IPBSDG4

  • 58 Mahasiswa Fapet KKNT di Kabupaten Brebes

     Sebanyak 58 mahasiswa Fakultas Peternakan IPB melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. KKN yang dimulai pada tanggal 17 Juli hingga 29 juli 2019 tersebut dilakukan di  enam Desa  se-Kecamatan Ketanggungan. Yakni Desa Karangbandung, Buara, Kubangsari, Ciseureuh Lor dan Cikeusal Kidul.

    Rombongan  KKN Mahasiswa Fapet IPB tersebut diterima oleh Wakil Bupati Brebes Narjo, SH, MH di Aula Balai Desa Karangbandung, Kecamatan Ketanggungan, Selasa (18/6). Turut hadir dalam penerimaan KKN Mahasiswa tersebut, Perwakilan Baperlitbangda  Kabupaten Brebes, Perwakilan Kepala SKPD Dilingkungan Pemerintah Kabupaten Brebes dan Kepala Desa lokasi tempat KKN.

    Dalam sambutannya, Narjo mengatakan, kemampuan menguasai teori selama menempuh pendidikan di kampus sangat penting karena menjadikan mahasiswa tampil sebagai sosok intelektual. Namun, menguasai praktek dilapangan jauh lebih penting, karena kadang teori dan praktek jauh berbeda dan perbedaan itu, bisa mencapai 180 derajat.

    “Teori yang kita dapatkan di Kampus, ketika terjun di masyarakat terdapat perbedaan dan itu yang menjadikan kita untuk terus berfikir dalam menjawab tantangan dari disiplin ilmu yang kita pelajar,” ujar Narjo. Narjo Menyebutkan bahwa dengan satu harapan ketika kenyataan lebih buruk dari teori maka Mahasiswa harus dapat mengarahkan masyarakat agar menjalankan sesuai teori yang ada. Namun demikian, jika ternyata kondisi yang ada jauh lebih baik dan lebih bermanfaat dari teorinya, maka mahasiswa dapat menarik kesimpulan tentang definisi baru dari sebuah teori yang ada tersebut.
     
    Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fapet IPB, Prof. Sumiati mengucapkan Banyak terima kasih kepada Kabupaten Brebes yang selalu menyambut baik Mahasiswanya yang melakukan KKN di Brebes. “Jalinan kerja sama ini, jangan sampai putus dan akan terus berlanjut kerja samanya di berbagai bidang” lanjutnya. 
  • Dosen IPB University: Prospek Bisnis Cacing Tanah untuk Bahan Baku Obat Sangat Cerah

    Bagi sebagian orang, cacing tanah identik dengan hewan menjijikkan. Namun, faktanya tak sedikit masyarakat yang membudidayakan cacing tanah sebagai mata pencahariannya. Meskipun menjijikkan, ternyata cacing tanah memiliki nilai ekonomi dan dapat dijadikan sebagai bahan baku obat medis.

    Untuk itu, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan, Verika Armansyah Mendrofa, SPt, MSi memberikan penjelasan tentang budidaya cacing tanah sebagai pakan ternak dan pangan. Menurutnya, cacing tanah memiliki kadar protein sebesar 64-76 persen. Harga jual cacing tanah lumayan fantastis, satu kilogram cacing tanah dihargai 40 ribu sampai 120 ribu untuk di wilayah Bogor. Tidak hanya cacingnya yang bisa dijual, tetapi produk cacing seperti pupuk cair dan bekas cacing (kascing) juga dapat dijual.

    “Pupuk cair dan kascing sangat bermanfaat untuk kesuburan tanah dan tanaman. Ini merupakan peluang usaha yang menjanjikan,” kata Verika dalam Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) belum lama ini.

    Manfaat cacing tanah, lanjutnya, dapat digunakan sebagai pakan ternak, pangan manusia, obat-obatan, kosmetik, pengolah sampah, pengolah limbah industri, pupuk tanaman dan penyubur lahan pertanian. Sementara, kascing memiliki kandungan N sebesar 1.40 persen, P sebesar 4.33 persen dan K sebesar 1.20 persen. Kandungan ini lebih tinggi daripada kotoran sapi, kuda, kambing maupun kotoran babi.

    Dari sisi medis, cacing tanah mengandung enzim lumbrokinase yang berguna untuk menurunkan tekanan darah, ischemic dan stroke. Cacing tanah juga mengandung enzim peroksidase dan katalase yang berfungsi untuk mengobati penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, kolesterol maupun rematik. Tidak hanya itu, cacing tanah juga mengandung enzim ligase dan selulase yang berfungsi untuk melancarkan pencernaan serta enzim arakhidonat sebagai obat antipiretik.

    Sayangnya, manfaat cacing tanah yang banyak ini belum mampu dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia. Masyarakat di Indonesia umumnya baru memanfaatkan cacing tanah sebatas sebagai pakan ternak maupun sebagai penyubur tanah dan tanaman.

    Supaya cacing tanah memiliki kualitas dan nilai jual tinggi, Verika menjelaskan tentang teknik budidaya yang baik. Sebelum melakukan budidaya, ia menyarankan supaya lokasi budidaya berada di tempat yang teduh dan lembab. Pemilihan lokasi yang teduh dan lembab dimaksudkan supaya cacing tanah tidak kepanasan dan tidak terendam air secara berlebihan.

    “Sekalipun cacing hidup di dalam tanah, sebenarnya cacing itu tidak suka kalau banyak air apalagi sampai tanahnya tergenang air. Air ini bisa menutup lubang-lubang jalur cacing sehingga cacing tidak nyaman dengan air itu. Kalau bisa tempat budidayanya tidak menyerap air,” jelasnya.

    Untuk pakan atau media hidup, ia menjelaskan, dapat berasal dari limbah rumah tangga, rumah makan, pertanian, peternakan dan bahan organik lainnya. Media hidup cacing disarankan bukan dari bahan yang tajam, berduri, berbulu, asam, pedas, mengandung minyak maupun bahan kimia berbahaya. Sebelum diberikan, media tersebut dianjurkan untuk dicacah terlebih dahulu dan sedikit dilembabkan tetapi tidak sampai basah.

    Bibit cacing tanah dapat diperoleh dengan cara mencari di kebun atau tumpukan sampah atau kotoran ternak maupun membeli dari peternak cacing. Bibit cacing sebaiknya diperoleh dari beberapa tempat dan berbagai ukuran.

    Selama budidaya, disarankan untuk melakukan perawatan dengan cara mengaduk media dua minggu sekali agar aerasi media terjaga. Apabila media telah berubah warna menjadi hitam, media bisa dipecah dan ditambahkan dengan media baru.

    “Jangan lupa senantiasa mengecek kelembaban dan pH media. Kalau media terlalu asam, cacing banyak muncul di permukaan media dan aktif bergerak. Sementara kalau media terlalu basa, cacing akan muncul di permukaan tetapi tidak banyak bergerak, berwarna pucat dan kurus,” jelasnya.

    Kegiatan panen cacing tanah dapat dilakukan apabila media telah matang. Tanda media matang adalah warna menjadi coklat kehitaman, teksturnya gembur seperti tanah, bentuknya sudah berbeda dari media awal dan umumnya pH sekitar 7. Untuk panen media atau vermikompos, disarankan supaya media bersih dari cacing maupun kokonnya. Media tersebut selanjutnya dikeringanginkan agar kering, bila perlu media disaring. (ipb.ac.id)

  • Dr. Anuraga meraih juara 1 dosen berprestasi tingkat nasional

    Berdasarkan hasil penilaian yang diumumkan pada malam Anugerah Diktendik Berprestasi tahun 2019 di Hotel Harris Vertu Harmoni, Dr Anuraga Jayanegara, SPt, MSc berhasil mendapatkan  Juara 1 Dosen Berprestasi Tingkat Nasional kategori Sains dan Teknologi. Prestasi tersebut merupakan salah satu capaian prestasi yang didapatkan IPB University pada ajang penganugerahan diktendik tahun 2019. Dua prestasi lainnya disabet oleh Dr Megawati Simanjuntak, SP, MSi, sebagai Juara 2 Dosen Berprestasi Tingkat Nasional kategori Sosial Humaniora, dan Kusnadi, SE ditetapkan sebagai Juara 2 Tenaga Kependidikan Berprestasi Kategori Pengelola Keuangan. 

    Anuraga, yang merupakan Dosen Program Studi Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, IPB University telah banyak penghargaan yang diterima selama menjadi dosen di IPB University. Beberapa penghargaan yang telah ia terima adalah Peringkat 1 Dosen Berprestasi Bidang Sains Teknologi di Tingkat IPB University tahun 2019, Outstanding Contribution in Reviewing dari Jurnal Animal Feed Science and Technology (Scopus Q1), Elsevier tahun 2018, H-Index 2018 Young Lecturer dan The Most Cited 2018 Young Author pada Tribute to Inovation and Authors IPB University tahun 2018, Peringkat 3 Dosen Berprestasi Bidang Sains Teknologi tingkat IPB University tahun 2018, Best Presenter Award pada Annual Applied Science and Engineering Conference ttahun 2018, serta masuk dalam nominasi 109 Inovasi Indonesia Prospektif, Business Innovation Center LIPI tahun 2017. 

    “Alhamdulillah saya bersyukur pada Allah karena sudah diberikan kesempatan menjadi peringkat satu dosen berprestasi tingkat nasional kategori sains dan teknologi,” ungkap Dr Anuraga.  Semua ini, lanjut Dr Anuraga, tidak lepas dari bantuan semua pihak terutama dari para mentor yang sudah mengarahkan dan membimbing selama ini.

    Dosen berkelahiran di Bojonegoro ini sejak tahun 2005 dipercaya sebagai peneliti di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Ia juga pernah menjadi peneliti di Group of Animal Nutrition, Swiss. Meskipun sibuk dengan berbagai aktivitas di luar universitas, Anuraga Jayanegara juga aktif di beberapa organisasi seperti FORCES, ISTECS, dan lain-lain.

    Status sebagai dosen berprestasi pada tingkat IPB menghampiri Anuraga Jayanegara di bulan Juli 2019. Padahal saat itu ia tengah sibuk dengan aktivitas sebagai Sekretaris Program Pascasarjana Ilmu Nutrisi Pakan. Di sela-sela kesibukannya tersebut, ia juga turut menginspirasi para mahasiswa yang masih duduk di bangku kuliah.

    Ada satu buku karya Anuraga yang penting untuk disimak. Judulnya “Komponen Anti Nutrisi pada Pakan”. Buku tersebut banyak membahas tentang jenis zat antinutrisi yang ada pada bahan pangan. Dengan buku tersebut, para peneliti, mahasiswa, serta masyarakat jadi lebih mudah dalam menyeleksi bahan pangan untuk ternak yang tengah dikembangkan.

     

  • Gagas Aplikasi Limosim, Mahasiswa IPB University Raih Juara 3 Kompetisi Nasional

    Sektor peternakan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Pemeliharaan ternak yang dilakukan peternak rakyat saat ini masih bersifat tradisional dan produktivitasnya masih tergolong rendah. Salah satu komoditi hasil perternakan yang memiliki permintaan tinggi di Indonesia adalah susu. Sayangnya, produksi susu di Indonesia hanya tumbuh sebesar 2 persen sangat kecil jika dibandingkan dengan permintaan susu yaitu 14,01 persen selama periode tahun 2002-2007. Kesenjangan antara pertumbuhan konsumsi dengan produksi tersebut menyebabkan jumlah impor susu Indonesia terus meningkat. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi manajemen budidaya yang baik dan benar belum diterapkan oleh peternak.

    Hal ini mendorong tiga mahasiswa dari Fakultas Peternakan IPB University yaitu M. Farhan, Rechsa Amberty, dan Kodarusman untuk mengagas aplikasi bernama Limosim (Livestock Monitoring System) dalam Kompetisi Esai Nasional yang bertemakan ‘Inovasi Generasi Milenial Menghadapi Tantangan Global dalam Upaya Wujudkan Indonesia Emas 2045’.

    Limosim merupakan sebuah aplikasi berbasis teknologi digital di bidang peternakan yang ditujukan sebagai media pemantauan peternakan rakyat terutama peternakan sapi perah. Limosim hadir dengan membawa konsep pemantauan yang tepat, akurat, dan efisien. Dengan adanya pemanfaatan teknologi digital sebagai alat untuk pengolahan data, diharapkan dapat menciptakan strategi manajemen perkembangan peternakan rakyat yang cepat dan real time.

    “Jadi, Aplikasi Limosim ini sebagai penghubung antara peternak rakyat sapi perah dengan pihak ahli peternakan untuk membantu dalam pengembangan usaha peternakan rakyat,” jelas Rechsa.

    Lebih lanjut Rechsa menjelaskan Aplikasi Limosim yang mereka gagas ini akan menyediakan berbagai sumberdaya informasi yang penting mengenai peternakan sapi perah sekaligus manajemen budidayanya. Dengan adanya sistem seperti itu diharapkan peternakan rakyat tidak mengalami kekurangan sumberdaya informasi yang mengakibatkan peternak menjadi rugi bahkan gulung tikar. Sumberdaya informasi tersebut dapat berupa tata cara penanganan sapi bunting, penanganan sapi yang sakit, cara membuat ransum, sumberdaya permodalan dan informasi peternakan penting lainnya.

    Agar tujuan dari aplikasi ini dapat terlaksana, tim ini telah melengkapi aplikasi Limosim dengan berbagai fitur yang akan menunjang kinerja sistem aplikasi. Fitur-fitur tersebut adalah beranda, profil, diskusi, dan monitoring. Adapun fitur utama yang menjadi fokus Limosim adalah fitur monitoring. “Fitur ini akan memfasilitasi para peternak untuk menginput data perkembangan produksi peternakan sapi perah beserta data lainnya, tujuannya agar perkembangan usaha dapat terpantau untuk memutusan suatu sistem manajemen yang tepat dan akurat,” jelas Rechsa.

    Gagasan ini berhasil menghantarkan tim yang sama-sama berasal dari Fakultas Peternakan IPB University ini meraih juara 3 dalam Kompetisi Esai National Economic Management Creative di Universitas Negeri Semarang (6/10).

    Kelompok ini berencana akan mengembangkan gagasan ini  ke dalam bentuk aplikasi sebenarnya dengan menjalin kerjasama dengan fakultas lain di IPB University. Kelompok ini juga berharap gagasan ini dapat menjadikan Indonesia swasembada susu dan mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 (ipb.ac.id)

  • Havif Zamarath Varhan meraih Charoen Pokphand Best Student Appreciation

    Havif Zamarath Varhan  terpilihnya menjadi salah satu Charoen Pokphand Best Student Appreciation di Batch 3.  Havif merupakan mahasiswa tingkat akhir Departemen INTP  yang sedang melaksanakan tugas akhir di bidang unggas. Topik penelitian Havif adalah penetasan ayam broiler. Havif mengikuti seleksi CPBSA Batch 3 ini diawali dengan seleksi administrasi yang dilanjutkan dengan pembuatan profil diri dalam video singkat.

    Havif menceritakan dirinya dengan lugas melalui video singkat yang diupload di Youtube. Video ini telah ditonton 990 kali, termasuk salah satu video yang paling banyak dilihat dan disukai.

    Charoen Pokphand Best Student Appreciation (CPBSA) merupakan program beasiswa khusus untuk mahasiswa perguruan tinggi yang dicanangkan oleh PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. CPBSA merupakan bentuk pemberian apresiasi terutama untuk para mahasiswa yang menuntut ilmu di Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan, serta para mahasiswa dari jurusan terkait dengan industry peternakan.

    Selamat kepada Havif semoga sukses selalu!

  • IPB University Gelar Bela Negara dan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru 2019

    Masa pengenalan kampus merupakan suatu sarana untuk memperkenalkan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru. Melalui masa pengenalan ini mahasiswa diberikan informasi dan gambaran mengenai kampusnya.

    Di IPB University, masa pengenalan kampus ini biasa dikenal dengan nama Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB). Untuk tahun ini, kegiatan MPKMB yang diperuntukkan bagi mahasiswa angkatan 56 akan berlangsung pada tanggal 3-9 Agustus.

    Pada MPKMB tahun 2019, IPB University mengintegrasikan pengenalan kampus dengan kurikulum bela negara yang bertujuan untuk meningkatkan kecintaan para mahasiswa baru terhadap NKRI, meningkatkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme. Para mahasiswa baru ditanamkan pemahaman tentang empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Kegiatan bela negara ini dikemas dalam kegiatan outbound dan permainan-permainan lapangan yang menarik.

    Selain itu, mahasiswa baru juga dilatih aspek kedisiplinan dan kesamaptaan. Para instruktur bela negara yang terlibat adalah para dosen IPB yang telah mendapatkan pelatihan dari Kementerian Pertahanan dan para instruktur dari Pusat Pendidikan Zeni Kodiklatad TNI.

    Serangkaian kegiatan mengesankan lainnya yang akan mereka ikuti, mulai dari materi “Cinta IPB dan Pertanian” oleh Rektor, “Cinta Daerah” oleh Wali kota Bogor, “Be Technosociopreneur 4.0” oleh Ahmad Zaky (CEO Bukalapak), M. Nadjikh (CEO KML) dan Tri Mumpuni (sociopreneur), One Man Show oleh Gubernur DKI Jakarta, Talkshow Panglima TNI dan Talkshow Polri oleh Kapolda Metro Jaya. Monolog “Sejarah Perkembangan Pergerakan Mahasiswa” oleh Andiko Pradana, Talkshow Alumni Fakultas masing-masing,
    ragam penampilan seni dan budaya seperti perkusi, teater kolosal, unjuk lagu-lagu daerah oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Agriswara IPB University, hingga band Rektor.

    Tak hanya itu, acara kian meriah dengan dikemasnya berbagai atraksi yang cukup seru seperti penampilan Maskot dan Jingle MPKMB 56, adu Jargon Kelompok, unjuk Formasi, hingga ragam acara nonton bareng (nobar) yaitu Visualisasi Andamaru Jayantara (nama yang didaulat sebagai nama angkatan 56 IPB University), Video Inovasi-inovasi IPB University, Video Fungsi Mahasiswa, hingga Video Green Campus “Pemilahan Sampah”.

    Refleksi Diri, Penampilan Panitia, Launching Buku Angkatan, dan Pengumuman Pemenang MPKMB 56 akan memberikan keunikan tersendiri di tengah padatnya acara.

    Rektor IPB University Dr. Arif Satria mengatakan bahwa rangkaian kegiatan demi kegiatan pengenalan kampus. “Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan bekal informasi seputar dunia kampus, wawasan kebangsaan, cinta tanah air, bela negara, penghargaan terhadap budaya dan keragaman sehingga mahasiswa IPB ke depan akan memberikan beragam kontribusi positif, tidak saja bagi kampusnya, melainkan juga bagi masyarakat dan bangsanya.” (bogorin.com)

  • IPB University Melepas Mahasiswa KKNT

    IPB University melepas 2.555 mahasiswa untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) pada (17/6) di Kampus Dramaga, Bogor. KKNT merupakan agenda tahunan yang dilakukan IPB University sebagai bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa.

    Tahun ini, KKN-T dilaksanakan selama 40 hari dan bekerjasama dengan 29 kabupaten/kota dengan rincian 26 kabupaten/kota di pulau Jawa dan 3 kabupaten di luar Jawa yakni Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Simalungun, Kota Ternate dan Tikep.

    Mahasiswa Fapet IPB yang melakukan KKN pada tahun ini sebanyak 235 orang. Adapun Lokasi penempatan mahasiswa-mahasiswa tersebut dikonsentrasikan di Kabupaten garut, Tasikmalaya, Indramayu dan Brebes.

    Dr. Arif Satria, Rektor IPB University menyampaikan bahwa KKN-T akan mengajarkan kepada mahasiswa untuk belajar berkorporasi, belajar menyelesaikan masalah, dan belajar untuk lebih peka terhadap problematika masyarakat. “Tunjukkan bahwa IPB University hadir dengan membawa nilai tambah dan dapat bermanfaat untuk masyarakat dengan segenap ilmu yang telah kalian dapatkan. Jadikan tempat KKN-T itu sebagai tempat untuk mendapatkan inspirasi dan sebagai tempat untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat desa maupun kota,” ujarnya.

    Senada dengan Rektor IPB University, Dr. Ir. Aji Hermawan, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University menyampaikan bahwa pada kegiatan KKN-T ini mahasiswa bisa mengimplementasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah didapatkan di perkuliahan dan menawarkan inovasi inovasi yang dapat bermanfaat untuk masyarakat.

     “Lokakarya akan kami lakukan beberapa kali untuk pengontrolan. Semoga kita dapat mengkontribusikan pengetahuan kita dengan baik,” terangnya di hadapan ribuan mahasiswa yang hadir pada apel pelepasan. Pelepasan mahasiswa KKN-T dilakukan secara simbolisdengan penyerahan Surat Tugas untuk mahasiswa KKN-T IPB University Tahun 2019.

    Adapun penyerahan Surat Tugas dilakukan oleh Rektor IPB University kepada seluruh koordinator dari 29 kabupaten/kota.

  • Mahasiswa dari 5 negara asing Mengikuti Summer Course Di Fapet IPB

    Fakultas Peternakan IPB menyelenggarakan The Third Summer Course Program  pada dua Departemen di lingkungan Fapet IPB, yaitu di Departemen  Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (D-INTP) dan Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (D-IPTP).

    Pembukaan Program Summer Course di Departemen IPTP dilakukan pada  hari Senin, 15 Juli 2019, sedangkan pada Departemen INTP, pembukaan dilakukan satu minggu setelahnya (22 Juli 2019). Summer Course pada departemen IPTP yang dilakukan mulai tanggal 15-24 Juli ini mengusung topik "Green Concept of Local Herritage Animal Production and Technology to Ensure Environment Sustainability and Global Parthnership". Summer Course diikuti oleh peserta dari Negara Taiwan, Thailand, Korea, dan Malaysia. Adapun program yang dilakukan adalah lecture class dan field trip ke Bali.

    Berbeda dengan D-IPTP, Summer Course di D-INTP dilakukan pada tanggal 21-30 Juli 2019. Topik yang diusung adalah “Exotic Tropical Animal Nutrition and Feed Technology”,  dengan lokasi kegiatan di Bogor dan Bali. Program ini bekerjasama dengan Fakultas Peternakan, Universitas Udayana.

    Peserta Program Summer Course D-INTP berasal dari berbagai negara, yaitu Malaysia, Taiwan, Thailand dan Filipina. Universitas yang mengirimkan mahasiswa adalah Tunghai University, Maejo University, Universiti Putra Malaysia, Universiti Malaysia Sabah, University of Los Banos dan Universitas Haluoleo.  Dua peserta dari Malaysia telah mengikuti kegiatan ini tahun lalu dan kembali mendaftar pada tahun ini.

  • Mahasiswa IPB University Ikuti NTCA Indonesia-Australia Pastoral Program 2019

    Alwi Salam Makarim, mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University berhasil terpilih menjadi salah satu peserta program NTCA Indonesia-Australia Pastoral Program (NIAPP) 2019. Ia beserta 19 orang mahasiswa yang terseleksi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia akan berangkat ke Australia untuk belajar tentang peternakan sapi modern. 

    Program yang telah berjalan sejak 2012 ini berlangsung selama 10 minggu. Peserta akan belajar pelatihan penggembalaan secara intensif meliputi aspek kesejahteraan dan penanganan hewan ternak, juga belajar langsung di industri peternakan yang telah dijalankan secara modern.

    “Harapan saya dengan mengikuti program ini, semakin banyak pengalaman yang riil di lapangan yang bisa saya ambil dan bisa diaplikasikan untuk mengembangkan bisnis pribadi di masa yang akan datang,” ujar Alwi Salam saat acara pelepasan mahasiswa di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jakarta (16/8).

    Program NIAPP merupakan hasil kerja sama antara Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Northern Territory Cattlemens Association (NTCA) Australia dan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Program ini merupakan bagian dari kerjasama dan dukungan dari Red Meat and Cattle Partnership yang diinisiasi pemerintah Australia. Hingga saat ini, program NIAPP telah mengirim 89 mahasiswa Indonesia ke Australia Utara.

  • Orasi Ilmiah "Generasi Baru Inovasi Produk Hasil Ternak Fungsional Melalui Pemanfaatan Bakteri Asam Laktat dan Bahan Alami"

    Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan produk hasil ternak lokal yang lebih aman dan menyehatkan dibanding produk-produk hasil ternak impor. Dengan komitmen dan dukungan yang kuat, aksi ini bisa menjadi tonggak kemandirian dan kedaulatan pangan nasional. Visi kedaulatan pangan ini disampaikan dalam orasi ilmiah Prof. Dr. Irma Isnafia Arief, SPt. MSi dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Sabtu, 13 April 2019.

    Dalam Orasi Ilmiah yang bertema  "Generasi Baru Inovasi Produk Hasil Ternak Fungsional Melalui Pemanfaatan Bakteri Asam Laktat dan Bahan Alami",  Prof. Irma menyatakan, produk hasil ternak adalah pangan bergizi tinggi dan sumber protein hewani yang penting bagi kesehatan masyarakat. Tak seperti di negara-negara maju, tingkat konsumsi produk hasil ternak dan protein hewani Indonesia masih sangat rendah. Konsumsi susu dan produk olahan susu di Indonesia hanya berkisar 11,8 liter per kapita per tahun.

    “Di masa depan, kita tidak lagi bicara tentang produk ternak untuk makanan saja tapi kita akan bicara lebih jauh tentang sosis antikanker, yogurt antidiabetes, bakso penstimulan imunitas dan lain sebagainya. Itulah generasi-generasi baru produk pangan hasil ternak yang tidak mustahil bisa diwujudkan di masa mendatang,” lanjutnya.

    Dalam penutup orasinya, Prof. Irma Menyatakan bahwa  keterlibatan semua pemangku kepentingan sangat penting untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam Indonesia. Kerja sama antara akademisi, peneliti, pemerintah dan industri penting dilakukan dalam penyediaan produk olahan hasil ternak yang sehat dan aman dikonsumsi guna mewujudkan kesejahteraan peternak secara khusus dan masyarakat secara umum.

  • Pelatihan Capacity Building and Leadership Development bagi mahasiswa Fakultas Peternakan

    Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Peternakan IPB menggelar Capacity Building and Leadership Development bagi mahasiswa Fakultas Peternakan (Sabtu, 14 Desember 2019). Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari seratus mahasiswa ini ini berlokasi di Kebun Raya Bogor. Peserta kegiatan berasal dari lembaga kemahasiswaan di lingkungan Fapet IPB seperti : Himasiter, Himaproter, DPM, BEM, dan lain lain.

    Kegiatan pelatihan  dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama, dan Pengembangan Dr. Rudi Afnan,  Dr. Rudi berharap agar pelatihan tersebut dapat meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan, sikap, dan perilaku.

    bertindak sebagai trainer, Iyep Komala, S.Pt, M.Si dan tim memberikan materi pelatihan berupa games dan diskusi yang bertujuan untuk mengasah kemampuan berkomunikasi, motivasi diri, kemampuan problem solving, kreativitas, dan kepemimpinan. Setiap selesai mengikuti sebuah permainan, dijelaskan megenai tujuan dan manfaat yang terdapat dalam permainan tersebut. Banyak hal yang dapat diambil dari permainan yang diberikan untuk pengembangan kapasitas sumberdaya, baik untuk individu maupun organisasi.

    Kegiatan pelatihan Capacity Building adalah sebuah sarana pelatihan ’edukreasi’ (edukasi sekaligus rekreasi ) yang sangat dinamis, interaktif dan menyenangkan yang dilakukan melalui berbagai aktivitas yang menarik.  Capacity Building dapat diartikan sebagai proses meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan (skills), sikap (attitude) dan perilaku (behaviour) dari mahasiswa. Melalui pelatihan ini, mahasiswa  diajak untuk mengikuti proses pembinaan diri yang terpadu, sistematik dan tepat yang dapat diimplementasikan dalam aktivitas sehari hari.

    Melalui Pelatihan Capacity Building  and Leadership Development ini, diharapkan kualitas anggota lembaga kemahasiswaan di Fapet dapat lebih baik, serta menciptakan kondisi lingkungan yang dibutuhkan oleh organisasi agar dapat berjalan dengan baik.

     

     

  • Pelatihan Karya Ilmiah Berbasis Meta Analisis

     

    Pendaftaran : bit.ly/form_meta_analisis

     

     

  • Summer Course Faculty of Animal Science

     

     

     

     

     

     

     

  • Surveillance ISO 9001:2015 di fapet IPB

    Dalam rangka Memastikan kesesuaian Sistem Manajemen Mutu Organisasi serta Memastikan Sistem Manajemen Mutu Organisasi sesuai dengan persyaratan ISO 9001:2015, Fakultas Peternakan IPB kembali mendapatkan  Surveilllance  ISO 9001: 2015 (7-8 Oktober 2019). Bertindak sebagai auditor eksternal yaitu Bapak Holys dan Ibu Nena dari SUCOFINDO. Ruang Lingkup Audit adalah  pelaksanaan pelayanan akademik di Fakultas Peternakan IPB.

    Audit eksternal yang berlangsung selama dua hari tersebut, diawali dengan Rapat Pembukaan pada Hari Senin, 7 Oktober, pukul 09:30 WIB, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan kesesuaian pelaksanaan kegiatan pelayanan dengan POB yang telah dituliskan dalam dokumen ISO di Bidang Management Representative, dan kemudian dilakukan audit di bidang layanan akademik di tingkat Departemen. Pada hari Kedua, Selasa, 8 Oktober, kegiatan audit dilanjutkan dengan pemeriksaan dokumen bidang akademik, dan ketatausahaan dan infrastruktur/maintenance.

    Dalam Melayani Kebutuhan Pelanggan pada bidang pelayanan akademik, mulai tanggal 1 September 2018, Fakultas Peternakan menerapkan Sistem  Informasi Manajemen Mutu ISO 9001:2015 berbasis Cloud Application (Sismacloud) yang bermanfaat untuk memudahkan pelacakan surat sampai dimana progress pengerjaannya, mempermudah melakukan pengawasan oleh pimpinan, mempermudah pembuatan rekapitulasi keadaan surat. Sistem ini mampu menampilkan pelayanan surat mana yang tidak mencapai sasaran mutu, merekap jumlah surat, mengidentifikasi bagian mana yang paling lama melaksanakan pekerjaannya, menampikan lama pengerjaan tiap bagian, dan lain-lain. Adapun dari tanggapan petugas pelaksana maupun pengguna jasa layanan sudah merasa puas dengan adanya sistem tersebut, yang menjadikan pelayanan akademik menjadi lebih efektif, efisien, terkontrol dan mudah.

    Pada saat acara penutupan Surveillance tersebut, auditor tidak menemukan temuan minor ataupun mayor, dan hanya memberikan saran-saran perbaikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan akademik. Semua menjadi masukan dan koreksi yang sangat berharga bagi Fakultas Peternakan, untuk dapat diperbaiki di masa mendatang, demi terlaksananya pelayanan akademik yang berkualitas. Setelah seluruh rangkaian kegiatan audit ini selesai, maka pada sore harinya sekitar pukul 15.00 dilakukan penutupan oleh Plt. Dekan Fakultas Peternakan.

    Semoga kita dapat terus bersinergi demi kemajuan Fakultas Peternakan IPB, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

  • Tantangan Alumni Perguruan Tinggi di Era Disruptif Inovasi

    Pada 2010 – 2030 adalah periode dimana Negara Indonesia menerima bonus demografi, yaitu Jumlah penduduk usia produktif  (umur 15 – 60 tahun) mencapai angka 69 %.

    “Keadaan tersebut menjadi peluang dan tantangan. Dalam hal ketahanan pangan, penambahan jumlah penduduk juga menjadi isu yang penting bagi kita,” ungkap Audy Joinaldy Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (Hanter) IPB dalam sambutannya di Upacara Wisuda dan Penyerahan Ijazah Program Pendidikan Diploma Sekolah Vokasi IPB Tahap I Tahun 2018/2019 di Bogor (24/7).

    Sambungnya disaat IPB mencanangkan diri menjadi Entrepreneur University, menjadi tantangan tersendiri. Indonesia hanya memiliki 0,8 – 1,2 % penduduk yang menjadi pengusaha, bandingkan dengan Thailand 5 %, Singapura 7 % atau bahkan China 14 %. “Paling tidak butuh 2 % dari jumlah penduduk menjadi pengusaha untuk mendukung perekonomian nasional yang kuat.

    Kunci menjadi pengusaha bukanlah modal atau uang, tetapi networking, untuk itu adik-adik wisudawan/wisudawati sekalian tetaplah jalin silaturahmi antar sesama kalian maupun dengan seluruh civitas akademika IPB, disinilah salah satu network dari kalian. Bukalah network seluas-luasnya dengan kami di Himpunan Alumni IPB dan juga dengan pihak luar,” tutur Audy.

    Audy berpesan, hidup di tengah era disruptif inovasi, terjadi perkembangan teknologi sangat pesat. Era digital memberikan kesempatan bagi setiap entitas untuk berinovasi dengan cepat. Pada saat yang sama, inovasi memberikan dampak disruptif kepada entitas lainnya yang lambat untuk merespon perkembangan dan Inovasi yang terjadi.

    “Dimanapun dan apapun jenis pekerjaan yang adik-adik hidupi, kunci keberhasilannya adalah bila memiliki nilai tambah atau added value. Hanya pribadi yang memiliki nilai tambah yang dapat memberikan perbedaan nyata dalam masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya (troboslivestock.com)


Lihat Semua Berita >>

Protocol Kesehatan Covid-19 saat WFO Fapet IPB

Tips & Kegiatan Selama WFH