Latest

Kenaikan harga daging dan kebutuhan pokok selama bulan puasa dan hari lebaran menjadi trend setiap tahun.  Kenapa hal ini terjadi? Karena tradisi, cita rasa, dan tata niaga. Hal ini disampaikan Bramada Winiar Putra, S.Pt, M.Si, dosen dari Fakultas Peternakan IPB dalam Dialog Pakar IPB di Siaran Pedesaan Radio Republik Indonesia (RRI) belum lama ini.
 
Bram, begitu dosen muda ini biasa disapa, menjelaskan, tradisi jamuan saat berlebaran biasanya banyak dan cenderung berlebih. Hampir semua orang dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda apakah itu itu pegawai, buruh, petani, nelayan, ataupun pejabat, semua ingin menjamu keluarga besarnya dengan daging sebagai menu utama. “Rasanya lebaran tak afdol, jika tanpa daging dan tak lengkap jika tak ada opor ayam, “ tandasnya.  Fenomena inilah yang menyebabkan melejitnya permintaan pasar akan daging yang pada gilirannya menyebabkan oknum pedagang mengambil untung yang besar. “Cita rasa atau taste memicu tingginya permintaan. Daging sapi contohnya, ketika lebaran seperti menjadi suatu keharusan. Meskipun diakui di beberapa komunitas mempunyai pilihan daging jenis lain. Orang Batak dan Betawi lebih cenderung daging ayam kampung sebagai kesempurnaan masakan, Banten dan Sulawesi lebih suka daging kerbau dibandingkan daging sapi.
 
Tataniaga juga menjadi salah satu penyebab utama mahalnya harga daging dan kebutuhan pokok lainnya. Harga ternak sapi import di negara penyedia sebetulnya tidak mengalami perubahan. Juga harga ayam potong dan telor sebenarnya tidak perlu naik karena biaya bahan baku pakan dan produksi stabil. “Namun karena panjangnya rantai tata niaga menyebabkan harga akhir produk ke tangan konsumen menjadi mahal, “ pungkasnya. (wly)


Lihat Semua Berita >>

Pemira Dekan Fakultas Peternakan IPB 2020-2025

Protocol Kesehatan Covid-19 saat WFO Fapet IPB