Perlu Upaya Ekstra untuk Memanfaatkan Limbah Pertanian sebagai Pakan Ternak

Berdasarkan hasil penelitian Prof. Erika B Laconi, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan tim, limbah pertanian dan perkebunan memiliki faktor pembatas jika dijadikan sebagai pakan ternak. Yaitu komponen lignoselulosa yang sulit dicerna dalam saluran pencernaan ruminansia dan menyebabkan produktivitas hewan rendah. Oleh karena itu, penting untuk melakukan teknik pengolahan tertentu pada limbah untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan pada gilirannya akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas hewan. Teknik pengolahan untuk limbah pertanian dan perkebunan sendiri terdiri dari teknik fisik, kimia dan biologi. 

Salah satu riset mahasiswa program doktoral IPB, Sari Putri Dewi, berjudul Increasing the Quality of Agricultural and Plantation Residues Using Combination of Fiber Cracking Technology and Urea for Ruminant Feeds ini terungkap bahwa teknologi yang bernama Fiber Cracking Technology (FCT) mampu menurunkan fraksi serat dan meningkatkan kecernaan pada ternak ruminansia. 

Menurut lulusan Terbaik Doktor pada wisuda Januari 2019 ini, penurunan fraksi serat ditunjukkan dari kerusakan ikatan lignoselulosa jelas terbukti pada metode Scanning Electron Microscopy (SEM), X-Ray Difraction (XRD) dan metode spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR). 

Sari dan tim pembimbing yang terdiri dari Dr. Anuraga  Jayanegara,  Dr. M. Ridla, Prof. Erika B Laconi ini membuat inovasi baru berupa teknologi FCT. Alat ini berguna untuk memecah serat pada bahan berserat tinggi yang biasanya terdapat dalam produk hasil ikutan pertanian dan perkebunan. Seperti jerami padi, pelepah sawit, tandan kosong sawit, kulit buah kakao, kulit kopi, jerami jagung klobot jagung, tongkol jagung, pucuk tebu dan ampas tebu. 

“Eksperimen ini bertujuan untuk mengevaluasi efek teknologi FCT dan penambahan urea pada nilai gizi jerami padi, daun kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit, kakao dan sekam kopi,” ujarnya. 

Dalam penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa kombinasi antara suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea telah terbukti meningkatkan nilai gizi jerami padi dan tandan kosong kelapa sawit. Urea lebih disukai daripada amonia karena aman, mudah digunakan dan mudah diperoleh. 

“Eksperimen ini adalah kelanjutan dari studi sebelumnya untuk menjelaskan mekanisme lebih dalam mengenai peningkatan nilai gizi limbah pertanian dan perkebunan menggunakan kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi dan urea. Berdasarkan hasil penelitian dalam disertasi saya, saya yakin inovasi ini akan berguna bagi masyarakat bahwa hasil ikutan (by-product) pertanian dan perkebunan dapat digunakan sebagai pakan alternatif bagi ternak ruminansia,” imbuhnya. (ipb.ac.id)



Lihat Semua Berita >>

Pemira Dekan Fakultas Peternakan IPB 2020-2025

Protocol Kesehatan Covid-19 saat WFO Fapet IPB