News

Fakultas Peternakan telah membuka Program Studi strata satu (S1) baru, yaitu Program Studi Teknologi Hasil Ternak (PS-THT). Program Studi ini diasuh oleh Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), dimana bidang keilmuannya ini meliputi : teknik pengolahan dan rekayasa produk hewan ( makanan : daging , susu telur & madu), pengolahan hasil ikutan ( wol, kulit, tulang, dll ), sifat fungsional dari produk hewani & pengelolaan limbah.

Program Studi Teknologi Hasil Ternak pada saat ini merupakan satu satunya program studi strata satu (S1) di bidang pengolahan hasil ternak di Indonesia, menjadikan PS-THT menjadi pilihan yang tepat menuju sukses di bidang pengolahan hasil ternak. Pada tahun 2016 ini, PS-THT hanya menerima pendaftaran dari jalur Ujian Talenta mandiri IPB (UTM) dengan daya tampung sebanyak 40 orang mahasiswa.

Pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui alamat  http://admisi.ipb.ac.id/p/single/utm. Syarat peserta adalah : lulusan SMA/MA IPA tahun 2014-2016, sehat jasmani dan rohani. Pendaftaran dapat dilakukan mulai 11 Mei - 9 Juni 2016. Ujian tertulis dengan materi ujian: Biologi, Fisika, matematika, Bahasa Inggris dan Tes Talenta , dilakukan pada tanggal 18 Juni 2016, dan pengumuman kelulusan pada tanggal 29 Juni 2016.

Pada tahun 2017, Program ini membuka jalur masuk melalui SNMPTN, SMBPTN, UTMI, Beasiswa Unggulan Daerah (BUD), Prestasi Internasional_Nasional, dengan daya tampung 100 orang mahasiswa. untuk mendapatkan informasi mengenai semua jalur masuk tersebut, dapat mengakses alamat http://admisi.ipb.ac.id.

Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendetail, dapat menghubungi Departemen Imu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan IPB, Jalan Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor,telp. dan fax.  0251-8628379, email departemeniptp@gmail.com dan situs web http://iptp.fapet.ipb.ac.id

Hasil penelitian Dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Anuraga Jayanegara menunjukkan, manipulasi pakan ternak dapat mengurangi emisi gas metana (CH4). Ia mengatakan, manipulasi pakan dengan mencampurkan tanin pakan adalah salah satu cara mitigasi untuk mengatasi perubahan iklim yang disebabkan efek gas rumah kaca. "Gas metana dari ternak ruminansia juga menjadi salah satu penyebab efek gas rumah kaca," kata Anuraga seperti dikutip dari laman Republika, Senin, (09/05).

Menurutnya, ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing dan domba turut berperan dalam peningkatan emisi gas rumah kaca di atmosfer.  Tipikal emisi gas rumah kaca berasal dari kontribusi ruminansia berdampak pada pemanasan global. Gas metana dihasilkan selama proses fermentasi pakan berserat di dalam rumen dan dikeluarkan ke lingkungan melalui ekskresi. Akibatnya lingkungan semakin tercemar karena meningkatnya gas metana di udara.

"Hasil penelitian membuktikan pemanfaatan bahan pakan lokal yang mengandung tanin sebagai alternatif penurunan produksi gas metana," tutur Kepala Sub Bidang Pengembangan Karir Mahasiswa Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni IPB ini. Tanin, lanjutnya, adalah senyawa metabolit sekunder tanaman atau pilfenol yang banyak terdapat pada hiajuan pakan ternak, bersifat antinutrisi dan dapat menyebabkan keracunan apabila dikonsumsi ternak secara berlebihan. "Tanin dapat mengurangi produk gas metana saat proses pencernaan berlangsung, karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri metanogen yang memproduksi gas metana," katanya. Ia mengatakan, jenis tanaman yang banyak mengandung tanin misalnya tanaman leguminosa atau kacang-kacangan. Caranya dengan mengekstrak tanaman tersebut, lalu diambil taninnya dan dijadikan pakan adiktif. Ia menambahkan, ada dua cara mengetahui penurunan kandungan gas metana yang dihasilkan ternak ruminansia, yakni melalui pengukuran gas metana dari hasil pertukaran gas yang terjadi saat ternak ruminansia dimasukkan ke dalam respiratory chamber. "Dan cara kedua melalui simulasi in vitro yakni dengan mensimulasikan rumen rumenansia kemudian dimasukkan pakan yang mengandung tanin dan cairan rumen, lalu diukur produksi gas yang terjadi," kata pengajar berprestasi dari Fakultas Peternakan IPB ini. (alumniipb.org)