News

Mendengar nama Dalmatian tentunya kita akan membayangkan anjing dengan perawakan atletis dan warna yang sangat unik yaitu putih totol hitam atau merah hati. Popularitas anjing Dalmatian semakin memuncak ketika Walt Disney merilis film 101 Dalmatians pada tahun 1985 dengan bumbu alur cerita petualangan yang dramatis.

Menurut Prof Ronny Rachman Noor, MRur.Sc, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, jika ditelusuri asal usulnya, ternyata anjing Dalmatian tergolong jenis anjing purba. Pada tahun 3.700 BC atau sekitar 5.721 tahun yang lalu, Raja Mesir kuno bernama Cheops yang dikenal dengan raja pembangun piramida diduga memiliki anjing Dalmatian. Sejarah juga mencatat bahwa Raja Yunani kuno memiliki anjing Dalmatian dengan warna totol hitam dan coklat yang digunakan untuk berburu babi liar.

“Di era modern yakni abad ke-16, ada sebuah puisi dari Serbia yang mengambarkan keberadaan anjing Dalmatian. Pada abad ini, anjing Dalmatian digunakan sebagai penjaga kuda dan pemiliknya karena posturnya yang sangat atletis dan memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa,” lanjut Prof Ronny.

Asal mula nama Dalmatian memang masih banyak diperdebatkan namun banyak yang sepakat bahwa nama ini berasal dari salah satu propinsi di Kroasia yaitu Dalmatia. Pola warna Dalmatian yang sangat unik telah lama menarik perhatian para ahli genetik untuk menguak misteri bagaimana warna dan pola warna ini dapat terjadi dan diwariskan pada keturunannya.

“Misteri pewarisan warna ini sedikit demi sedikit mulai terkuak ketika ahli genetik menemukan bahwa pola warna Dalmatian ini dihasilkan oleh tiga gen utama, yakni Piebald, Ticking dan Flecking, yang berinteraksi satu dengan lainnya,” ujar Prof Ronny.

Prof Ronny menambahkan bahwa berdasarkan hasil penelitian, lokus TYRP1 yang berada di kromosom 11 ternyata bertanggung jawab terhadap kemunculan variasi warna totol hitam atau merah hati yang merupakan ciri khas pola warna anjing Dalmatian. Lokus TYRP1 ini berfungsi untuk mengontrol produksi eumelanin yang dalam keadaan dominan akan menghasilkan eumelanin hitam dan dalam keadaan resesif akan menghasilkan warna eumelanin coklat.

“Gen lain yang juga terlibat dalam penentuan warna anjing Dalmatian adalah gen MC1R (melanocortin 1 receptor) yang jika berinteraksi dengan lokus Agouti akan menghasilkan warna phaeomelanin atau eumelanin yang menghasilkan warna merah hati,” tambah Prof Ronny.

Di sisi lain, Prof Ronny mengungkapkan bahwa anjing Dalmatian rentan terhadap ketulian. Data menunjukkan bahwa sekitar 17,8 persen anjing ini mengalami ketulian. Kejadian tuli pada anjing Dalmatian ini bisa terjadi pada satu telinga saja atau terjadi pada kedua telinganya.

Terlepas dari kelemahannya ini, lanjutnya, anjing Dalmatian dikenal sebagai anjing yang sangat energik, suka bermain, dan sensitif, serta sangat setia pada pemiliknya dan sangat bersahabat dengan anak anak. Anjing tipe ini juga dikenal  cerdas, sehingga dapat dilatih dengan baik dan menjadi anjing penjaga yang baik.

“Anjing Dalmatian juga dikenal memiliki ingatan yang sangat kuat sehingga jika diperlakukan dengan buruk akan diingatnya sampai puluhan tahun. Dengan harapan usianya yang mencapai 12-14 tahun, keunikan anjing Dalmatian ini semakin menarik hati banyak orang untuk memeliharanya,” pungkas Prof Ronny (ipb.ac.id)

Rombongan pimpinan dari Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University mengunjungi PT Biocycle Indo, Kampar Riau, beberapa waktu lalu. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kerjasama antara Fapet IPB University dengan PT Biocycle Indo tentang Pakan Fungsional Berbasis Black Soldier Fly (BSF).

Kerjasama ini menghasikan produk-produk pakan, menjadi lokasi magang mahasiswa yang melakukan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan program kerjasama dosen dengan industry. Puncaknya adalah serah terima dan launching produk berbasis BSF. 

Rombongan IPB University dipimpin Wakil Rektor bidang Inovasi dan Bisnis sekaligus Kepala Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi (LKST) Prof Erika B Laconi. Ada juga Dekan Fakultas Peternakan Dr Idat Galih Permana MSc dan Wakil Dekan bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Dr Sri Suharti MSi. 
Tim Matching Fund Kedaireka 2021, Prof Dewi Apri Astuti, Prof Asep Sudarman, Dr Lilis Khatijah, Dr Didid Diapari dan 5 dari 22 orang mahasiswa bacth 1 yang akan menjalankan program MBKM juga ikut serta dalam kunjungan ini. 

“Pada kunjungan ini, kami melihat produk-produk hasil kerjasama matching fund dan produk dari PT Biocycle. Kami juga diajak berkeliling pabrik untuk melihat proses budidaya maggot, seperti breeding, produksi maggot, dan pengolahan produk BSF,” ujar Prof Erika.

Menurutnya, maggot merupakan bahan pakan alternatif yang kaya akan protein dan minyak serta dapat untuk meningkatkan produksi ternak. "Adapun produk berbasis BSF yang dihasilkan dari kerjasama ini adalah milk replacer, creep feed, pakan udang, pakan kaya energi, probiotik,” imbuhnya.
Ia menambahkan, dari kerjasama ini, 22 mahasiswa Fakultas Peternakan yang mengikuti program MBKM. Kerjasama riset juga terus dilanjutkan sekaligus menindaklanjuti produk skala industri.

“Ada seorang alumni Fapet (lulusan baru) yang telah diterima sebagai pegawai tetap di PT Biocycle Indo,” tuturnya.
Melalui visitasi ini, lanjutnya, diharapkan kerjasama dapat terus dilanjutkan terutama dalam komersialisasi produk-produk berbasis BSF. Prof Erika juga berharap PT Biocycle menjadi mitra tetap Fakultas Peternakan IPB University sebagai lokasi magang mahasiswa (ipb.ac.id)