IPBSDG2

  • Pakar IPB University: Jangkrik Bisa Dongkrak Ekonomi, dari Pakan Ternak hingga Pangan Alternatif

    Seringkali kita memandang sebelah mata terhadap beberapa satwa yang terlihat seperti hama atau menjijikkan. Padahal di balik itu, terdapat segudang manfaat yang dapat diberikan olehnya. Seperti halnya jangkrik, serangga yang kerap muncul di malam hari itu memiliki manfaat yang berguna untuk mendongkrak ekonomi masyarakat.

    Dosen IPB University yang merupakan pakar sistem integrasi peternakan, Prof Dr Asnath M Fuah mengatakan bahwa jangkrik merupakan salah satu pangan alternatif yang baik untuk menambah nilai gizi pangan, serta kaya akan protein. Saat ini, masyarakat Indonesia lebih mengedepankan pada penggunaan jangkrik sebagai pakan unggas. Padahal dengan pemasaran yang baik, produksi pangan menggunakan tepung jangkrik akan lebih diminati.

    “Sebetulnya jangkrik bisa dijadikan olahan pangan. Asal pengolahannya baik dan berlabel, kita bisa membawanya ke market yang luas,” ungkapnya.

    Dengan demand yang tinggi untuk pakan unggas, supply jangkrik belum memenuhi, sehingga usaha budidaya jangkrik dinilai memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Terutama budidaya jangkrik jenis kliring, cendawang, dan kalung yang memiliki produktivitas yang tinggi.  Selain itu, pemeliharaannya mudah serta ramah lingkungan.

    Di samping untuk pakan unggas, Prof Dr Dewi Apri Astuti, dosen IPB University sekaligus pakar nutrisi ternak Fakultas Peternakan mengatakan bahwa penggunaan tepung jangkrik juga berguna bagi ternak ruminansia dengan kondisi kelahiran tertentu serta pada masa kehamilan. Saat ini, peternak lebih sering menggunakan bungkil kedelai dan tepung ikan yang masih diimpor. Padahal dengan penambahan tepung jangkrik, nilai gizinya pun tidak berbeda nyata.

    Hasil riset juga mengungkapkan bahwa ternak kambing, dalam masa kehamilan, setelah diberi pakan tepung jangkrik menunjukkan perbaikan nilai gizi dalam darah. Selain itu, pada kambing jantan, kualitas spermanya pun menjadi lebih baik. Namun demikian, pemberian tepung jangkrik sebagai pengganti susu maupun pakan bagi ternak hanya bersifat sementara saja.

    Dalam usaha budididaya jangkrik, Dr Yuni Cahya Endrawati, dosen IPB University dan pakar Satwa Harapan Fakultas Peternakan mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh peternak jangkrik, yaitu kondisi lingkungan terutama suhu dan kelembaban. Kedua hal tersebut dinilai sangat berpengaruh pada produktivitas jangkrik.

    “Karena tempat budidaya haruslah sama dengan habitat aslinya. Selain itu, tipe opositor pada tubuh tiap jenis jangkrik harus diperhatikan, karena akan menentukan manajemen penetasannya. Perbandingan antara beberapa jenis jangkrik yang dibudidayakan di Indonesia menunjukkan bahwa karakteristik jangkrik bimaculatus atau kalung memiliki keunggulan yang berbeda, baik dari umur hingga kandungan nutrien lebih baik. Walaupun jangkrik jenis mitratus memiliki penetasan yang lebih tinggi, karakternya yang lincah membutuhkan penanganan yang agak sulit. Jadi inilah alasan mengapa bimaculatus lebih unggul. Itu karena memang pemanfaatan diproduknya atau permintaan pasar secara karakteristik jangkriknya lebih disukai hewan lainnya sebagai pakan,” jelasnya.

    Sementara itu Ahmad Anwari, Ketua Kelompok Ternak Jangkrik Perwira Bekasi saat ditanya alasannya menggeluti bisnis budidaya jangkrik, ia mengaku bahwa budidaya jangkrik, selain menguntungkan juga tidak memerlukan halaman yang luas untuk budidayanya. "Pakan pendamping pun sangat mudah didapatkan seperti daun pisang maupun rerumputan yang berkadar air tinggi, " ungkapnya. (ipb.ac.id)

  • Pandemi COVID-19 Tingkatkan Bisnis Peternakan di Kalangan Milenial

    Idah Saidah, alumni IPB University pelaku wirausaha di bidang hijauan pakan Diervoeder Agro mengatakan bahwa permasalahan utama peternakan di Indonesia adalah petaninya yang berusia tua dan minim teknologi.
     
    “Strategi pemenuhan hijauan pakan yaitu eksplorasi hijauan pakan lokal, pemetaan daerah sentra hijauan pakan dan mendorong sektor hulu peternakan melalui penerapan dan investasi teknologi,” jelas Idah beberapa waktu lalu saat hadir sebagai narasumber dalam seri webinar “Strategi Pemenuhan Kebutuhan Hijauan Pakan Berbasis Teknologi di Era 4.0”.

    Webinar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter), Fakultas Peternakan IPB University ini juga menghadirkan Prof Luki Abdullah, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University.

    Menurutnya, semenjak menyebarnya wabah COVID-19, bisnis peternakan di kalangan generasi milenial semakin berkembang dan menjadi peluang bisnis yang sangat diminati karena menguntungkan. Namun, Prof Luki menyebutkan bahwa perlu adanya kolaborasi antara teknologi dengan masyarakat untuk meningkatkan inovasi bisnis pakan hijauan.
     
    “Alasan kenapa ada fakultas peternakan di Indonesia itu karena beternak bukan hanya sekadar memelihara hewan ternak saja, tetapi beternak itu harus menjadi bisnis yang untung dan efisien,” tutur Prof Luki (ipb.ac.id)

  • Para Profesor Bahas Pembiakan Sapi di Komunitas Peternakan Rakyat

    IPB University bersama Asosiasi Profesor Indonesia (API) menggelar webinar bertajuk Pengembangan Industri Pembiakan Sapi di Komunitas Peternakan Rakyat, (7/12). Dr Sofyan Sjaf, Wakil Kepala Bidang Pengabdian kepada Masyarakat - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini perguruan tinggi perlu segera menepis anggapan sebagai menara gading dan berusaha memberikan dampak positif bagi masyarakat. Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang digagas oleh Prof Muladno, merupakan salah satu instrumen penting dalam menyumbang keilmuan perguruan tinggi untuk diterima masyarakat.

    “Acara ini sangat baik untuk memberikan gambaran utuh bagaimana industri pembiakan ini bisa dimulai dari komunitas rakyat. Hanya dengan jalan itulah kita membantu negara ini dengan keilmuan yang kita miliki agar kelak kita bisa melihat Indonesia makmur, cerdas bersama-sama rakyat itu sendiri,” kata Dr Sofyan.

    Sementara itu, Prof Dr Ari Purbayanto, Guru Besar IPB University dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) mengatakan, kegiatan ini merupakan seri perdana dari program Guru Besar IPB University Mengabdi. Nantinya para Guru Besar akan turun ke desa untuk mentransfer ilmunya kepada masyarakat dan memberikan solusi terhadap pemecahan masalah bangsa.

    Ketua API ini juga berharap, tak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, kegiatan ini turut mampu memberikan arah pembangunan terhadap swasembada daging, swasembada pangan di Indonesia.

    Prof Dr Asep Gunawan, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan dalam paparannya mengatakan, saat ini IPB University telah melakukan beberapa upaya dalam hal pemuliaan ternak dengan mencoba mengkarakterisasi dan menginventarisasi sumber daya genetik ternak lokal khususnya penghasil pedaging yang dengan hal itu akan dapat diketahui kekhasan yang dimiliki ternak lokal.

    Peningkatan peran peternakan rakyat, kata Prof Asep, dapat dilakukan dengan penerapan teknologi tepat guna. Dalam hal ini peran Informasi dan Teknologi (IT) tidak bisa dilepaskan dalam sistem pemuliaan. Sistem pemuliaan 4.0 akan memberikan kemudahan dalam menjual ternak, memberikan kemudahan akses kesehatan ternak. Di samping itu, peternak akan lebih mudah melakukan pencatatan serta keluar masuk ternak akan lebih terkontrol dengan update data.

    Dalam kesempatan yang sama, Prof Muladno mengatakan, peran teknologi dalam meningkatkan kesejahteraan peternak perlu dibarengi motivasi dasar. Yakni pola pikir dan komitmen yang kuat dari para petani. Tanpa motivasi, teknologi akan sia-sia. Sebab banyak program yang telah bergulir gagal disebabkan lemahnya motivasi para peternak.

    “Karenanya dalam kriteria perangkat SPR, pola pikir dan komitmen itu porsinya 45 persen. Dasarnya ini harus dikuatkan dulu. Kalau ini sudah bagus maka selanjutnya perbaikan kelembagaan dan manajemen 35 persen. Barulah kemudian teknologi dan sarana prasarana, yang porsinya hanya 20 persen,” ujar Prof Muladno.

    Ia melanjutkan, kemandirian peternak tidak bisa diraih sendiri. Peran perguruan tinggi harus menjadi pusat riset dan pengembangan komunitas peternak. Saat ini sudah enam perguruan tinggi penyelenggara SPR di Indonesia. Yaitu IPB University, Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri, Universitas Tadulako, Universitas Antakusuma (Untama), Politeknik Pertanian dan Peternakan (Poltana) serta Universitas Lampung.

    Sementara itu, perguruan tinggi, ada juga peran dari pemerintah daerah yang menjadi fasilitator utamanya serta pemitra sebagai motivator, partner networker dan promotor. Ke depan, Prof Muladno mengajak perguruan tinggi lain untuk bisa mengikuti dan bergabung menjadi bagian dari SPR ini demi mencapai kemandirian dan kesejahteraan para peternak di Indonesia (ipb.ac.id)

  • Peduli Pakan Ternak, Mahasiswa IPB University Tanam 2000 Tanaman Pakan dan Pelatihan Pengawetan Pakan

    Sebanyak 20 mahasiswa Fakultas Peternakan IPB University yang juga sebagai penerima beasiswa Japfa Foundation atau disebut Japfa Foundation Scholarship Club (JFSC) menggelar program pengabdian kepada masyarakat di desa Neglasari, Kecamatan Dramaga, Bogor, tepatnya di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Neglasari, Sabtu (7/12).
    Dr Moch Sriduresta S, SPt, MSc, dosen Fakultas Peternakan IPB University, menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan metode untuk mendekatkan diri agar mahasiswa dapat belajar langsung di lapangan kepada para peternak dari hulu sampai hilir. Tempat pengabdiannya dipilih di Desa Neglasari karena didukung komoditas domba sehingga kita dapat memanfaatkan produk hasil ikutan seperti wool.

    Kegiatan pengabdian yang dilakukan yaitu penanaman 1600 bibit Indigofera dan 400 tanaman odot sebagai sumber pakan ternak. Tanaman indigofera dipilih karena tanaman tersebut merupakan hijauan ternak jenis leguminosa yang berasal dari Papua dan memiliki nutrisi yang tinggi bagi ternak. Kelebihan lain dari tanaman indigofera adalah memiliki produktivitas yang tinggi, mudah ditanam dan dapat bertahan baik dalam kondisi kering maupun basah.
    Sedangkan tanaman odot adalah salah satu varietas rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang memiliki keunggulan produksi tinggi, apalagi pada saat musim hujan batang rumput lebih lunak, sehingga daya suka kambing atau domba bertambah. Selain itu kandungan nutrisi yang tinggi seperti protein kasar rumput odot sebesar 12-14% bahkan ada yang mencapai 17%, kemudian tingkat kecernaan juga tinggi yaitu berkisar 65-67%.

  • Pelatihan “Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging” 27-28 Agustus 2019

    Pelatihan logistik rantai dingin pada produk daging diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) yang diinisiasi oleh Fakultas Peternakan IPB. Kegiatan ini juga didukung oleh Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia(ARPI). Pelatihan diadakan untuk kedua kalinya di tahun 2019 yang berlangsung selama dua hari pada 27-28 Agustus 2019. Pada hari pertama kegiatan dilaksanakan di Fakultas Peternakan IPB. Kegiatan pelatihan dibuka oleh Prof.Sumiati selaku Plh.Dekan Fakultas Peternakan IPB.

     

     

    Materi pelatihan sesi pertama disampaikan oleh Ibu Irene Natasha selaku Direktur Komersial dan Operasional PT Adib Cold Logistics beserta tim tentang logistik rantai dingi n produk daging di Indonesia. Sesi kedua disampaikan oleh Prof Irma Isnafia selaku Ketua Departemen IPTP Fakultas Peternakan IPB tentang manajemen rantai pasok daging sapi dan unggas. Sesi ketiga disampaikan oleh Bapak Raden Didiet Rachmat Hidayat selaku peneliti dan praktisi ilmu transportasi dan logistik Trisakti tentang penerapan halal logistik pada rantai dingin.

    Pada hari kedua para peserta pelatihan mengunjungi cold storage milik PT Adib Cold Logistics di kawasan Narogong, Bekasi. Kegiatan kunjungan diikuti penuh swmangat dan antusias para peserta dari kalangan bisnis, akademisi, pemerintah dan komunitas peternak dari berbagai wilayah Indonesia, antara lain Medan, Pekanbaru, Indramayu dan Jabodetabek. Kegiatan ini juga didukung oleh media partner Majalah Infovet, Foodreview dan Agropustaka.

  • Pelatihan “Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu RPH Unggas serta Kunjungan ke RPH Unggas PT Ciomas Adisatwa"

    Bogor(18/11), Fakultas Peternakan IPB bekerjasama dengan FLPI menyelenggarakan Pelatihan "Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu RPH Unggas serta Kunjungan ke RPH Unggas PT Ciomas Adisatwa (JAPFA)". Kegiatan berlangsung selama dua hari , mulai tanggal 17-18 Januari 2019.

    Pelatihan hari pertama pada tanggal 17 Januari 2019 dilaksanakan di ruang sidang Fakultas Peternakan IPB. Kegiatan diawali dengan materi "Manajemen RPH Unggas yang Berdayasaing" yang disampaikan oleh Dr.Ir. Niken Ulupi, M.Si ,dosen Departemen Iptp Fapet Ipb. Materi kedua mengenai "Sanitasi Higiene dan Sertifikasi NKV" yang disampaikan oleh drh.Ira Firgorita selaku Kepala Subdit Higiene Sanitasi dan Penerapan, Kesmavet Ditjen PKH. Materi ketiga tentang "Teknik Pemotongan Halal dan Sertifikasi Halal" disampaikan oleh drh.Supratikno,MPaVET dari Halal Science Center IPB. Materi keempat mengenai " Rantai Dingin di RPHU" disampaikan oleh Ir.Hasanuddin Yasni, MM selaku ketua Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI).

    Kegiatan pelatihan kedua pada tanggal 18 Januari 2019 berupa kunjungan ke RPH Unggas PT Ciomas Adisatwa (JAPFA). Peserta pelatihan dibagi dua kelompok secara bergantian untuk memperoleh materi di kelas dan melihat secara langsung praktek terkait manajemen dan sistem penjaminan mutu RPH Unggas di PT Ciomas Adisatwa, Parung-Bogor. Materi didalam ruang kelas disampaikan oleh Galih Gumilar,ST selaku Quality Control Head di RPHU tersebut.

    Kegiatan pelatihan diikuti oleh 14 peserta yang penuh antusias dan semangat. Mereka berasal dari kalangan bisnis ( PT.Cibadak Indah Sari Farm, PT Intan Sinar Abadi, RPA Nusantara, PT Sucofindo), akademisi (STIE Pelita Bangsa), pemerintah (Dinas Peternakan Provinsi NTT, LPPOM MUI Kota Bogor) dan perseorangan. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan dan kerjasama yang baik dengan PT Ciomas Adisatwa (JAPFA)-Parung dan media partner antara lain Majalah Poultry Indonesia, Livestockreview.com dan Agropustaka. (flpi-alin.net)

  • Pelatihan dan Uji Kompetensi Bidang Pemotongan Daging (Butcher) Level Junior Batch 2

    FLPI bekerjasama dengan Fapet IPB, BBPKH Cinagara, LSP-PI , BNSP menyelenggarakan Pelatihan Dan Sertifikasi Kompetensi Bidang Pemotongan Daging (Butcher) Level Junior Sesuai SKKNI – Batch 2 yang berlangsung mulai dari tanggal 03 s.d. 09 Februari 2020.

    Pelatihan diikuti oleh 6 orang peserta dengan latar belakang dari Rumah Potong Hewan milik swasta dan Pemerintah Daerah. Pelaksanaan kegiatan pelatihan dilakukan di di Laboratorium Ruminansia Besar dan RPH Fakultas Peternakan IPB. Selama kegiatan pelatihan peserta mendapatkan informasi mengenai titik kritis yang dapat mempengaruhi kualitas daging, pengemasan dan penyimpanan daging yang sesuai standar dan juga bagaimana jenis potongan daging yang memenuhi kualifikasi standar internasional. Keseluruhan materi yang diberikan sudah sesuai dengan SKKNI Sektor Peternakan Bidang Pemotongan Daging (Butcher).

    Hal ini nantinya diharapkan dapat mendorong pengusaha lokal untuk dapat memenuhi permintaan kualifikasi produk daging baik di dalam maupun di luar negeri, jelas Prof Luki Abdullah selaku Ketua FLPI saat pembukaan pelatihan. Kegiatan juga dihadiri oleh Prof. Sumiati selaku Dekan Fakultas Peternakan IPB yang sangat mendorong kolaborasi kegiatan seperti ini yang melibatkan multistakeholder dalam rangka meningkatkan kapasitas SDM. (flpi-alin.net)

  • Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging dan Kunjungan ke Cold Storage

    FLPI bersama Fapet IPB dan Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) menyelenggarakan Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging dan Kunjungan ke Cold Storage. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari pada tanggal 21 -22 Februari 2019.

    Kegiatan hari pertama pada kamis 21 Februari 2019 dilaksanakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB, Kampus Darmaga IPB.Pelatihan dibuka oleh Bapak Dr.Rudi Afnan, SPt, MScAgr selaku Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB. "Pelatihan ini bertujuan untuk membangun kapasitas SDM yang terkait dengan penerapan rantai dingin pada produk daging sapi dan unggas yang diharapkan memberikan edukasi terhadap multistakeholder", jelas Rudi.

    Materi pelatihan diselenggarakan mulai jam 08.30 hingga 15.30 yang terdiri dari empat sesi materi yang masing-masing sesi dilanjutkan dengan diskusi. Pada sesi pertama tentang logistik dan manajemen rantai pasok daging sapi. Materi ini di sampaikan oleh Ibu Prof.Dr.Irma Isnafia Arief, SPt,MSi selaku Ketua Departemen IPTP,Fakultas Peternakan IPB. Sesi kedua tentang logistik dan manajemen rantai pasok daging unggas. Materi ini disampaikan oleh Bapak Sudarno selaku Head Logistics di PT Sierad Produce Indonesia, Tbk. Sesi ketiga tentang Logistik Rantai Dingin Produk Daging di Indonesia baik raw material maupun finished goods nya. Materi ini disampaikan oleh Ibu Irene Natasha selaku General Manager PT Adib Logistics Indonesia menggantikan suami beliau, Bapak Jimmi Krismiadhi yang berhalangan hadir. Sesi keempat tentang logistik halal pada rantai dingin. Materi ini disampaikan oleh Bapak Raden Didiet Rachmat Hidayat, MSi.

    Kegiatan pada hari kedua berupa kunjungan beserta diskusi di PT Adib Cold Logistics Indonesia di Narogong-Bekasi yang merupakan anggota ARPI. Kegiatan kunjungan dibuka oleh Bapak Eki Kurniawan selaku Managing Director PT Adib Logistics Indonesia yang saat ini telah melaksanakan joint ventures menjadi bagian dari keluarga PT Samudera Indonesia dan JWD.

    Kegiatan pelatihan diikuti secara antusias oleh 25 peserta yang berasal dari multistakeholder (akademisi, bisnis, pemerintah dan komunitas) dari berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan ini berlangsung lancar juga atas dukungan kerjasama dengan majalah Infovet, Food Review Indonesia dan Agropustaka.id selaku media partner. (flpi-alin.net)

  • Pelatihan Manajemen Produksi dan Logistik Lebah Madu Tropika

    Bogor-FLPI yang diinisiasi oleh Fakultas Peternakan IPB mengadakan pelatihan manajemen produksi dan logistik lebah madu tropika pada tanggal 08-09 Oktober 2019. Kegiatan pelatihan dilaksanakan atas kerjasama FLPI dengan Tim Divisi NRSH Depertemen IPTP,Fakultas Peternakan IPB.

    Kegiatan pelatihan dibuka oleh Prof Luki Abdullah, MScAgr selaku Chairman FLPI. Hari pertama pelatihan dilaksanakan di Ruang Sidang Departemen Iptp Fapet Ipb berupa penyampaian materi dari 5 orang pakar dari akademisi, praktisi dan komunitas peternak. Prof Asnath M Fuah dari Departemen Iptp Fapet Ipb menyampaikan materi tentang potensi dan prospek lebah madu di Indonesia yang masih terbuka luas. Drs. Kuntadi, MSc dari Asosiasi Perlebahan Indonesia menyampaikan materi tentang teori dan praktek perlebahan di Indonesia. Prof. Dr. Ir. Mochammad Junus, MS dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya menyampaikan materi tentang Logistik Lebah Madu di Indonesia.

    Para peserta juga mendapatkan penjelasan tentang karakteristik madu dan praktek menguji kualitas madu. Materi ini disampaikan oleh Dr.Yuni Cahya Endrawati dari Fakultas Peternakan IPB. Analisis bisnis produk lebah madu disampaikan oleh Eureka Indra Zatnika, SPt sebagai alumni Fakultas Peternakan IPB yang saat ini menjadi peternak madu.

    Pada hari kedua pelatihan dilaksanakan di Peternakan Madu Pak Lebah milik Eureka Indra Zatnika, SPt. Peserta mendapatkan pengalaman praktek cara panen madu dan budidaya lebah madu. Para peserta yang berasal dari akademisi, bisnis dan komunitas dari berbagai wilayah nusantara sangat antusias untuk mempraktekkan ternak lebah. Salah satu peserta dari Jayapura setelah mengikuti pelatihan ini sangat berminat untuk mulai praktek berternak lebah madu Meiliferra di Jayapura. Kegiatan ini juga didukung oleh majalah Infovet, Foodreview Indonesia dan agropustaka.id sebagai media partner.

  • Pelatihan Penanganan Daging yang Sehat dan Berkualitas

    Pelatihan Penanganan Daging yang Sehat dan Berkualitas dilaksanakan selama dua hari atas kerjasama FLPI-Fapet IPB-Chef Halal Indonesia- Toko Daging Joinhed. Kegiatan hari pertama pada tgl 29 April 2019 dilaksanakan di Ruang Sidang Fapet IPB. Kegiatan pelatihan dibuka langsung oleh Dr.Rudi Afnan, S.Pt, MSc.Agr selaku Wakil Dekan Fakultas Peternakan IPB. Sesi pertama pelatihan disampaikan oleh Dr.drh.Denny Widaya Lukman, M.Si tentang sanitasi dan higiene daging beku dan segar. Sesi kedua pelatihan disampaikan oleh Dr.Ir.Henny Nuraini, MSi tentang metode penanganan daging dan teknik klasifikasi pemotongan daging.

    Pada hari kedua pelatihan tanggal 30 April 2019 dilaksanakan kunjungan ke Toko Daging Joinhed (Kalimalang, Jakarta). Kegiatan kunjungan difasilitasi oleh tim Bapak Achmad Hadi selaku pemilik Toko Daging Joinhed. Selain kunjungan, demo cooking halal juga dilaksanakan oleh Chef Halal Indonesia di Toko Daging Joinhed. Teknik pengolahan daging dengan berbagai jenis kualitas daging disampaikan oleh Chef R.Muhammad Suherman selaku Ketua Chef Halal Indonesia.

    Pelatihan diikuti oleh sejumlah peserta multistakeholder antara lain berasal dari RPH Pegirian Surabaya, Universitas Jambi, PT Cianjur Artamakmur, PT Maradeka Karya Semesta, Toko Daging Sedulur 99 Indramayu, PPHNak Ditjen PKH Kementan, PD Dharma Jaya, UD Prima Bro dan perorangan lainnya.

    "Praktek pengolahan daging dan konsep Toko Daging Joinhed yang dipadukan dengan restoran Jepang menjadi inspirasi bagi pengembangan bisnis toko daging kami ke depan", jelas drh.Evia Kirana selaku peserta pelatihan.
    Kegiatan diikuti penuh antusias oleh para peserta. "Bagi saya, dua hari pelatihan ini sangat banyak memberikan ilmu dan pengetahuan baru yang akan saya share ke para mahasiswa", jelas Ibu Dr.Sri Ernita dosen Universitas Jambi salah satu peserta pelatihan. Kegiatan ini juga didukung media partner Majalah Poultry, livestockreview.com, Agro Pustaka

  • Peletakan Batu Pertama Pembangunan Broiler Closed House Hibah dari PT. Charoen Pokphand Indonesia untuk Fapet IPB

    Pada hari Kamis tanggal 24 Juni 2021 bertempat di Laboratorium Lapang Blok B Fakultas Peternakan IPB diselenggarakan acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Broiler Closed House yang merupakan hibah dari PT. Charoen Pokphand Indonesia.

    Acara peletakan batu pertama ini dihadiri Rektor IPB, Prof. Dr. Arif Satria, SP, MSi, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Dr. Ir Drajat Martianto, M.Sc, Wakil Rektor bidang Inovasi dan Bisnis, Prof. Dr. Ir. Erika B. Laconi, MS, serta Dekan dan wakil Dekan Fakultas Peternakan, Ketua Senat fakultas, Kepala Divisi di lingkungan Fakultas Peternakan IPB. Selain itu, dari PT. Charoen Pokphand hadir Sekretaris Jenderal Charoen Pokphand Foundation Indonesia, Andi Magdalena Siadari SH MH, dan  Head of Human Capitan for Poultry Business, Ir. Syafri Afriansyah MBA serta tim lainnya.

    Pada kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Peternakan, Dr. Ir. Idat Galih Permana, MSc menyampaikan bahwa pembangunan broiler closed house dengan kapasitas 20.000 ekor ini dilengkapi dengan berbagai peralatan dan teknologi modern. Selain untuk tujuan budidaya komersial, kandang ini nantinya dapat digunakan untuk mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dimana mahasiswa diberi kesempatan untuk mengadopsi teknologi modern yang diterapkan di dunia industri.

    Pada sambutannya, Sekjen Charoen Pokphand Foundation Indonesia, Andi Magdalena Siadari, SH, MH juga menyampaikan bahwa hibah ini adalah bentuk program Corporate Sosial Responsibility (CSR) yang mendukung program pemerintah dalam sinergis antara dunia industri dan dunia pendidikan serta sejalan dengan program MBKM. Dengan pembangunan broiler closed house yang berstandar tinggi ini juga akan menambah wawasan mahasiswa terkait updating teknologi budidaya ayam broiler yang ada di industri. Hibah kandang closed house dari Pokphand untuk IPB adalah yang kedua. Pada tahun 2005, PT. CPI juga telah memberikan hibah kandang closed house yang pada saat ini dikelola oleh University Farm

    Rektor IPB, Prof. Dr. Arif Satria, SP, M.Si juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada PT. Charoen Pokphand Indonesia atas hibah kandang closed house ini.  Keberadaan kandang broiler closed house diharapkan dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam budidaya ayam broiler modern.

    Acara peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Rektor IPB, Dekan Fapet IPB, Sekjend Charoen Phokpand Foundation, Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Bisnis, serta Wakil Rektor Bidang pendidikan dan Kemahasiswaan IPB (Femmy)

  • Pemkab Sigi Gandeng LPPM IPB University Deklarasikan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Anutapura

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah Deklarasikan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Anutapura, di Kabupaten Sigi di Desa Walatana Kecamatan Dolo Selatan, Agustus lalu. Deklarasi ini dihadiri oleh Asisten bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sigi, Iskandar Nongtji, ST, MM. Hadir juga tim LPPM IPB University, Ketua SPR IPB University, Prof  Muladno, Dr Chusnul Choliq, MS, MM dan Danang Aria Nugroho, SE selaku Manager Program Pengabdian kepada Masyarakat IPB University.

     Wakil Kepala LPPM Bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Prof Sugeng Heri Suseno mengatakan bahwa deklarasi SPR di Anutapura merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang sangat penting dalam menumbuhkembangkan model peningkatan Sumberdaya Manusia (SDM) Peternakan melalui kegiatan SPR di Kabupaten Sigi. Menurutnya, IPB University siap melayani 24 jam untuk para peternak yang sudah dilantik menjadi anggota SPR.  
     
    “Harapannya peternakan yang tergabung dalam SPR dapat memelihara dan mengembangkan ternaknya menjadi ternak yang gemuk. IPB University mengucapkan terima kasih kepada Pemda Sigi, karena dengan adanya deklarasi SPR ini para peternak menjadi bagian dari keluarga IPB University,” ujarnya.
     
    Sementara itu, Iskandar Nongtji menyampaikan bahwa Pemda membina dan memfasilitasi peternak dengan memberikan bantuan ternak. Inovasi ini merupakan salah satu program terobosan pemerintah daerah yang bertujuan sebagai upaya pengentasan kemiskinan di sektor peternakan dimana sejak tahun 2017 telah memberikan Hibah Bansos ternak kepada kelompok-kelompok tani ternak sebanyak 1000 ekor ternak setiap tahun. Ternak yang diberikan terdiri dari ternak sapi sebanyak 500 ekor, kambing 300 ekor dan babi 200 ekor,” ujarnya.
     
    Harapannya, dengan kegiatan Deklarasi SPR ini dapat menjadi tonggak sejarah kebangkitan peternakan rakyat di Kabupaten Sigi. SPR Anutapura memiliki motto “Mosangu Kita Mombangun Kabelota Singgani”, sehingga peternak dapat manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu dan menyerap pengetahuan mengenai cara budidaya ternak dengan baik dari para pakar-pakar yang ahli di bidang pengolahan dan manajemen peternakan.

    Pada kesempatan tersebut Pemda Kabupaten Sigi menerima bantuan dana peduli bencana sebesar 50 juta rupiah dari LPPM IPB University (ipb.ac.id)

  • PENERAPAN ASPEK KESRAWAN PADA RANTAI PASOK SAPI POTONG

    Penanganan ternak dengan memperhatikan kesejahteraan hewan (kesrawan) akan menghasilkan kinerja yang efisien, aman bagi sapi dan operator, serta meningkatkan kualitas daging yang dihasilkan. Dengan demikian, penanganan hewan yang apik akan terwujud pula kesejahteraan hewan yang baik.

    Hal itu disampaikan Neny Santy Jelita dalam sebuah pelatihan daring yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB. Pelatihan berlangsung selama dua seri dan dilakukan selama dua hari waktu pelatihan, yakni pada 13-14 Mei 2020 dengan mengangkat topik “Penerapan Animal Welfare pada Rantai Pasok Sapi Potong”.

    Neny memaparkan, prinsip dasar kesrawan yakni ternak harus bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit dan cedera, bebas dari rasa takut dan tertekan, serta bebas untuk menampilkan perilaku alaminya.

    Saat berada di rumah penampungan, sapi harus diberikan penerangan yang baik agar operator bisa melakukan penanganan dengan optimal.

    “Kami terbiasa ke rumah pemotongan hewan (RPH) dan melihat perlunya edukasi dan bantuan penyediaan fasilitas yang memadai. Penanganan sapi di RPH ini merupaan fase akhir yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Stres pada saat pemotongan akan menyebabkan daging akan berwarna kehitaman, bukan merah,” kata Neny.

    Ia menambahkan, pada saat yang dijadwalkan di RPH juga harus seminimal mungkin, agar sapi tidak mengalami stres. Neny menyarankan supaya ternak harus segera disembelih secara cepat, baik menggunakan metode pembiusan ataupun tidak. Proses penyembelihan ini akan menentukan kualitas daging yang akan dibeli oleh konsumen.

    Neny pun mengingatkan bahwa dalam hal kesrawan pada peternakan sapi potong ini harus bisa diterapkan pada lima hal utama, yakni pada saat penanganan hewan ternak, transportasi, penanganan di feedlot, penerapan di RPH, serta pada saat penyembelihan dengan pemingsanan (majalahinfovet.com)
  • Penerapan Cara Penyembelihan yang Baik (GSP), Syarat Penting RPH Modern

    Good Slaughtering Practices (GSP) merupakan sebuah pedoman tertulis mengenai tata cara atau prosedur produksi pemotongan ternak yang baik, higienis dan halal. GSP merupakan menjadi syarat untuk mendapatkan sertifikasi nomor kontrol veteriner (NKV) agar keamanan daging yang dihasilkan dapat terjamin. Dalam Permentan nomor 13/2010, izin pendirian usaha rumah potong hewan (RPH) akan dicabut jika belum memiliki NKV pada jangka waktu yang ditentukan. RPH dikatakan sebagai RPH modern jika telah menerapkan standard GSP secara menyeluruh dan memiliki fasilitas yang memadai, serta minimal memiliki sertifikasi NKV diatas level 2.

    “Sehingga GSP merupakan prasyarat paling dasar dan wajib dilaksanakan dalam industri pemotongan hewan ternak (RPH),”kata Manager Produksi PT Cianjur Arta Makmur (Widodo Makmur Group) Mukhlas Agung Hidayat S,Pt dalam
    pelatihan online yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB. Acara yang berlangsung selama dua hari, yakni pada 13-14 Mei 2020 tersebut mengangkat tema tentang penerapan kesejahteraan hewan pada rantai pasok sapi potong.

    Mukhlas menjelaskan, penerapan GSP di RPH modern diaplikasikan pada proses pra pemotongan, pada saat pemotongan, dan pasca pemotongan. Sebelum dipotong, sapi ditempatkan pada kandang istirahat, lakukan pendataan sapi dan pengecekan kesesuaian sapi dengan dokumen, pengaturan sapi pada setiap pen kandang pengistirahatan, dan pengelompokan berdasarkan jenis dan waktu pemotongan. Lakukan juga, “Pengecekan kondisi dan kesehatan sapi, penentuan layak tidaknya sapi untuk dipotong, pemisahan sapi pada hospital pen jika ditemukan syarat-syarat tidak layaknya sapi dipotong,” papar Mukhlas.

    Adapun pada saat proses pemotongan sapi, dilakukan secara islami dan berdasarkan syarat-syarat pemotongan halal, yakni penyembelihan dengan memutus saluran makanan (mari’/esophagus), saluran pernafasan (hulqum/trakea), dan dua pembuluh darah (wadajain/vena jugularis dan arteri carotid).

    Setelah proses penyembelihan dijalankan, untuk meningkatkan kualitas daging, maka dilakukan proses penyimpanan karkas pada suhu 0°C – 4°C selama minimal 18 jam untuk menyempurnakan proses biokimia daging atau rigormortis (agropustaka.id)

  • Pentingnya Efisiensi Logistik Pakan

    Produksi jagung untuk pakan di Indonesia telah meningkat secara nyata dalam kurun 25 tahun terakhir. Pada 1993 produksi jagung hanya 6,36 juta ton, pada 2018 tercatat produksinya telah mencapai 30,06 juta ton. Produksi sebanyak itu secara relatif telah terjadi pergeseran wilayah produksi, dimana pada 1993 Pulau Jawa berkontribusi 62% terhadap total produksi jagung, dan pada 2018 menurun menjadi 41%. Hal itu merupakan dampak dari pengembangan sentra produksi jagung baru, terutama di lahan areal di luar Pulau Jawa.

    Hal itu disampaikan oleh Diner Y.E Saragih, Kasubdit Bahan Pakan, Direktorat Pakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam sebuah pelatihan tentang manajemen logistik pakan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Kampus IPB Darmaga, Kabupaten Bogor, pada 26-27 Maret 2019. Diner menambahkan, pada sisi lain, pabrik pakan sebagai pengguna jagung ternyata masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal itu membawa konsekuensi perlunya penerapan secara ketat manajemen logistik yang baik untuk dapat meningkatkan efisiensi produksi pakan, sehingga memiliki daya saing yang baik di pasar.

    Dalam hal logistik ini, efisiensinya diukur dengan logistics performance index (LPI), dimana untuk wilayah Asean, Indonesia menempati peringkat 5 di bawah Singapura, Thailand, Vietnam dan Malaysia. Diner menjelaskan, LPI merupakan indeks kinerja logistik negara-negara di dunia yang dirilis oleh Bank Dunia setiap dua tahun sekali. Saat ini terdapat 160 negara yang masuk dalam penilaian tersebut.

    Untuk dapat meningkatkan performa sistem logistik nasional, perlu dilakukan pembenahan dalam hal efisiensi bea cukai, kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi, kemudahan pengaturan pengiriman internasional dengan harga bersaing, peningkatan kompetensi dan kualitas jasa logistik, serta frekuensi pengiriman yang tepat waktu. (poultryindonesia.com)

  • Penyesuaian Baru Rumah Potong Hewan Ternak (RPH) Unggas di Era New Normal

    Hingga saat ini vaksin COVID-19 belum ditemukan. Kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat harus mengalami perubahan selama masa pandemi. Penyebaran virus ini sangat cepat bahkan berdasarkan hasil penelitian, virus ini mampu bertahan pada permukaan benda selama waktu tertentu. Hal ini membuat banyak perusahaan meningkatkan standar sistem manajemen mutunya.

    “Hingga kini vaksin belum ditemukan sehingga kita harus hidup berdampingan dengan virus. Perusahaan pangan khususnya peternakan kami merespon dengan membuat penyesuaian baru. Ada risiko virus ini mampu menular melalui kontak dengan permukaan yang terkontaminasi,” ungkap Alamsyah, Deputi General Manager (DGM) Production, PT Charoen Pokphand Indonesia.

    Alamsyah menyampaiakan hal ini saat menjadi pemateri dalam kegiatan pelatihan online Sistem Manajemen Ternak Unggas, (23/7). Pelatihan daring ini diadakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) bekerja sama dengan Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University. Kegiatan yang digelar melalui aplikasi zoom ini mengambil tema “Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu Rumah Potong Hewan Unggas”.

    Alamsyah mengungkapkan selama masa pandemi, ada protokol khusus penangan COVID-19 di perusahaan. Salah satunya adalah membuat tim gugus tugas covid di setiap level karyawan. Selain itu ada penyesuaian lainnya seperti pengukuran jarak antar karyawan harus lebih dari satu meter. Lalu dipersiapkan dokter dan ambulan yang siap siaga di perusahaan.

    “Penyemprotan disinfektan dilakukan setiap 30 menit sekali dan seluruh karyawan diwajibkan memakai masker yang berbeda di area produksi dan luar produksi. Bahkan karyawan yang ketahuan tidak memakai masker di luar area kerja akan mendapatkan teguran hingga sanksi. Sistem manajemen yang ketat ini untuk mencegah penularan virus,” ungkap Alamsyah.

    Pelatihan daring ini mengajak peserta untuk mengetahui perubahan sistem manajemen perusahan Rumah Potong Hewan (RPH) Unggas selama masa pandemi. Peserta juga diajak untuk mempelajari persyaratan, standar mutu, hingga praktik pengelolaan ayam hingga siap dijual kepada konsumen. Bahkan peserta juga diajarkan strategi mengelola pemotongan ayam untuk skala ekspor.

    “Era new normal membuat banyak sekali perbedaan. Perusahaan pangan harus tegas dalam penanganan COVID-19. Hal ini untuk menjaga kesehatan dan mencegah penularan virus,” tutup Alamsyah (ipb.ac.id)

  • Perlu Upaya Ekstra untuk Memanfaatkan Limbah Pertanian sebagai Pakan Ternak

    Berdasarkan hasil penelitian Prof. Erika B Laconi, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan tim, limbah pertanian dan perkebunan memiliki faktor pembatas jika dijadikan sebagai pakan ternak. Yaitu komponen lignoselulosa yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan ruminansia dan menyebabkan produktivitas hewan rendah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan teknik pengolahan tertentu pada limbah untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan pada gilirannya akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas hewan. Teknik pengolahan untuk limbah pertanian dan perkebunan sendiri terdiri dari teknik fisik, kimia dan biologi. 

    Salah satu riset mahasiswa program doktoral IPB, Sari Putri Dewi, berjudul Increasing the Quality of Agricultural and Plantation Residues Using Combination of Fiber Cracking Technology and Urea for Ruminant Feeds ini terungkap bahwa teknologi yang bernama Fiber Cracking Technology (FCT) mampu menurunkan fraksi serat dan meningkatkan kecernaan pada ternak ruminansia. 

    Menurut lulusan Terbaik Doktor pada wisuda Januari 2019 ini, penurunan fraksi serat ditunjukkan dari kerusakan ikatan lignoselulosa jelas terbukti pada metode Scanning Electron Microscopy (SEM), X-Ray Difraction (XRD) dan metode spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR). 

    Sari dan tim pembimbing yang terdiri dari Dr. Anuraga  Jayanegara,  Dr. M. Ridla, Prof. Erika B Laconi ini membuat inovasi baru berupa teknologi FCT. Alat ini berguna untuk memecah serat pada bahan berserat tinggi yang biasanya terdapat dalam produk hasil ikutan pertanian dan perkebunan. Seperti jerami padi, pelepah sawit, tandan kosong sawit, kulit buah kakao, kulit kopi, jerami jagung klobot jagung, tongkol jagung, pucuk tebu dan ampas tebu. 

    “Eksperimen ini bertujuan untuk mengevaluasi efek teknologi FCT dan penambahan urea pada nilai gizi jerami padi, daun kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit, kakao dan sekam kopi,” ujarnya. 

    Dalam penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa kombinasi antara suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea telah terbukti meningkatkan nilai gizi jerami padi dan tandan kosong kelapa sawit. Urea lebih disukai daripada amonia karena aman, mudah digunakan dan mudah diperoleh. 

    “Eksperimen ini adalah kelanjutan dari studi sebelumnya untuk menjelaskan mekanisme lebih dalam mengenai peningkatan nilai gizi limbah pertanian dan perkebunan menggunakan kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea. Berdasarkan hasil penelitian dalam disertasi saya, saya yakin inovasi ini akan berguna bagi masyarakat bahwa hasil ikutan (by-product) pertanian dan perkebunan dapat digunakan sebagai pakan alternatif bagi ternak ruminansia,” imbuhnya. (ipb.ac.id)

  • Peternak Itik di Jatim Dibantu Lepas dari Ketergantungan Pakan oleh Tengkulak

    Prof Sumiati dari Fakultas Peternakan IPB University menjelaskan bahwa permasalahan yang dihadapi peternak itik di Desa Ringinanyar Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, Jawa Timur yaitu peternak masih tergantung pakan dari tengkulak yang selama ini beredar. Mereka terikat kontrak dengan tengkulak yakni peternak diberikan pakan oleh tengkulak kemudian telurnya dibeli lagi oleh tengkulak. Akibatnya peternak tidak dapat berdikari, kemerdekaan peternak direnggut oleh tengkulak.

    Menjawab permasalahan tersebut, pihaknya melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University melakukan penyuluhan pembuatan ransum suplementasi maggot untuk pakan itik petelur di Balai Desa Ringinanyar Kecamatan Ponggok. Dengan penyuluhan yang dilakukan kepada peternak, dirinya berharap peternak tidak tergantung lagi dengan pakan dari tengkulak. Telurnya juga bisa dimanfaatkan menjadi tepung telur sehingga mendapatkan nilai lebih dalam produk telur.

    “Pakan yang digunakan adalah pakan dengan suplementasi maggot. Selain protein maggot yang tinggi, maggot juga bermanfaat untuk mengurangi sampah rumah tangga. Media yang digunakan dalam budidaya maggot di desa ini adalah sampah rumah tangga. Pakan sudah diujikan ke salah satu peternak di Desa Ringinanyar dan didapatkan hasil telur yang produksinya stabil bahkan cenderung naik dibandingkan dengan pakan dari tengkulak. Bobot telur yang dihasilkan juga sama dengan pakan dari tengkulak. Artinya pakan ini telah berhasil untuk diproduksi secara massal dan dapat digunakan di Desa Ringinanyar,” ujarnnya.

    Sementara itu, Dr Prayoga menjelaskan mengenai produk pertanian seperti cabai yang merupakan salah satu komoditas pertanian masyarakat Desa Ringinanyar. Pemanfaatan cabai yang masih kurang menjadi salah satu permasalahan masyarakat Desa Ringinanyar.

    Permasalahan ini dapat diatasi dengan cara mendirikan koperasi cabai. Koperasi berperan sebagai jembatan penghubung antara petani dengan pembeli. Sehingga harga cabai lebih stabil dibandingkan dengan sebelumnya.

    “Selain itu, warga juga bisa membuat produk olahan seperti tepung cabai dan bumbu instan. Tepung cabai dapat diproduksi dengan melewati beberapa tahapan antara lain penyortiran, pencucian, pengeringan, pengilingan, penyaringan dan pengemasan. Sedangkan bumbu instan diproduksi dengan cara cabai dilakukan penyortiran, pembersihan, penghancuran, penambahan gula, dipanaskan dalam wajan sampai terbentuk kristan. Selanjutnya disaring dan dikemas,” tuturnya.

    Ia menambahkan untuk bidang peternakan, menurutnya telur dapat diolah menjadi tepung telur. Tepung telur diproduksi secara mengunakan spray dryer atau dengan oven. Tepung telur dapat diolah menjadi brownis, donat, mie, spagheti dan lain-lain.
     
    Sementara itu, Kepala Desa Ringinayar, H Supangat menyampaikan bahwa Desa Ringinanyar mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Yang mendominasi adalah pertanian cabai, peternakan bebek dan sapi. Berdasarkan potensi sumber daya yang ada di Desa Ringinanyar, desa ini mampu bersaing dengan desa lain, bahkan desa ini tergolong lebih maju daripada desa di sekitarnya.

    “Harapannya ke depan masyarakat bisa menerapkan ilmu yang telah diberikan oleh IPB University kepada warga kami, sehingga potensi di desa bisa dimaksimalkan dan tentunya bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat,” tuturnya.

    Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Kabupaten Blitar, Drh Adi Andaka menyampaikan bahwa kedatangan IPB University di desa Ringinanyar diharapkan mampu menjawab permasalahan yang sedang dihadapi terutama dalam bidang peternakan. Khususnya pakan dan bidang pertanian khususnya pengolahan paska panen. Dengan demikian Desa Ringinanyar menjadi desa yang mandiri. (new.trubus.id)

  • Potensi Besar Maggot dalam Formulasi Ransum Pakan Unggas

    Indonesia menghasilkan limbah makanan dengan jumlah melimpah yang perlu dikelola dengan baik. Limbah makanan ini dapat dimanfaatkan sebagai media tumbuh maggot dalam proses biokonversi sampah organik menjadi bahan kaya protein.

    Maggot yang merupakan larva dari serangga Hermetia illucens atau dikenal dengan black soldier fly (BSF), sudah banyak dibudidayakan di berbagai negara seperti di Jerman, Belanda dan China untuk menghasilkan sumber protein.

    Biokonversi tersebut di Indonesia diharapkan dapat bersinergi dengan masalah lingkungan melalui pengelolaan limbah organik menjadi bahan pakan alternatif pengganti tepung ikan dan MBM yang lebih murah dan berkelanjutan. Hal itu mengemuka dalam sebuah online seminaryang diselenggarakan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI), Kamis (9/7/2020).

    Kegiatan seminar yang keempat kalinya ini menghadirkan narasumber penting di bidangnya, yakni CEO Biomagg Aminudi, Guru Besar Fapet IPB Prof Dr Dewi A. Astuti dan Prof Dr Sumiati, Dosen FPIK IPB Dr Ichsan Achmad Fauizi dan Ketua umum GPMT Desianto Budi Utomo. Seminar dipandu Dekan Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako Palu Prof Ir Burhanudin Sundu MScAg PhD.

    Dalam acara tersebut, Sumiati memaparkan tentang berbagai manfaat budi daya maggot, antara lain mampu mengonversi biomassa berbagai material limbah organik seperti kotoran hewan, limbah organik perkotaan, kotoran manusia segar, maupun limbah sayuran pasar.

    Manfaat berikutnya maggot dapat mereduksi bau potensial limbah sekitar 50-60%, sehingga dapat mereduksi polusi, bakteri patogen, bau dan populasi lalat rumah dengan mengurangi kesempatan lalat rumah untuk oviposisi.

    Maggot juga bisa menjadi sumber nutrien karena memiliki kandungan nutrien yang tinggi (protein, asam amino, lemak, mineral) sebagai pakan ternak,” kata Sumiati.

    Ia menunjukkan beberapa penelitian tentang penggunaan maggot dalam ransum unggas. “Penggunaan maggot sampai 15% sebagai pengganti soya bean meal dan soya bean oil tidak berefek negatif terhadap digestibility, performa produksi, kualitas karkas dan daging puyuh,” jelasnya.

    Penelitian lain juga menunjukkan, pemberian maggot pada ayam petelur dapat mengangkat kualitas telur dan menurunkan angka konversi pakan. 

    “Substitusi tepung kedelai secara sebagian atau menyeluruh dengan tepung maggot tidak mempengaruhi asupan pakan, performa produksi, bobot telur dan efisiensi pakan,” kata Sumiati mengutip sebuah hasil penelitian tentang maggot pada ayam petelur. Dengan demikian, maggot memiliki potensi untuk digunakan sebagai sumber protein alternatif pada hewan unggas petelur. (majalahinfovet.com)

  • Potensi Ulat Hongkong sebagai Sumber Bahan Pakan

    Lahan pertanian padi di Indonesia mencatat ada 500 spesies serangga yang bermanfaat dan 130 spesies hama, dan ada sekitar 97% serangga yang bermanfaat dan kurang dari 1% merugikan. Salah satu serangga yang berpotensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai bisnis adalah ulat hongkong atau meal worm.

    Dosen Fakultas Peternakan IPB Dr. Yuni Cahya Endrawati, S.Pt., M.Si dalam sebuah pelatihan online tentang satwa harapan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB pada 27 Juni 2020 lalu menjelaskan tentang kandungan nutrisi pada ulat hongkong. Pelatihan juga menghadirkan pula narasumber penting lainnya yakni Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Dr. Asnasth M Fuah, MS, dan Founder PT Sugeng Jaya Group Koes Hendra Agus Setiawa, S.Pt.

    Yuni menguraikan, pada ulat hongkong segar, terkandung 20% protein, 13% lemak, 2% serat, and 62% KA. Adapun jika dalam kondisi kering, mengandung 53% protein, 28% lemak, 6% serat, and 5% KA;47,2-60,3% protein, 31,1-43,1% lemak, 7,4-15% serat, 1-4,5% abu. Asam lemak utama yang terdapat pada ulat hongkong yakni linolenic acid (19.7%), palmitic acid (17.6%), linoleic acid (16.3%), and stearic acid (11.4%).

    Mengutip berbagai hasil penelitian, Yuni menjelaskan ulat hongkong sangat bagus sebagai sumber protein pakan ikan dan hewan peliharaan, dapat menggantikan tepung ikan pada pakan anak ikan, dan autorisasi untuk pakan ikan. Penelitian lain juga menunjukkan, ulat hongkong dapat diberikan sebagai pakan ayam, dan tidak ada dampak negatif. “Penggantian sampai dengan 50% tepung ikan pada pakan tidak menurunkan performa ikan,” kata Yuni Cahya Indrawati (agropustaka.id)

Tips & Kegiatan Selama WFH