IPBSDG2

  • Manajemen Pergudangan dalam Sistem Logistik Pakan

    Dalam sistem logistik pakan, salah satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah penyimpanan dan pergudangan. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga karakteristik, baik fisik maupun kimia, yang dimiliki bahan pakan selama waktu penyimpanan setelah proses pemanenan dan pengeringan. Hal itu disampaikan oleh Pengajar Fakultas Peternakan IPB Dr. Heri Ahmad Sukria dalam sebuah pelatihan tentang manajemen logistik pakan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Kampus IPB Darmaga, pada 26-27 Maret 2019.

    Perhatikan pula faktor-faktor penyebab terjadinya kehilangan kualitas dan kuantitas Bahan selama penyimpanan seperti jamur (fungi), serangga (insects), rodent (rat and mice), respirasi dan migrasi uap air (moisture migration). Beberapa hal yang mempengaruhi pertumbuhan jamur yakni Kadar air, temperatur bahan baku pakan, kondisi biji-bijian yang disimpan, material asing dalam bahan baku, serta keberadaan mikroorganisme lain dalam bahan baku seperti serangga dan kutu. Untuk menghindari tumbuhnya jamur, maka suhu optimum dalam gudang sebaiknya berkisar 25-30 derajat celcius dengan kelembaban RH : 65% - 93%. Pengendalian jamur, tambah Heri dapat dilakukan dengan secara kimia ataupun fisik. Cara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan asam propionate dan asam asetat, sedangkan cara fisik selain mengontrol suhu dan kelembaban, juga dapat dilakukan dengan melepas gas tertentu ke dalam gudang.

    Dalam mengoperasikan penyimpanan pada sistem pergudangan, beberapa prinsip berikut ini perlu dijadikan pegangan demi tercapainya sistem pergudangan yang efisien. Prinsip-prinsip itu yakni menjaga dan menjalankan prinsip first in first out (FIFO), tumpukan barang disususn dengan aman, membuat layout (plan layout) barang untuk akses dan menemukan barang, pencatatan semua perpindahan barang, kehilangan (losses) pada form yang sesuai dan benar, pengarsipan segera semua dokumen dan catatan (record), melakukan perencanaan: barang/staf/transport yang dibutuhkan, menjaga keamanan barang, menjaga kebersihan gudang (harian/mingguan/bulanan), membuang segera barang yang rusak, selalu berkomunikasi secara efektif dengan pihak terkait, serta melakukan cek persedian (inventory) barang secara regular. (agropustaka.com)

     

  • Tantangan Industri Olahan Susu di Era 4.0

    Salah satu industri olahan hasil ternak, yakni industri persusuan nasional telah mengalami perubahan nyata baik dalam hal populasi maupun produksinya dalam 7 tahun terakhir. Menurut catatan Dewan Persusuan Nasional, produksi susu segar pada 2012 berjumlah 700 ton dengan produktifitas rata-rata 3300 liter per masa laktasi. Adapun pada kondisi di 2020, diprediksi produksinya mencapai 3000 ribu ton, dengan tingkat produktifitas mencapai 4500 liter per masa laktasi.

    Terdapat empat peluang utama pengembangan produk susu. Peluang itu yakni, "dapat dikonsumsi semua kelompok usia, sejak bayi sampai manula. Produk susu juga bisa merupakan produk pangan umum maupun untuk kebutuhan khusus," kata Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Dr. Irma Isnafia Arief dalam Workshop Penerapan Teknologi 4.0 pada Rantai Pasok Industri Olahan Hasil Ternak di Kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor pada 2 Mei 2019 lalu. Acara diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), dan diikuti oleh para praktisi, akademisi dan pemerhati bidang logistik produk olahan hasil ternak dari berbagai daerah.

    Peluang lain, jelas Irma yakni susu bisa menjadi produk utama maupun produk tambahan dalam sebuah produk makanan dan minuman. Aneka macam produk olahan susu terus berkembang dengan berbagai variasi jenis olahan susu, baik berbentuk minuman dan makanan dengan susu. Produk susu juga terus berkembang dengan aneka inovasi produk turunannya, mulai dari susu cair, susu bubuk, susu skim, whey, krim (lemak susu), keju, yogurt, kasein, kalsium.

    Berbagai peluang dan tantangan produk olahan susu tersebut harus ditopang dengan kesiapan industri domestik dalam memasuki era industri 4.0. Tidak hanya peralatan serta sarana dan prasarana yang harus dipersiapkan, namun juga sumber daya manusianya pun senantiasa ditingkatkan ketrampilannya sehingga tidak gagap dalam menapaki revolusi industri 4.0.

  • Bakteri asam laktat (BAL) sebagai bahan alami untuk meningkatkan nilai tambah produk hasil ternak Indonesia

    Potensi pertumbuhan industri pengolahan susu mencapai 7% per tahun sementara prospek pertumbuhan industri daging mencapai 10% pada 2020. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga industri susu dan daging berpeluang besar untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja (Asosiasi Industri Pengolah Susu)

    Nilai tambah yang lainnya adalah potensi untuk mengembangkan produk hasil ternak lokal yang lebih aman dan menyehatkan dibanding produk-produk hasil ternak impor. Potensi ini dilandaskan pada hasil riset ilmiah yang telah dilakukan oleh Prof. Irma yang sejak 2008 telah meneliti bakteri asam laktat (BAL) dan bahan alami untuk meningkatkan nilai tambah produk hasil ternak Indonesia.

    Penggunaan bakteri asam laktat saat ini tengah menjadi tren di Indonesia. Apabila kita mengunjungi minimarket dan supermarket terdekat, akan banyak ditemukan produk susu dan olahan susu, salah satunya adalah yogurt baik hasil produksi dalam negeri maupun produk impor.

    Yogurt adalah produk probiotik yang mengandung mikroorganisme hidup yang bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup akan bermanfaat bagi kesehatan manusia. Mikroorganisme ini adalah bakteri asam laktat (BAL).

    Daging adalah produk pangan hewani yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber isolasi bakteri asam laktat ini. Dari tahun 2008-2010, para peneliti Indonesia berhasil mengidentifikasi dan mengisolasi 20 bakteri asam laktat dari daging sapi lokal Indonesia, dari bangsa peranakan ongole.

    Namun tidak semua bakteri asam laktat yang berhasil diisolasi memiliki sifat probiotik, yang bermanfaat bagi kesehatan. Dalam penelitiannya Prof. Irma berhasil mengidentifikasi dan mengisolasi 10 bakteri asam laktat dari 20 bakteri asam laktat dalam hasil ternak lokal Indonesia yang memiliki karakteristik ini.

    Karakteristik probiotik dalam penelitian sebelumnya digambarkan dengan kemampuannya untuk mencegah diare yang salah satunya disebabkan oleh infeksi bakteri Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif atau bakteri jahat yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

    Pencemaran E. coli ini marak terjadi di Indonesia. Informasi dari Kementerian Kesehatan menyebutkan, gejala penyakit ini berupa sakit perut seperti kram dan diare yang pada sebagian kasus bahkan dapat mengeluarkan diare berdarah (haemorrhagic colitis). Juga dapat timbul demam dan muntah.

  • Berbagi kasih Himpunan Alumni Peternakan Fapet IPB

    Himpunan Alumni Peternakan IPB (HANTER) kembali memberikan sumbangsihnya dalam pemberian sembako gratis untuk tenaga kependidikan di lingkungan Fakultas Peternakan IPB (Jumat, 31/05/2019).  Kegiatan yang dilakukan Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1440 H itu diselenggarakan di Auditorium Jannes H. Hutasoit . Pada kegiatan tersebut dibagikan sekitar 150 buah paket sembako kepada tenaga kependidikan yang meliputi,staf kependidikan, tenaga penunjang kebersihan, staf keamanan kampus dan lab lapang, dan tenaga

    Wakil Dekan Sumberdaya, Kerjasama, dan Pengembangan Dr. Rudi Afnan mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada Hanter atas sumbangsih yang diberikan kepada tenaga kependidikan di Fapet IPB. Dalam sambutannya, Rudi berharap agar pada masa mendatang Hanter dapat lebih berkembang ke arah yang lebih baik, dengan banyak dibentuknya Dewan  Pimpinan Derah (DPD) Hanter di Berbagai daerah di Indonesia. "Pemberian Sembako gratis ini merupakan bukti bahwa Alumni Peternakan tetap peduli terhadap Fakultas Peternakan IPB, yang merupakan ungkapan tali kasih dari Hanter" lanjutnya.

    Ketua Hanter, Audy Joinaldy menuturkan, bahwa banyak alumni Fakultas Peternakan yang menjadi sosok sukses di Indonesia. Kesuksesan mereka tidak akan terjadi apabila tidak ada tenaga kependidikan yang  mendukung dalam kegiatan belajar mengajar sewaktu mereka melaksanakan perkuliahan di Fapet "pemberian sembako ini sebagai bentuk apresiasi Hanter terhadap tenaga kependidikan di Fapet IPB, karena dengan  adanya mereka maka banyak alumni Fapet IPB yang berhasil" tuturnya.

    Himpunan Alumni Peternakan IPB adalah wadah untuk para alumni Fakultas Peternakan di IPB. Bertujuan untuk menjadi wadah bersilaturahmi, bertukar pikiran, berbagi informasi dan peluang, serta mendapatkan informasi terbaru mengenai kampus kita tercinta. HANTER dibuat khusus untuk para Alumni Fakultas Peternakan IPB dari segala jurusan, asal daerah, suku bangsa, ras, agama, Diploma, Sarjana maupun Pasca Sarjana, yang masih berkecimpung di dunia Peternakan maupun yang tidak, Pekerja maupun Wirausaha, untuk berbagi mengenai informasi seputar dunia peternakan dan kampus Fapet IPB.

  • Cegah Kelumpuhan Kalkun, Mahasiswa IPB University Manfaatkan Tanaman Dandelion

    Kalkun berpotensi dikembangkan sebagai alternatif sumber protein hewani. Kalkun ini memiliki kandungan kolesterol yang lebih rendah jika dibandingkan dengan daging sapi. Akan tetapi pada usia 4-6 bulan, kalkun sering mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh kekurangan nutrisi, penyakit dan obesitas.

    Tiga mahasiswa dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan IPB University yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKMPE) D-Melion ini melakukan riset dalam upaya mencegah kelumpuhan kalkun dengan pemberian dandelion. Tim yang terdiri dari Husnul Dwi Setianingsih Tadjudin, Syarifah Aini dan Maya Shofiah ini dibimbing oleh Dr. Ir. Widya Hermana. Penamaan D-Melion bermakna sumber vitamin D untuk kalkun (Meleagris gallopavo) dari tanaman dandelion (Taraxacum officinale) sebagai pakan kaya antioksidan pencegah kelumpuhan.

    Husnul menuturkan bahwa tanaman dandelion masih jarang dimanfaatkan. Tanaman dandelion ini memiliki bunga menarik dan indah serta tumbuh di daerah dingin. Tanaman ini memiliki kandungan vitamin D yang tinggi yang dapat mencegah kelumpuhan pada tulang kaki kalkun akibat obesitas.

    Dandelion tersebut diberikan dalam bentuk segar dicampur dengan pakan dedak, pakan komersil dan eceng gondok. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa kalkun yang diberi pakan tanpa penambahan dandelion mengalami tanda-tanda kelumpuhan. Sementara kalkun yang diberi pakan dengan penambahan dandelion tidak menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan.

    "Sampai akhir pemeliharaan, pengamatan tingkah laku menunjukkan kalkun mengalami tanda kelumpuhan pada P0 (tanpa penambahan dandelion), sementara yang diberi penambahan dandelion tidak menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan. Tim kami sebelumnya juga telah memastikan adanya kandungan bahan vitamin dan mineral pada tanaman yang kami gunakan dalam memperbaiki kekuatan tulang pada kalkun,” tandasnya (ipb.ac.id)

  • Dinas Ketapang Sergai Gandeng IPB University Tingkatkan Populasi Ternak Sapi Tebingtinggi

    Puluhan peternak sapi potong yang tergabung dalam tiga kelompok dari Kecamatan Pegajahan, Dolokmasihul dan Sipispis tampak antusias mengikuti program Sekolah Peternakan Rakyat (SPR), Sabtu (7/9) di Aula Pondok Bali Lestari, Jalan Deblod Sundoro, Kota Tebingtinggi.

    SPR merupakan program unggulan dari Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) hasil kerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University sejak 2016 lalu. Tujuannya adalah untuk melahirkan peternak sapi yang profesional, mandiri, dan berdaulat.

    Kadis Ketapang Sergai, M. Aliyuddin SP, MP di hadapan kelompok peternak saat membuka SPR 2019 mengatakan kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan ini juga bertujuan untuk menggenjot populasi sapi potong yang akhir-akhir ini sangat dibutuhkan masyarakat karena harga jualnya cukup tinggi. Hal ini sesuai  dengan visi dan misi Kabupaten Sergai agar tercipta peternak-peternak yang inovatif dan berkelanjutan.

    "Dengan adanya program SPR, populasi ternak di Sergai telah membuahkan hasil cukup memuaskan. Saat ini Kabupaten Sergai berada di peringkat keempat populasi ternak terbanyak se-Sumatera Utara (Sumut)," ujarnya.

    Harapannya  para kelompok yang sudah mengikuti program SPR dapat mengembangkan ternak sapi dan menampilkan ternak-ternak terbaiknya.

    Sedangkan Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketapang Sergai, drh Andarias Ginting MSi menjelaskan kepada para kelompok peternak terkait permohonan bantuan ke pemerintah guna peningkatan kualitas maupun kuantitas hewan, harus melalui Standard Operating Procedure (SOP) dan pedoman-pedoman yang ada.

    "Kami akan melakukan penilaian dan monitoring sesuai dengan pedoman dan SOP yang dalam waktu dekat akan dibakukan menjadi Peraturan Bupati Sergai," jelasnya.

    Sementara itu, dari LPPM IPB University, Dr Ir Afton Atabany, MSi menyampaikan bahwa pihaknya dalam SPR ini lebih menekankan bagaimana caranya menyemangati peternak untuk giat dalam mengurus hewan ternaknya. Dia menilai, setiap peternak minimal harus menjadi manager dengan kategori 25 ekor ternak per keluarga.

    Menurutnya, dalam SPR ini para peternak diajarkan bagaimana cara pemasaran hewan ternak, pengenalan berbagai penyakit dan pencadangan makanan yang bernutrisi tinggi bagi hewan ternak."Intinya, kami menginginkan para peternak yang mengikuti SPR dapat menjadikan pola beternak masyarakat menjadi lebih baik dan dapat ditularkan ke peternak-peternak yang lainnya,” imbuhnya.

    Dalam kesempatan itu, perwakilan kelompok ternak dari Kecamatan Pegajahan, Srianto mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Dinas Ketapang Sergai maupun LPPM IPB University yang mengajarkan tata cara beternak yang baik. Srianto berharap, Dinas Ketapang Sergai terus berkelanjutan untuk membimbing para peternak dalam hal kemajuan serta pengembangan usaha peternakan (ipb.ac.id)

  • Diskusi Mahasiswa dengan Dosen IPB University Ahli Susu

    Tiga organisasi kemahasiswaan (Ormawa) Fakultas Peternakan IPB University yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan, Himpunan Mahasiswa Produksi Peternakan (Himaproter), Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter) berkolaborasi mengadakan kegiatan Webinar Nasional mengenai Pengoptimalan Protein Hewani sebagai Sumber Nutrisi Pangan di Masa Pandemi, (7/9). Webinar ini menghadirkan Dr Epi Taufik, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan dengan kepakaran di bidang susu sapi dan Tika Kartika, SP, perwakilan dari Kementerian Pertanian RI.

    Dalam paparannya, Dr Epi menjelaskan tentang pentingnya mengkonsumsi protein hewani untuk tubuh di masa pandemi. Khususnya mengenai fungsi dan peran susu sebagai protein hewani. Menurutnya, dengan mengkonsumsi susu akan menjadikan tubuh sehat dan seimbang. Ini karena susu mengandung beberapa zat gizi yang tentunya dibutuhkan oleh tubuh manusia.

    “Dengan mengkonsumsi susu rutin setiap hari pada anak kecil atau ibu hamil maka ini akan dapat mengurangi atau menghindari resiko stunting pada anak. Mengkonsumi susu juga dapat meningkatkan imunitas pada tubuh, sehingga dengan minum susu setiap hari di masa pandemi akan membantu meningkatkan imun kita,” ujarnya.

    Webinar Nasional ini merupakan rangkaian acara dari Gerakan Protein Sehat 2020. Sebelumnya sudah dilakukan kegiatan bagi-bagi telur dan susu di Car Free Day (CFD) Kopasus Cijantung Jakarta, Desa Situ Udik Bogor, Desa Kedungbadak Bogor, Desa Cikarawang dan Desa Loji Bogor. Pembagian telur dilakukan oleh beberapa mahasiswa yang mengikuti Program KKN-T IPB University dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang berlaku (ipb.ac.id)

  • Dosen dan Peneliti IPB University Gagas Inovasi Kampung Indigofera di Desa Neglasari

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB University kembali menugaskan tim dosen dari Fakultas Peternakan dan peneliti dari Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia (P2SDM) untuk melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat pada Minggu, (24/11). Melalui program Dosen Mengabdi, LPPM menugaskan Ir M Agus Setiana, MS (Dosen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan), Muhammad Baihaqi, SPt, MSc (Dosen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan), Ir M Yannefri Bakhtiar, MSi dan fasilitator LPPM, Tika Mazda untuk mengabdi di Desa Neglasari, Bogor.

    Menurut Tika, potensi lain dari Desa Neglasari adalah banyaknya masyarakat desa yang melakukan kegiatan ternak domba. Pada minggu pertama penempatan di desa, telah dilakukan kegiatan pemetaan sosial dan ditemukan bahwa terdapat beberapa warga desa yang memiliki usaha ternak domba, sehingga perlu adanya kegiatan sosialisasi dan pemberian edukasi oleh dosen IPB University kepada masyarakat agar perekonomian masyarakat desa Neglasari dapat meningkat.

    Kegiatan pengabdian masyarakat kali ini terdiri dari tiga sesi penyampaian materi dan dilanjutkan sesi focus group discussion (FGD) serta tanya jawab. Materi pertama disampaikan oleh salah satu penggagas Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di desa lingkar kampus yang juga merupakan peneliti di P2SDM IPB University, Yanefri Bakhtiar.

    Yannefri menyampaikan tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui program Kampus Desa.  “Kampus Desa hampir mirip dengan kegiatan Dosen Mengabdi LPPM IPB University, yaitu program pemberdayaan masyarakat dengan prinsip sharing sumberdaya dari para stakeholder yang terlibat (IPB University, masyarakat, pemerintah, dan swasta) dengan tujuan memberikan solusi permasalahan pertanian secara umum,” ujarnya.

    Melalui kelembagaan seperti Posdaya, Yannefri menghimbau agar masyarakat dapat ikut terlibat aktif dan partisipatif sehingga mampu mendapatkan informasi dan akses dengan lebih mudah.

  • Dosen IPB University Bicara Soal Akumulasi Limbah Peternakan yang Merusak Lingkungan

    Meningkatnya permintaan pangan produk ternak mengakibatkan perbesaran skala usaha dan perubahan dari sistem ekstensif menjadi intensif. Hal ini menyebabkan meningkatnya akumulasi jumlah kotoran dan dapat menyebabkan masalah lingkungan apabila limbah tidak dikelola dengan baik.

    Dr Salundik, dosen IPB University dari Departemen Imu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP)  menjelaskan pengelolaan dan pengolahan  limbah peternakan harus memperhatikan sifat dan karakteristik limbah. Sifat dan karakteristik limbah perlu diketahui untuk perencanaan pengolahan limbah ke depannya.

    Menurutnya, limbah ternak dapat dikategorikan menjadi limbah cair (5 persen padatan), lumpur atau semi padat (5-25 persen padatan), padat (lebih dari 25 persen padatan) dan gas. Jumlah, sifat dan karakteristik limbah tersebut dipengaruhi oleh identitas ternak (spesies, umur, ukuran dan kondisi fisiologis), sistem perkandangan, sistem pembersih kandang dan penanganan limbah, jenis ransum yang diberikan, industri ternak dan lingkungan.

    Perencanaan pengelolaan dan pengolahan limbah yang perlu diperhatikan antara lain: penentuan sistem dan tipe pengolahan limbah, penentuan skala pengolahan, lokasi pengolahan, fasilitas pengolahan, biaya instalasi dan manajemen proses pengolahan.

    “Pengelolaan dan pengolahan limbah ternak berfungsi mengurangi potensi pencemaran baik fisik, biologi maupun kimia. Pengelolaan dan pengolahan limbah ini juga dapat meningkatkan atau menambah nilai guna limbah tersebut,” jelas Dr Salundik pada sebuah Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) beberapa waktu lalu.

    Limbah padat, lanjutnya, dapat diolah secara composting, vermicomposting, penguburan atau penimbunan, penggunaan black soldier fly, anaerobik, pembakaran maupun penekanan. Sementara limbah cair dapat diolah melalui pengendapan, flotasi, penyaringan, riverse osmosa, maupun menggunakan bahan kimia seperti ion exchange.

    “Limbah ternak ini terutama limbah kotoran juga dapat dimanfaatkan sebagai biogas maupun pupuk organik. Dengan demikian pengolahan limbah ternak dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi peternak,” pungkas  Dr Salundik (ipb.ac.id)

  • Dosen IPB University: BSF Punya Potensi Tinggi untuk Pakan Ternak

    Black soldier fly (BSF) atau dikenal sebagai lalat tentara hitam memiliki manfaat yang banyak baik untuk pangan maupun sebagai pakan. Umumnya, BSF dapat ditemukan dan hidup pada limbah organik seperti limbah pertanian, limbah organik rumah tangga maupun limbah organik dari pasar.

    Dosen IPB University dari Fakultas Peternakan, Prof Dr Dewi Apri Astuti menjelaskan lalat BSF juga dapat dibudidayakan pada media limbah sawit. Limbah sawit yang dimaksud adalah bungkil sawit, pelepah sawit, serat, daun sawit (tanpa lidi), tandan kosong maupun batang sawit.

    “Limbah sawit tentunya dihancurkan terlebih dahulu supaya tidak keras bagi larva lalat BSF. Kadar protein dari limbah sawit ini berkisar antara 2-16 persen, kalau serat kasarnya bisa mencapai 48 persen,” jelas Prof Dewi dalam sebuah Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI).

    Kandungan nutrisi lalat BSF yang tinggi, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam, puyuh, kambing, ikan udang maupun dibuat sebagai bahan chitosan dan anti bakteri. Ekstrak lalat BSF juga dapat digunakan sebagai alternatif pengganti antibiotic growth promoters (AGPs) pada industri pembesaran ayam. Sementara untuk pakan puyuh, formula pakan BSF dapat meningkatkan performa produksi puyuh mencapai 62 persen.

    “Lalat BSF dapat diekstrak dalam bentuk protein murni dan minyak. Kulit pupa BSF juga dapat diekstrak menjadi chitosan,” tambah Prof Dewi.

    Ekstrak kitin maupun chitosan BSF dapat dimanfaatkan pada berbagai bidang seperti pertanian, pangan, farmasi dan medis, kosmetik, bioteknologi, tekstil, industri kertas maupun sebagai purifikasi air (ipb.ac.id)

  • Dosen IPB University: Prospek Bisnis Cacing Tanah untuk Bahan Baku Obat Sangat Cerah

    Bagi sebagian orang, cacing tanah identik dengan hewan menjijikkan. Namun, faktanya tak sedikit masyarakat yang membudidayakan cacing tanah sebagai mata pencahariannya. Meskipun menjijikkan, ternyata cacing tanah memiliki nilai ekonomi dan dapat dijadikan sebagai bahan baku obat medis.

    Untuk itu, dosen IPB University dari Fakultas Peternakan, Verika Armansyah Mendrofa, SPt, MSi memberikan penjelasan tentang budidaya cacing tanah sebagai pakan ternak dan pangan. Menurutnya, cacing tanah memiliki kadar protein sebesar 64-76 persen. Harga jual cacing tanah lumayan fantastis, satu kilogram cacing tanah dihargai 40 ribu sampai 120 ribu untuk di wilayah Bogor. Tidak hanya cacingnya yang bisa dijual, tetapi produk cacing seperti pupuk cair dan bekas cacing (kascing) juga dapat dijual.

    “Pupuk cair dan kascing sangat bermanfaat untuk kesuburan tanah dan tanaman. Ini merupakan peluang usaha yang menjanjikan,” kata Verika dalam Online Training yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan IPB University bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) belum lama ini.

    Manfaat cacing tanah, lanjutnya, dapat digunakan sebagai pakan ternak, pangan manusia, obat-obatan, kosmetik, pengolah sampah, pengolah limbah industri, pupuk tanaman dan penyubur lahan pertanian. Sementara, kascing memiliki kandungan N sebesar 1.40 persen, P sebesar 4.33 persen dan K sebesar 1.20 persen. Kandungan ini lebih tinggi daripada kotoran sapi, kuda, kambing maupun kotoran babi.

    Dari sisi medis, cacing tanah mengandung enzim lumbrokinase yang berguna untuk menurunkan tekanan darah, ischemic dan stroke. Cacing tanah juga mengandung enzim peroksidase dan katalase yang berfungsi untuk mengobati penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, kolesterol maupun rematik. Tidak hanya itu, cacing tanah juga mengandung enzim ligase dan selulase yang berfungsi untuk melancarkan pencernaan serta enzim arakhidonat sebagai obat antipiretik.

    Sayangnya, manfaat cacing tanah yang banyak ini belum mampu dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia. Masyarakat di Indonesia umumnya baru memanfaatkan cacing tanah sebatas sebagai pakan ternak maupun sebagai penyubur tanah dan tanaman.

    Supaya cacing tanah memiliki kualitas dan nilai jual tinggi, Verika menjelaskan tentang teknik budidaya yang baik. Sebelum melakukan budidaya, ia menyarankan supaya lokasi budidaya berada di tempat yang teduh dan lembab. Pemilihan lokasi yang teduh dan lembab dimaksudkan supaya cacing tanah tidak kepanasan dan tidak terendam air secara berlebihan.

    “Sekalipun cacing hidup di dalam tanah, sebenarnya cacing itu tidak suka kalau banyak air apalagi sampai tanahnya tergenang air. Air ini bisa menutup lubang-lubang jalur cacing sehingga cacing tidak nyaman dengan air itu. Kalau bisa tempat budidayanya tidak menyerap air,” jelasnya.

    Untuk pakan atau media hidup, ia menjelaskan, dapat berasal dari limbah rumah tangga, rumah makan, pertanian, peternakan dan bahan organik lainnya. Media hidup cacing disarankan bukan dari bahan yang tajam, berduri, berbulu, asam, pedas, mengandung minyak maupun bahan kimia berbahaya. Sebelum diberikan, media tersebut dianjurkan untuk dicacah terlebih dahulu dan sedikit dilembabkan tetapi tidak sampai basah.

    Bibit cacing tanah dapat diperoleh dengan cara mencari di kebun atau tumpukan sampah atau kotoran ternak maupun membeli dari peternak cacing. Bibit cacing sebaiknya diperoleh dari beberapa tempat dan berbagai ukuran.

    Selama budidaya, disarankan untuk melakukan perawatan dengan cara mengaduk media dua minggu sekali agar aerasi media terjaga. Apabila media telah berubah warna menjadi hitam, media bisa dipecah dan ditambahkan dengan media baru.

    “Jangan lupa senantiasa mengecek kelembaban dan pH media. Kalau media terlalu asam, cacing banyak muncul di permukaan media dan aktif bergerak. Sementara kalau media terlalu basa, cacing akan muncul di permukaan tetapi tidak banyak bergerak, berwarna pucat dan kurus,” jelasnya.

    Kegiatan panen cacing tanah dapat dilakukan apabila media telah matang. Tanda media matang adalah warna menjadi coklat kehitaman, teksturnya gembur seperti tanah, bentuknya sudah berbeda dari media awal dan umumnya pH sekitar 7. Untuk panen media atau vermikompos, disarankan supaya media bersih dari cacing maupun kokonnya. Media tersebut selanjutnya dikeringanginkan agar kering, bila perlu media disaring. (ipb.ac.id)

  • Dosen Mengabdi IPB University Gelar Pencegahan Zoonosis dan Pelatihan Budidaya Ayam Kampung di Sinarsari

    Dalam rangka Stasiun Lapang Agrokreatif (SLAK) program Dosen Mengabdi  tahun 2019, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University mengirimkan dua dosen ke Desa Sinarsari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, (22/11). Program Dosen Mengabdi merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi dosen non Guru Besar dan Dosen Guru Besar. Salah satu tujuan dosen mengabdi adalah mendorong dan memfasilitasi dosen dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

    Sosialisasi dilaksanakan di Kantor Desa Sinarsari dengan dua narasumber yaitu Dr Sri Murtini  dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University dan Dr Sri Darwati dari Fakultas Peternakan (Fapet). Sosialisasi dihadiri sebanyak 40 peserta dari Desa Sinarsari dan sekitarnya. Peserta yang hadir merupakan tokoh masyarakat, peternak ayam kampung, anggota masyarakat, dan masyarakat umum.

    Dr Sri Murtini menyampaikan tentang pencegahan zoonosis untuk mewujudkan keluarga sehat melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). “Perilaku hidup bersih dan sehat adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan,” tuturnya.

    Salah satu jenis zoonosis yang disampaikan adalah penularan cacing dari hewan ke manusia. Penularan cacing dari hewan ke manusia dapat secara langsung tidak sengaja seperti tertelan telurnya dan melalui media makanan seperti sayuran yang terkontaminasi telur atau larva cacing.

  • FLPI GELAR PELATIHAN MANAJEMEN LOGISTIK PAKAN

    Forum Logistik dan Peternakan Indonesia (FLPI) bekerjasama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) menyelenggarakan pelatihan Manajemen Logistik Pakan, yang didukung Direktorat Pakan, Kementerian Pertanian.

    Pelatihan diselenggarakan di Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB Dramaga Bogor, 26-27 Maret 2019. Kegiatan dihadiri Ketua FLPI Prof Luki Abdullah, Ketua AINI Prof Nahrowi Ramli dan Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Peternakan IPB Dr Rudi Afnan.

    Rudi Afnan, dalam sambutannya memberi apresiasi FLPI yang terus mengedukasi insan peternakan. Kali ini FLPI menyasar insan peternakan soal pakan unggas. “Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan untuk berbagi informasi,” katanya.

    Pelatihan menghadirkan tiga narasumber, yakni Kasubdit Bahan Pakan Direktorat Pakan Diner YE Saragih, perwakilan PT Charoen Pokphand Indonesia Istiadi dan dari Laboratorium Industri Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB Dr Heri Ahmad Sukria.

    Pelatihan diikuti oleh peternak, praktisi dan akademisi terkait pakan ternak, khususnya ternak unggas. Diakhir kegiatan, panitia mengajak peserta mengunjungi PT Charoen Pokphand Indonesia, di Balaraja, Tenggerang, Banten. Kunjungan bertujuan untuk memberi informasi nyata kepada peserta mengenai manajemen logistik pakan, penyimpanan dan pergudangannya. (majalahinfovet.com)

  • Guru Besar IPB University: Telur Ayam Kampung Aman di Konsumsi Mentah

    Telur ayam ras bisa terkontaminasi kuman sejak di perut induknya. Kalau induknya terpapar salmonella plorum, ayam akan sakit dan mati. Tapi kalau salmonella enteritis, ayam tidak sakit tapi kuman bisa bersarang di organ reproduksi, menempel di kuning serta putih telur dan terbawa saat telur keluar dari tubuh ayam.

    “Beda dengan ayam kampung (ayam lokal dan ayam asli Indonesia). Dia mempunyai kemampuan mengeliminasi kuman (khususnya salmonella) karena sel imunnya luar biasa, sehingga tidak pernah ada temuan salmonela di telur ayam kampung sehingga telur ayam kampung aman dikonsumsi dalam kondisi mentah,” ujar Prof Dr Ir Niken Ulupi, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan, IPB University saat Konferensi Pers Pra Orasi di Kampus Baranangsiang, Bogor (21/11).

    Karena antibodi dari induk ditransfer ke telur maka telur ayam kampung akan selalu clear dari salmonella yang bersifat zoonosis. Sementara pada ayam ras, meskipun diberi pakan yang bagus tapi antibodi di dalam darahnya sedikit sehingga tidak mampu mengatasi serangan kuman dari luar.
    “Bahkan ada prevalensi telur ayam ras terkena salmonela 3,12 persen. Kalau ada 100 telur maka ada telur yang terpapar salmonela. Kalau direbus tidak matang maka bisa mengakibatkan diare (ringan), tipes (sedang) atau parahnya mati. Kalau ada orang kena tipes, jarang yang curiga kalau penyebabnya bisa dari telur,” ujarnya.

    Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam asli dan ayam lokal Indonesia memiliki kemampuan hidup pada suhu tinggi di daerah tropis, dengan pakan marjinal atau berkualitas rendah dan lingkungan tidak higienis serta biaya pemeliharaannya yang lebih murah. Ayam tersebut tetap hidup dan tetap mengalami peningkatan populasi meskipun tidak tinggi.

    Secara genetik, gen HSP-70 (yang mengontrol kemampuan beradaptasi pada lingkungan panas), gen pengontrol penyakit yakni gen TLR4 (yang mengontrol ketahanan tubuh terhadap penyakit infeksi bakteri) dan gen Mx (yang mengontrol ketahanan tubuh terhadap infeksi virus) serta gen SCD yang mengontrol perlemakan daging, dapat berekspresi lebih tinggi pada ayam asli dan ayam lokal Indonesia daripada ayam ras.

    “Dengan demikian, ayam asli dan ayam lokal Indonesia memiliki keunggulan tahan lingkungan panas, tahan penyakit infeksi bakteri dan virus. Daging ayam kampung memiliki lemak intramuskuler lebih tinggi dengan cita rasa yang khas namun lebih sehat. Ini karena kandungan kolesterol dan malonaldehidenya lebih rendah daripada daging yang dihasilkan ayam ras,” tambahnya.

    Namun keunggulan ini harus diikuti dengan peningkatan laju pertumbuhan ayam asli dan ayam lokal. Agar dapat berperan sebagai penghasil daging, ayam-ayam asli ini dapat disilangkan dengan parent stock pedaging, sehingga kecepatan pertumbuhannya meningkat.
    “Inilah yang dilakukan Prof Cece Sumantri, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan IPB University. Ayam lokal IPB D1, rumpun baru hasil rintisan Prof Cece dan tim ini dapat dipanen di usia 12 minggu dengan bobot hidup menyamai ayam broiler umur 5 minggu (1,5 kilogram peer ekor). Ayam IPB D1 ini sudah mendapatkan SK dari Kementerian Pertanian dengan nomor 693/Kpts/PK.230/M/9/2019,” terangnya. 

    Prof Niken menambahkan bahwa pengembangan ayam asli dan ayam lokal ini perlu ditangani secara industri. Industri atau perguruan tinggi atau lembaga penelitian dapat berperan sebagai breeder untuk menyediakan bibit berkualitas. Selain itu, diperlukan juga regulasi yang menjamin perlindungan terhadap semua pihak yang terlibat (ipb.ac.id)

  • Industri Logistik Peternakan Membutuhkan Teknologi Digital Lebih Banyak

    Menanggapi hadirnya era Revolusi Industri 4.0, Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) menggelar Konferensi Nasional yang bertemakan “Aplikasi Teknologi Digital pada Industri Logistik Peternakan 4.0” yang digelar di ICE BSD Tangerang, Rabu (18/9).

    Prof. Yandra Arkeman, narasumber pada acara tersebut, mengatakan bahwa penerapan teknologi 4.0 pada bidang peternakan sangat memungkinkan untuk dilakukan, misalnya mengenai sapi yang diberi anting untuk memudahkan penelusuran (tracking). Penerapan Elektronik ID (E-ID) yang merupakan bentuk digitalisasi peternakan akan memudahkan pembeli untuk mengetahui riwayat sapi tersebut.

    “Memang untuk saat ini penerapannya masih belum mudah, harga sapi yang memiliki anting justru murah karena dianggap merupakan sapi bantuan pemerintah. Akan tetapi ke depannya, sapi yang memiliki anting yang justru akan mahal karena riwayat pemeliharaanya jelas, dari keturunan jenis apa, diberi pakan apa dan sebagainya,” ungkap Peneliti di Blockchain, Robotics, and Artificial Intelligence Network IPB (BRAIN IPB) ini.

    Penerapan teknologi 4.0 pada peternakan unggas pun juga bisa dilakukan, misalnya mengenai teknologi menentukan jenis kelamin DOC jantan dan betina. Melalui gradasi suara tertentu misalnya, mana DOC jantan dan betina akan bisa diketahui dengan jauh lebih cepat.

    “Kecanggihan teknologi ini sangat memungkinkan diterapkan di semua bidang, hanya saja mau dilakukan apa tidak. Selain karena berbiaya tinggi, tentu butuh dukungan semua pihak baik pemerintah, akademisi, pengusaha dan juga masyarakat,” jelasnya.

    Sedangkan Audy Joinaldy, dalam paparannya mengatakan tidak dipungkiri bahwa teknologi 4.0 sangat memungkinkan diterapkan pada sektor perunggasan. Misalnya, bagaimana mengukur tingkat kematian saat distribusi DOC dari pabrik penetasan (hatchery) hingga menuju ke kandang budi daya.

    “Sejauh ini hanya berdasarkan perkiraan saja, memang sudah seharusnya ada teknologi digital yang mampu mendeteksi penyebab kematian itu karena apa. Hal ini merupakan tantangan bersama untuk mewujudkannya” jelas Chairman of Perkasa Group yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (poultryindonesia.com)

  • Inovasi Mahasiswa IPB University, Pelepah Sawit untuk Pakan Ternak di Musim Kemarau

    Indonesia memiliki dua musim yakni musim penghujan dan kemarau. Kedua musim ini cukup memberikan dampak bagi sejumlah sektor pekerjaan. Salah satunya sektor peternakan. Pada musim kemarau, sebagian besar peternak di Indonesia sering mengalami permasalahan terkait pemberian pakan bagi hewan ternaknya. Daerah yang mengalami permasalahan tersebut merupakan daerah yang mengalami kekeringan dan tidak memiliki tanah yang subur di sekitarnya. Guna mengatasi permasalahan tersebut, mahasiswa IPB  University menggagas solusi untuk pakan ternak.

    Mahasiswa IPB University yang terdiri dari: Ananda Putri, Enita Indah, Ika Jenri, dan Farisky Adi Nugroho membuat sebuah produk dari pelepah sawit sebagai pakan ternak. Produk pakan ini berupa olahan pelepah sawit dicampur dengan tumbuhan indigofera yang dibentuk menjadi pellet. Pakan olahan ini merupakan  Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dengan judul “Pellet Sandiago (Pellet Pelepah Sawit dan Indigofera sp): Solusi Pakan Spesial pada Musim Kemarau” di bawah bimbingan dosen IPB, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc.

    “Di Indonesia masih mengalami banyak kekeringan saat musim kemarau, sehingga para peternak tidak bisa mencari rumput hijau saat musim. Maka dari itu, muncullah ide untuk membuat pakan ini dari pelepah sawit karena Indonesia memiliki banyak pohon kelapa sawit yang belum diolah dengan baik,” tutur Ananda selaku Ketua Tim Pellet Sandiago ini.

    Guna memperkaya nutrisi dari pelepah sawit, ditambahkan tumbuhan indigofera yang memiliki kandungan protein tinggi. Proses pembuatan yang dilakukan pun dimulai dengan mencacah pelepah sawit dan indigofera, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari dalam jangka waktu sekitar satu minggu untuk selanjutnya digiling menggunakan mesin. Usai digiling, pelepah sawit dan indigofera dicampurkan dengan bahan perekat dan tahap terakhir yang dilakukan adalah proses pelleting.

    “Sejauh ini, sasaran dari produk kami yakni peternak kecil maupun industri besar. Lalu, sistem penjualan kami lakukan dengan cara penjualan langsung kepada para peternak dengan harga Rp 3.000,- per kilogram,” tambah Ananda.

    Bahan utama dari produk ini yakni pelepah sawit yang digunakan karena ketersediaannya sepanjang tahun dan produksinya cukup melimpah di Indonesia. Selain itu, pelepah sawit memiliki kandungan sumber energi yang tinggi bagi hewan ternak. Dengan begitu, produk Pellet Sandiago diharapkan dapat membantu para peternak yang kesulitan mencari pakan saat musim kemarau tiba. “Selain itu, produk ini diharapkan mampu menjadi inovasi dan pakan baru di bidang peternakan untuk memenuhi kebutuhan hewan ternak,” tutup Ananda (ipb.ac.id)

  • IPB Tawarkan Pengembangan SPR di Kabupaten Sukabumi

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2019, kembali meningkatkan kerjasama dengan Kabupaten Sukabumi dalam Pengembangan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR).  "Melalui kegiatan lapang di bidang peternakan, dalam hal ini membuka SPR  merupakan langkah awal dalam memajukan sektor peternakan, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya di daerah Sukabumi," kata Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Sugeng Heri Suseno  dalam acara diskusi dengan Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami di Pendopo Sukabumi, Jumat (8/3).

    Lebih lanjur Prof. Sugeng mengatakan, LPPM IPB memiliki program pengabdian kepada masyarakat untuk mahasiswa, dosen, dan alumni. Untuk mahasiswa, selain KKN juga ada kegiatan tematik seperti IPB Goes to Field, SUIJI-SLP, KKN-Kebangsaan, dan ASEAN-SLP.  "Sementara untuk dosen dan alumni, selain SPR juga ada program Klinik Pertanian Nusantara, Stasiun Lapang Agro Kreatif (SLAK), Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), IPB Cyber Extension-Tani Center, IPB Peduli Bencana, dan Kemitraan Lingkar Kampus," tutur Prof. Sugeng. Lebih lanjut dikatakannya, SPR yang merupakan program pengabdian dosen dan alumni bertujuan untuk mencerdaskan peternak melalui sekolah rakyat.

    Menanggapi hal tersebut, Bupati Sukabumi, H. Marwan Hamami menyampaikan, di wilayah Kabupaten Sukabumi banyak lahan yang belum termanfaatkan secara efektif. Dengan potensi tersebut, SPR dapat berkembang dengan baik dan membantu para peternak dalam meningkatkan kapasitas usahanya. Marwan akan melakukan penetrasi untuk menggali potensi tersebut melalui Dinas Peternakan.  “Mudah-mudahan  sekolah lapangan seperti Sekolah Peternakan Rakyat bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat, khususnya peternak dengan potensi yang ada di Kabupaten Sukabumi,” ujar Marwan.

    Marwan menambahkan, pemerintah daerah telah berupaya mendorong terwujudnya beberapa program peternakan di lahan perkebunan yang tidak terpakai. Salah satunya dengan mendirikan agrowisata yang di dalamnya terdapat peternakan sapi perah. Harapannya, dengan adanya kerja sama pengelolaan Sekolah Peternakan Rakyat dengan IPB dapat menjadi langkah awal dalam memajukan sektor peternakan. Melalui SPR diharapkan ke depan Kabupaten Sukabumi bisa menjadi sentra peternakan untuk sapi potong. Turut hadir dalam acara tersebut Ketua SPR LPPM IPB, Prof. Muladno (ipb.ac.id)

  • IPB University dan FLPI Gelar Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Bidang Pemotongan Daging

    IPB University dan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) menggelar Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Bidang Pemotongan Daging (Butcher) Junior sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di Kampus IPB Dramaga. Pelatihan ini juga didukung oleh Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara dan Lembaga Sertifikasi Profesi Peternakan Indonesia (LSP PI).

    Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Fakultas Peternakan IPB University, Dr Rudi Afnan mengatakan bahwa pelatihan ini untuk menghasilkan tenaga butcher profesional yang berkompeten dan bersertifikat, sehingga berdaya saing dengan tenaga asing. Selain itu peluang kerja untuk profesi butcher profesional di Indonesia dapat diisi oleh sumberdaya manusia dalam negeri.

    “Pelatihan ini tujuannya untuk membangun kapasitas sumberdaya manusia yang terlibat pada aktivitas logistik peternakan, khususnya sapi potong. Penyusunan SKKNI bidang pemotongan daging (butcher) juga bertujuan untuk memberikan acuan baku tentang kriteria standar kompetensi kerja tenaga ahli pemotong daging berdasarkan topografi karkas (butcher) bagi para pemangku kepentingan dalam rangka mewujudkan butcher yang profesional, ” ujar dosen IPB University ini.

    Dalam kesempatan itu, Dr Henny Nuraini, staf pengajar Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University menjelaskan, pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja (K3).  “Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya perlindungan terhadap keselamatan serta kesehatan para tenaga kerja selama mereka bekerja di perusahaan tempat mereka bekerja. Keselamatan kerja ini sangat berhubungan erat dengan proses produksi suatu perusahaan. Terutama di Indonesia yang semakin berkembang negaranya, semakin berkembang pula tingkat kecelakaan kerja yang terjadi,” tutur dosen IPB University ini.

    Peneliti IPB University ini menambahkan, masalah jaminan mutu produk yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) yang terkait dengan sistem penyediaan sanitasi yang higienis. Di samping itu harus ada pengawasan dan pemeriksaan yang konsisten. Misalnya pemeriksaan kesehatan hewan dan kesehatan daging di Rumah Potong Hewan (RPH) harus ada penegakan hukum dan adanya sistem kesehatan masyarakat veteriner yang bertanggung jawab terhadap keamanan, kesehatan dan kelayakan pangan asal hewan.

    “Untuk menjaga dan menciptakan pangan asal hewan yang ASUH diperlukan perancangan, pengembangan dan implementasi sistem keamanan dan mutu pangan asal hewan. Sistem tersebut ditunjang oleh sarana dan prasarana fisik, sumberdaya manusia, organisasi dan dana yang memadai,” tegas pakar peternakan IPB University ini.

    Peserta pelatihan ini berasal dari berbagai tenaga kerja stakeholder yang berpengalaman dari perusahaan ternak di bidang Butcher Yunior dan memiliki sertifikat latih berbasis kompetensi pada jabatan Butcher Yunior (ipb today 275)

     

  • Kolaborasi Kunci Majukan Peternakan Indonesia

    Seiring dengan bertambahnya penduduk di bumi, khususnya di Indonesia, kebutuhan terhadap daging dan protein juga semakin meningkat. Keadaan ini menjadi tantangan bersama bagi masyarakat Indonesia dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan nasional. 
    Di sisi lain, isu stunting yang terjadi belakangan ini turut menjadi polemik tersendiri. Hal ini karena konsumsi gizi pada masyarakat yang terbilang masih kurang.

     Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Sc menjelaskan permintaan daging di tahun 2030 diproyeksikan meningkat hingga 80 persen dan pada tahun 2050 permintaan daging dapat meningkat lebih dari 200 persen. 

    “Ini memang peluang yang harus dimanfaatkan, tetapi kapasitas produksi kita  masih kurang. Saat ini peternakan kita 90 persen didominasi peternakan rakyat, dengan demikian mari kita bersama-sama berkolaborasi,” papar Prof. Luki pada acara Diskusi Strategic Talk dengan tema “Produksi Peternakan Berkelanjutan untuk Kedaulatan Pangan,” Jumat (19/7), di Kampus Dramaga, Bogor. 

    Prof. Luki juga menjelaskan, di era serba digital saat ini, produk ternak semuanya dituntut lebih cepat, lebih tepat, lebih cerdas, dan lebih efisien mencapai konsumen. Supaya survive, perlu adanya integrasi antara penyedia pakan, kandang ternak, dan pengolahan ternaknya. Penggunaan teknologi dan penguasaan jaringan bisnis harus ditingkatkan dalam rangka mempermudah akses permodalan.
    “Implementasi konsep ini harus dilakukan secara multidisiplin ilmu. Pekerjaan transdisiplin saat ini sangat diperlukan karena kita sudah tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, orang ilmu komputer harus tau tentang konsep dasar peternakan. Oleh karena itu antara satu dengan yang lain harus saling mendukung,” tambahnya.
     
    Hal senada diungkapkan oleh Dekan Sekolah Vokasi IPB University, Dr.Ir. Arief Darjanto, M.Ec. “Saat ini kita memasuki era perkembangan teknologi yang mengharuskan adanya vitality innovation. Ke depannya, tantangan kita itu bagaimana memproduksi banyak dengan input yang sedikit, tapi kualitasnya juga bagus. Oleh karena itu livestock revolution juga harus diiringi oleh market revolution,” ungkapnya. 

    Dr. Arief menambahkan ke depannya perlu adanya integrated business model dalam pengembangan peternakan di Indonesia. Dr. Arief mencontohkan, dalam peternakan ayam, pihak feeder harus bisa bekerjasama dengan pihak breeder, peternak, processing, dan marketing.  

    “Strategi partner saat ini penting, karena era saat ini adalah era coopetition dan cooperation,” pungkasnya. 

    Sebagai contoh integrated business model yang sudah berjalan saat ini, Wakil Kepala bidang Penelitian, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University, Prof. Dr. drh. Agik Suprayogi, M.Sc.Agr menjelaskan IPB University memiliki Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang telah diadopsi di beberapa daerah. 

    “Keberadaan SPR ini menjadi contoh integrasi antara pemerintah, akademisi, dan peternak secara langsung. Oleh karena itu, harus kuat dalam kolaborasi atau kelembagaannya, yaitu bagaimana kita berbagi peran dan tanggung jawab dalam membangun pertanian yang unggul dan modern,” paparnya. 

    Prof. Agik menegaskan, semua pihak harus kompak dan solid mewujudkan integrated smart farming di Indonesia untuk menjawab tantangan masa depan. Untuk mengajak banyak pihak, perlu adanya konsolidasi antara akademisi, government, dan pebisnis. (ipb.ac.id)

  • Kurangi Bau Amis pada Itik, Mahasiswa IPB University Manfaatkan Kayu Apu

    Itik merupakan salah satu komoditas peternakan yang cukup dikenal di Indonesia. Kandungan lemak yang tinggi pada bagian bawah kulitnya menyebabkan bau amis sehingga permintaan daging itik menjadi rendah. Tiga mahasiswa IPB University yaitu Binda Octa Rosa Pramesty dan Evri Choiriyah Al Firdaus dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan serta Lelli Hapsari Romadhoni dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, melakukan riset untuk menurunkan kandungan lemak pada itik melalui pakan yang diberi nama water plant dietary.

    Binda selaku Ketua Kelompok menjelaskan kandungan lemak pada daging paha itik berumur delapan minggu sekitar 8.47 persen sedangkan kandungan lemak pada daging paha ayam broiler berumur enam minggu berkisar 6.54 persen. Lemak jenuh yang tinggi akan menyebabkan kandungan kolesterol juga tinggi dan menyebabkan bau amis sehingga akan mempengaruhi permintaan konsumen yang menjadi rendah. 

    Untuk itu tim riset Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKMPE) 2019 ini membuat terobosan pakan untuk mengurangi kandungan lemak tersebut. "Water plant dietary merupakan ransum yang ditambahkan dengan tanaman air yaitu kayu apu. Kami menggunakan tanaman air ini dicampurkan ke pakan komersial yang sering digunakan masyarakat. Pakan komersial yang kami gunakan adalah pakan komersial BR-11,” ujarnya.

    Itik dapat mencerna makanan yang tinggi serat jika dibandingkan dengan ayam. Kayu apu merupakan tanaman air yang sering dianggap menjadi gulma dan tidak memiliki nilai ekonomis. Kayu apu memiliki kandungan serat yang cukup tinggi yang diharapkan dapat mengikat kolesterol pada daging itik. 

    "Kayu apu juga dapat berkembang biak dengan cepat dan kontinyu sehingga tidak akan mengalami kekurangan dan tidak akan bersaing dengan manusia. Yang paling penting kayu apu disukai oleh unggas air,” ungkapnya.

    Saat ini penelitian yang dibimbing oleh Dr Ir Widya Hermana M.Si ini berada pada tahap penentuan dosis penambahan kayu apu yang efektif untuk penurunan kadar lemak dan kolesterol pada daging itik. 

    "Keutamaan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan daging itik yang rendah lemak dan kolesterol namun tidak mengurangi rasa khas yang ada. Selain itu, agar tanaman kayu apu yang awal mulanya dianggap gulma perairan dan tidak memiliki nilai ekonomis dapat dimanfaatkan dengan baik,” tandasnya. (ipb.ac.id)

Page 1 of 3


Lihat Semua Berita >>

Protocol Kesehatan Covid-19 saat WFO Fapet IPB

Tips & Kegiatan Selama WFH