam mengurangi emisi energi menurutnya juga harus menerapkan empat teori utama yaitu master planning, community system planning, building design dan transport system. "Arsitek harus mengatur keselarasan konsep tersebut agar pembangunan kota sesuai dengan prinsip keberlanjutan melalui smart building, energy independent arsitektur, ataupun green building, " ungkapnya.

    Di penghujung acara, Dosen IPB University dari Departemen IPTP, Iyep Komala, SPt, MSi selaku moderator kuliah umum tersebut menyampaikan perlu ada kolaborasi penelitian dan kegiatan aksi antara Fakultas Peternakan IPB University dengan Sekolah Arsitektur ITB dan Hijauku.com agar menciptakan peternakan di perkotaan dengan pola produksi hijau dengan tetap memperhatikan iklim melalui penerapan arsitektur dan Kota Hijau (ipb.ac.id)

  • Dosen IPB Univeristy: Sistem Traceability Rantai Pasok Bisa Atasi Mafia Sapi dari Hulu hingga Hilir

    IPB University bekerja sama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) mengadakan training secara daring tentang ketelusuran (traceability) pada rantai pasok sapi potong, (19/9). Training ini digelar untuk menindaklanjuti kondisi konsumsi pangan daging yang semakin meningkat di negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, kurangnya pengetahuan konsumen terhadap asal pangan tersebut, kelayakannya untuk dikonsumsi, serta kurangnya sistem yang menggaransi membuat bahasan pada training ini penting. Terlebih lagi sistem ketelusuran untuk sapi lokal belum ada.

    Menurut Prof Kudang Boro Seminar, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB University dan Pakar Komputasi Pertanian, konsep traceability berbasis teknologi informasi merupakan sistem yang harus segera diimplementasikan di Indonesia . Dengan adanya sistem tersebut, perjalanan suatu produk agroindustri mulai dari awal penemuan bibit unggul sampai ke tangan konsumen beserta pihak yang terlibat di dalamnya akan lebih mudah diidentifikasi dan diawasi.

    Ia juga menerangkan, pemegang kewenangan dan hukum perlu mengetahui bila produsen telah mengikuti praktek pemotongan hewan yang baik untuk memenuhi rantai nilai dan produksi daging sapi. Kasus pengoplosan daging serta permainan harga yang diakibatkan oleh mafia sapi dari hulu ke hilir masih sering ditemukan, sehingga sistem traceability merupakan salah satu solusi untuk mengatasinya.

    Penggunaan E-traceability ini tidak terbatas ruang dan waktu serta kemampuan mengakses informasi lebih cepat dengan bantuan satelit. Perubahan sistem pelacakan sapi digital menggunakan Radio Frequency Identification (RFID) menjadikan pengawasan terhadap pelaku usaha sapi potong lebih terpadu, memenuhi prinsip animal welfare dan penjaminan kehalalan.

    “Jadi pada dasarnya kita dapat mengusung food protection, food defense, sustainability dan security,” terang Prof Kudang.

    Dalam sejarahnya, Tri Nugrahwanto, Supply Chain Manager PT Tanjung Unggul Mandiri, mengatakan bahwa praktik traceability mulai diterapkan pasca penghentian ekspor sapi Australia pada tahun 2011. Penghentian ekspor sapi ini diketahui karena pelaku usahanya melakukan pelanggaran animal welfare. Sistem pelacakan feedlot dilakukan mulai dari unloading sapi di pelabuhan hingga rumah pemotongan hewan (RPH) maupun pedagang. Sistem tersebut juga dipraktikkan untuk memenuhi rantai pasok dengan adanya audit pada setiap lini.

    Ia juga menyebutkan bila Australia sendiri memiliki lembaga National Livestock Identification System yang mengelola traceability dan mencakup segala hal dalam lini peternakan sapi dan domba. Adapun manfaat lain dari sistem e-traceability ini ditujukan untuk meningkatkan potensi ekonomi peternak melalui keterlacakan data sapi hingga penentuan kisaran harga pasar dapat tercipta lebih baik (ipb.ac.id)

  • Dosen IPB University: Prospek Bisnis Cacing Tanah untuk Bahan Baku Obat Sangat Cerah

    Bagi sebagian orang, cacing tanah identik dengan hewan menjijikkan. Namun, faktanya tak sedikit masyarakat yang membudidayakan cacing tanah sebagai mata pencahariannya. Meskipun menjijikkan, ternyata cacing tanah memiliki nilai ekonomi dan dapat dijadikan sebagai bahan baku obat medis.

    Untuk itu, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan, Verika Armansyah Mendrofa, SPt, MSi memberikan penjelasan tentang budidaya cacing tanah sebagai pakan ternak dan pangan. Menurutnya, cacing tanah memiliki kadar protein sebesar 64-76 persen. Harga jual cacing tanah lumayan fantastis, satu kilogram cacing tanah dihargai 40 ribu sampai 120 ribu untuk di wilayah Bogor. Tidak hanya cacingnya yang bisa dijual, tetapi produk cacing seperti pupuk cair dan bekas cacing (kascing) juga dapat dijual.

    “Pupuk cair dan kascing sangat bermanfaat untuk kesuburan tanah dan tanaman. Ini merupakan peluang usaha yang menjanjikan,” kata Verika dalam Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) belum lama ini.

    Manfaat cacing tanah, lanjutnya, dapat digunakan sebagai pakan ternak, pangan manusia, obat-obatan, kosmetik, pengolah sampah, pengolah limbah industri, pupuk tanaman dan penyubur lahan pertanian. Sementara, kascing memiliki kandungan N sebesar 1.40 persen, P sebesar 4.33 persen dan K sebesar 1.20 persen. Kandungan ini lebih tinggi daripada kotoran sapi, kuda, kambing maupun kotoran babi.

    Dari sisi medis, cacing tanah mengandung enzim lumbrokinase yang berguna untuk menurunkan tekanan darah, ischemic dan stroke. Cacing tanah juga mengandung enzim peroksidase dan katalase yang berfungsi untuk mengobati penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, kolesterol maupun rematik. Tidak hanya itu, cacing tanah juga mengandung enzim ligase dan selulase yang berfungsi untuk melancarkan pencernaan serta enzim arakhidonat sebagai obat antipiretik.

    Sayangnya, manfaat cacing tanah yang banyak ini belum mampu dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia. Masyarakat di Indonesia umumnya baru memanfaatkan cacing tanah sebatas sebagai pakan ternak maupun sebagai penyubur tanah dan tanaman.

    Supaya cacing tanah memiliki kualitas dan nilai jual tinggi, Verika menjelaskan tentang teknik budidaya yang baik. Sebelum melakukan budidaya, ia menyarankan supaya lokasi budidaya berada di tempat yang teduh dan lembab. Pemilihan lokasi yang teduh dan lembab dimaksudkan supaya cacing tanah tidak kepanasan dan tidak terendam air secara berlebihan.

    “Sekalipun cacing hidup di dalam tanah, sebenarnya cacing itu tidak suka kalau banyak air apalagi sampai tanahnya tergenang air. Air ini bisa menutup lubang-lubang jalur cacing sehingga cacing tidak nyaman dengan air itu. Kalau bisa tempat budidayanya tidak menyerap air,” jelasnya.

    Untuk pakan atau media hidup, ia menjelaskan, dapat berasal dari limbah rumah tangga, rumah makan, pertanian, peternakan dan bahan organik lainnya. Media hidup cacing disarankan bukan dari bahan yang tajam, berduri, berbulu, asam, pedas, mengandung minyak maupun bahan kimia berbahaya. Sebelum diberikan, media tersebut dianjurkan untuk dicacah terlebih dahulu dan sedikit dilembabkan tetapi tidak sampai basah.

    Bibit cacing tanah dapat diperoleh dengan cara mencari di kebun atau tumpukan sampah atau kotoran ternak maupun membeli dari peternak cacing. Bibit cacing sebaiknya diperoleh dari beberapa tempat dan berbagai ukuran.

    Selama budidaya, disarankan untuk melakukan perawatan dengan cara mengaduk media dua minggu sekali agar aerasi media terjaga. Apabila media telah berubah warna menjadi hitam, media bisa dipecah dan ditambahkan dengan media baru.

    “Jangan lupa senantiasa mengecek kelembaban dan pH media. Kalau media terlalu asam, cacing banyak muncul di permukaan media dan aktif bergerak. Sementara kalau media terlalu basa, cacing akan muncul di permukaan tetapi tidak banyak bergerak, berwarna pucat dan kurus,” jelasnya.

    Kegiatan panen cacing tanah dapat dilakukan apabila media telah matang. Tanda media matang adalah warna menjadi coklat kehitaman, teksturnya gembur seperti tanah, bentuknya sudah berbeda dari media awal dan umumnya pH sekitar 7. Untuk panen media atau vermikompos, disarankan supaya media bersih dari cacing maupun kokonnya. Media tersebut selanjutnya dikeringanginkan agar kering, bila perlu media disaring. (ipb.ac.id)

  • Dosen IPB University: Swasembada Daging Sapi 2026 Masih Mustahil Terwujud

    Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan (BEM Fapet) IPB University kembali menghadirkan kegiatan Diskusi Kandang dengan tema “Swasembada Daging 2026: Menjadi Nyata atau Hanya Rencana?"  Diskusi yang dilaksanakan pada (4/11) ini menghadirkan Prof Dr Muladno, Guru Besar IPB University dari Fakultas Peternakan.

    Dalam paparannya, Prof Muladno berharap kegiatan tersebut tidak hanya berakhir sebagai diskusi semata namun juga  dapat terwujud aksi nyata yang dapat memberikan kontribusi dan kritisi terhadap program-program pemerintah yang berkaitan dengan swasembada daging.  Ia juga mengatakan pemerintah harus mencermati landasan hukum yang dipakai dalam mencapai swasembada daging.

    Menurutnya, selama ini Indonesia telah mengimpor daging hingga ratusan ribu ton, namun kebutuhan masyarakat masih belum terpenuhi. Sementara, posisi Indonesia saat ini masih jauh dari angan-angan swasembada daging yang ditargetkan terwujud di tahun 2026. Prof Muladno juga menjelaskan, sejak kemerdekaan hingga saat ini, rasio jumlah sapi terhadap jumlah penduduk hanya meningkat 1,05 persen.

    Dengan angka tersebut, ia mengatakan bahwa mustahil apabila Indonesia ingin mencapai swasembada daging di tahun 2026. Lebih lanjut ia menandaskan, swasembada daging yang dikelola oleh peternak lokal di jaman kemerdekaan dinilai lebih baik meskipun tanpa ada campur tangan pemerintah.

    “Kini, peternak lokal sering tidak diperhatikan bahkan di saat kebutuhan pasokan daging meningkat. Pemerintah menggeser potensi perkembangan bisnis daging sapi kepada pihak luar dengan jalan impor sapi dari Australia, bukan pada peternak lokal,” kata Prof Muladno. Ia menilai, pemerintah harus mulai berorientasi pada bisnis dengan penggunaan regulasi yang kondusif sehingga peternak lokal akan merasa nyaman.

    Sementara, Kepala Sub Direktorat Standarisasi Mutu Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI, M Imron turut menanggapi pernyataan Prof Muladno. “Sangat sulit bagi pemerintah untuk menyusun regulasi dari hulu ke hilir yang dapat memuaskan tiap stakeholder. Namun begitu, impian swasembada daging 2026 tetap akan didorong melalui kebijakan pengembangan sapi potong,” katanya.

    Ia menegaskan, dengan grand design pengembangan sapi 2026, pemerintah menargetkan populasi sapi di Indonesia akan mencapai angka 33 juta. Percepatan peningkatan rasio populasi sapi juga didorong dengan program kinerja Sikomandan yang baru-baru ini diluncurkan.

    Selain itu, intervensi terbaru berupa program 1000 Desa Sapi 2020 melalui pemberian indukan dan pengadaan sapi juga dilakukan untuk pengelolaan peternakan yang lebih komersial. Namun demikian, pendekatan kooperatif dengan orientasi keuntungan tersebut belum sempat diketuk palu oleh DPR.  

    Ia juga mengatakan, perlu dukungan rakyat terutama kaum milenial. "Kaum milenial diharapkan mampu membungkus peternakan yang selama ini dikelola secara sederhana di level rakyat yang hanya 2-3 ekor, dengan bungkus-bungkus teknologi yang baru, dengan pemikiran yang sekarang mungkin bisa lebih menarik dan menguntungkan,” jelasnya.

    Di sisi lain, Teguh Boediyana, Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSI) menegaskan bahwa swasembada daging 2026 sulit untuk diwujudkan. Menurutnya, roadmap yang dibentuk oleh pemerintah tidak masuk akal dan masih berdasarkan pada asumsi dan data-data yang tidak akurat.

    “Program swasembada daging  sapi sejak tahun 2005 hingga saat ini tidak memberikan hasil yang diinginkan. Di tahun 2026, walaupun Indonesia berencana mengimpor indukan hingga  2 juta ekor sapi, dinilai tetap tidak akan mencapai swasembada daging. Pembuatan roadmad seharusnya berangkat dari data populasi dan produksi sapi yang faktual bukan data yang menjerumuskan,” sebutnya (ipb.ac.id)

Tips & Kegiatan Selama WFH