Peneliti IPB Kembangkan Rumput yang Tahan Kekeringan

 

Peternakan ruminansia di Indonesia didominasi oleh peternakan rakyat. Sebagian besar peternak memanfaatkan rumput sebagai hijauan pakan utama untuk ternak. Akan tetapi kendala yang dihadapi oleh peternak adalah ketersediaan hijauan. Kuantitas, kualitas, dan kontinuitas hijauan adalah faktor penghambat hijauan pakan.

Hal tersebut membuat sejumlah pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian terkait seleksi rumput tahan cekaman dan potensi pengembangannya di daerah kering dengan teknik Leisa. Penelitian ini dilakukan oleh Moh Ali Hamdan, Panca DMH Karti dan Iwan Prihantoro dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan (Fapet).

Panca mengatakan, Indonesia memiliki keanekaragaman jenis rumput yang tinggi. Namun, sebagai negara tropis, beberapa daerah di Indonesia  memiliki panjang musim yang berbeda seperti musim penghujan yang lebih pendek dari musim kemarau. Bagi daerah yang memiliki musim kemarau lebih panjang dari musim penghujan, ketersediaan hijauan menjadi faktor penghambat bagi perkembangan peternakan. “Padahal potensi ternak tersebut tentunya memerlukan ketersediaan hijaun sebagai pakan,” katanya.

Ia menuturkan, tingginya keanekaragaman jenis rumput di Indonesia menjadi potensi bagi peternakan. Ada beberapa rumput yang memiliki sifat resisten terhadap kekeringan, sehingga ketersediaan bisa menjadi andalan bagi pemenuhan kebutuhan ternak. Hal ini tentu menjadi potensi untuk dikembangkan agar ketersediaannya tidak terlalu dipengaruhi oleh musim.

Ia juga menambahkan, upaya pengembangan rumput tahan kekeringan dapat menggunakan teknik LEISA. LEISA merupakan singkatan dari Low External Input for Sustainable Agriculture. Teknik ini memiliki prinsip yang masih mengizinkan penggunaan input dari luar lingkungan seperti penggunaan pupuk dan pestisida dalam jumlah yang terbatas, tetapi dapat memberikan peningkatan hasil yang optimal.

Berdasarkan hasil penelitian, rumput yang tahan kekeringan dan cocok dikembangkan pada lahan tersebut adalah rumput koronivia (Brachiaria humidicolaSchwieck) cocok ditanam sebagai rumput penggembalaan dan rumput odot (Pennisetum purpureum Schummach cv. Mott) sebagai rumput potongan karena memiliki produktivitas tertinggi (ipb.ac.id)



Lihat Semua Berita >>

Protocol Kesehatan Covid-19 saat WFO Fapet IPB