News

  • Manajemen Pergudangan dalam Sistem Logistik Pakan

    Dalam sistem logistik pakan, salah satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah penyimpanan dan pergudangan. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga karakteristik, baik fisik maupun kimia, yang dimiliki bahan pakan selama waktu penyimpanan setelah proses pemanenan dan pengeringan. Hal itu disampaikan oleh Pengajar Fakultas Peternakan IPB Dr. Heri Ahmad Sukria dalam sebuah pelatihan tentang manajemen logistik pakan yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) di Kampus IPB Darmaga, pada 26-27 Maret 2019.

    Perhatikan pula faktor-faktor penyebab terjadinya kehilangan kualitas dan kuantitas Bahan selama penyimpanan seperti jamur (fungi), serangga (insects), rodent (rat and mice), respirasi dan migrasi uap air (moisture migration). Beberapa hal yang mempengaruhi pertumbuhan jamur yakni Kadar air, temperatur bahan baku pakan, kondisi biji-bijian yang disimpan, material asing dalam bahan baku, serta keberadaan mikroorganisme lain dalam bahan baku seperti serangga dan kutu. Untuk menghindari tumbuhnya jamur, maka suhu optimum dalam gudang sebaiknya berkisar 25-30 derajat celcius dengan kelembaban RH : 65% - 93%. Pengendalian jamur, tambah Heri dapat dilakukan dengan secara kimia ataupun fisik. Cara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan asam propionate dan asam asetat, sedangkan cara fisik selain mengontrol suhu dan kelembaban, juga dapat dilakukan dengan melepas gas tertentu ke dalam gudang.

    Dalam mengoperasikan penyimpanan pada sistem pergudangan, beberapa prinsip berikut ini perlu dijadikan pegangan demi tercapainya sistem pergudangan yang efisien. Prinsip-prinsip itu yakni menjaga dan menjalankan prinsip first in first out (FIFO), tumpukan barang disususn dengan aman, membuat layout (plan layout) barang untuk akses dan menemukan barang, pencatatan semua perpindahan barang, kehilangan (losses) pada form yang sesuai dan benar, pengarsipan segera semua dokumen dan catatan (record), melakukan perencanaan: barang/staf/transport yang dibutuhkan, menjaga keamanan barang, menjaga kebersihan gudang (harian/mingguan/bulanan), membuang segera barang yang rusak, selalu berkomunikasi secara efektif dengan pihak terkait, serta melakukan cek persedian (inventory) barang secara regular. (agropustaka.com)

     

  • Tantangan Industri Olahan Susu di Era 4.0

    Salah satu industri olahan hasil ternak, yakni industri persusuan nasional telah mengalami perubahan nyata baik dalam hal populasi maupun produksinya dalam 7 tahun terakhir. Menurut catatan Dewan Persusuan Nasional, produksi susu segar pada 2012 berjumlah 700 ton dengan produktifitas rata-rata 3300 liter per masa laktasi. Adapun pada kondisi di 2020, diprediksi produksinya mencapai 3000 ribu ton, dengan tingkat produktifitas mencapai 4500 liter per masa laktasi.

    Terdapat empat peluang utama pengembangan produk susu. Peluang itu yakni, "dapat dikonsumsi semua kelompok usia, sejak bayi sampai manula. Produk susu juga bisa merupakan produk pangan umum maupun untuk kebutuhan khusus," kata Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Dr. Irma Isnafia Arief dalam Workshop Penerapan Teknologi 4.0 pada Rantai Pasok Industri Olahan Hasil Ternak di Kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor pada 2 Mei 2019 lalu. Acara diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), dan diikuti oleh para praktisi, akademisi dan pemerhati bidang logistik produk olahan hasil ternak dari berbagai daerah.

    Peluang lain, jelas Irma yakni susu bisa menjadi produk utama maupun produk tambahan dalam sebuah produk makanan dan minuman. Aneka macam produk olahan susu terus berkembang dengan berbagai variasi jenis olahan susu, baik berbentuk minuman dan makanan dengan susu. Produk susu juga terus berkembang dengan aneka inovasi produk turunannya, mulai dari susu cair, susu bubuk, susu skim, whey, krim (lemak susu), keju, yogurt, kasein, kalsium.

    Berbagai peluang dan tantangan produk olahan susu tersebut harus ditopang dengan kesiapan industri domestik dalam memasuki era industri 4.0. Tidak hanya peralatan serta sarana dan prasarana yang harus dipersiapkan, namun juga sumber daya manusianya pun senantiasa ditingkatkan ketrampilannya sehingga tidak gagap dalam menapaki revolusi industri 4.0.

  • Dosen IPB Kembangkan Pakan Ternak Dari Limbah

    Guru Besar IPB Prof Yuli Retnani, MSc mengembangkan inovasi pakan yang bersumber dari limbah sayuran di pasar untuk meningkatkan produktivitas ternak, khususnya di perkotaan, daerah rawan pakan dan bencana.

    "Produk pakan yang dihasilkan dari pengolahan pakan bisa berbentuk mash, pellet, crumble, biskuit dan wafer," kata Yuli di Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

    Dikatakannya, inovasi ini telah dikembangkannya sejak 2009. Dengan adanya teknologi pengolahan pakan yang awet, mudah, murah dan tersedia sepanjang musim diharapkan peternakan di Indonesia dapat tumbuh produktif, tanpa bergantung pada ketersediaan rumput dan hijauan pada musim paceklik, terutama di daerah rawan pakan dan bencana serta daerah perkotaan yang ketersediaan lahan terbatas.

    Dijelaskannya, inovasi pakan terdiri atas wafer pakan dan wafer suplemen pakan. Wafer pakan sebagai pengganti hijauan sedangkan wafer suplemen pakan sebagai suplemen dengan tujuan khusus seperti untuk meningkatkan bobot badan atau untuk menurunkan mortalitas.

    "Pembuatan wafer limbah sayuran pasar dilakukan dengan memanfaatkan limbah sayuran terbuang," katanya.

    Menurutnya, salah satu limbah yang banyak terdapat di sekitar lingkungan masyarakat adalah limbah sayuran pasar. Limbah sayuran setiap minggu semakin bertambah dan sulit untuk mencari pembuangan sampah.

  • Guru Besar IPB : Kesejahteraan Hewan Ternak Menentukan Kualitas Daging

    Kesejahteraan hewan akan terpenuhi bila hak-hak hewan (animal rights) minimal dapat terpenuhi. Terdapat lima prinsip dari kesejahteraan hewan, yaitu bebas rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari rasa takut dan stres dan yang terakhir bebas untuk mengekspresikan tingkah laku alamiah. Ketika hewan telah memenuhi prinsip tersebut maka dapat dikatakan bahwa hewan dapat memperoleh kesejahteraannya. Tidak hanya pada hewan biasa, pada hewan ternak pun perlu diperhatikan kesejahteraanya. Terutama hewan-hewan ternak yang menjadi salah satu instrumen dalam sebuah pengetahuan, baik hewan ternak untuk praktikum maupun penelitian.
     
    Guru Besar Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Dewi Apri Astuti, mengatakan perlu ada petunjuk atau buku panduan bagi pemeliharaan serta pengarahan dalam perlakuan hewan ternak. Menurutnya, perlakuan yang buruk dapat menurunkan kualitas produk daging bahkan dapat terjadi kematian akibat hewan yang stres. Terdapat beberapa poin yang perlu diperhatikan selama terdapatnya penggunaan hewan ternak baik sebagai riset maupun praktikum. Pertama, perlu dibuatnya fasilitas (kandang, tempat makan dan minum) yang baik, aman, nyaman dan cukup luas untuk hewan ternak. 
     
    Selain itu juga diperlukannya lingkungan yang baik seperti hijauan pakan dimana para hewan dapat keluar dari kandang mereka dan melakukan gerak badan (exercise). Kedua, perlu diperhatikan pakan dan air minum. Jumlah dan jenis pakan perlu diperhatikan baik setelah terlaksananya penelitian maupun sebelum peneltian, sehingga hewan dapat tetap hidup. Ketiga, perawatan saat dilakukannya kegiatan penelitian dan praktikum. Para peneliti yang melakukan hal tersebut perlu didampingi oleh ahli perawatan hewan, sehingga menghindari terjadinya kecelakaan akibat hewan merasa tidak nyaman dan tersakiti. Keempat, yang sangat perlu diperhatikan yakni proses memindahkan hewan ternak dari satu tempat ke tempat lain. Perlu transportasi yang memadai dimana hewan dapat merasa nyaman selama perjalanan. Karena saat ini di jalan-jalan masih banyak dapat kita jumpai hewan-hewan yang diangkut dengan transportasi dengan tidak memperhatikan kenyamanan hewan tersebut, yang pada jangka panjangnya dapat mempengaruhi kesehatan dari hewan ternak tersebut dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Kelima, pengkayaan (enrichment). Semua jenis hewan memiliki jenis pengkayaan yang berbeda satu sama lainnya, contohnya seperti hewan unggas tidak akan tahan angin kencang saat masih kecil sehingga perlu kandang yang lebih hangat. 
     
    Setiap hewan memiliki ciri khas khusus sehingga perlu mengetahui apa saja jenis pengkayaan bagi hewan tertentu yang nantinya akan digunakan sebagai riset maupun praktikum. Poin yang terakhir yaitu sirkulasi angin yang baik diperlukan bagi hewan. Terutama bagi hewan-hewan ruminansia (seperti sapi dan kambing) yang dapat menghasilkan gas-gas amonia yang tinggi. Selain itu perlu mengetahui sifat dari hewan ternak tersebut, apakah mereka senang bergerombol atau soliter (sendiri), agar tidak menyebabkan hewan menjadi stres karena kesepian.
    IPB memiliki komisi kesejahteraan hewan yang bernama Komisi Etik Hewan (KEH) yang diketuai oleh drh. Ni Wayan Kurniani Karja, MP, Ph.D, terdiri dari beberapa anggota yang di dalamnya terdapat beberapa ahli, baik ahli dalam perawatan hewan maupun ahli hewan ternak, ujar Prof. Dewi.
     
    Ke depan, diharapkan terdapat sebuah panduan bagi para mahasiswa dan peneliti untuk menjadi sebuah acuan dalam pemeliharaan hewan ternak sebagai hewan penelitian maupun praktikum. Dengan demikian penelitian dapat berjalan dengan baik dengan memberikan kebutuhan dasar yang utama bagi hewan ternak.(megapolitan.antaranews.com)
  • Hasil Penelitian: Campurkan Tanin Pada Pakan Ternak Kurangi Emisi Gas Metana

    Hasil penelitian Dosen Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Anuraga Jayanegara menunjukkan, manipulasi pakan ternak dapat mengurangi emisi gas metana (CH4). Ia mengatakan, manipulasi pakan dengan mencampurkan tanin pakan adalah salah satu cara mitigasi untuk mengatasi perubahan iklim yang disebabkan efek gas rumah kaca. "Gas metana dari ternak ruminansia juga menjadi salah satu penyebab efek gas rumah kaca," kata Anuraga seperti dikutip dari laman Republika, Senin, (09/05).

    Menurutnya, ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing dan domba turut berperan dalam peningkatan emisi gas rumah kaca di atmosfer.  Tipikal emisi gas rumah kaca berasal dari kontribusi ruminansia berdampak pada pemanasan global. Gas metana dihasilkan selama proses fermentasi pakan berserat di dalam rumen dan dikeluarkan ke lingkungan melalui ekskresi. Akibatnya lingkungan semakin tercemar karena meningkatnya gas metana di udara.

    "Hasil penelitian membuktikan pemanfaatan bahan pakan lokal yang mengandung tanin sebagai alternatif penurunan produksi gas metana," tutur Kepala Sub Bidang Pengembangan Karir Mahasiswa Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni IPB ini. Tanin, lanjutnya, adalah senyawa metabolit sekunder tanaman atau pilfenol yang banyak terdapat pada hiajuan pakan ternak, bersifat antinutrisi dan dapat menyebabkan keracunan apabila dikonsumsi ternak secara berlebihan. "Tanin dapat mengurangi produk gas metana saat proses pencernaan berlangsung, karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri metanogen yang memproduksi gas metana," katanya. Ia mengatakan, jenis tanaman yang banyak mengandung tanin misalnya tanaman leguminosa atau kacang-kacangan. Caranya dengan mengekstrak tanaman tersebut, lalu diambil taninnya dan dijadikan pakan adiktif. Ia menambahkan, ada dua cara mengetahui penurunan kandungan gas metana yang dihasilkan ternak ruminansia, yakni melalui pengukuran gas metana dari hasil pertukaran gas yang terjadi saat ternak ruminansia dimasukkan ke dalam respiratory chamber. "Dan cara kedua melalui simulasi in vitro yakni dengan mensimulasikan rumen rumenansia kemudian dimasukkan pakan yang mengandung tanin dan cairan rumen, lalu diukur produksi gas yang terjadi," kata pengajar berprestasi dari Fakultas Peternakan IPB ini. (alumniipb.org)

  • IPB Gali Potensi Penerapan Animal Welfare pada Rantai Pasok Sapi Potong

    Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan didukung oleh Rumah Potong Hewan (RPH) PT. Elders Indonesia menggelar pelatihan kesejahteraan hewan pada rantai pasok sapi potong. Pelatihan ini mengambil tema “Penerapan Animal Welfare pada Rantai Pasok Sapi Potong” dan digelar di Fakultas Peternakan, Kampus IPB Dramaga (14/5).

    Penyelenggaraan kesejahteraan hewan merupakan tanggung jawab bersama stakeholder. Mulai dari pemerintah, pendidikan tinggi, bisnis dan komunitas peternak. Hal ini sesuai dengan kaidah Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) dan Kesejahteraan Hewan.

    Dekan Fapet IPB, Dr. Muhamad Yamin mengatakan tujuan dari kegiatan ini  dalah untuk memberikan pemahaman kepada peserta pelatihan tentang penerapan kaidah Animal Welfare secara komprehensif pada rantai pasok sapi potong.

    “Peserta juga belajar tentang tata kelola RPH Ruminansia yang higienis, memenuhi standar Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) dan berdaya saing. Saya harap pelatihan ini dapat memberikan pemahaman kepada peserta pelatihan untuk menerapkan praktik manajemen rantai pasok sapi potong yang sesuai kaidah Animal Welfare dari hulu ke hilir. Selain dilatih, peserta juga kami ajak untuk berkunjung ke RPH PT. Elders Indonesia,” ujarnya.

  • IPB Gelar Kontes Ayam Pelung

    Kontes Ayam Pelung merupakan salah satu rangkaian dari Festival Ayam Pelung Nasional (FAPN) yang diselenggarakan  Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB).  Kontes ini berlangsung pada hari Minggu (17/9) bertempat di Lapang Rektorat Kampus IPB Dramaga. Sehari sebelumnya digelar Talkshow Keindahan Ayam Lokal Indonesia dan Kontes Judjing Ayam Pelung untuk mahasiswa.

    ''Kontes Judjing Ayam Pelung ini diperuntukkan bagi mahasiswa dengan tujuan untuk melatih bagaimana caranya menilai ayam pelung,'' tegas Bimo Prayogo, Ketua Pelaksana FAPN IPB. Kriteria penilaian ayam pelung ini diantaranya : penampilan atau performa, bobot, dan suara.

    Kontes ayam pelung yang merupakan kegiatan tahunan ini diikuti sekitar 120 kontestan dari seluruh wilayah di Indonesia.

    ''Dari Lampung kami mengikutsertakan lima kontestan sebagai ajang silaturahim dengan teman-teman sesama penggemar ayam pelung dan supaya tahu juga perkembangan ayam pelung di Indonesia,'' ujar Abu Musa, Ketua Pelungers Lampung saat ditanya terkait motivasinya mengikuti acara tersebut.

    Kontes ini memperebutkan tiga piala diantaranya Piala Menteri Pertanian untuk Juara Umum, Piala Rektor IPB untuk Juara Satu dan Piala Dekan Fakultas Peternakan IPB untuk Juara Kedua.

    Selain kontes, kegiatan tersebut juga dimeriahkan dengan lomba fotografi dan pameran ayam ekor panjang (megapolitan.antaranews.com)

  • Pakar: Konsentrat hijau solusi kurangi pakan impor

    Bogor, (Antaranews Bogor) - Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Prof Luki Abdullah mengemukakan konsentrat hijau sebagai pakan padat nutrisi berbahan baku utama tanaman Indigofere zollingeriana kini dapat menjadi solusi mengurangi ketergantungan pada produk impor.

     "Konsentrat hijau merupakan pakan padat nutrisi dengan kandungan serat kasar kurang dari 18 persen yang bahan bakunya berasal dari hijauan pakan," kata Prof Luki kepada wartawan dalam acara "coffee morning" rencana Pengukuhan Guru Besar IPB di Kampus Dramaga Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat.

    Prof Luki menjelaskan, konsentrat hijau dalam ransum berfungsi untuk mengoreksi kekurangan nutrisi yang tidak didapatkan dari bahan lain.

    "Salah satu legum prospektif di Indonesia yang bisa dikembangkan sebagai bahan konsentrat hijau adalah indigofera zollingeriana. Indogofera ini telah diamati sejak tahun 2008," kata Prof Luki.
  • 17/3/2016 | Studium Generale : Ronald Knust Gaichen dari STOAS Vilentum University

    Studium Generale oleh Ronald Knust Gaichen dari STOAS Vilentum University

    Tema : "How to design and improvement of written exams"

    Hari, Tanggal : Kamis, 17 Maret 2016

    Waktu : 10.00 - 12.00 WIB 

    Tempat : Ruang Sidang Fakultas Peternakan IPB Lantai 3 Wing 2

  • 19/06/2019 | Halal bi Halal dan Purnabakti Fapet IPB 1440 H

    Halal bi Halal Fapet IPB 1440 H

     Waktu : 19/06/2019

    Tempat : Auditorium JHH Fapet IPB

  • 58 Mahasiswa Fapet KKNT di Kabupaten Brebes

     Sebanyak 58 mahasiswa Fakultas Peternakan IPB melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. KKN yang dimulai pada tanggal 17 Juli hingga 29 juli 2019 tersebut dilakukan di  enam Desa  se-Kecamatan Ketanggungan. Yakni Desa Karangbandung, Buara, Kubangsari, Ciseureuh Lor dan Cikeusal Kidul.

    Rombongan  KKN Mahasiswa Fapet IPB tersebut diterima oleh Wakil Bupati Brebes Narjo, SH, MH di Aula Balai Desa Karangbandung, Kecamatan Ketanggungan, Selasa (18/6). Turut hadir dalam penerimaan KKN Mahasiswa tersebut, Perwakilan Baperlitbangda  Kabupaten Brebes, Perwakilan Kepala SKPD Dilingkungan Pemerintah Kabupaten Brebes dan Kepala Desa lokasi tempat KKN.

    Dalam sambutannya, Narjo mengatakan, kemampuan menguasai teori selama menempuh pendidikan di kampus sangat penting karena menjadikan mahasiswa tampil sebagai sosok intelektual. Namun, menguasai praktek dilapangan jauh lebih penting, karena kadang teori dan praktek jauh berbeda dan perbedaan itu, bisa mencapai 180 derajat.

    “Teori yang kita dapatkan di Kampus, ketika terjun di masyarakat terdapat perbedaan dan itu yang menjadikan kita untuk terus berfikir dalam menjawab tantangan dari disiplin ilmu yang kita pelajar,” ujar Narjo. Narjo Menyebutkan bahwa dengan satu harapan ketika kenyataan lebih buruk dari teori maka Mahasiswa harus dapat mengarahkan masyarakat agar menjalankan sesuai teori yang ada. Namun demikian, jika ternyata kondisi yang ada jauh lebih baik dan lebih bermanfaat dari teorinya, maka mahasiswa dapat menarik kesimpulan tentang definisi baru dari sebuah teori yang ada tersebut.
     
    Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fapet IPB, Prof. Sumiati mengucapkan Banyak terima kasih kepada Kabupaten Brebes yang selalu menyambut baik Mahasiswanya yang melakukan KKN di Brebes. “Jalinan kerja sama ini, jangan sampai putus dan akan terus berlanjut kerja samanya di berbagai bidang” lanjutnya. 
  • Adih Dinyatakan Lulus dalam Sidang Sarjana Online Saat Pandemi COVID-19

     

    Masa partially closed down di Kampus IPB tidak menyurutkan langkah mahasiswa tingkat akhir untuk menyelesaikan tugas akhir dengan sebaik-baiknya.  Oleh karena itu Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University mempersiapkan perangkat penyelesaian tugas akhir, salah satunya dengan penyelenggaraan ujian sidang sarjana online. Ujian sidang sarjana online perdana terselenggara untuk Adih pada hari Kamis 16 April 2020, pukul 09.00-11.00.

    Adih telah melakukan penelitian dengan dosen pembimbing Dr Ir Didid Diapari, MSi dan Dr Ir Heri A. Sukria, MSc Agr. Ia berhasil menuliskan skripsi dengan judul Kecernaan Nutrien Kelinci New Zealand White Fase Bunting yang Diberi Ransum Mengandung Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk).

    Dalam ujian sidang ini, Adih diuji kemampuan berkomunikasi, menyampaikan materi dan penguasaan tugas akhirnya.  Tim penguji terdiri dari Komisi Pembimbing dan Penguji luar, yaitu Dr Indah Wijayanti, STP, MSi serta Dr Yuni Cahya Endrawati, SPt, MSi.

    Ujian berlangsung dengan lancar dan dapat diselesaikan dengan baik.  Penilaian hasil ujian sidang sarjana ini menyatakan bahwa Adih lulus dan diminta untuk dapat melakukan perbaikan skripsi sesuai dengan arahan dari pembimbing dan penguji dalam waktu satu bulan. (ipb.ac.id)

  • Ahli Daging IPB University Paparkan Penanganan dan Pengolahan Daging Qurban di Rumah Tangga

    Pelaksanaan ibadah qurban akan digelar selama empat hari ke depan. Untuk itu, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Dr Tuti Suryati memberikan tips penanganan daging qurban yang aman dan sehat. 

    Sesampainya daging qurban di rumah, Dr Tuti menyarankan supaya daging qurban dipisah dari jeroan. Apabila daging atau jeroan terdapat cemaran seperti tanah, pasir, kerikil, rumput maupun kotoran lainnya, ia menyarankan supaya dicuci hingga bersih. 

    "Idealnya daging tidak dicuci karena proses pencucian daging akan berdampak terhadap meningkatnya jumlah mikroba dan memunculkan bau pada daging," jelas Dr Tuti. 

    Jika harus dicuci, lanjutnya, pastikan menggunakan air bersih dan dibilas menggunakan air yang siap minum. Daging yang sudah dicuci ditiriskan menggunakan refrigerator hingga tidak ada air di permukaan. Daging tersebut bisa dikemas per 250 gram atau 500 gram menggunakan plastik transparan dan tidak berbau. 

    "Daging bisa diolah langsung maupun disimpan dingin atau beku. Kalau jeroan, pastikan sebelum disimpan beku, dimasak terlebih dahulu," tambahnya. 

    Untuk pengolahan daging qurban, Dr Tuti menegaskan supaya daging qurban dimasak menggunakan panas yang cukup seperti direbus, dipanggang, dibakar atau digoreng hingga matang. Ia juga menyarankan saat memasak daging jangan sampai gosong saat dibakar. 

    Supaya olahan daging lebih sehat, ia menyarankan untuk menambahkan rempah-rempah. "Jika mau membuat sate, dapat ditambahkan parutan nanas atau dibungkus daun pepaya sebelum dimasak untuk mendapatkan sate yang lebih empuk," jelasnya. 

    Sementara, jika mengolah daging qurban yang sudah disimpan beku, daging yang masih dalam kemasan direndam terlebih dahulu menggunakan air dingin hingga terbentuk daging segar dan baru dimasak sesuai keingininan. 

    "Daging qurban dapat pula diolah sekaligus, daging olahan ini bisa dikemas 250 gram maupun 500 gram dan disimpan dingin atau beku. Sebelum disajikan, daging olahan beku tersebut dicairkan terlebih dahulu kemudian dipanaskan," pungkasnya (ipb.ac.id)

  • Alumni Fapet IPB Raih Ramon Magsaysay Award 2017

    Ir. Abdon Nababan, alumni Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 19 berhasil meraih penghargaan bergengsi tingkat Asia. Pria yang saat kuliah aktif dalam kegiatan Lawalata (pencinta alam) ini meraih Ramon Magsaysay Award 2017 untuk kategori Community Leadership dari seluruh Asia.

    Ramon Magsaysay Foundation  merupakan penghargaan untuk kepemimpinan yang menginspirasi dan membawa perubahan. Beberapa nama yang pernah mendapat penghargaan ini adalah Dalai Lama ke-14 pada 1959, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1993, dan Syafi’i Ma’arif (PP Muhammadiyah) pada 2008.

    Menurut pihak Ramon Magsaysay Award, Abdon merupakan seorang pemimpin yang membawa perubahan. Keberanian dan advokasinya menjadi suara dan wajah bagi masyarakat adat di Indonesia.

    Abdon merupakan pemimpin perjuangan Masyarakat Adat di Nusantara (AMAN) bahkan sebelum era reformasi. Acara lima-tahunan Kongres Masyarakat Adat Nusantara menunjuknya sebagai Sekretaris Jenderal AMAN, di dua periode berturut-turut, yaitu 2007-2012 dan 2012-2017. Kini Abdon duduk di Dewan AMAN Nasional 2017-2022 mewakili Region Sumatera.

    Dalam periode kepemimpinannya, kerja AMAN telah berkontribusi positif terhadap perjuangan hak-hak masyarakat adat di negara ini. Beberapa diantaranya adalah Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 tentang Hutan Adat, Pencantuman Peta Wilayah Adat sebagai Peta Tematik oleh Badan Informasi Geospasial, dan Inkuiri Nasional oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia tentang pelanggaran hak-hak masyarakat adat di kawasan hutan. AMAN pun secara aktif mendorong dan memfasilitasi Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat (RUU MA). RUU ini kini ada di Program Legislasi Nasional DPR RI untuk 2017.

    Masih di periode kepemimpinannya, AMAN memastikan pencantuman enam poin terkait masyarakat adat di dalam visi dan misi Presiden Joko Widodo (dikenal sebagai NAWACITA). Hasil paling nyata adalah penyerahan Surat Keputusan Pengakuan Hutan Adat kepada sembilan masyarakat adat oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada akhir Desember 2016.

    Penghargaan tahunan ini diberikan oleh Ramon Magsaysay Foundation, yang berbasis di Filipina. Acara penyerahan tahun ini dijadwalkan pada 31 Agustus di Manila. Penghargaan Nobel Asia ini diumumkan resmi pada Kamis, 27 Juli 2017.(ipb.ac.id)

  • Audiensi FLPI ke Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut,Kementerian Perhubungan RI dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI

    Jakarta-Tim FLPI pada tanggal 04 Desember 2017 melaksanakan kegiatan audiensi ke Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Kementerian Perhubungan RI. Kegiatan audiensi dilaksanakan oleh Prof Luki Abdullah selaku Chairman FLPI, Dr. Epi Taufik selaku ketua koordinator riset FLPI serta Dr.Rudi Afnan selaku koordinator grup riset live animal transportation FLPI. Tim FLPI diterima oleh Dr.Capt.Wisnu Handoko, Kepala Subdit Angkutan Laut Dalam Negeri selaku pimpinan rapat. Kegiatan ini juga turut mengundang Bapak Harry Boediarto selaku Direktur Usaha Angkutan Barang & Tol Laut PT PELNI (Persero) serta tim dari Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau dan Penyebrangan, Kemenhub RI.

    Kegiatan audiensi ini sebagai tindak lanjut dari agenda riset FLPI bertema “Optimalisasi Penggunaan Kapal Camara untuk Meningkatkan Efisiensi Sistem Transportasi Ternak”.  FLPI mengajukan perizinan secara langsung ke Kemenhub RI dan PT PELNI untuk pelaksanaan penelitian di Kapal Ternak Camara Nusantara. “FLPI akan membawa riset  ini sebagai agenda riset logistik nasional dengan mendapatkan dukungan dari Dirlala, Litbang Perhubungan dan IPB sebagai steering committee”, jelas Luki. “Hasil dari riset ini diharapkan sebagai penyediaan data sebagai dasar pengambilan keputusan Pemerintah yang selama ini masih bersifat parsial khususnya terkait sislognas”, ujar Harry Boediarto. Riset terkait optimalisasi penggunaan Kapal Camara yang dilaksanakan FLPI diharapkan mampu memberikan solusi kapal ternak yang belum efisien lantaran penuh saat mengangkut sapi dari Kupang, namun kosong ketika balik dari Jakarta ke NTT.  “Riset ini diharapkan juga mampu memberikan solusi produk apa yang dapat dimuat di kapal ternak, karena kosongnya muatan di kapal ternak saat kembali ke NTT lebih sulit ketimbang kapal tol laut yang memang multifungsi, sementara kapal ternak didesain untuk membawa sapi”, jelas Wisnu.

    Kegiatan audiensi FLPI dilanjutkan bersilaturrahmi dengan Ketut Diarmita  selaku Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan,Kementerian Pertanian RI.  Pada kesempatan audiensi FLPI, Dirjen didampingi oleh  Sri Widiastuti selaku Direktur Pakan dan tim dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNak). Audiensi FLPI juga turut dihadiri oleh Professional Advisory Committee (PAC) FLPI yaitu Harianto Budi Raharjo, direktur PT Lembu Jantan Perkasa. Bapak Dirjen sangat menyambut positif kegiatan FLPI dan membuka seluasnya program-program yang akan disinergikan dengan Ditjen PKH. “Ditjen PKH siap memfasilitasi seluruh kegiatan FLPI yang memajukan peternakan Indonesia”, jelas Ketut .

  • Audit Eksternal ISO 9001:2008 oleh Sucofindo

    Pada tanggal 25 - 26 Februari 2016, SUCOFINDO melakukan audit (Surveillance Audit Sertifikasi ISO 9001: 2008)  terhadap pelaksanaan pelayanan akademik di Fakultas Peternakan IPB. Bertindak selaku auditor adalah Bapak Firman Suryalaga, yang didampingi oleh tim dari Fakultas Peternakan IPB. Audit oleh SUCOFINDO ini secara rutin dilakukan setiap tahunnya. Adapun tujuan audit eksternal kali  ini adalah untuk Memastikan kesesuaian Sistem Manajemen Mutu Organisasi serta Memastikan Sistem Manajemen Mutu Organisasi sesuai dengan persyaratan ISO 9001:2008 dengan pelaksanaan kegiatan pada ruang lingkup yang ditetapkan, yaitu pelayanan akademik.

    Audit eksternal yang berlangsung selama dua hari tersebut, diawali dengan Rapat Pembukaan pada Hari Kamis, 25 Februari, pukul 9.30 pagi, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan kesesuaian pelaksanaan kegiatan pelayanan dengan POB yang telah dituliskan dalam dokumen ISO di Bidang Management Representative, dan kemudian dilakukan audit di bidang layanan akademik. Pada hari Kedua, Jumat, 26 Februari 2016, kegiatan audit dilanjutkan dengan pemeriksaan dokumen bidang Tata Usaha dan infrastruktur/maintenance.

    Dari  bidang-bidang  yang diperiksa kesesuaiannya, masih ditemukan adanya kekurangan-kekurangan, pencapaian target yang tidak tercapai, dan beberapa kekurangan lain. Semua menjadi masukan dan koreksi yang sangat berharga bagi Fakultas Peternakan, untuk dapat diperbaiki di masa mendatang, demi terlaksananya pelayanan akademik yang berkualitas. Setelah seluruh rangkaian kegiatan audit eksternal ini selesai, maka pada sore harinya sekitar pukul 15.00 dilakukan penutupan oleh Dekan Fakultas Peternakan. Atas pelaksanaan kegiatan audit ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Firman Suryalaga selaku auditor, serta kepada SUCOFINDO.

    Semoga kita dapat terus bersinergi demi kemajuan Fakultas Peternakan IPB, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

  • Ayam Lokal Unggul, IPB D-1 Mulai Diproduksi Massal

    IPB University gandeng UD Lestari Farm untuk kembangkan invensi varietas Ayam IPB D-1. Kerjasama ini di bawah koordinasi Fakultas Peternakan dan Direktorat Inovasi dan Kekayaan Intelektual IPB University.

    Penandatanganan Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) lisensi antara IPB University dengan UD Lestari Farm ini dilakukan oleh Wakil Rektor Inovasi, Bisnis dan Kewirausahaan, Prof Erika B Laconi dan Direktur UD Citra Lestari Farm, Ir Bambang Krista di Ruang Sidang Rektor Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus Dramaga Bogor, (3/1).

    Dalam sambutannya, Prof Erika mengatakan bahwa tugas IPB University adalah menjadikan hasil invensi jadi inovasi. Hasil riset itu jika masih belum dapat dirasakan masyarakat maka masih menjadi invensi. Akan jadi inovasi jika sudah dirasakan masyarakat.

    “Saya bahagia bisa melaksanakan proses untuk melestarikan ayam lokal unggul kita melalui kerjasama ini. IPB D-1 adalah ayam lokal unggul hasil kawin silang, invensi dari Prof Cece Sumantri, Guru Besar Fakultas Peternakan. Temuan ini akan diproduksi oleh UD Lestari Farm,” ujarnya.

    Menurutnya kerjasama ini tidak hanya dalam hal pengembangan dan komersialisasi IPB D-1, akan tetapi dibuka juga peluang mahasiswa untuk magang dan kerjasama riset. Hal ini terkait dengan tugas utama IPB University dalam mencetak Sumberdaya Manusia (SDM) unggul. Sehingga dengan program magang ini, ada peluang mahasiswa bisa belajar berbisnis.

    “Masih ada ratusan invensi yang siap dipilih oleh para pengusaha untuk proses komersialisasi dan dijadikan kerjasama,” imbuh Prof Erika.  Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Dekan Fakultas Peternakan, Dr Rudi Afnan. Ia berharap semua pihak yang terlibat dalam kerjasama ini dapat bersinergi dengan baik dan produk inovasi dari Fakultas Peternakan dapat segera dirasakan oleh masyarakat luas.

    Sementara itu, Prof Cece Sumantri menyampaikan bahwa pengembangan ayam IPB D-1 ini basis penelitian dilakukan sejak tahun 2012. “Ayam ini ketahanan penyakitnya bagus, produksi telur 40 persen. Selain itu, setelah uji multilokasi ternyata pertumbuhannya pun luar biasa. Ayam montok dan tumbuh cepat. Sekira 10 minggu sudah bisa dipanen. IPB University merupakan satu-satunya perguruan tinggi yang berhasil merilis rumpun ayam baru yang sudah dilepas oleh Kementerian Pertanian RI dengan SK No. 693/KPTS/PK. 230/M/9/2019. Kerjasama ini masih dalam tahap pengembangan Day Old Chicken (DOC) atau anakan ayam,” ujarnya. (ipb.ac.id)

  • Ayo Minum Yoghurt Probiotik

    Probiotik adalah bahan pangan fungsional yang kini menjadi tren makanan yang dianjurkan oleh para ahli kesehatan.

    Para ahli menyepakati definisi probiotik sebagai mikroorganisme hidup yang bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup mampu memberikan manfaat kesehatan bagi inangnya (FAO/WHO 2002).

    Bakteri probiotik dianalogikan sebagai tentara barisan depan dalam saluran pencernaan manusia. Hal ini karena probiotik sangat mempengaruhi keseimbangan mikroflora di saluran pencernaan antara good bacteria dengan bad bacteria. Keseimbangan mikroflora akan mempengaruhi pola pencernaan dan penyerapan zat makanan dalam saluran pencernaan.

    Yoghurt probiotik adalah salah satu contok produk yang dapat dikategorikan sebagai pangan fungsional. Yoghurt dikategorikan sebagai pangan fungsional karena manfaatnya bagi kesehatan, antara lain menjaga keseimbangan mikroflora usus, anti tumor dan menurunkan kadar kolesterol.

    Berikut ini beberapa manfaat yoghurt probiotik bila dikonsumsi oleh manusia

    1. Minum sehari 100 ml Yoghurt probiotik akan membantu meningkatkan kesehatan tubuh
    2. Yoghurt probiotik merupakan minuman pendamping yang baik untuk penderita penyakit Thypus, Diabetes, dan Hyperkolesteromia
    3. Beberapa bakteri probiotik mampu menjaga stabilitas tekanan darah
    4. Mengurangi diare. Probiotik mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen ini karena probiotik memroduksi senyawa antimikroba serta asam laktat – senjata ampuh untuk penghambatan bakteri patogen – sehingga jumlah bakteri patogen di saluran pencernaan menurun, infeksi dan diare akhirnya bisa disembuhkan
    5. Menekan bakteri jahat di saluran pencernaan
    6. Meningkatkan imunitas tubuh. Probiotik mampu menurunkan respon inflamasi. Hal ini ditunjukkan dengan studi mencit yang disuntik dengan sel tumor dan diberikan yoghurt. Perlakukan ini mampu menekan terjadinya inflamasi dengan meningkatkan imunoglobin A (IgA) dan sel limfosit T CD 4+. Selain itu juga, studi pada manusia menunjukkan bahwa konsumsi probiotik mampu meningkatkan aktivitas fagositik dari sel imun monosit dan granulosit serta meningkatkan level antibodi yang disekresikan oleh sel imun limfosit B (Burns & Rowlands 2000; Perdigon et al. 2001). Solis et al. (2002) melaporkan, pemberian susu fermentasi yoghurt dapat meningkatkan produksi interferon IFN-y pada anak-anak yang kekurangan gizi. Beberapa peneliti juga berhasil membuktikan bahwa konsumsi BAL mampu meningkatkan sistem imun seluler dan humoral, di antaranya peningkatkan populasi dan proliferasi sel limfosit, produksi sitokin interferon-y (IFN-y), interleukin-12
    7. Mengandung bakteri baik untuk saluran pencernaan dengan populasi bakteri baik lebih dari 1 juta/ml

    Dengan semua manfaat di atas, saatnya untuk mengubah pola konsumsi harian kita dengan mengonsumsi sumber pangan yang sehat, salah satunya dengan mengkonsumsi probiotik. Di negara maju seperti Jepang, yoghurt probiotik sudah menjadi santapan sehari-hari. Mari mengonsumsi produk probiotik untuk kesehatan diri dan keluarga. “Let’s food be your medicine.”

  • Bagaimana Cara Pemotongan Hewan Kurban di Masa Pandemi Corona?

    Bagaimana cara memotong hewan kurban di masa pandemi corona yang aman? Pertanyaan itu beberapa hari ke depan mungkin akan mengemuka.

    Saat ini protokol kesehatan memang dikedepankan dalam berbagai tindakan. Termasuk tentunya dalam penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha yang akan dirayakan beberapa hari lagi.
     
    Ahli dari IPB punya pandangan bagaimana cara memotong hewan kurban di masa pandemi corona. Ada beberapa protokol kesehatan yang mesti dilakukan.
     
    "Pemotongan hewan kurban di masa pandemi harus tetap mempertimbangkan pemotongan secara syar’i, menghasilkan daging yang aman, sehat, utuh, halal dan berkualitas. Kita sudah masuk dalam masa new normal di mana kita dituntut untuk tetap beraktivitas, termasuk tetap melakukan ibadah pemotongan hewan kurban,” ungkap Dr Tuti Suryati, Sekretaris Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University dalam siaran pers IPB, Sabtu (4/7).
     
    Tuti menyampaikan itu dalam sambutannya pada kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh Departemen INTP bekerjasama dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Halal Science Center (HSC) - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University. Kegiatan ini dikhususkan untuk panitia kurban dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Seluruh Indonesia.
     
    Sementara menurut Prof Dr Khaswar Syamsu, Kepala HSC, dalam praktik penyembelihan hewan masih banyak ditemukan hal-hal yang tidak sesuai prosedur penyembelihan dan syariat. Padahal Islam sudah mengatur tata cara kurban dengan rinci. Selain itu juga ada poin-poin kesejahteraan hewan yang harus dipenuhi saat proses pemotongan hewan.
     
    “Beberapa hal dasar dalam pemotongan kurban yang belum diketahui seluruh panitia kurban di antaranya adalah penyembelihan harus memotong tiga saluran. Yaitu saluran pernafasan, saluran pencernaan dan saluran darah. Selain itu harus menggunakan pisau yang tajam dan tidak boleh menyembelih di hadapan hewan lain yang akan disembelih,” ujar Prof Dr Khaswar.
     
    Sementara itu, anggota Komisi Fatwa sekaligus Direktur Bidang Ekonomi Syariah di MUI, H. Amirudin Yakub, menyebutkan, bahwa ada peraturan khusus pemotongan hewan kurban selama masa pandemi.
    Saat proses jual beli harus memperhatikan protokol kesehatan. Selain itu pemotongan direkomendasikan hanya dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) dengan jumlah panitia terbatas.
     
    “Panitia menyediakan fasilitas cuci tangan karena darah adalah tempat yang subur untuk pengembangbiakan bakteri dan virus. Lalu, pendistribusian daging juga hanya boleh dilakukan oleh panitia atau pengurus masjid. Setiap DKM dan panitia kurban harus memperhatikan hal ini,” ungkap Amirudin.
     
    Dan pandangan dari drh Supratikno, MSi, PAVet, dosen IPB University dari Fakultas Kedokteran Hewan selaku Ketua Tim Penyembelihan Halal HSC IPB University mengungkapkan bahwa ada beberapa proses yang menyebabkan hewan stres dan cacat.
     
    Oleh karena itu perlu adanya upaya khusus saat proses pengangkutan, penempatan di kandang dan penyembelihan. Hal ini untuk menjaga kesehatan hewan dan kualitas daging hewan kurban.
     
    “Hewan kurban juga harus memenuhi syarat utama, yaitu sehat dan tidak cacat. Selain itu harus cukup umur, minimal hewan telah berumur lebih dari 24 bulan untuk sapi dan lebih dari 12 bulan untuk kambing dan domba. Selain itu persyaratan terakhir adalah tidak kurus yang dapat dilihat dari penonjolan tulang rusuk, bagian pinggang dan pinggul,” tutup Supratikno. (kumparan.com)
  • Bahan Baku Jadi Kendala Industri Pakan Ternak

    Indonesia sebenarnya bisa menghasilkan industri pakan ternak yang sehat, aman dan berkelanjutan. Namun, bahan baku pakan ternak yakni jagung ternak belum mencukupi untuk industri.

    Hal ini disampaikan Wakil Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Rudy Afnan, saat memberikan sambutan pada Kuliah Umum Kemin Industry bertemakan "Recent Issue in Feed Technology and Animal Nutrition for Healthy and Safe Animal Product" di Auditorium Janes Hummuntal Hutasoit (JHH), Rabu (19/9).

    Rudy mengatakan, selama ini bahan baku pakan ternak yakni jagung ternak hanya terdapat di beberapa wilayah di Indonesia dan cukup untuk wilayah tersebut saja. Swasembada jagung ternak hanya ada di Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Utara (Sulut) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Sementara, sentra produksi pakan ternak ada di Sumatera Utara (Sumut).

    "Untuk biaya angkut bahan baku jagung ternak dari beberapa wilayah tersebut ke sentra produksi di Sumatera Utara relatif sangat mahal jika dibanding biaya mengimpor bahan baku dari luar negeri. Jika biaya angkut mahal, biasanya 20 persen dari total biaya dibebankan pada konsumen," jelasnya.

    Rudy mengatakan, kebijakan larangan penggunaan antibiotics growth promoter (AGP) untuk pakan ternak di Indonesia oleh pemerintah beberapa waktu lalu, memang harus didukung. Hanya saja, perlu dipikirkan penyediaan bahan pengganti AGP, yang selama ini belum bisa diproduksi dalam skala besar.

    "Bahan pengganti AGP sebenarnya bisa dengan single factor yakni herbal maupun probiotik. Namun, seperti yang dilakukan di IPB, baru mampu dibuat dalam skala laboratorium. Kemin Industry juga melakukan seperti kami. Hanya bedanya, Kemin sudah mampu memproduksi dalam skala industri," tukasnya.

    Sementara Head Of Japfa Foundation, Andi Prasetyo, menjelaskan, pihaknya sebagai organisasi yang aktif menyuarakan pentingnya pendidikan ternak dan agrikultur, ikut berperan sebagai fasilitator antara Kemin Industry dan IPB.

    "Dukungan terhadap kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dari komitmen dan perhatian Japfa Foundation terhadap pendidikan ternak dan agrikultur di Indonesia," ujarnya.

    Andy menambahkan, diperlukan adanya informasi mengenai pengaplikasian modernisasi yang mengacu pada prinsip revolusi industri 4.0 pada dunia peternakan yang mampu bersaing, baik dalam skala nasional maupun internasional dan tentu diharapkan informasi tersebut bisa menjadi faktor pendorong minat generasi muda agar terus berinovasi dalam dunia peternakan yang selaras dengan kemajuan teknologi saat ini.

    "Kami berharap kegiatan kuliah umum ini dapat menghasilkan inisiasi kerjasama akademik di bidang pendidikan dan penelitian serta pengabdian pada masyarakat, bertambahnya pengetahuan dan wawasan tentang perkembangan serta dinamika teknologi pakan dan nutrisi terkini, serta terciptanya kesepahaman antar seluruh stakeholders terkait pengembangan teknologi pakan dan nutrisi terkini," pungkasnya. (beritasatu.com)


Lihat Semua Berita >>

Protocol Kesehatan Covid-19 saat WFO Fapet IPB

Tips & Kegiatan Selama WFH