News

Himpunan Mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (HIMAPROTER) Fakultas Peternakan IPB bekerja sama dengan LPPM IPB dan HIPPAPI BOGOR RAYA menggelar Kontes Ayam Pelung Nasional 2016, pada hari Minggu, 18 SEPTEMBER 2016 di Lapangan Kampus IPB Baranangsiang. Kontes ayam pelung nasional yang memperebutkan Piala Bergilir Kementrian Pertanian ini, membuka kategori SUARA (20 juara), Kategori PENAMPILAN (3 juara), dan Kategori BOBOT BADAN (3 juara).

Acara yang sudah menjadi tradisi tahunan sejak tahun 1990-an itu diikuti oleh sekitar 250 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Terlihat para ayam-ayam tersebut tampil gagah dengan postur tubuh ayam yang tegap serta kaki-kaki yang kuat. Bukan hanya itu, suara panjang melengking para peserta ayam pelung itu pun ikut meramaikan suasana kompetisi.

Ketua Pelaksana, Achmad Gitaraka mengatakan bahwa ayam pelung merupakan ayam asli Indonesia yang harus dilestarikan. "Ayam pelung ini kan ayam asli Indonesia, dengan adanya festival ini kita bisa terus memberikan informasi bahwa ayam pelung asli Indonesia ini masih ada dan banyak diminati," jelasnya, yang disitir dari  TribunnewsBogor.com.

Seperti halnya burung perkutut atau burung kicauan lainnya, ayam jago pelung juga dikonteskan yang menitik beratkan kepada alunan suaranya, dan sekarang ini hampir semua aspek sudah mendapat penilaian dalam suatu kontes : kontes suara khusus untuk jago ayam pelung, kontes penampilan, bobot badan dan juga untuk Pelung betina yang meliputi lomba lokal, nasional maupun internasional yang telah diagendakan secara terorganisir pada setiap tahunnya.

 

 

Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) menggelar pertemuan membahas tentang penguatan lembaga peternakan, yang berlangsung di di IPB International Convention Center, Bogor, (Kamis, 15/09/2016).

Disitir dari Antarabogor.com, Sekjen FPPTPI dari Universitas Brawijaya Prof Suyudi, MS mengatakan, perampingan lembaga peternakan yang dilakukan sejumlah daerah akan mengancam sektor peternakan serta ketersediaan protein hewani.   "Dampak dari perampingan tersebut, peternakan tidak ada yang mengurusi. Jika peternakan dalam menurun, sementara kebutuhan protein tinggi, yang terjadi adalah impor," katanya.  Ia menjelaskan, peternakan Indonesia saat ini menghadapi ancaman yang datang dari internal maupun eksternal. Sehingga rencana perampingan lembaga peternakan menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun kelembagaan yang lebih cocok.  "Ini yang mendasari kami melakukan pertemuan FPPTPI ini, menyusun kerangka yang cocok untuk lembaga peternakan, agar sektor ini tidak dikecilkan," katanya.  Menurutnya, ancaman yang tengah dihadapi sektor peternakan yakni dari dalam berasal dari rendahnya sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya peternakan, dan kelembagaan.   "Sedangkan disisi lain perguruan tinggi semakin berkembang pesat, level mahasiswa peternakan di sejumlah perguruan tinggi sudah sejajar dengan mahasiswa asing, jika belum dikoneksikan dengan masyarakat dan pemeirntah, akan kehilangan potensi pengembangan sektor peternakan," katanya.  Ancaman dari eksternal, lanjutnya adanya perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi Asean, akan menjadi alasan bagi pemasok ternak untuk mendistribusikan produksinya.  "Pedagang ternak luar negeri paling tertarik dengan peternak di Indonesia, mereka sudah mulai masuk, apalagi kita ini pasar yang menjanjikan dengan 250 juta penduduk," katanya. 

Dekan Fakultas Peternakan IPB Moh Yamin, mengatakan, pertemuan Dekan Fapet se-Indonesia dilatarbelakangi dengan lahirnya kebijakan pemerintah untuk melakukan efisiensi lembaga peternakan.  "Padahal peternakan saat ini sedang bergerak maju, perannya semakin besar, tapi lembaganya dikecilkan," katanya.  Melalui forum tersebut, lanjutnya, mencoba menyuarakan penguatan lembaga peternakan dalam menghadapi kebijakan pemerintah dengan menyaring berbagai masukan, serta melakukan kajian akademik untuk mencari solusinya. "Kami memiliki pandangan, jika lembaga peternakan dikecilkan, jadi tidak fokus pekerjaannya. Sementara di level bawah, pembinaan, penyuluhan kepada peternakan di lapangan sudah tidak ada lagi," katanya.

Pada kesempatan itu pula, dilakukan launching/pelantikan PERSEPSI (Perhimpunan Ilmuwan Sosial Ekonomi Peternakan) Bogor, yang dilakukan oleh ketua PERSEPSI Nasional (Dr. Budi Guntoro).  Dr. Budi melantik Dr.Ir. Mulatsih, sebagai ketua,  Dr.Ir .Burhanuddin , MM - sebagai wakil dan Dr.Ir Ahyar Ismail sebagai Bendahara PERSEPSI Bogor.

Acara ditutup pada pukul 15:00, didahului oleh Wrap up meeting pengesahan Naskah akademik dan Rekomendasi Hasil Workshop tentang Usulan Kemandirian Dinas Peternakan.