Latest

Bogor - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan budidaya telur semut rangrang (kroto) bernilai tinggi. Petani bisa mendapat laba bersih hingga 50 persen dengan harga jual berkisar dari Rp 30.000 - Rp 50.000.


Mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB Abdul Rachman menerangkan, bahan yang digunakan yaitu bibit semut rangrang penghasil kroto sebanyak 10 koloni (5 kilogram). Adapun dua jenis pakan yang dipakai adalah cacing tanah dan tulang sapi serta air gula. Ketiganya diberikan secara rutin sebagai sumber energi semut rangrang.

"Setelah 100 hari, kita dapat memanen setiap hari sekitar 3 kilogram kroto dan bisa dijual Rp 30.000 per kilo. Dan, budidaya semut rangrang tersebut relatif mudah serta tidak menyita waktu banyak," kata Abdul di Bogor, Rabu (13/8).

Kroto adalah nama yang diberikan orang Jawa untuk campuran larva dan pupa semut penganyam Asia (terutama Oecophylla smaragdina). Campuran ini terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena larva semut populer sebagai umpan ikan, dan juga sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung berkicau.

Budidaya semut rangrang penghasil kroto masih jarang dilakukan masyarakat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kurangnya penelitian dan pengetahuan mengenai pengembangbiakkan semut rangrang.(Sumber:Jakarta Globe)

Setelah sejak tahun 2002 tiga kali berturut-turut memperoleh akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), kedua Program Studi Sarjana (S1) yang ada di Fakultas Peternakan IPB, yaitu Program Studi Nutrisi dan Teknologi Pakan (NTP) dan Program Studi Teknologi Produksi Ternak (TPT) memperoleh pengakuan akreditasi internasional dari AUN-QA (ASEAN University Network – Quality Assurance). Keberhasilan yang membanggakan dari dua program studi ini menunjukan bahwa kualitas program studi di Fakultas Peternakan IPB memiliki standar ASEAN.

ASEAN University Network adalah organisasi ASEAN yang bermarkas di Thailand bertujuan untuk melakukan penjaminan mutu program studi yang menjadi anggota AUN. Dengan demikian program penjaminan mutu ini bersifat regional ASEAN. Penjaminan mutu yang dilakukan AUN dilakukan secara sistematis, terstruktur, dan berkesinambungan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas.

Penilaian dari AUN-QA terdiri dari 15 kriteria, yaitu: Expected Learning Outcome, Program Specification, Program Structure and Content, Teaching and Learning Strategy, Student Assesment, Academic Staff Quality, Support Staff Quality, Student Quality, Student Advice and Support, Facilities and Infrastructure, Quality Assurance of Teaching and Learning Process, Staff Development Activities, Stakeholders Feedback, Output, dan Stakeholders Satisfaction.[int/igp]